MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Pelatih Taekwondo



Akhirnya, Hud dan Rey sampai juga di depan gedung tempat latihan taekwondo biasa digelar. Hud mengirim pesan ke sebuah nomor, memastikan bahwa janjinya dengan salah seorang pelatih hari ini, jam ini, tidak akan diundur lagi.


“Berapa kali kau membatalkan janji?” tanya Rey datar. Dia menatap pintu gedung yang tertutup rapat. Sepertinya tidak ada kegiatan di dalamnya. Tidak ada suara teriakan-teriakan. Seingat Rey, latihan diadakan di malam hari, saat tidak ada kegiatan kuliah. Rey berharap pelatih taekwondo yang dikenal Hud tidak kesal karena mereka membatalkan janji kemarin.


“Tiga kali. Tapi dia memahami alasannya. Lagipula, dia kakak kelasku sewaktu SMA. Jadi, tidak ada masalah.”


Rey mendesah, “Syukurlah.”


Peristiwa kemarin di basement Fiest, membuat janji ketemu pelatih taekwondo itu pun buyar. Hud dan Rey terpaksa menggelandang copet yang patah kaki dan tangannya itu ke kantor satpam Fiest. Menjelaskan kronologi kejadian pada kepala satpam dan manajer Fiest. Hud, sama sekali tidak menyebut nama Sydney, apalagi mengidentifikasinya. Mereka satu almamater, Hud tidak ingin merusak nama baik kampus mereka. Sydney adalah tokoh pahlawan yang datang dan pergi seperti angin, tidak ada yang tahu.


Padahal Rey sangat ingin tahu siapa sebenarnya Sydney, dan kenapa dia bisa sehebat itu menaklukkan copet. Dia pasti ahli bela diri dan menggunakannya untuk membela kebenaran dan keadilan. Sudah dua copet yang berhasil ditaklukkannya, dan Rey melihatnya dengan mata kepala sendiri. Hud pasti banyak tahu tentang gadis itu. Namun Rey tak ingin menginterogasi Hud. Dia ingin mengetahui siapa sebenarnya Sydney dengan cara alami. Membiarkan semesta bergulir antara mereka berdua. Dan Rey menikmati semua itu.


“Kau yakin sudah siap masuk taekwondo? Latihannya lumayan lho.”


Rey menoleh ke arah Hud.


“Kau meragukan aku?”


Hud terkekeh sembari memindai tubuh kerempen Rey di sampingnya, “Apa kau pernah push up, squad jam, lari keliling lapangan?”


“Tidak pernah.”


“Sebaiknya kau cari kenalan tukang pijat. Aku ada kakak tingkat yang membuka jasa layanan pijat di tempat kostnya.”


“Aku minta nomornya kalau kuperlukan.”


“Oke.”


“Pelatih menyuruh kita masuk saja ke dalam gedung, dia masih di kantin,” ucap Hud setelah membaca pesan masuk di ponselnya.


Mereka menuju pintu gedung, dan mendapati pintunya tidak terkunci. Ada suara-suara di dalam sana, sepertinya ada latihan. Begitu pintu dibuka, Hud dan Rey mendapati sebuah aula yang lapang, tanpa kursi apalagi meja. Di ujung sana, ada dua orang sepertinya sedang latihan.


“Ada yang latihan, “ bisik Rey di belakang Hud.


Rey dan Hud mengamati kedua orang itu. Yang lelaki mengenakan baju serba putih, seragam taekwondo. Tapi yang satunya, seorang perempuan berjilbab mengenakan rok lebar. Dia menyerang si lelaki, tidak memberi kesempatan lelaki itu untuk membalas. Tendangan demi tendangan mendarat di perut dan dada lelaki itu.


“Astaghfirullah …” gumam Hud, “Dia…”


“Ada apa, Hud?”


Belum sempat Rey bertanya lebih lanjut, Hud sudah berlari mendekati dua orang itu. Dua orang itu tidak sedang berlatih. Mereka sedang bertarung! Hud segera menuju si lelaki yang tersungkur akibat satu tendangan. Dia membantunya berdiri.


“Lepaskan dia!” gertak si perempuan berjilbab, menatap garang ke arah Hud dan lelaki yang tampaknya sudah babak belur dihajarnya. Dia menoleh sekilas kea rah Rey, memastikan bahwa Rey tidak akan melakukan hal yang sama dengan Hud.


Rey yang semula hanya berdiri tercengang, sontak menegang. Perempuan itu. Sydney!


