MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Hasil Penyelidikan



Meski sudah bisa menghadirkan Sydney di pesta ulang tahunnya, Reynand masih belum banyak tahu tentang gadis itu. Wajahnya selalu lekat di mata Rey. Reynand bertekad mendapatkan semua jawaban atas ribuan pertanyaan dalam dadanya.


Siapa sebenarnya Sydney?


Mengapa hanya wajahnya yang bisa diingat?


Apakah Sydney juga mengingatnya?


Di mana dia tinggal?


Bagaimana dia sehari-harinya?


Segala hal tentang gadis itu yang masih menjadi rahasia besar, mampu membuat Reynand sulit terpejam di malam hari.


Perkara Sydney begitu piawai bela diri, menghajar bodyguard Mamanya, Rey tak peduli. Dia malah menyukainya. Sydney gadis yang mandiri dan pemberani. Mirip dengan Mamanya. Tapi jauh berbeda di tendensi. Sydney pemberani karena punya prinsip, sedangkan Mama penuh ambisi.


Sebenarnya, mudah bagi Reynand untuk bertanya pada Hud. Sepertinya Hud lebih banyak tahu tentang Sydney. Hud bisa menghadirkan Sydney di acara ulang tahunnya. Kata Hud, Sydney pernah ikut oprec Mapala. Soal tenda yang dipinjam itu, pasti membuat Hud lebih banyak berinteraksi. Tapi, bila meminta Hud untuk mencari informasi, membuat semuanya begitu mudah. Tidak ada sensasi penasaran yang menghentak-hentak dadanya. Karena pasti Hud akan melakukan apapun permintaan Rey. Secara administrasi, Hud sekarang adalah pengawal resmi Reynand Milan Bramantya. Dia digaji maskapai. Meski dia harus tahu semua hal tentang Rey sekarang—Merlin memberinya banyak tugas untuk itu—bukan berarti Rey harus membagi rahasianya pada Hud.


Rey mengangkat ponselnya yang berkedip. Dia meminta Merlin untuk memberi Hud ponsel keluaran terbaru dengan berbagai fitur terkini. Tapi, Rey sendiri tidak mau mengganti ponsel tit tut-nya. Dia tetap memakai ponsel tit tut berwarna biru tua, yang pabriknya sudah tidak lagi memproduksi, alias tutup.


“Reynand? Anda libur sekarang?”


Suara di seberang membuat Rey tiba-tiba menjadi malas. Pasti soal penyelidikan pembunuhan Papa. Bukannya Rey tidak lagi peduli pada mendiang Papa-nya, tapi semua hasil penyelidikan—meski pembunuhnya tertangkap sekalipun—tidak akan bisa mengembalikan Papa. Dia tetap harus menjalankan maskapai, demi agar semua karyawan bisa menghidupi keluarganya.


“Aku sedang sibuk sekarang.”


Rey menatap ujung kakinya yang dia topangkan di atas bantal, bersebelahan dengan gitar. Badannya sendiri menyandar malas di tembok. Rey melirik ranjang Hud. Kosong. Anak itu sedang ada acara Mapala di kampus. Jadi, kamar ini milik Rey seharian sembari bermalas-malasan. Sebenarnya, Mas Hanif sudah memintanya menempati kamar belakang yang lebih luas, bersama dengan barang-barangnya. Tapi Rey merasa nyaman bila bersama Hud, bodyguardnya.


“Ini tentang gadis yang anda minta untuk kami selidiki.”


Punggung Rey menegak, dan dia menempelkan ponsel lebih erat ke telinganya.


“Sydney?” tanya Rey tak bisa menahan kegembiraannya.


“Sydney Azzura. Bila anda anda sudah tidak sibuk, saya tunggu di kantor.”


Rey melompat dari ranjang. Menyambar tas ranselnya, dan berlari keluar tanpa sempat menutup pintu kamar.


***


Pengacara Julius tersenyum puas melihat Reynand menerima foto-foto darinya, layaknya anak kecil mendapat setumpuk permen. Matanya membeliak senang seolah kembang api di angkasa.Tak henti-hentinya dia melihat satu demi satu foto berukuran folio di tangannya. Lalu anak itu menjajar foto-foto itu di meja, dan menatapnya satu per satu, mengelusnya dengan hati-hati. Seolah itu semua harta karun yang sudah lama diburunya.


“Di mana foto ini diambil?”


“Ada yang di kampus, di dekat kontrakannya. Bahkan, anda mungkin tidak percaya. Yang ini, di depan Restoran milik Mama anda.”


