MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Yang Harus Diilindungi



Para pembantu tegang sejak kemarin. Tak satupun yang bisa beristirahat santai, apalagi tidur lelap. Majikan mereka sedang marah besar. Kata Darmaji, Mulan habis bertengkar hebat dengan anak tirinya. Jadi sebaiknya para pembantu jangan mendekat. Atau akan menjadi sasaran kemarahan. Dan itu sudah pasti. Sudah beberapa barang yang hancur di kamar Nyonya besar mereka. Suara kemarahan itu bahkan terdengar sampai ke pintu gerbang.


Biarkan saja, begitu kata Darmaji.


Bahkan Darmaji tidak masuk ke majikan mereka, untuk menghiburnya seperti biasa. Para pembantu mengira, Darmaji juga takut dihajar dengan kemarahan sebesar itu.


“Kalau dia sampai bunuh diri, gimana?” tanya Mila.


Darmaji diam.


“Dia tidak akan bunuh diri, kan? Dia yang akan membunuh Tuan Muda.”


Terdengar suara kaca pecah dari lantai atas. Mila dan Darmaji saling menatap.


“Aku tahu, dia sanggup melukai Tuan Muda. Kau harus melindungi tuan Reynand, Pak Dar. Dia anak yang baik, seperti almarhum Papanya.”


“Tuan Reynand akan baik-baik saja. Aku tidak perlu menjaganya. Kalau aku menjaganya, siapa yang bisa membentengi kemarahan Nyonya? Aku hanya perlu menjaga Nyonya, untuk menjaga Tuan Muda. Kau pikir selama ini aku melakukan apa?”


Mila mendengus mendengar jawaban Darmaji yang agak kasar. Dia mengerti, lelaki itu cukup tertekan dengan situasi ini. Jadi, sebaiknya para pembantu yang lain menurut apa kata Darmaji sebagai kepala pelayan. Bahkan Mila sudah bersepakat dengan para pembantu, apabila mereka dipecat sewaktu-waktu karena kemarahan Nyonya besar yang tidak terkendali, mereka harus kompak pulang bersama. Tidak ada yang tinggal lagi di rumah penuh amarah ini. Meski itu artinya mereka akan kehilangan penghasilan yang cukup lumayan sebagai pembantu.


“Pak Dar, kalau situasi seperti ini terus, aku tidak menjamin yang lain betah di sini. Kau harus melakukan sesuatu, Pak.”


Darmaji tepekur.


“Nyonya langganan terapi ke Psikiater. Namanya Ucok. Apa aku harus memanggilnya?” tanya Darmaji meminta saran.


“Coba saja telepon. Siapa tahu mau datang ke mari.”


Darmaji mengeluarkan ponselnya. Namun sejurus kemudian dia mengernyit. Ada sebuah pesan yang dikirim oleh manajer Pegasus. Sebuah video dari cctv. Darmaji memang memintanya. Mulan menyuruhnya mencari perempuan yang sudah membantingnya. Akan ada perhitungan yang layak untuk sebuah kehinaan yang diterima Mulan.


“Kenapa?”


“Ada video ketika Nyonya dibanting perempuan itu. Tidak ada yang tahu siapa dia. Tuan Reynand juga bungkam.”


Darmaji memutar video itu dan Mila ikut menonton. Video dimulai ketika Mulan masuk ruangan, dan membalik meja bundar, lalu menuding anak tirinya. Dan sejurus kemudian, sebelum Mulan sempat menempeleng, seorang perempuan menahan tangannya, memelintirnya, dan membantingnya ke lantai dengan cepat. Keributan terjadi.


“Siapa dia?” tanya Mila.


“Entahlah. Besok aku akan ke kampus Tuan Reynand untuk mencari tahu. Sepertinya Tuan Reynand mengenalnya. Dia mengejar sampai ke tempat parkir. Ini ada video lain.”


“Perempuan itu dipukuli?” tanya Mila tak percaya, “pinjam, Pak.”


Pak Dar menyerahkan ponselnya pada Mila. Sepasang mata Mila tak berkedip melihat video itu. Dua orang lelaki besar memukuli perempuan berjilbab itu, tapi rupanya mereka salah orang. Perempuan itu berhasil menguasai keadaan dengan cepat. Dia menendang satu orang dengan kakinya, tepat di bagian muka, hingga orang itu terjengkang. Lalu menendang ************ yang lain, membuatnya jatuh terjengkang pula, dan perempuan itu menginjak tangannya. Lalu lari.


“Dua bodyguard Nyonya berhasil dilumpuhkan dalam hitungan detik. Dia bukan perempuan biasa.”


Mila mengembalikan ponsel itu pada Darmaji. Tangannya gemetar, membuat Darmaji mengernyit melihatnya. Masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Perempuan di video itu, tentu saja sangat dikenalnya. Sydney Azzura. Gadis liar di kampungnya yang pelupa.


“Kamu kenapa? Kamu kenal gadis ini?”


Mila menggeleng. Darmaji melihat muka Mila memucat.


“Mila?”


Mila menatap Darmaji, berusaha menepiskan kecurigaan Darmaji.


“Pak ... aku semakin takut pada Nyonya. Nyonya kita semakin gila... mereka memukulinya seperti penjahat saja. Dia perempuan, Pak. Dia... dia masih muda ...”


