
Gedung Maskapai Eagle Air.
Lutut Hud nyaris gemetar melihat gedung
bertingkat di hadapannya, kalau saja dia tidak ingat bahwa detik ini dia berperan
sebagai bodyguard. Bodyguard dari seorang bocah 20 tahun yang mendadak mewarisi
maskapai dengan karyawan yang jauh lebih banyak dari teman satu mata kuliah.
Demi melihat teman sekamarnya bisa melalui masa-masa berat dalam hidupnya, dia
harus bersandiwara hari ini. Dan sandiwara ini bukan main-main. Yang akan
mereka hadapi adalah Dewan Direksi yang menentukan nyawa banyak orang yang
mengudara menggunakan maskapai milik Reynand.
“Jadi, ini yang namanya lift?” tanya Hud
sembari memindai ruangan sempit yang berisi dia dan Reynand. Kotak besi itu
membawa mereka dari basement menuju lantai lima.
“Tidak usah lebay, Hud. Jangan bilang kamu
tidak pernah naik lift.”
Hud terkekeh, “Hanya memastikan kalau lift di
sini sama dengan lift lainnya. Bedanya hanya terletak pada siapa yang di
dalamnya. IP-ku 3,7 semester kemarin, tapi hari ini aku merasa menjadi orang
bodoh.”
Rey tersenyum pendek.
Semalaman dia meyakinkan Hud, bahwa mereka berdua hanya perlu sedikit keahlian
berakting. Buku “Bagaimana Menjadi Bos
yang Baik” belum dikhatamkan oleh Reynand, apalagi Hud. Membaca judulnya
saja Hud malas, apalagi membuka halaman demi halaman yang semua hurufnya nyaris
buram, karena buku bajakan. Jadi, Reynand memutuskan mereka berdua harus
melakukan improvisasi, karena Papa Reynand tidak pernah mewariskan bagaimana
cara memimpin maskapai. Bahkan, personelnya saja Rey tidak tahu.
“Aku harap, aku tidak akan membuatmu tampak
konyol,” ucap Hud setengah berbisik.
“Sebaiknya begitu.”
“Tapi, jas ini terlalu sempit. Membuatku
berkeringat sejak tadi.”
Rey mengernyit kening, heran karena sejak masuk
lift, udara dingin dari AC sudah menyentuh kulit mereka. Di dalam mobil Rey
tadi, juga berAC. Tapi Hud memang kelihatan kegerahan sejak berangkat. Dia
berkali-kali mengibas-ngibaskan jasnya.
“Kenapa kamu tidak mencari yang lebih besar?”
“Di tempat persewaan, tinggal jas ini
satu-satunya.”
“Nanti aku belikan. Aku hanya punya satu ini.”
Hud melirik Reynand yang merapikan pinggiran
jas dengan telapak tangannya. Nyata sekali beda jas mahal dengan jas murah.
Reynand dengan kaca mata hitamnya, tampak begitu compatible dengan setelan
jasnya. Dia layak jadi Presdir dengan dandanan seperti itu. Tidak kelihatan
seperti mahasiswa Desain Produksi yang linglung.
Hud melihat pantulan bayangannya di tembok lift
yang buram. Dia memang lebih kekar dan berisi dibandingkan Reynand. Namun kaca
mata hitamnya terlihat begitu konyol. Hud memang membelinya di kaki lima dekat
kampus.
Pintu lift terbuka, Hud dan Rey melangkah
keluar. Tepat di depan mereka ada pintu yang terbuat dari kaca dan memantulkan bayangan
samar gesture mereka berdua. Hud membekap mulutnya, menahan tawa, ketika Rey
mencoleknya. Mereka berdua lebih mirip mafia kesasar daripada Presdir dengan
bodyguard.
Seorang perempuan dengan baju resmi serba biru
tua, berlengan panjang dan rok di atas lutut menyambut mereka berdua.
“Tuan Reynand Bramantya?”
Reynand mendehem sembari meletakkan kepalan
tangan di mulutnya. Hud tahu, Reynand berusaha meredakan rasa tegang. Kaca mata
hitamnya menyembunyikan mimik wajah aslinya. Pastinya, Rey lebih pucat dari Hud
sekarang. Hanya saja kulitnya lebih putih, jadi tidak kelihatan.
Hud berusaha menenangkan diri, bahwa Dewan Direksi
yang menunggu mereka berdua hanyalah orang-orang biasa yang haus harta dan
tahta. Mereka tidak akan tiba-tiba menghunus pedang lalu menyerang mereka
berdua. Apalagi mengkokang senjata dan memberondong layaknya mafia gagal
transaksi. Hud cukup pasang badan kekarnya dan berdiri tegap di sebelah Reynand
Bramantya.
“Apa semua sudah hadir?”
“Mereka sudah menunggu anda di ruang Meeting.
Mari saya antar.”
Perempuan itu mendahului berjalan di selasar
yang berhias gambar pesawat di kanan kiri temboknya. Langkahnya tidak
terdengar, karena lantai selasar
dilapisi karpet empuk. Rey berjalan tidak jauh dari perempuan itu, tampak gagah
dari belakang. Kalau Mamanya melihat dengan mata kepala sendiri, dia pasti
tidak pecaya bahwa anak yang dididiknya untuk menjadi banci bisa segagah itu. Hud
mengiringinya, berusaha sedikit menahan nafas agar dadanya tampak membusung.
Di ujung selasar ada sebuah pintu besar. Perempuan
itu membuka pintu itu lebar-lebar, dan di dalamnya ada meja panjang dengan
Dewan Direksi mengelilinginya. Mereka semua langsung berdiri begitu Hud dan Rey
memasuki ruang meeting. Semuanya berjas, membuat Hud manggut-manggut bahwa
mereka tidak salah kostum.
