
Baru kali ini Hud melakukan hal yang membuat hatinya semakin bimbang. Dia merutuk dalam hati ketika melihat jarum jam semakin mendekati waktu yang dia sepakati untuk berjanji, yang membuat dirinya sendiri semakin tidak karuan. Mungkin hal ini akan disesalinya di kemudian hari, mungkin juga tidak.
Tujuan utamanya adalah mengurai kegelisahan hatinya sendiri. Masalah Rey, selamanya akan menjadi masalahnya karena dia tidak bisa berlepas diri dari anak itu. Entah kenapa, sejak pertama kali tahu penyakit yang diderita Rey, Hud merasa dia menjadi orang terpilih yang harus senantiasa mendampingi. Terdengar terlalu berlebihan, tapi begitulah yang terjadi.
Gestur yang membuatnya semakin tidak yakin dengan dirinya, muncul di pintu kantin. Dia menebar pandangannya ke segala arah. Tapi sepertinya dia tidak berhasil menemukan yang dicarinya. Dia kemudian duduk di kursi dekat pintu. Mengeluarkan ponsel dan mengirim sms.
Hud meraba kantong celananya yang bergetar. Benar saja, wanita yang ditunggunya, yang sudah hadir di kantin yang sedang sepi pengunjung ini, telah mengirimnya pesan. Bahwa dia sudah berada di kantin dan tidak berhasil menemukannya.
Hud tidak beranjak dari bangkunya, mengamati wanita itu sampai menemukannya dengan edaran pandangan. Hud berpura-pura asyik dengan bukunya, tapi ekor matanya mengawasi wanita itu. Tapi, edaran pandangan wanita itu tak kunjung mengarah pada dirinya. Seperempat jam, dia mulai gelisah. Berkali-kali melihat ponselnya, menunggu jawaban. Sejurus kemudian, dia kembali mengirim pesan. Hud tak hendak membacanya, tapi kemudian dia melakukan panggilan. Hud bergegas mengecilkan suara ponselnya.
Maaf, lima menit lagi, saya ada janji. Mungkin bisa lain waktu.
Hud mendelik. Tidak, dia tidak bisa melewatkan kesempatan ini. Bergegas dia menandaskan kopinya, membereskan beberapa buku yang sengaja diletakkannya di meja, memasukkan semuanya ke dalam tas. Lalu dia bangkit, hendak menuju wanita itu. Namun, langkahnya tiba-tiba surut. Di hadapan wanita itu, telah duduk seorang lelaki.
Rey.
Hud mengumpat. Bagaimana mungkin dia melewatkan kesempatan, sengaja mengurulur waktu yang sangat berharga, dan Rey mendahuluinya. Tapi, sebentar. Rey tidak akan mengenalinya. Dan bisa jadi juga Sydney, wanita yang ditunggunya sejak tadi.
Maka Hud berjalan menyelinap di antara beberapa mahasiswa, lalu mengambil bangku tepat di belakang Rey. Selama dia tidak bersuara, Rey tidak akan mengenalinya.
Ini bukan perbuatan gentleman, tapi Hud tidak punya cara lain saat ini. Dia harus melepaskan diri dari belenggu yang menghimpit dadanya, setiap kali melihat Rey dan Sydney. Masalah harus didekati, bukan dipunggungi, dan ditinggal lari. Sekarang, Hud membenarkan diri sedang dalam rangka menghadapi masalahnya. Apapun perbincangan kedua anak manusia yang meresahkan dirinya itu, harus dia dengar saat ini.
“Aku menggangu waktumu?” tanya Rey, lembut.
“Tidak. Sama sekali tidak.” sahut Sydney, dengan suara yang dibuat setenang mungkin. Bahkan teramat tenang, bagi seorang perempuan temperamental. Yang mengandalkan pukulan untuk menyelesaikan masalah.
“Sepertinya kamu sedang menunggu seseorang.”.
“Ya, dia berjanji bertemu di sini, tapi tak kunjung muncul. Tidak apa-apa, sembari aku menunggu dia datang, kamu mau minum? Mungkin es ca...”
“Es capuccino...” sahut Reynand.
“Ah, selera kita sama, “ sahut Sydney sedikit tertawa.
“Let me guess, makanan kesukaanmu?”
“Boleh, “ sahut Sydney, sembari menangkupkan kedua tangannya, menatap Rey dalam, sebagaimana Rey menatapnya.
“Nasi goreng dengan telur orak arik di atasnya. Seiris mentimun dan tomat. Dan, daun kemangi.”
Sejenak sunyi di antara keduanya. Hud sangat ingin melihat ekspresi Sydney, tapi tentu saja dia tidak mungkin melakukannya.
“Emm.... er.... siapa namamu?” tanya Sydney ragu.
“Aku sudah mengatakannya padamu, saat kita bertemu di depan perpustakaan.”
“Ya, kau bilang, aku harus mengingat namamu. Kenapa?”
“Karena kita pasti akan bertemu lagi.”
“Sudah kukatakan, sebaiknya kita tidak bertemu lagi, “ ucap Sydney tegas. Hud bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
“Tidak, kita harus lebih sering bertemu.”
