
Dan pencarianku sampai di sebuah rumah dengan gradasi warna coklat. Ini bukan rumah. Ini istana. Mungkin bisa dibilang nekat, aku berdiri di depan gerbang rumah ini. Berharap Rey membuka pintu pagar atau gerbang istananya? Tentu aku tidak ingin terlihat konyol, seperti seorang wanita yang mengejar-ngejar seorang lelaki.
Well, masker wajah hijau yang kubeli di apotik setidaknya bisa membantu.
Seorang lelaki berkemeja dan bercelana hitam mendekat ke gerbang. Sepetinya dia petugas keamanan. Rumah mewah seperti ini setidaknya punya beberapa satpam. Semoga saja ini bukan rumah gubernur atau menteri. Tak heran, penampilan Rey lebih bersinar dari mahasiswa lain. Apa dia tidak salah kuliah di Perguruan Tinggi negeri, melihat kehidupan borjunya seperti ini?
“Ada yang bisa saya bantu, mbak?”
Aku sedikit menurnkan masker, hanya sampai di bawah mulut.
“Em, begini pak. Saya dari majalah kampus. Sudah beberapa hari ini saya kesulitan menghubungi Reynand. Sedangkan deadline sudah dekat. Saya hanya perlu menambah sedikit bahan untuk interview saja. Apa Reynand ada di rumah?”
Lelaki itu terdiam sejenak, “Tidak ada.”
“Hm, mungkin ada anggota keluarga lain yang bisa membantu saya untuk materi interview. Sepetinya, Reynand sibuk banget sehingga saya kesulitan mencarinya.”
“Dia pasti membuang hapenya lagi, “ ucap lelaki itu, berkeluh.
Aku tertawa kering, membuang hape? Aku yakin hape yang baru dibeli sehari dan dia bosan atau tidak suka.
“Sepertinya begitu. Dia anak yang cepat bosan.”
Hening sejenak. Sepertinya, lelaki itu berusaha mengambil keputusan tanpa dimarahi majikan. Membuka pintu untuk orang asing tanpa tanda pengenal sepertiku, atau nalurinya lebih dominan kasihan melihatku di panas terik menyandang ransel, dengan sepatu kets butut.
“Adakah yang bisa saya temui, pak?”
“Emmm …ada. Mamanya. Nyonya Bramantya,” ucap lelaki itu menegaskan bahwa itulah panggilan yang seharusnya untuk Mama Reynand. Aku berjanji tidak akan memanggilnya emak.
“Wah, tepat sekali.”
Lelaki itu membuka gerbang yang kelihatannya sangat berat. Mengiringi langkahku menuju ruang tamu. Bahkan dari gerbang menuju ruang tamu, sepanjang gang satu RT di kampungku.
Rumah bernuansa gradasi warna coklat. I love it. Mungkin kelak bila aku sukses, aku akan mendiami rumah seperti ini. Nenek pasti tidak suka. Tapi tidak mengapa, dia tidak perlu keluar rumah untuk melihat rumahku nanti dari kejauhan. Berjalan di dalam rumah saja sudah cukup melelahkan baginya.
Ruang tamunya … wuiiih. Tinggi dan luas. Ada tangga berbatas pagar besi dengan ukiran elegant berwarna coklat tua. Sofanya luar biasa empuk. Pantatku nyaris tenggelam di atasnya. HEmbusan pendingin ruangan yang lembut, dan snack ringan yang sudah tersedia di meja. Aku berharap tidak terlelap di sofa ini sampai si empunya rumah menemuiku.
Perempuan cantik itu memang layak tinggal di istana semewah ini. Bahkan berjalannya pun begitu anggun dan memukau.
“Saya Sydney, Nyonya.”
Perempuan itu hanya mengangguk, mengabaikan uluran tanganku. Oke, aku faham. Tangan orang miskin tidak layak berjabat dengan tangan empuk orang kaya. Aku jadi teringat telapak tangan Reynand. Empuk seperti sofa ini. Yakin, dia gak pernah memegang sapu apalagi barbel.
Dia, duduk dengan anggun, melipat tangan. Arogan, jelas dan pantas.
“Saya dari majalah kampus…”
“Hm, jadi Reynand sudah kembali ke cita-cita awalnya. Jadi apa dia di majalah? Coverboy?”
Aku nyaris tersedak dengan kalimat sinis Nyonya besar di hadapanku.
“Bukan, Nyonya. Kami kemarin ada kampanye, dan Reynand menjadi salah satu kandidat.”
“Kampanye? Reynand jadi kandidat? Heh, bisa apa anak itu? Kandidat apa?”
“Em…. Ketua BEM, Nyonya.”
Aku merapal doa, perempuan di hadapanku ini tidak akan melakukan sidak di kampus. Toh, dia tidak akan menemukan aku di antara ribuan mahasiswa.
