MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Istri Merlin



Lusie adalah istri kedua Merlin. Merlin


menceraikan istri pertamanya sekitar sepuluh tahun yang lalu, yang sudah


memberinya satu anak perempuan. Tidak banyak yang tahu kenapa Merlin


menceraikan istrinya selain Mulan. Semua kisah istri Dewan Direksi, Mulan hafal


tanpa perlu mempunyai catatan khusus. Yang jelas, kasak kusuk saat perkawinan Merlin


dengan Lusie—sekretarisnya sendiri yang masih gadis—tidak jauh dari dunia kerja


yang berselebung hubungan tidak halal tersembunyi.


Setiap menatap Lusie, dalam pikiran Mulan selalu


timbul pertanyaan besar. Kenapa Lusie mau kawin dengan lelaki bangkotan, yang


kalau berjalan saja seolah sedang memanggul karung beras. Bagaimana mereka


berdua melalui malam, Mulan tak bisa membayangkannya. Yang jelas, Lusie perlu


makan dan pengakuan, sehingga tidak perlu memikirkan urusan kamar tidur.


Menjadi istri Dewan Direksi, tangan kanan Ariel Bramantya, jelas sebuah


kedudukan bergengsi kedua setelah Mulan. Terkadang seorang wanita hanya


memerlukan pengakuan, bukan pemuasan hasrat apalagi syahwat,


Mulan tidak pernah menganggap Lusie sebagai


ancaman. Passion Lusie bukan seperti dirinya. Dia lebih suka berseliweran di


mall dan medsos, menghabiskan uang Merlin. Mobilnya kerap gonta ganti seperti


ganti baju saja. Dua anaknya yang masih kecil, tidak jauh berbeda dengan ibunya.


Boros dan sulit diatur. Bila Lusie mengajak anaknya saat arisan, Mulan tidak


tahan dengan mulut bawel mereka minta ini dan itu.


Tidak ada satupun perempuan di maskapai mengetahui


kehidupan pribadi Mulan, tidak juga para istri Dewan Direksi. Mulan sangat


pandai menutupnya rapat-rapat. Yang diketahui mereka hanyalah seorang perempuan


cantik, energik, selalu mendukung suami dan setia. Dan yang lebih penting lagi,


cengkeraman Mulan terhadap mereka, sampai menembus rumah-rumah mereka. Tidak


ada yang berani menentang Mulan. Semua orang selalu membuatnya senang, terutama


Lusie. Bila Mulan tidak menyukai sesuatu, Lusie tidak akan mengulanginya.


 “Kami


semua prihatin dengan kondisimu, Mulan. Apa yang bisa kami bantu?”


Sebutan nama tanpa embel-embel, sengaja dibudayakan


Mulan pada para istri Dewan Direksi. Hanya untuk membuat agar mereka merasa


tidak punya batas dengannya, merasa begitu diakrabi. Memudahkan Mulan


mendapatkan apa yang diinginkannya.


“Aku baik-baik, saja,” sahut Mulan dengan nafas


berusaha diatur setenang mungkin.


Lusie memindai Mulan. Mulan tampak kelelahan


setelah memukuli pembantunya. Bahkan hanya duduk santai sembari bersandar di


sofa dengan baju ala kadarnya, wanita itu masih kelihatan terhormat. Mulan


mengamati tangan Mulan yang terlipat di dada, tidak habis pikir tangan langsing


itu bisa menghantam sopirnya yang kekar. Lusie sempat melirik ke atas, menaiki


beberapa anak tangga untuk melongok ke pintu kamar Mulan. Dia melihat, sopir


Mulan keluar dari kamar dengan langkah tertatih sembari memegangi lengannya.


Sepertinya, Mulan menghajarnya habis-habisan. Wanita itu memang gila.


Di ruang tamu itu hanya tinggal mereka berdua


dan meja tamu yang berantakan dengan sisa hidangan. Para istri Dewan Direksi sudah


meninggalkan Rumah Coklat, setelah mereka tidak mendapati Mulan tidak kunjung turun


dari tangga. Satu per satu meninggalkan Rumah Coklat setelah ijin pada Lusie,


tangan kanan Mulan. Mulan sedang mengamuk setelah pulang dari maskapai,


sebaiknya mereka menunda acara arisan ini. Membiarkan Mulan menenangkan diri.


