
Regina, anak tiri Lusie, tidak kerasan kuliah di Australia, dan memilih pulang begitu saja. Padahal. Lusie masih ingat, untuk memberangkatkan anak manja itu ke Australia, Lusie dan Merlin harus merogoh kantong begitu dalam. Janji Merlin untuk menanggung semua pendidikan anak semata wayangnya—karena sidang perceraiannya memutuskan demikian—benar-benar dipenuhinya. Apapun permintaan Regina, tidak ada yang ditolak. Bila Lusie campur tangan memberikan pendapat, anak itu langsung mengadu ke ibu kandungnya. Dan hal itu adalah pemicu pertengkaran Lusie dengan Merlin.
Lusie menyadari posisinya. Bahwa dulu dia mendapatkan Merlin dengan sebuah pengkhianatan. Dia khawatir, tindak tanduknya dulu akan berbuah karma. Maka, dia tidak boleh salah mengambil keputusan apalagi tindakan. Dia selalu menjaga hati Regina, menuruti semua keinginannya, atas perintah Merlin. Meski hal itu kerap membuatnya dongkol, karena Merlin tidak memperlakukannya sama.
Namun untuk anaknya sendiri—Nadia, buah hatinya dengan Merlin—Lusie tidak ingin menjadikannya gadis manja seperti Regina. Nadia harus menjadi wanita mandiri dan tangguh seperti dirinya. Selalu mendapatkan apa yang diinginkan dengan usahanya sendiri.
“Setidaknya, anak itu harus berguna bila kembali ke Indonesia,” batin Lusie, ketika mobil yang menjemput Regina dari bandara memasuki halaman rumah.
“Kak Gina datang!” seru Nadia ketika mendengar klakson.
Lusie yang duduk menunggu di ruang tamu, membiarkan Nadia menyambut kakaknya. Regina dan Nadia, meski berbeda ibu, sangat akrab. Meski usia mereka terpaut sepuluh tahun.
“Mamaaa... Kak Gina bawa mainan... banyaaaak sekali,” teriak Nadia gembira, dan dia membawa satu tas besar ke hadapan Lusie, lalu menumpahkanya di atas meja. Aneka mainan dalam box berserakan, membuat Nadia menjerit senang. Sejurus kemudian, dia pun membuka sendiri satu kotak mainan yang paling besar.
Lusie meletakkan majalah yang sejak tadi hanya dipangkunya, saatnya memberi perhatian pada anak tiri.
“Ah, Regina sayang. Mama kangen sekali,” ucap Lusie sok tulus, sembari merengkuh Regina dalam pelukannya.
Regina tidak membalas pelukannya, hanya mencium pipinya sebagai syarat menggugurkan kebiasaan di rumah Merlin. Dia lalu menghempaskan tubuh langsingnya di sofa, dan mengibaskan rambutnya. Lusie mengamati pakaian Regina yang serba ketat. Rok pendek di atas lutut dan baju kaos tanpa lengan. Apa anak itu tidak kedinginan selama di pesawat? Mungkin dia sudah terbiasa dengan suhu subtropis.
“Mana Papa? Bukannya tadi Papa menjemput kamu di bandara?”
“Tidak jadi. Katanya ada rapat penting sama Presdir, “ sahut Regina manyun. Tapi sejurus kemudian dia tersenyum-senyum melihat Nadia mulai membongkar oleh-oleh mainannya.
Jadi, anak manja ini belum bertemu Papanya. Pantas saja dia manyun.
“Oh, Presdir baru itu. Maklum, Presdir baru Papa itu masih muda. Masih idealis. Belum menikah lagi,” ucap Lusie sembari duduk menjajari Regina, “bagaimana penerbanganmu?”
“Membosankan.”
“Hm, tidak ada teman yang menyenangkan di pesawat?”
Regina menggeleng. Dia yakin, ibu tirinya sudah tahu apa alasan sebenarnya dia berhenti kuliah di Australia. Karena cowoknya yang ditinggalkan di Indonesia—Deni—punya pacar baru. Lebih tepatnya istri baru. Mereka menikah dadakan bulan lalu. Sebenarnya, keberangkatan Regina ke Australia karena saat itu dia bertengkar dengan Deni dan memutuskan hubungan. Tidak salah, bila kemudian Deni mencari pelarian ke wanita lain. Kalau Lusie jadi Regina, Lusie tidak akan pulang ke Indonesia seumur hidup.
“Kamu memang sebodoh ibumu,” batin Lusie sembari tersenyum mengingat kemenangannya bertahun-tahun yang lalu, “jangan pernah meninggalkan lelaki yang kesepian.”
