
Hud melempar jacketnya ke atas ranjang, lalu berkacak pinggang di tengah
kamar. Bintik-bintik keringat di keningnya dan kerah jacket yang basah
mencirikan alangkah gerahnya dia di sore hari ini. Tampak sekali wajahnya
begitu kesal. Terlepas dia telah menemani Mas Hanif yang sebentar lagi akan
meninggalkan masa lajang—di masa kuliah—bila orang tua calon wanita menyetujui,
seharusnya dia berwajah sumringah. Tapi dadanya seketika menjadi berat begitu
dia masuk ke dalam kamar.
Yang membuatnya kesal adalah wanita di samping calon mas Hanif, saat Hud
mendampingi Mas Hanif untuk ta’aruf dengan seorang muslimah. Wanita di samping Karin—calon
Mas Hanif—tak lain dan tak bukan adalah Sydney. Dia sama sekali tidak menyangka
bahwa calon Mas Hanif ternyata satu kontrakan dengan Sydney. Dan sungguh,
selama acara ta’aruf itu, mati-matian dia menahan perasaannya supaya dadanya
tidak kebat kebit melihat Sydney mengangguk-angguk berkali-kali. Karena sebagai
pendamping, tentu saja baik Hud maupun Sydney tidak bersuara sama sekali selama
acara berlangsung.
Anggukan Sydney selalu membuat Hud kacau. Apalagi, yang kemudian
berusaha ditepisnya berkali-kali adalah bayangan Rey dan Sydney. Saat Rey
memegang tangan Sydney yang menghajar copet, saat Rey menggandeng tangan Sydney
untuk menjauhi Saskia, saat Rey memeluk Sydney! Untuk melerai dari perkelahian
dengan pelatihnya. Semua itu, membuat dadanya sesak dan panas. Hud hanya bisa
mondar mandir di dalam kamar, dan menendang bukunya yang bergeletakan di
lantai. Acara ta’aruf tadi, telah memicu kembali semua ingatan itu, yang sudah
berpekan-pekan berusaha dia lupakan. Hud berkali-kali menghibur dirinya, bahwa
tidak ada apa-apa antara Rey dan Sydney. Mereka hanya bertemu, dan persentuhan
itu bukan kehendak Sydney. Tapi kehendak Rey, yang tidak paham hokum berpegangan
tangan dengan non muhrim.
“Hud?”
Rey keluar dari persemayamannya. Balkon.
“Kamu kenapa?”
Hud berhenti mondar mandir dan menatap Rey yang memindainya tanpa dosa.
Wajah polos dan tampannya, mau tak mau membuat Hud kembali mengingat Sydney.
Anak pikun level dewa ini, hanya mengingat wajah Sydney. Dan Hud, tentu saja
tidak akan bercerita betapa dia kesal bila Rey melakukan tindakan sentuhan pada
Sydney. Karena itu bisa menjadi sangat konyol bagi Rey. Apalagi, Sydney bukan
siapa-siapa mereka.
Hud merebahkan badannya di ranjang. Bagaimanapun juga, dia akan bertemu
dengan Rey setiap hari. Dia tidak yakin bisa mengatur perasaaanya. Hud tahu,
dia salah karena terjebak dengan perasaannya, tapi dia tak bisa menghapus
Sydney begitu saja. Entah kenapa, meski melihat dengan kepala sendiri betapa
perkasanya Sydney menghajar copet dan pelatihnya—dengan mudahnya—Hud tetap
merasa Sydney wanita yang istimewa. Dia tidak ingin kehilangan ingatan tentang
gadis itu. Dan itu artinya, dia sama dengan Rey. Dia harus bersaing dengan Rey,
untuk Sydney. Tapi itu salah. Hud menjambak rambutnya sendiri.
“Ini tidak benar,” gumam Hud.
“Apanya yang tidak benar?”
“Tidak, tidak ada, “ sahut Hud kemudian, mengambil nafas panjang, lalu
memulai push up dan squad jam. Kegiatan ini lebih membuat otaknya waras, karena
terfokus pada kegiatan fisik.
“Kamu dari mana, Hud?” tanya Rey keheranan melihat Hud yang berolah raga
sore hari. Biasanya teman sekamarnya itu berolah raga di pagi hari, sebelum
mandi. Dan seingatnya tadi pagi, Hud sudah melakukan push up dan squad jam. Dia
mengeluh pada Rey karena hanya mampu 50 push up sekali jalan. Padahal, sepuluh
kali push up saja, Rey sudah merasa patah tulang.