“Siapa namamu?” tanya Rey menoleh ke perempuan
yang mengantar mereka.
“Anita Swastiwastiyas.”
“Terima kasih, Swastiwastiyas. Kau boleh
Hud berusaha menahan geli. Kenapa Rey tidak
memanggilnya Anita saja? Mempersulit diri sendiri atau sengaja berusaha untuk
mengingat? Mengingat wajah saja sulit apalagi mengingat nama.
Rey mengambil tempat duduk di ujung meja
panjang, menyeberangi pintu. Swastiwastiyas yang menempatkannya di sana sebelum
dia keluar ruangan. Hud berdiri di belakang Rey, menangkupkan kedua tangan di
depan perutnya, menatap lurus ke depan, berjaga-jaga.
“Oke, silahkan dimulai rapatnya.”
Dewan
Direksi yang duduk di tempatnya, meletakkan map di meja masing-masing. Rey
menelan ludah, apa dia harus memeriksa semua map itu.
“Merlin.”
Seorang lelaki yang duduk paling ujung, berdiri
meninggalkan kursinya begitu Rey menyebut namanya. Hud sedikit terkejut. Dia
seorang lelaki yang sudah layak pensiun. Rambutnya sudah memutih, wajahnya
keriput dan berjalanpun sedikit tertatih. Hud menunduk, mengintip dari kaca
mata hitamnya. Ruangan yang sedikit remang, kini menjadi benderang. Dan
didapatinya, deretan Dewan Direksi adalah lelaki dan perempuan yang semuanya
sudah beruban. Dan yang tertua adalah Merlin.
“Ini lebih mirip panti jompo daripada maskapai,
“ batin Hud heran.
Kenapa orang-orang setua mereka masih aktif
bekerja di maskapai? Yang masih sebaya dengan ayah Hud hanya tiga orang saja,
dari dua puluh orang Dewan Direksi.
Merlin meletakkan sebuah map di meja Reynand,
sembari membungkuk hormat.
“Ini laporan dari bursa saham, Tuan Milan.
Saham kita anjlok pasca meninggalnya Tuan Bramantya. Dewan Direksi menyarankan
kita menjual beberapa unit pesawat, dan membeli yang lebih murah. Untuk
menghemat biaya operasional. Pesawat besar membuat operasional lebih besar dan
upah karyawan juga membengkak.”
Reynand membolak balik kertas di hadapannya.
Hud tidak yakin Reynand memahami angka dan grafik di dalamnya. Benar saja,
sejurus kemudian dia menutupnya.
“Ada yang bisa memberitahuku, kenapa saham kita
bisa anjlok?”
Semua orang saling berpandangan.
“Tuan Bramantya meninggal, tuan, “ sahut
Merlin.
“Jadi, yang capable di maskapai ini hanya 1
orang?” sela Reynand dengan nada bicara sedikit dia naikkan, terdengar menggelikan
di telinga Hud,” Bagaimana dengan kalian? Kalian tidak mampu menangani saham
anjlok ini? Jadi selama ini semua dihandle olah mendiang Papa saja?”
Semua orang saling berbisik dan menggugam. Rey berhasil
mengusik sarang lebah, Hud mengacungkan jempol dalam hatinya. Setidaknya,
gertakan pertama Rey sudah lumayan.
“Aku tidak mau membeli pesawat murah. Aku tidak
mau menjual apapun. Kalian yang harus mengupayakan supaya saham kita naik lagi.”
“Begini, Tuan Milan, “ salah seorang Dewan
Direksi berdiri, “selama ini keputusan ada di tangan Tuan Bramantya. Kami hanya
mendukung dan mematuhinya. Sekarang, bila Tuan Milan bisa memberikan keputusan
yang bijaksana, kami akan berusaha keras melaksanakannya, demi maskapai.”
“Siapa namamu?”
“Devi Rahardian.”
“Devi Rahardian?” tanya Rey sembari membuka
kaca mata hitamnya. Lelaki yang mengaku bernama Devi adalah yang lebih tua dari
bapaknya. Separuh rambutnya sudah putih.
Rey berdiri perlahan, merapikan lipatan jas
dengan elusan tangannya, lalu berjalan menuju jendela kaca yang tertutup bilah-bilah
tirai. Dia menarik tali di ujung tirai perlahan, dan bilah-bilah tirai terbuka
perlahan, membuat cahaya matahari menyeruak masuk.
“Sepetinya, kalau saham anjlok, aku harus mulai
mengurangi karyawan, untuk menghemat biaya oeprasional, benar begitu Merlin?”
Merlin mengangguk.
“Kalau begitu, aku akan memulai dari karyawan
yang hanya bisa membuka tirai dan menghidupkan AC. Mungkin aku akan mempertimbangkan
karyawan dengan usia produktif. Aku yakin mereka punya keahlian tidak hanya
menghidupkan AC, tapi bisa membuat AC menjadi panas atau dingin. Karyawan yang
hanya bisa memberi saran tapi tidak bertindak apapun, akan memakan biaya
operasional besar. Jadi, pekan depan, Merlin, aku mau data semua karyawan dan …
Dewan Direksi yang tidak produktif. Apalagi yang tidak bisa membuat saham kita
naik.”
Ruangan membeku. Wajah-wajah itu menunduk,
menatap map masing-masing.
“Tuan Milan …”
“Kurasa cukup rapatnya, Merlin. Aku ada urusan
lain. Oia, satu lagi. