
Rumah Coklat yang selalu sepi, sehingga
terkesan tidak berpenghuni, kini tampak lebih hidup. Ada deretan mobil diparkir
di halaman luasnya. Dan beberapa wanita kaya dengan dandangan anggun, make up
mahal, dan aksesoris yang tidak murahan, berseliweran di depan pintu Rumah
Coklat. Pintu sudah terbuka sejak siang tadi, dan hidangan sudah tertata di
meja, tapi si empunya rumah belum juga keluar. Seorang pelayan mempersilahkan
wanita-wanita itu untuk duduk di ruang tamu dan menikmati hidangan.
“Nyonya baru saja datang dari maskapai, sebentar
lagi turun.”
Semua mata mengarah ke tangga menuju lantai
dua, tempat biasanya Mulan Bramantya turun dengan elegan. Pertemuan istri Dewan
Direksi semua perusahaan Bramantya di Rumah Coklat adalah pertemuan rutin
setiap tiga bulan sekali. Hanya makan-makan atau mengocok arisan. Para wanita
ini adalah istri para Direksi yang selalu berusaha menjalin hubungan baik
dengan Mulan, mendukung dia ketika kehilangan dan merasa harus berada di
sisinya untuk menghibur. Atau, suami-suami mereka akan didepak dari maskapai
atau pabrik sepatu dan restoran, hanya karena istrinya salah bicara pada Mulan.
Sudah banyak kejadian ketika Bramantya masih hidup. Lelaki itu sepertinya
membiarkan istrinya bertindak seenaknya. Beberapa hypermarket terpaksa dijual
Bramantya karena Mulan seenaknya memecat manajer dan beberapa pegawai. Hanya
karena istri mereka kepleset bicara, dan Mulan sakit hati.
Jadi, menghadapi seorang Mulan, harus penuh
pertimbangan. Jangan sampai salah sikap atau salah bicara.
Mila mendekati Darmaji yang baru saja
memasukkan mobil ke garasi. Saat majikannya itu turun dari mobil, dan
membanting pintu garasi, Mila tahu bahwa telah terjadi sesuatu di maskapai.
“Pak Dar, para tamu sudah menunggu.”
“Biarkan saja menunggu, memangnya kenapa?”
“Mungkin kau bisa membujuk Nyonya untuk segera
turun. Kau tahu kalau para istri pembesar itu menunggu terlalu lama, kami di
dapur harus menyiapkan makanan tambahan.”
Darmaji menatap Mila. Wanita sebayanya itu
mendengus.
“Kau ketuk saja pintu kamarnya.”
“Dia sedang marah, aku tidak mau dilempar
sepatu.”
Darmaji menghela nafas. Fisiknya sedang tidak
prima hari ini. Sepertinya sebentar lagi dia akan terkena flu. Sudah tiga kali
dia bersin selama menyopir dari maskapai ke rumah, sementara majikannya
berkali-kali memukul dashboard. Sesuatu telah terjadi di maskapai, dan
majikannya pasti akan menceritakan padanya bila Darmaji sudah menghiburnya.
“Pak Dar… cepat. Cuma kamu yang bisa
membujuknya.”
Mila menekan nada bicaranya pada kata terakhir.
Semua pembantu di rumah ini sudah bisa mengendus perlakuan Darmaji dan Nyonya
besarnya. Hanya Darmaji yang bisa membujuk bos besar mereka bila sedang marah. Baik
Mila atau pembantu lainnya tidak pernah tahu yang sebenarnya, karena mereka
berdua selalu mengunci pintu kamar bila Darmaji sedang membujuk Nyonya Mulan.
Yang jelas, banyak suara-suara berdebam dan benda berjatuhan.
Mila, tak mau ambil pusing. Baginya, yang
penting bisa bekerja dan mengirim uang ke emaknya di kampong. Urusan perbuatan
Darmaji dan Nyonya besarnya, adalah dosa mereka berdua.
Darmaji menuju kamar majikannya dengan langkah
tidak setegap biasanya. Dia memang sedang tidak enak badan, tapi bagaimanapun
juga, dia hanya pekerja yang harus menuruti kemauan majikannya.
Pintu kamar majikannya sedikit terbuka. Darmaji
mengetuk sebentar, lalu masuk. Didapatinya Mulan sedang duduk di meja riasnya,
menatap wajahnya yang penuh amarah di depan kaca. Darmaji mengunci pintu, lalu
berjalan perlahan dan berdiri di belakang Mulan.
Mulan melirik ke arahnya. Matanya merah
menyala. Amarah sepertinya tidak bisa lagi dibendungnya.
“Nyonya…. membutuhkan saya?” tanya Darmaji
dengan suara gemetar. Dia tidak lagi gentar mendapati mata merah menyala penuh
amarah itu. Dia sudah membayangkan apa yang akan dilakukan majikannya padanya.