Rey duduk di ujung meja belajarnya, memegang buku yang terbuka dengan
satu tangan, dan menatap Hud yang sedang push up di depannya. Bila ada yang
melihat, pasti dua orang itu dikira majikan dan bawahan. Apalagi, Rey memang
pemilik rumah kost ini. Dengan Hud yang push up di depannya, dan gaya Rey seperti
majikan yang elegant, Hud seperti sedang dihukum.
Sialan kamu, Rey. Batin Hud kesal. Tapi kesalnya mulai berkurang.
Keringat mulai membasahi bajunya. Bahkan beberapa tetes sudah jatuh ke lantai
melalui dagunya. Hud merasa begitu bersemangat. Dia harus menyalurkan sesak di
dadanya dengan push up. Ternyata lebih manjur.
“Hud, kamu mau menemaniku besok?”
Hud menghitung sembari menggumam. 30, 31, 32 …
“Besok aku mau ke maskapai.”
Hud berhenti sejenak, lalu melanjutkan lagi.
“Kamu mau naik pesawat?” tanya Hud basa basi, tidak tahu harus
menanggapi bagaimana. Dia sedang malas mendampingi Rey, meski selalu terbetik
rasa bersalah setiap dia punya pikiran seperti itu. Rey lelaki pikun yang memang
harus dia damping, menjadi takdirnya untuk selalu membersamai. Kalau saja tidak
ada Sydney di antara mereka.
“Tidak,” sahut Rey tegas.
“Terus? 35, 36, 37 ….”
“Aku mau menunjukkan pada mereka, bahwa aku bos yang baik.”
Hud nyaris tertawa, tapi dia belum menyelesaikan hitungan sampai 50. Jadi
dia memutuskan tidak jadi tertawa. Rey menunggu Hud selesai push up, dan pada
hitungan ke-50, lelaki tegap itu melompat. Saat itu Rey menunjukkan buku yang
dipegangnya.
Bagaimana Menjadi Bos yang Baik
“Kamu beli buku di mana?” tanya Hud, berusaha menahan tawanya.
Dia tahu, menjadi bos tidaklah mudah. Apalagi bos maskapai. Jadi,
sebaiknya dia tidak menertawakan Reinand Bramantya sang pewaris tunggal Eagle
Airways. Beritanya belum muncul di internet. Mungkin karena sebentar lagi akan
diumumkan, makanya Rey belajar bagaimana menjadi bos yang baik.
“Online.”
“Sudah kuduga. Bagaimana isinya?”
“Hm, kertasnya fotocopian.”
“Kamu beli berapa?”
“Lima puluh ribu, jadi 69 berapa gitu sama ongkir.”
“Lain kali kalau mau cari buku sama aku. Di pasar loak banyak. Daripada
online tapi bajakan.”
Rey melempar bukunya ke atas meja belajar. Wajahnya berubah. Wajah orang
tertipu belanja online.
“Saranku, pakai intuisimu. Datang saja ke maskapai, sapa semua orang.
Absen semua staff direksi, traktir makan. Buat grup WA. Foto bareng. Lalu minta
semua buat laporan dan harus diletakkan di mejamu dalam satu jam.”
Rey melipat tangan, serius mendengarkan Hud, “Aku ke sana paling cuma
setengah jam, karena ada jadwal kuliah.”
“Nah, apalagi itu. Tunjukkan bahwa kau sebenarnya sibuk kuliah, tapi
masih menyempatkan memikirkan maskapai. Beri perhatian pada si A, B, C, D …. bagaimana
kabar anak dan istrinya.”
“Sepertinya kamu cocok jadi bos, Hud.”
“Aku hanya melihat di film.”
“Kau mau menjadi sekretarisku?”
Hud tergelak, “Sekretaris itu perempuan, Rey. Kalau aku ya, jadi
bodyguard dong.”
Hud menekuk kedua tangannya, dan Rey bisa melihat bisep Hud menggembung.
Dia memang kekar. Rey jadi punya ide untuk benar-benar menjadikan Hud
bodyguard. Darmaji mustahil, meski dia selalu membersamainya sejak kecil.
Pengacara Julius jelas tidak tepat. Pak Ucok apalagi. Tidak ada lagi orang yang
dikenalnya begitu dekat selain mereka. Dan orang yang paling dipercayainya
hanya Hud.
“Oke, kalau kau bodyguard, jadi siapa sekretarisku. Bagaimana kalau
Sydney?”
Hud tersedak ludahnya sendiri.