Darmaji menarik napas panjang. Jadi Mila hanya ketakutan melihat video itu. Wajar saja, karena dia yang sehari-hari melayani Nyonya besarnya, yang sanggup melakukan apa saja pada siapapun yang membuatnya murka.


“Anak itu bisa mati dipukuli seperti itu, Pak. Kalau anak itu sampai mati, Nyonya akan menyesal.”


Darmaji bangkit dari kursinya.


“Kalian akan mencarinya, kan? Kalian akan membawanya ke hadapan Nyonya, kan?”


“Kau tidak usah memikirkan itu. Tetap bekerja seperti biasa.”


Darmaji berlalu dari dapur, menuju kamar majikannya. Sudah tidak ada suara dari dalam sana. Dia akan menyuruh tukang kebun yang baru untuk membersihkan pecahan kaca. Setelah itu, dia akan menghibur Nyonya besar seperti biasa. Langkahnya menaiki tangga, dan menyusuri pegangan tangga dengan tangannya, sudah seperti pemilik rumah saja.


Mila menatap gestur Darmaji sembari bergidik. Jijik.


***


Mila mengeluarkan ponselnya dari bawah bantal. Berjalan perlahan menuju pintu kamar dan menguncinya. Hari sudah gelap, meski Mila yakin semua pembantu belum terlelap di kamarnya. Tadi, tukang kebun yang baru bercerita pada para pembantu. Bahwa Nyonya besar mereka luka-luka terkena pecahan kaca. Darah berceceran di kamar. Untung saja Darmaji cepat datang dan memanggil dokter. Sekarang, situasi menjadi lebih tenang. Mungkin dokter sudah memberinya obat tidur. Darmaji juga entah pergi ke mana. Biasanya dia hanya pergi dari rumah bila disuruh Nyonya. Dia hanya berpesan pada para tukang kebun, kalau Nyonya bangun dan mencarinya, cukup dibilang Darmaji sedang mencari seseorang.


Mila merasa tangannya gemetar saat mencari sebuah nomor. Hanya pada dia, Mila bisa berharap. Para pembantu sudah kasak kusuk, ada yang pengin berhenti saja. Mereka mulai ketakutan melihat majikan mereka yang mulai tidak waras. Mengetahui Darmaji sering dijadikan sasaran untuk melindungi pembantu yang lain, sudah membuat mereka gelisah. Mila menyesal sudah menyampaikan hal itu pada mereka. Seharusnya, dia menutup mulut, seperti biasa.


“Adit? Kau di mana?”


Mila lega begitu mendengar suara di seberang.


“Di rumah, kenapa?” sahut suara di seberang, sepertinya terpaksa bangun dari tidur.


“Ibu sehat?”


“Sehat. Mbak kan tahu sendiri, baru lima hari yang lalu pulang.”


Mila menelan ludah. Dia memang mengambil jatah cuti karena adiknya baru pulang dari Malaysia. Sekarang, pikirannya lebih tenang. Ada yang menjaga ibu di rumah. Menjaga anak-anaknya juga.


“Dit, aku minta tolong.”


“Apa?”


“Aku minta, kau jaga Zura.”


Terdengar tawa renyah di seberang sana.


“Kenapa kau tertawa? Ini serius. Anak itu dalam bahaya.”


“Tentu saja aku akan menjaganya. Dia cantik. Kurasa aku akan memenuhi janjiku untuk menikahinya.”


“Jangan bodoh. Neneknya akan menggerusmu menjadi rujak.”


Terdengar tawa yang lebih keras lagi di seberang sana. Mila kesal, membanting badannya di kasur. Adiknya, sejak remaja memang menyukai Sydney Azzura. Tapi, Neneknya galak bukan main. Jadi, Adit hanya bisa memandang Sydney dari kejauhan. Sesekali, dia menghadang Sydney dan menikmati bila anak itu tidak bisa mengingat wajahnya.


“Dia masih pikun, seperti kata Mbak.”


“Jaga dia, kumohon. Dengan nyawamu, kalau bisa.”


“Hm, ini aneh. Mbak minta aku menjaganya dengan nyawaku, sampai titik darah penghabisan? Padahal neneknya sangat membenci Mbak.”


“Itu urusanku di masa lalu.”


“Aku boleh tahu, kan? Terus terang ini semua membuatku penasaran.”


“Dit, jaga dia tanpa banyak tanya.”


“Hm, apa aku membawanya kawin lari saja, ya? Untuk melindungi orang yang kita cintai, bukankah dengan menikahinya?”


Mila mematikan ponselnya. Nafasnya menderu. Dia yakin, adiknya tersenyum-senyum di kampung halaman. Tentu saja dia sangat berkenan menjaga Sydney dengan jiwa raganya. Adit sudah jatuh cinta pada Sydney sejak remaja, cinta monyet yang dipendamnya sampai sekarang. Bahkan tanpa disuruh Mila pun, Adit akan selalu membayangi gadis itu. Saat Sydney SMP, Mila kerap memergoki Adit melakukanya. Tiba-tiba memayungi Sydney yang berjalan, dan tentu saja Sydney tidak mengenalinya. Membawakan tasnya ketika harus berjualan rujak di pasar. Bahkan mengamati Sydney sepanjang siang ketika berjualan rujak. Dan ketika dia harus berangkat ke Malaysia karena mendapat beasiswa S1, Mila melihatnya seperti orang patah hati.