“Hentikan… hentikan!” teriak Hud, mencegah Sydney yang sudah mengambil ancang-ancang untuk melakukan tendangan lagi.


Sydney hendak berlari menuju Hud dan lelaki itu, tapi kemudian dia meronta-ronta. Seseorang memelukknya dari belakang. Dan mereka berdua terhuyung, hingga terbanting bersamaan. Sydney berusaha duduk, tapi seseorang yang memeluknya dari belakang, tak hendak melepasnya. Dia memeluk begitu erat, meski dia tidak tahu bagaimana cara mengunci lawan. Dengan satu gerakan memutar, Sydney membanting orang yang memeluknya dari belakang dan memelintir tangannya.


“Kau …” desisnya begitu melihat seraut wajah yang menatapnya tajam. Rey.


***


 


 


Tidak ada dialog apapun antara Hud dan Reynand. Kamar yang mereka diami menjadi seperti kuburan. Baik sudut Hud atau sudut Rey, sama-sama senyap. Sejak masuk kamar selepas maghrib, mereka tak saling berucap. Bahkan tidak mengucap salam ketika masuk atau keluar ruangan seperti biasanya. Pikiran mereka masing-masing disibukkan oleh hal yang sama. Sydney.


Hud merasa ada yang salah dengan dirinya. Dia tidak bisa menyalahkan Rey, yang selalu dihadapkan pada situasi menatap Sydney dan memegang tangan Sydney. Dan terakhir, dia memeluk Sydney. Jika Rey menyengajanya, Hud boleh saja marah. Tapi apa hak dia untuk marah. Orang seperti Rey, mana tahu urusan muhrim atau bukan. Bagi dia, biasa saja dia memegang tangan wanita yang bukan muhrim. Keluarganya bukan keluarga yang religious.


Yang Hud herankan adalah, dia begitu kesal dan ciut hatinya melihat itu semua. Apa ini karena, Sydney, gadis itu telah mengisi relung hatinya. Tapi, dia sama sekali bukan tipe gadis dambaan. Dia sama sekali tidak lembut. Dia gagah, dia pemarah dan dia sadis. Dia melumpuhkan copet. Dia memukuli pelatihnya hingga terluka dan berdarah. Kejadian tenda yang sobek karena dipukuli dengan golok, sudah menjelaskan betapa responsifnya dia terhadap sebuah ancaman. Dan reaksinya, sama sekali bukan reaksi ke-perempuan-an. Namun, nama Sydney berkali-kali berseliweran di kepalanya, dan itu sangat mengganggunya.


“Hud...”


Hud bangkit dari ranjang mendengar Rey memanggil. Rasanya sudah berjam-jam mereka dalam diam. Hud seolah sibuk dengan diktat tebal, meski pikirannya tertuju pada Sydney. Rey memunggunginya, sedang tepekur di meja belajarnya. Lukisan itu sudah tergantung di tempatnya kembali.


“Hm...”


“Menurumu, kenapa lelaki itu tidak melawan?”


“Maksudmu?”


“Perkelahian siang tadi, di gedung taekwondo.”


Hud terdiam. Mas Rendra pelatih taekwondo. Bisa jadi, dia  berkomitmen tidak akan membalas muridnya yang sedang menghajarnya karena marah. Karena bisa berakibat fatal bila dia melakukan hal itu. Bagaimanapun juga, tindakan Sydney tidak bisa dimaafkan.


“Aku tidak tahu. Menurutmu apa kita harus mencari tahu?” Hud memancing arah pembicaraan. Jujur, dia sangat ingin menggali bagaimana perasaan Reynand terhadap Sydney.


“Siapa gadis itu, Hud?”


Hud menelan ludah. Akhirnya, pembicaraan benar-benar terpancing ke sana.


“Aku tidak begitu kenal, “ sahut Hud parau, mencoba membohongi dirinya sendiri, “yang aku tahu, dia pernah meminjam tenda. Dia ikut taekwondo. Dan dia sudah dua kali menghajar orang, di hadapan kita. Atau, ada kejadian lain yang aku tidak tahu, tapi kau mengetahuinya?”


Hud menekan kalimat terakhirnya, dan menatap Rey. Dia yakin, Rey menyembunyikan sesuatu dalam hatinya. Dan Hud begitu khawatir bila yang membuat ciut hatinya itu ternyata benar-benar ada di tempat persembunyian Rey. Dalam lubuk hatinya, yang menjembatani rahasianya dengan lukisan itu.


“Aku ingin bertemu dia Hud, aku ingin mengenalnya lebih jauh. Kau bisa membantuku?”