Empati dalam kondisi seperti ini, bisa jadi boomerang bagi mereka bila


disampaikan dengan tidak tepat.


“Aku tidak yakin kamu baik-baik saja setelah


semua yang kau alami, Mulan. Kematian suamimu sudah membuatmu terpukul. Apalagi


ternyata polisi harus menginterogasi semua. Dan maskapai yang kami mengira akan


kamu pimpin, ternyata …”


“Aku tidak mau bicara maskapai sekarang…” sahut


Mulan ketus.


“Hei, mereka panik melihatmu…” ucap Lusie


seraya menunjuk pintu keluar Rumah Coklat, “kami tahu, kamu perlu bantuan kami.


Tapi kalau kamu tidak mengatakan apapun, bagaimana kami bisa membantu?”


“Kalian urus saja suami kalian masing-masing. Pastikan


Reynand tidak memecatnya, “ sergah Mulan kasar.


Lusie menaikkan alis, “Apa? Anak ingusan itu


memecat suamiku? Aku tidak akan tinggal diam.”


“Apa yang akan kamu lakukan? Bersimpuh di


kakinya? Merayunya dalam pelukanmu seperti kamu merayu Merlin?” ejek Mulan


sembari melirik Lusie sinis, “kalau kau bisa melakukannya, aku akan memberi


hadiah yang pantas.”


Bukan Lusie namanya kalau dengan ejekan dia


menjadi patah arang. Celaan dan cemoohan justru menjadi lecutan dirinya untuk


membuktikan bahwa dia bukan wanita sembarangan. Apa yang dilakukannya pada


Merlin dulu adalah hal yang sama. Hanya saja, waktu itu dia dibutakan oleh


harta lelaki itu yang menganggur karena istrinya juga mempunyai bisnis yang


lumayan sukses. Sekarang, meski dia memastikan bila Merlin tutup usia semua


warisan jatuh padanya, dia tetaplah wanita yang kesepian. Merlin sudah tidak


sanggup memenuhi keinginannya selain uang.


“Kau tahu aku sangat bisa melakukan hal itu,


Mulan.”


Mulan menoleh dengan pandangan menyalak tajam, “Kau?”


Lusie berdiri, berjalan melintasi ruang tamu,


layaknya model di catwalk.


“Kau pikir aku tidak mampu? Bukankah kau tahu


bagaimana aku menaklukkan Merlin? Kurasa aku tidak perlu menceritakan detilnya


kembali. Yang jelas, aku sukses membuat Merlin menceraikan istrinya. Apalagi


“Itu bukan prestasi yang luar biasa. Merlin pria


tua yang kesepian. Wajar dia menerimamu saat itu. Istrinya sering ke luar


negeri untuk urusan bisnis, Merlin hanya diurus oleh pembantu dan anak


perempuannya.”


Lusie terkekeh, “Aku sebenarnya tidak mau


mengakui deretan prestasiku. Tapi, sepertinya kamu meragukanku. Karena kamu


belum tahu saja.”


Mulan memindai Lusie. Usia wanita itu separuh


Merlin, meski tidak seusia anak Merlin yang masih kuliah. Dia cantik dan


energik, tidak jauh berbeda dengan dirinya. Dan yang lebih penting, dia


ambisius. Satu hal yang mirip dengan dirinya, namun Lusie tahu diri bahwa dia


tidak akan bisa mengungguli Mulan.


“Kau tahu saat salah satu pesawat Eagle


kecelakaan di landasan, hmm … kira-kira dua atau tiga tahun lalu, kalau tidak


salah. Ibrahim nyaris dipecat. Tapi, aku membuatnya tetap berada di Eagle.


Istrinya datang kepadaku, mengatakan kalau dia bisa mati bila Ibrahim tidak


lagi di maskapai. Dia meminta bantuanku, supaya Merlin bisa mempertahankan


Ibrahim. Kau tahu kan kalau aku pernah di maskapai, menjadi sekretaris Merlin.


Ada beberapa celah aturan pegawai di maskapai. Aku menemukannya, dan aku


menyelematkan Ibrahim.”


Mulan bertepuk tangan kecil, “Itu baru


prestasi.”


“Tentu saja Ibrahim memberiku hadiah yang


pantas.”