Hud tidak pernah mendengar Rey mengucapkan kalimat seyakin itu.
Hening.
“Kau lupa namaku?” tanya Reynand kemudian.
Hud mendecih mendengarnya. Reynand bisa jadi terlalu banyak membaca novel. Atau dia meniru akting artis drakor dalam merayu perempuan. Begitu yakin, begitu menginstruksi, bahwa si perempuan harus mengingat namanya.
“Tidak.”
“Lalu kenapa kau bertanya?”
“Kamu tahu namaku?” tanya Sydney balik bertanya.
“Sydney Azura.”
Hening.
“Why?”
“Nasi goreng dengan telur orak arik di atasnya. Seiris mentimun dan tomat. Dan, daun kemangi. Bagaimana kamu bisa tahu? Tidak ada yang tahu sedetil itu selain ibuku.”
Hud merasa dadanya mendetak hebat. Reynand jauh melampaui perkiraaannya. Anak itu sudah menyelidiki Sydney begitu detil. Sampai ke daun kemangi segala. Lelaki ini tidak main-main dengan apa yang dikehendakinya. Tapi, bagaimana mungkin dia bisa tahu itu semua begitu detil?
“Ibumu?”
“Almarhum ibuku.”
Hening. Bahkan semakin hening, karena sore mulai beranjak, dan mahasiswa sudah mulai meninggalkan kampus.
“Dia pasti mirip sekali denganmu.”
“Ya, kata nenekku demikian.”
“Kamu punya nenek?”
“Di kampung halamanku.”
“Boleh aku tahu nama nenekmu dan ibumu?”
“Kamu belum menjawab pertanyaanku.”
Reynand menarik nafas. Dia terlalu mendesak wanita di hadapannya. Dan, wanita itu mulai membentengi dirinya. Reynand tak ingin wanita ini menutup dirinya, atau Reynand akan kehilangan kesempatan terbaiknya.
“Kamu mau tahu jawabannya?”
“Kamu yang memulai pertanyaan itu. Dan kurasa setelah ini aku harus segera pulang. Aku ada urusan yang harus aku selesaikan sebelum senja. Aku ...”
“Tunggu, jangan pergi!”
Hud menanti apa dialog selanjutnya. Tapi di ujung pintu belakang kantin, Hud melihat lambaian tangan Syarif, sohib kentalnya. Dan melihat Hud duduk seorang diri, Syarif setengah berlari menujunya. Gawat, bisa-bisa Syarif membongkar penyamarannya. Hud bergegas bangkit dari duduknya, berjalan melewati Rey dan Sydney yang masih belum melanjutkan dialog.
Hud menoleh ke arah meja di antara dua orang itu, dan jantungnya serasa hendak copot melihat Rey menggenggam tangan Sydney. Dan .... mereka berdua saling menatap tak berkedip.
“Karena, itu makanan favoritku,” ucap Reynand perlahan.
Hud bisa mendengar ucapan Reynand dengan jelas, begitu juga teriakan Syarif yang memanggil namanya. Hud bergegas meninggalkan kantin. Dia berharap, Reynand tidak menyadari bahwa Hud barus saja melintasinya. Ya, Rey sedang fokus menatap Sydney.
Sial.
Kenapa pula makanan dan minuman kesukaan kedua orang itu harus sama? Hud memang tidak pernah tahu makanan kesukaan Reynand. Bisa jadi, ucapan Reynand tadi hanya untuk memikat Sydney.
Sudah jelas sekarang. Reynand menggunakan pesonanya untuk memikat Sydney. Dan Hud harus tahu diri. Sydney bukan lagi gadis yang pantas diidamkan, karena dia mau saja dipegang oleh lelaki yang bukan muhrimnya. Padahal, info dari Rey kemarin, gadis itu menolaknya. Sekarang, dia mau saja dipegang oleh Rey.
Ternyata, itulah nilai dirimu, Ukhti.
Hud, meski berat, bernafas lega. Ketika Syarif menepuk punggungnya. Seketika, bebannya mulai terurai satu demi satu. Lelaki baik untuk perempuan baik, bukan? Ya, Rey dan Sydney. Kini dia tidak perlu ambil pusing lagi memikirkan kedua orang itu.
Rey melihat dua sosok lelaki yang meninggalkan kantin barusan. Yang satu melangkah terburu-buru dan yang di belakangnya memanggil-manggil namanya. Hud.
Reynand segera melepas tangannya dari tangan Sydney, lalu bergegas memencet tombol send di ponsel yang sejak tadi berada di bangku sebelah kirinya. Pesan yang sudah dipersiapkannya sejak memasuki kantin, tinggal mengirimnya di saat yang tepat.
Hud, kamu di mana? Bisa bantu aku?
“Rey? Maafkan aku.... ak .. aku harus pergi,” ucap Sydney gugup.
“Kita akan bertemu lagi.”
“Tidak. Kita tidak bertemu lagi.”
Sydney bangkit dari meja, dan berlalu dengan cepat sebelum sempat Rey menarik tangannya.