MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
SYDNEY : Seraut Wajah Yang Kuingat



Sepertinya aku berada di sebuah ruangan yang nyaman. Tapi aku tak hendak membuka mataku dulu. Aku harus merasakan semuanya, sebelum aku menyadari ada di mana. Ruangan ini sejuk dan ada bau aneh mendominasi. Seperti bau obat atau pengharum ruangan yang agak pahit di lidah. Ranjangnya empuk dan posisi berbaringku sedikit duduk. Badanku rasanya sakit semua, perutku nyeri dan mulas.


Sebelum membuka mata—yang aku menyadari bahwa ruangan ini tidak begitu benderang—aku mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Ya, aku ingat. Sebuah perkelahian. Aku hendak menolong seorang wanita Jepang yang akan ditusuk oleh penjahat. Aku menyerangnya. Tapi, aduh... perutku kenapa sakit sekali.


Aku kena tendang di bagian perut. Dan, sekarang masih mulas. Aduuh...


Aku membuka mata perlahan, karena perutku semakin mulas. Benar saja dugaan awalku. Aku di rumah sakit. Ruangan serba putih dan infus di tangan kiriku.


“Sydney, kau sudah sadar sayang? “


Sebuah suara berat di  sebelahku. Seorang lelaki yang sudah beruban. Dia bukan orang Jepang. Dia orang Indonesia. Jadi, aku sudah kembali ke Indonesia? Kapan?


Lelaki beruban itu bangkit dari duduknya, meraih tanganku dan menggengamnya hangat. Aku menarik tanganku perlahan, tapi lelaki itu manahannya lembut. Siapa dia? Perlakuannya begitu hangat.


“Kamu siapa? “ tanyaku ragu. Aku hendak menarik tanganku, tapi dia menahannya lagi. Kali ini dia malah menangkupkan tanganku ke dadanya. Dan entah kenapa aku merasa tangannya begitu hangat dan penuh kasih sayang. Kurasa, dia orang yang mengenalku. Tapi, tentu saja aku tidak bisa mengingat wajahnya, kan. Aku, Sydney si pikun.


“Dia, ayahmu, sayang. Tuan Osaka. “


Sebuah suara dengan logat aneh, tahu-tahu muncul di belakang lelaki—Tuan Osaka—itu. Seorang perempuan sipit, tampak sudah sepuh. Orang Jepang yang bisa berbahasa Indonesia.


“Obasaan, dia amnesia atau karena penyakitnya? Apa itu? “


“Prosopagnosia. “


Aku menarik tanganku dari genggaman Tuan Osaka. Lalu berusaha duduk. Tapi perutku terasa nyeri.


“Sydney, jangan dipaksa duduk. Kamu baru saja dipukuli orang, wajar kalau sakit semua. Dan kamu juga... “ Tuan Osaka menjeda kalimatnya, lalu menoleh ke arah perempuan yang dipanggilnya Obaasan, “Tolong panggilkan perawat, mungkin efek pereda nyerinya berkurang. “


Perempuan Jepang itu mengangguk, lalu membuka pintu dan keluar. Tinggal aku dan Tuan Osaka.


“Apa kau sering berkelahi sewaktu di Indonesia? “ tanya Tuan Osaka lembut.


Kami saling menatap. Dia mengelus pipiku lembut. Apa benar, dia ayahku. Ya, sepertinya aku ingat. Aku terbang ke Jepang, tinggal di rumah Tuan Osaka, yang ternyata ayahku. Ayah yang selama ini menyembunyikan diri. Katanya untuk menyelamatkan nyawaku. Tapi, aku tidak boleh percaya begitu saja padanya. Bisa jadi, dia orang yang memanfaatkan kepikunanku mengingat wajah dan mengambil keuntungan dariku. Bisa jadi dia oang yang menyamar menjadi Tuan Osaka. Aku menyesal tidak memberi Tuan Osaka penanda sebelumnya.


Aku memindai ruangan. Hanya ada jendela kaca dengan tirai tipis. Ada bayangan gedung samar-samar di kejauhan. Selebihnya, tidak ada apa-apa. Kalaupun lelaki ini bertindak macam-macam, aku tidak akan berdaya. Aku merasa begitu lemas, bahkan tidak kuat mengangkat badanku sendiri.


“Sydney. Kamu ingat namamu? “


Aku diam. Aku tidak boleh langsung percaya begitu saja padanya. Bisa jadi, dugaanku tadi benar. Dia orang suruhan Mama tiri Reyhan. Memanipulasiku untuk percaya padanya. Lalu dia akan mencelakaiku.


Dan perkelahian itu, jangan-jangan rekayasa juga. Biasanya aku tidak selemah itu menerima tendangan. Tapi, tendangan itu begitu keras, sampai membuatku tidak kuat berdiri. Apa yang sebenarnya telah terjadi padaku? Ah, mungkin karena seminggu terakhir sebelum perkelahian itu, aku sedang masuk angin. Muntah-muntah tiap pagi dan badanku rasanya meriang. Kurasa karena iklim di Jepang yang tidak cocok denganku. Kata Kageyama, sebentar lagi musim dingin, jadi suhu mulai turun. Mungkin saja, tubuhku sedang berusaha beradaptasi.