Pengacara Julius menunjuk sebuah foto, “Dia habis dipukuli oleh dua orang laki-laki.”


Foto Sydney berlari keluar dari gerbang Restoran Pegasus.


“Bodyguard Mama yang melakukannya.”


“Anak ini dalam bahaya bila berurusan dengan Nyonya Mulan.”


“Aku tahu. Makanya aku harus melindunginya.”


“Anda .... menyukainya?”


Reynand tersenyum, “More than that.”


Pengacara Julius mengangguk-angguk.


“Aku bisa membantu, dengan beberapa orang bayaranku. Aku jamin dia aman di manapun dia berada.”


“Aku khawatir membuatnya ketakutan.”


Rey mengangguk. Rasa khawatir yang merayapinya sejak peristiwa di Restoran Pegasus ternyata sama dengan yang dirasakan Pengacara Julius. Sydney harus dia lindungi. Tapi, bagaimana caranya? Anak itu layaknya merpati yang lewat depan rumah. Bila didekati, dia terbang tinggi, tapi kemudian hinggap lagi.


Pengacara Julius mengeluarkan buku catatannya. Rey mengenali catatan itu. Pasti tentang penyelidikan pembunuhan Papa.


“Sebagai pengacara keluarga Bramantya, saya berkewajiban menyampaikan hal ini. Saya belum menyampaikan pada Mama anda. Saya yakin, saya perlu pengawal saat menyampaikannya nanti pada beliau.”


Rey nyengir. Pastinya itu kabar yang buruk.


“Penyelidikan terakhir kasus pembunuhan Papa anda, mulai mengarah ke Ibrahim.”


“Yang mati kena serangan jantung itu?”


“Dia tidak mati kena serangan jantung. Dia juga dibunuh.”


Rey terkejut. Jadi, ini pembunuhan yang saling berkaitan. Sepertinya mulai ada titik terang. Ibrahim, orang yang sangat dekat dengan Mama.


“Pada saat dia tewas, sopir keluarga anda sedang mengantarkan dia ke bandara. Dia hendak ke Paris, menjemput salah satu Dewan Direksi yang berada di sana untuk penyelidikan. Darmaji, sopir anda membawanya ke Rumah Sakit. Sudah tewas sejak di mobil.”


Rey diam, tidak bereaksi.


“Aku yakin, anda tidak percaya.”


“Aku tidak tahu mana yang harus kupercayai, Pengacara Julius. Baik Mama atau Darmaji, mereka bukan orang baik-baik. Tapi, Darmaji orang yang selalu melindungiku.”


“Pagar bisa mamakan tanaman, nak. Percayalah padaku. Jangan mudah percaya pada orang dari kulit luarnya. Apalagi, bila dia menjadi orang terdekat Nyonya Mulan Bramantya. Polisi mencurigai adanya persekongkolan antara Ibrahim, Mulan dan Darmaji dalam pembunuhan Tuan Bramantya. Tapi pihak polisi, entah kenapa tiba-tiba menghentikan penyelidikan untuk sementara.”


“Kenapa? Bukankah mulai ada titik terang?”


“Mamamu main-main ke Kantor Polisi.”


Rey terdiam. Dia tahu, Mamanya bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Dia merasa bersyukur sudah tidak lagi tinggal di Rumah Coklat, hingga terbebas dari wanita—yang kini dicurigai menjadi pembunuh Papanya.


“Jadi, aku dan Mama tidak lagi dalam kondisi berbahaya?”


“Mama anda yang lebih berbahaya sekarang.”


“Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak mau dikawal polisi ke mana-mana. Aku sudah punya bodyguard.”


“Teman sekamar anda itu?”


“Yah... katakanlah begitu. Pihak maskapai sudah mengetahui hal ini.”


“Oke, biarkan tetap seperti itu. Yang aku khawatirkan sekarang adalah dia.”


Pengacara Julius menunjuk satu foto di meja. Rey mengangguk.


“Aku setuju untuk memberikan dia perlindungan, tapi jangan sampai dia tahu.”


“Anda tidak perlu khawatir. Anak itu juga pelupa seperti anda.”


Rey mengernyit, “Maksudnya?”


“Sepertinya dia gampang lupa wajah seseorang. Meski sudah lama berinteraksi. Jadi, pengawalan dia akan menjadi sangat mudah.”


Deg.


Rey merasa ada benang merah keluar dari dadanya, langsung menuju raut wajah Sydney.