
Hud mendapati Reynand duduk di balkon, meletakkan dagunya di pagar balkon dan memandangi deretan atap rumah yang lebih rendah. Anak itu sudah melakukannya sejak sejam yang lalu.
Tukang laundry yang biasa mengambil dan mengantar baju Reynand, Huda minta datang lagi besok pagi. Reynand sedang super galau. Sebaiknya Hud tidak mengganggunya. Hud berharap, Reynand segera melupakan raut wajah Mamanya. Meski tanpa diminta, Reynand pasti sudah lupa wajah Mamanya.
Penyakit Reynand adalah penyakit langka. Dia mudah lupa pada wajah seseorang. Sejak kost, dia tidak lagi menjumpai terapisnya. Dia berusaha mandiri untuk mencari keyword pengingat siapa pun di sekelilingnya. Dan suara adaalah keyword yang paling dianggapnya sesuai. Maka tidak heran bila bertemu dengan siapa saja, dia selalu menunduk hingga poni menutup wajahnya. Dia berkonsentrasi mengingat si peMilik suara.
“Rey, aku ke kampus dulu ya...”
Reynand bergeming.
“Tadi mbak laundry-mu datang. Aku minta kembali besok. Aku tidak tahu cucianmu yang mana.”
“Hud ...”
“Ya?”
“Apa benar aku ini pecundang?”
“Kau hanya korban salah asuhan, Rey.”
Hud menyandang tasnya. Jadi, kesedihan terbesar Reynand bukan karena dia diusir dari rumahnya, atau mendapat jatah warisan yang tidak sanggup diterimanya, tapi asuhan Mamanya selama 20 tahun! Perempuan itu, telah mempersiapkan masa ini begitu lama. Hud mulai bisa melihat jelas kasus rumah tangga ini. Mama Reynand tahu posisinya lemah, dia bisa diceraikan kapan saja karena tidak bisa memberikan keturunan. Jadi, dia membuat seekor macan menjadi ompong tidak punya kuku tajam. Tapi dia salah, macan tetap macan. Sekali mengaum, wanita itu langsung pingsan.
“Bisa kok diperbaiki, “ ucap Hud mantap.
“How?”
“Masuk klub pendaki gunung bareng aku! Atau karate, taekwondo, futsal!”
Reynand bergeming,
***
Hud meninggalkan Reynand yang sepertinya berniat bolos kuliah hari ini. Di bawah tangga, Mas Hanif, supervisor tempat kost menghadangnya.
“Hud, barang-barang Reynand memenuhi garasi. Ini anak-anak masih mudik gak masalah. Kalau semua kembali, mereka parkir di mana?”
“Reynand masih galau, Mas. Nanti aku pikirkan bagaimana cara mengatasinya.”
Mas Hanif hanya mengangguk-angguk, “Jangan lama-lama!”
“Oke!” sahut Hud sambil menuntun motornya ke halaman.
Semalam ketika satu pick up penuh barang Reynand diturunkan di gerbang kost, Hud sudah memberitahu Mas Hanif bahwa si anak manis-sebutan Hud dan Mas Hanif untuk Reynand-diusir oleh Mama tirinya. Karena rumahnya ternyata diwariskan ke mama tirinya. Mas Hanif hanya manggut-manggut, namun pagi ini rupanya dia pusing melihat tumpukan kardus, piano, kapstok panjang beroda, treadmild, perangkat lukis dan masih banyak lagi barang yang tidak murah apalagi murahan lainnya.
Di depan gerbang, seorang lelaki baru saja masuk. Lelaki berjas dan berkoper. Hud mengingatnya. Pengacara Julius. Bagaimana dia bisa mengetahui tempat ini, sepertinya bukan hal penting untuk ditanyakan.
“Anda teman Tuan Reynand bukan? Saya menelponnya, tapi ponselnya tidak aktif.”
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Hm, di tempat ini ada kepalanya?”
“Supervisor. Mas Hanif.”
“Minta tolong ini diberikan pada beliau. Ini hanya copynya saja. Aslinya, saya yang menyimpankan untuk Tuan Reynand. Mohon maaf semalam tidak sempat saya berikan, anda tahu kondisinya.”
“Oke, saya sampaikan sekarang.”
Pengacara Julius berterima kasih dan dia segera berlalu. Rupanya dia berjalan kaki. Pasti mobilnya tidak bisa masuk ke dalam gang.
“Mas Hanif, ada tititpan dari pengacarannya Reynand. “ Hud menyerahkan amplop coklat itu pada Mas Hanif, tapi sejurus kemudian timbul rasa penasaran.
“Apa isinya mas?”
Hanif membuka isi amplop itu. Isinya fotocopy sertifikat.
“Ini .... ini ....”
Mas Hanif membolak-balik lembar demi lembar.
“Maksudnya apa Mas, kok pengacara Reynand memberi Mas Hanif sertifikat, rumah ini?”
“Maksudnya?”
“Reynand sekarang pemilik rumah ini.”
“Apa?”
Hud menepuk jidat berkali-kali.