Kageyama. Di mana dia? Sial, aku juga tidak mengingat wajahnya. Yang jelas, aku memberinya tasbih agar ...


“Ini milikmu. Kamu ingat? “


Tuan Osaka menggenggam sesuatu di tangannya. Tasbih itu. Sial, bagaimana aku bisa mengetahui mana Kageyama nanti? Tasbih itu ada di tangan orang ini. Aku harus waspada. Orang ini, yang mengaku sebagai Tuan Osaka—ayah kandungku, telah memiliki tasbih Kageyama. Di mana Kageyama, apa dia selamat?


“Kau masih bingung, Sydney? “ tanya Tuan Osaka. Masih tetap lembut.


Dia menggenggamkan tasbih itu di tanganku.


Satu keping puzzle sudah ketemu. Lelaki ini, Kageyama, dan tasbih itu. Tapi belum ada yang bisa kupercaya.


“Kudengar dari Mila, selama di Indonesia, kamu juga sering berlagak main hakim sendiri. Dan itu awal bencananya kan? Kau melindungi dirimu karena penyakitmu, atau memang itu karaktermu? “


Aku masih diam. Jangan sampai keluar apapun dari mulutku. Atau akan menjadi bumerang bagiku, karena aku sama sekali tidak tahu berapa lama aku di terbaring di rumah sakit ini. Bisa jadi aku tidak sadar berhari-hari. Dan situasi sudah berubah, tanpa aku ketahui menguntungkan aku atau tidak.


Salahku lagi, aku tadi bertanya padanya siapa dia? Itu semakin menguatkan dia bahwa aku sedang amnesia atau apa tadi? Prosopog....


Pintu terbuka. Seorang berbaju putih masuk, membawa nampan kecil. Sepertinya berisi obat-obatan. Di belakangnya, sepertinya wanita yang tadi. Obasaan. Keduanya orang Jepang asli.


“Sepertinya perutnya masih nyeri, “ ucap Obasaan.


Perawat itu menyuntikkan sesuatu di infusku. Tuan Osaka berucap kata-kata asing, perawat itu menjawab dan Obasaan menimpali. Sepertinya itu bahasa Jepang. Sejurus kemudian, perawat itu keluar. Tinggal kami bertiga.


Masalahnya sekarang, apa aku bisa mempercayai mereka?


“Dia masih bingung, mungkin efek trauma, “ ucap Obasaan di ujung ranjang.


Kalian salah. Aku tidak trauma hanya karena perkelahian semacam itu. Aku hanya tidak yakin kalian orang baik-baik di negeri asing ini. Dan sialnya, aku tidak bisa menemukan penanda bahwa mereka adalah Obasaan dan Tuan Osaka yang sebenarnya. Masa aku harus minta KTP-nya? Ah, itu juga bisa dipalsu. Di Indonesia itu sudah biasa.


“Mila bilang, kalau Sydney menderita prosopon... “


“Prosopognasia, Tuan, “ sahut Obasaan.


“Ya, nama yang aneh. Dan itu membuatnya tidak bisa mengingat wajah orang yang bahkan sudah dikenalnya. Mungkin dia tidak bisa mengenali kita, Obasaan. Makanya dia ragu. Sejak tadi, dia hanya diam. “


“Mungkin, aku bisa menanyainya. “


“Silahkan, Obasaan. “ Tuan Osaka mundur beberapa langkah. Dan Obasaan kini mendekatiku. Dia meraih tanganku dan menggenggamnya.


“Sayang, aku tahu ini berat. Tapi kau harus tabah menerimanya. Aku yakin, kau akan mendapatkannya kembali. Kamu masih muda, masih punya banyak kesempatan. Aku yakin, Allah akan memberikan lagi untukmu. “


Pembicaraan Obasaan terasa aneh di telingaku. Aku tidak kehilangan apa-apa. Kalau rumah, jelas iya. Oh, iya. Aku akan meminta mereka menghubungkanku dengan Mila. Kalau bisa, berarti mereka benar Tuan Osaka dan Obasaan.Ya, kuncinya hanya di Mila. Kulihat Tuan Osaka menerima telepon. Dia berbahasa Indonesia. Sepertinya seseorang menanyakan sebuah alamat padanya. Tuan Osaka berjalan menuju pintu.


“Sayang, setelah ini kau harus banyak istirahat supaya kandunganmu cepat pulih, “ bisik Obasaan sembari tersenyum padaku. Dia mengacaukan fokusku pada Tuan Osaka. Aku harus mengamati gerak gerik lelaki itu.


“Kamu baru saja kehilangan bayimu, Sydney. Kamu keguguran, “


Deg. Apa? Aku keguguran? Berarti aku ...


Tuan Osaka membuka pintu. Dan seraut wajah muncul. Seraut wajah yang tiba-tiba bisa kuingat begitu jelas, hingga membuat dadaku sesak dipenuhi kerinduan.


“Zura... “


“Aditya... “ ucapku parau.


Lelak itu—Aditya—langsung menuju ke arahku dan meraihku dalam dekapannya. Tangisku tumpah ruah di dadanya yang beraroma parfum sama denganku.