“Jadi, dia mau jadi Ketua BEM. Hahahaha….”
Tawa Nyonya besar membahana, dia terpingkal-pingkal. Aku hanya bisa membiarkannya. Bagaimanapun, dia juga manusia yang bisa tertawa bila ada yang lucu. Aku berharap, skenarioku tidaklah selucu itu baginya.
“Mana mungkin dia bisa? Dia hanya bisa ke salon, perawatan, main piano, melukis, ballet. Dia mau jadi lelaki tulen? BULSHIT!”
Aku menelan ludah. Amarah itu begitu kuat aku rasakan. Wanita di hadapanku ini, tidak mencintai Reynand sebagai anaknya. Tiba-tiba, aku melihat aura berbeda di sekeliling nyonya besar ini. Wajahnya berubah memerah dan tampak garang. Entah kenapa, ujung kakiku mulai gemetar. Aku, tidak bisa menyelesaikan hal ini dengan sekali pukulan. Ini lebih rumit dari itu.
“Ma… maksud Nyonya?”
“Dia masih tinggal di rumah kumuh itu?”
“Lah, saya ke sini karena yang saya tahu rumah Reynand di sini, Nyonya, “ ucapku berusaha mencairkan suasana, meski aura hitam misterius memenuhi ruangan.
“Dia tidak mungkin menunjukkan pada siapapun kalau rumahnya di sini. Dia tidak mau mengakui kalau aku Mamanya yang membesarkan dia. Dari mana kamu tahu rumah ini?”
Glek!
“A…. ada di internet, Nyonya.”
“Bah! Internet. Dia memang populer kan, lebih populer dari aku.”
“Hmm, begini Nyonya. Saya hanya perlu data nama keluarga Reynand, dan bagaimana dia dibesarkan.”
“Apa? Keluarga Reynand?”
“Iya, Nyonya.”
Nyonya besar itu bangkit, berkacak pinggang dan matanya mendelik. Sepertinya dia akan menelanku bulat-bulat. Bila memang dia mama Reynand, aku yakin Reynand tidak tinggal di sini. Tapi di rumah kumuh yang disebutnya tadi. Bisa jadi, rumah kontrakan seperti punyaku, atau yang lebih berkelas.
“Dia itu anak HARAM! Anak pembantu! HARAM!”
Lelaki yang tadi mengantarku masuk, tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan, bergegas mendekati majikannya yang sedang naik pitam.
“Nyonya, sebaiknya nyonya istirahat saja. Ini masih siang. Mohon maaf bila tamu ini mengganggu istirahat nyonya.”
Aku mendelik.
Nyonya besar itu membalikkan badan, lalu menghilang di pintu utama.
“Mbak, sebaiknya mbak pulang saja. Nyonya sedang tidak enak hati.”
Aku mengangguk, aku sudah tahu. Tapi ada yang harus kudapatkan dari bapak ini. Kukeluarkan gulungan sketsa dari Reynand.
“Bapak tahu, ini siapa?” tanyaku sambil membentang gambar itu.
Bapak itu sedikit terkejut, tapi sejurus kemudian cepat menguasai diri.
“Ini teman perempuan Tuan Reynand. Beliau melukisnya karena setelah itu mereka tidak pernah bertemu lagi.”
“Hm, begitu. Satu lagi, apa benar issu bahwa Papa Reynand dibunuh?”
Bapak itu tampak panik, menoleh ke pintu tempat Nyonya besarnya tadi keluar, lalu menggamitku keluar ruangan.
“Sebaiknya, jangan bicarakan itu di sini. Jangan juga percaya berita yang beredar di internet. Tuan Bramantya banyak saingan bisnis, mereka hanya mencari-cari cara untuk menjatuhkan. Polisi sedang menangani kasusnya, sebaiknya anda tidak ikut campur.”
Aku mengangguk-angguk. Bapak itu mengawalku keluar rumah, sampai ke pintu gerbang. Aku belum mendapatkan banyak berita. Sedangkan sumber berita ada di rumah ini.
“Saya bisa minta nomer bapak? Mungkin suatu waktu saya butuh tambahan infomasi.”
Bapak itu mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Kartu nama. Jadi namanya Darmaji, jabatannya Driver. Jadi dia sopir keluarga, pastinya dia tahu banyak informasi tentang Reynand. Informasi yang tentu saja aku tidak akan menanyakan langsung pada Reynand layaknya sebuah interview. Itu terlalu konyol. Lagipula, aku sudah memintanya untuk tidak menemuiku lagi. Sementara aku berusaha menenangkan hatiku sendiri, mencari jawaban atas beribu pertanyaan.
“Hm, jadi Reynand benar akan mewarisi maskapai?”
Bapak itu mendorongku keluar gerbang, dan memintaku segera meninggalkan istana mereka.