“Maksudmu?” tanya Mulan curiga, tiba-tiba detakan


dadanya bersicepat. Kalimat itu adalah kalimat miliknya, bagaimana mungkin


Lusie berani mengucapkannya.


“Kami sering bertemu, tentu saja tanpa istrinya


mengetahui. Dia sudah merasa begitu berhutang budi padaku. Jadi dia tidak


pernah curiga. Istri yang baik.”


“Apa maksudmu bertemu?”.


Mulan merasa ada aliran darah naik ke kepalanya.


Ibrahim sering bertemu Lusie? Tidak, lelaki itu hanya bertemu dengannya. Tidak …


tidak mungkin Lusie, meski wanita itu lebih muda darinya.


“Yah, bertemu. Sebagaimana dulu aku dan Merlin


kerap bertemu. Ke luar kota, ke luar negeri… yah seperti itulah. Kau tahu


Mulan, lelaki seperti Merlin hanya memberiku uang. Sedangkan aku…”


Mulan serasa ingin melompat dan menerkam Lusie


yang dengan bibir merah menyalanya menceritakan di mana saja dia bertemu dengan


Ibrahim, selama tiga tahun ini.


“Kau tahu, sampai aku ini bingung, Mulan. Aku


ini istri Merlin apa Ibrahim?”


Lusie tertawa girang. Mulan mencengkeram sofa,


menahan nafasnya yang hendak meledak. Dadanya terasa dihimpit beban luar biasa


berat. Matanya nyalang menatap Lusie yang tidak menyadari bahwa sebuah bom akan


mengakhiri hidupnya bila Mulan sudah meledak. Lusie meraih gelas minuman, duduk


dengan elegan dan meneguk minumannya perlahan sembari tersenyum. Dan bibirnya


masih saja menggulirkan kalimat yang membuat Mulan semakin ingin mencakarnya


hingga menjadi serpihan.


“Kau tahu, alangkah baiknya istri Ibrahim.


Hanya dia yang berduka atas kematian suaminya. Kita tidak berduka, kan Mulan?”


Tiba-tiba Lusie menatap Mulan tajam. Mata tajam


mereka berdua beradu. Pandangan itu, membuat Mulan tiba-tiba menyadari, bahwa


dia tidak lagi punya cengkeraman kuat di maskapai. Dia tidak lagi istri


Presdir. Dia kini hanya seekor kucing yang hanya bisa mengeong di pintu


maskapai, karena saham yang ditanamnya tidak berarti apa-apa di maskapai.


Sekarang, Lusie adalah wanita paling terhormat di maskapai. Dia, istri Merlin,


tangan kanan Presdir Reynand.


“Apa maksudmu?” geram Mulan, merasa suaranya


tercekik oleh nafasnya sendiri.


“Jangan kau kira aku tidak tahu kalau kau bermain


api dengan Ibrahim. Sadarilah, kau hanya memantik api, aku api unggunnya.”


“Kau menggertakku.” Mulan merasa kepalanya


berputar dan matanya tidak lagi melihat gesture Lusie sebagai wanita elegan


bawahannya. Lusie adalah orang yang mencengkeram maskapai sekarang. Wanita itu


tersenyum mengejeknya, lebih tepat lagi, menghinanya.


Lusie tertawa, “Ah, Mulan. Siapalah aku. Aku


hanya wanita yang suka bermain di mall dan medsos. Kau pernah bilang, kita


perlu pengakuan. Ya, kan?”


Lusie meraih ponselnya yang sejak tadi


tergeletak di atas meja. Lalu sejurus kemudian menunjukkan beberapa gambar pada


Mulan. Mulan membeliak tak percaya.


“Ibrahim yang mengirimku gambar ini. Dia lelaki


yang membutuhkan pertolongan kan? Lihat ini. Bahunya memar, lengannya meradang


dan … ada lagi…”


“Hentikan!” teriak Mulan histeris, sembari


melempar ponsel Lusie dan menghantamkannya ke tembok.


Ponsel Lusie tercerai berai. Tapi wanita itu


hanya mengedik bahu santai.


“Ah, Mulan. Kenapa kau emosi? Aku yang


menyembuhkan luka-luka Ibrahim. Seharusnya kau berterima kasih padaku.”


“Apa yang kau inginkan?”


Mulan mencengkeram kerah leher Lusie. Matanya menatap


Lusie penuh murka.