***
Reynand merasa leher dan dagunya menebal. Tempat kost sudah sepi, pasti semua sudah berangkat ke kampus. Tapi masih ada suara di kamar mandi. Sepertinya masih ada yang mencuci. Reynand bangkit dan menegakkan punggung.
“Aku banci?” gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.
Dia tidak habis pikir, bagaimana Mamanya, yang dia anggpa ibunya selama 20 tahun ini bisa mengucapkan kata-kata mengerikan seperti itu. Reynand faham, mama memang wataknya temperamen. Pelayan yang bertahan di rumah hanya Darmaji, sudah ada semenjak Reynand bayi. Tapi pelayan lain sudah puluhan kali berganti-ganti. Biasanya karena tidak tahan dengan kata-kata kasar Mamanya.
Reynand mengeluarkan surat nikah dari kantong celananya. Baginya, ini adalah warisan Papanya yang paling berharga. Dielusnya foto perempuan di samping Papa.
“Dia seorang pembantu di rumah ini. Orangnya baik dan santun. Dia juga shalihah. Semula Papa pikir, Papa telah salah memilih Mamamu. Tapi, bersama Mamamu, Papa bisa bangkit dari keterpurukan. Kami merintis banyak usaha bersama-sama. Mamamu orang yang keras dan pantang menyerah. Tapi Papa tidak bisa mewariskan semua Milik Papa kelak pada Mamamu. Karena awal bisnis ini adalah dari orang tua Papa. Papa harus punya keturunan.”
Reynand menutup buku nikah itu. Mencoba memasukkan wajah wanita shalihah itu ke dalam memorinya. Sejurus kemudian dia membuka buku itu lagi, dan kembali merasa asing dengan wajah ibunya. Reynand mendesah.
“Bagaimana aku bisa menemukannya? Wajahnya saja sulit kuingat, apalagi sekarang. Papa sudah pergi sebelum memberi petunjuk padaku. Siapa yang tahu wanita ini? Dar?”
Reynand memutar otak, mencari jawaban atas pertanyaan dirinya sendiri.
Gang di depannya sudah sepi. Reynand melihat seorang wanita berjalan, dengan dompet dan tas besar di tangannya. Seperti kebanyakan ibu-ibu lainnya di gang ini, dia hanya mengenakan daster dan sandal jepit. Sepertinya dia hendak menuju pasar.
Tiba-tiba, dari arah belakang, seseorang merebut dompetnya dan berlari mendahuluinya sepanjang gang.
“Copeett! Copeet!”
***
Reynand menegang, Meski kejadian itu di ujung gang berjarak 100 meter, dia bisa melihat dengan jelas kejadian itu dari balkonnya. Ibu itu hanya bisa berteriak tanpa mengejar si pencopet. Sedangkan Reynand di balkon, tidak bisa berbuat apa-apa.
Tiba-tiba, dari rumah tepat di depan perempuan itu dicopet, keluar sosok perempuan berjilbab dan berkerudung lebar. Dia berlari mengejar copet itu. Larinya begitu cepat, hingga tepat di bawah balkon Reynand, dia menendang pinggang si copet. Copet itu pun tersungkur. Perempuan itu dengan cepat memutar badan, membalik pencopet yang tersungkur itu dengan kakinya.
“Aarrrg....!” teriak si pencopet. Perempuan itu mengunci kedua tangan pencopet itu ke belakang, dalam posisi pencopet itu berbaring.
Sang perempuan yang dicopet datang tergopoh-gopoh. Mengambil dompetnya yang terjatuh tidak jauh dari si pencopet. Beberapa tetangga keluar dan mulai berkerumun di bawah balkon. Reynand bisa melihat semuanya dari atas.
“Makaih non, makasih!”
“Lain kali hati-hati, bu!” ucap perempuan itu. Tegas, dengan suara vokal yang terbuka jelas.
Setelah korban pencopet itu berlalu, perempuan berjilbab itu melepaskan kunciannya pada si pencopet, tapi meletakkan kakinya di leher pencopet yang kini tidak berdaya itu.
“Injak saja non sampai putus!”
“Iya, non. Dia sering nyopet di sini.”
“Panggil pak RT!”
Reynand menyaksikan semuanya, hingga pak RT yang rumahnya di gang sebelah meringkus pencopet itu, diiringi makian dari para ibu-ibu. Kerumunan pun bubar.
Reynand menjatuhkan pandangannya pada perempuan berjilbab itu. Siapa dia? Kini dia mengibas-ngibas jilbab dan roknya, merapikannya, lalu mendongak! Reynand terkesiap. Sepasang mata mereka beradu. Beberapa detik, tapi bagi Reynand serasa dia sempat memindai wajah itu sampai ke detil-detilnya. Bentuk hidungnya, sepasang matanya, pipi dengan tulang menonjol lembut, tahi lalat di bawah bibirnya, dan alisnya yang nyaris bersatu. Dia bisa mengingatnya dengan cepat.
Perempuan itu, bergegas berlalu.
Reynand terkesiap. Sampai gestur itu menghilang di ujung gang, Reynand masih bisa mengingat jelas raut mukanya. Reynand mengibas-ngibaskan kepalanya.
“Tidak ... ini tidak benar!” desisnya.