Strategi. Bagi Lusie, yang penting adalah strategi dalam memanfaatkan situasi. Seorang sekretaris seperti dia tidak akan ada yang melirik kalau tidak punya kendaraan berkemudi bundar. Ibrahim yang tampan dan mata keranjang tidak bisa dipikatnya, meski sudah lama Lusie jatuh hati padanya. Tapi, kemudian ada Merlin, lelaki yang kesepian. Meski usianya jauh lebih tua, tapi kesempatan terbaik ada padanya. Dengan menjadi istri Merlin, derajatnya membubung dan setara dengan istri para Dewan Direksi. Merlin tetaplah Merlin. Lelaki yang mudah dikelabui. Dan menjadi mudah bagi Lusie untuk memikat siapapun. Termasuk Ibrahim, meski dia harus berperan seperti merpati. Seperti jinak, tapi perlu usaha keras untuk didekati. Menebar budi pada Ibrahim, membuatnya bisa mengikat lelaki itu. Tidak seperti Mulan yang memperlakukannya seperti budak.
“Mungkin, Mama bisa mengenalkanmu pada seorang teman.”
Regina bergeming, tidak tertarik. Tapi sepasang mata lentiknya mengikuti gerakan Mama tirinya. Mengambil majalah di atas meja, lalu membukanya di hadapan Regina. Dan dia berhenti pada satu halaman, yang menampilkan seorang lelaki berjas hitam, memakai kaca mata hitam. Tampak elegan. Regina meraih majalah itu, membuat Lusie bersorak dalam hati.
“Siapa ini, Ma?”
“Presdir baru Papamu.”
“Muda banget. Kupikir sudah tua.”
“Seumur kamu kayaknya. Dia menggantikan ayahnya yang meninggal.”
“Aku dengar kabar itu, katanya dibunuh, ya Ma?”
Lusie mengedik bahu,”Mama tidak tahu masalah itu.”
“Baca saja di situ.”
Lusie bangkit dari sofa, menuju dapur untuk mengambil minuman. Saat dia kembali, Regina sudah tidak ada di ruang tamu. Pintu kamarnya di lantai dua terbuka. Lusie tersenyum. Dia harus mengatur strategi supaya anak itu menjadi berguna untuknya. Perlahan dia berjalan penuh percaya diri menaiki tangga, dan berdiri bersandar di kusen pintu kamar Regina. Regina sedang tengkurap di ranjangnya, sembari membaca majalah itu. Matanya tampak berbinar.
“Mama dengar, posisi Dewan Direksi agak goyah. Presdir baru membuat banyak syarat. Kalau mereka tidak bisa memenuhi, mereka akan dipecat. Mama hanya khawatir, posisi Papamu akan tergeser. Makanya, kamu harus maklum kalau Papa tidak bisa menjemputmu bila Presdir memanggil. Papa harus baik-baik sama Presdir baru.”
“Dia galak?”
“Hm, tidak juga. Dia lembut dan.... “
“Ganteng banget, Ma.”
Lusie terkekeh.
“Ah, masa? Tidak ada wanita di sekelilingnya. Dia dikawal bodyguard kemana-mana.”
“Benarkah? Keren dong.”
“Kabarnya karena dia bisa jadi menjadi target pembunuhan berikutnya.”
“Ah, tidak. Jangan dong, Ma.”
Lusie duduk di ranjang Regina. Dia tidak ingin mendesak anak itu, atau dia akan berlari pada ibu kandungnya. Dan seperti boomerang, Merlin akan menyalahkannya bila sampai hal itu terjadi.
“Sebenarnya Mama juga khawatir tentang itu. Tapi, mudah-mudahan saja tidak terjadi. Dia orangnya tertutup, dan terkesan dingin terhadap wanita.”
Regina duduk, menghadap Mama tirinya.
“Mama bisa mengenalkanku padanya?”
“Eh ... siapa, Mama? Papamu yang dekat dengannya.”
“Ayolah, Ma. Setidaknya, dia jauh lebih baik dari Deni. Kalau aku jadi sama dia, aku jadi Istri Presdir, kan Ma? Apa Mama tidak senang?"
Lusie berpura-pura mengedik bahu, “Ah, itu mimpi, Gina. Siapalah kita dibanding Presdir. Papamu hanya pegawai di Maskapai.”
“Mama jangan pesimis dong. Mama bisa bantu aku, kan?”
Lusie menatap Regina yang tampak bersemangat, malah bergairah menurutnya. Dalam hatinya, Lusie bertepuk tangan, tapi berusaha ditahannya jangan sampai tersirat di wajahnya.
“Please...”
“Mama harus bagaimana?”
“Mama harus janji, Papa tidak tahu rencana kita.”
“Apa? Mana bisa...”
“Please, Ma. Aku harus membalas Deni yang meninggalkan aku. Dan balasan ini sangat pantas buatku.”
Lusie tersenyum.