Meski kondisi fisiknya sekarang tidak prima, tapi dia harus siap menerimaya.
“Reynand brengsek!” maki Mulan sembari
menggebrak meja riasnya.
Beberapa make up nya menggelinding dan
berjatuhan. Mulan tidak peduli.
“Harusnya kubunuh dia sejak kecil!” teriak
Hud yakin, suara Mulan tidak akan keluar sampai
ke lantai bawah. Ruangan ini tertutup rapat, baik pintu maupun jendelanya.
“Dasar anak haraaam!”
Bug! Bug! Bug!
Darmaji mengaduh lirih. Pukulan Mulan mendarat
di perutnya, juga tendangannya. Darmaji merasa kepalanya berdenyar, dia
terguling ke lantai.
Bug! Bug! Bug!
Tendangan berikutnya, diiringi makian Mulan
pada Reynand.
“Mati kau anak haram. Mati kau!”
Darmaji perlahan bangkit ketika Mulan memberi
jeda. Membuka bajunya, siap menerima pukulan langsung ke kulitnya. Mulan tampak
beringas. Dia melompat ke badan Darmaji, meninju wajahnya dan menjambak
rambutnya. Darmaji terjengkang dan badan Mulan menindihnya.
“Kau tahu, Dar. Aku akan membuat anak itu
membusuk di neraka!”
Darmaji hanya memejam, menerima pukulan demi
pukulan. Membiarkan majikannya melampiaskan emosinya. Baginya, pengorbanan ini
layak dia lakukan, meski dia harus berdarah-darah. Kalau tidak, maka para
pembantu perempuan yang akan menerima pelampiasan amarahnya. Terutama Mila,
pembantu dengan hubungan kekerabatan jauh dengan ibu Milan—hubungan yang masih
saja disangkalnya sampai kini di hadapan majikannya. Mila sudah pernah patah
tangannnya, Darmaji tidak ingin Mila menerima nasib lebih buruk lagi. Cukuplah
semua dia yang menerima.
Mulan berdiri di atas tubuh Darmaji yang
tergeletak di lantai, dengan nafas terengah dan memburu. Emosinya sudah
terlampiaskan semua pada Darmaji, dan lelaki itu kini siap menerima luapan
emosi terakhirnya.
Mulan merebahkan tubuhnya di samping Darmaji.
Darmaji mengelus rambut majikannya lembut, lalu mengeluskan bibirnya di kening
majikannya. Tatapan mata perempuan itu tidak lagi dipenuhi amarah. Tatapannya
berganti menjadi penuh nafsu.
***
Wanita-wanita di ruang tamu, mengheningkan
suaranya. Berusaha menangkap suara samar-samar di di lantai atas. Suara benda
berjatuhan dan suara sedang dihajar. Tapi tak ada suara kesakitan.
“Mulan kambuh?” bisik seorang wanita dengan mascara
tebal.
“Dia kalau emosi seperti itu. Pembantunya
dipukuli.”
“Kasihan.”
“Sepertinya ada sesuatu terjadi di maskapai.”
“Ya, tadi suamiku menelpon,” sahut seseorang
yang sudah beruban, “anaknya datang ke maskapai dan membuat Dewan Direksi
gerah. Katanya, dia akan memecat Direksi bila tidak bisa menaikkan saham
maskapai.”
“Gila, anak ingusan itu? Bisa apa dia?”
“Dia yang mewarisi maskapai. Mulan hanya
mendapat pabrik sepatu.”
“Apaaaa?” tanya semua wanita itu serempak,
dengan suara tertahan.
“Kukira dia yang mendapat maskapai.”
“Kau pikir maskapai bisa dipimpin perempuan
yang suka ngamuk seperti dia. Bisa jatuh semua pesawat Eagle. Ariel Bramantya
itu bukan orang bodoh. Yang jelas, perusahaan terpentingnya lebih aman bila
dipegang oleh keturunannya. Kita di sini, dalam rangka meredam emosi dia,
supaya suami-suami kita bisa tetap bekerja di maskapai. Aku tidak bisa
membayangkan kalau anaknya yang masih ingusan itu memecat suami-suami kita.
Kita harus membantu Mulan. Dia berambisi menyingkirkan anaknya dari maskapai.
Tapi, aku tidak tahu bagaimana caranya karena anaknya pemilik maskapai
sekarang. Mulan tidak punya apa-apa di sana.”
“Kudengar anaknya masih kuliah, satu kampus
dengan anakku.”
“Anakmu perempuan, kan?”
Para wanita di ruang tamu itu seperti mendapat
secercah harapan. Mereka harus menyelamatkan posisi suami-suami mereka. Dan
satu-satunya cara adalah mengganti posisi Presdir. Mulan sangat bisa
dipengaruhi bila sudah menjabat sebagai Presdir.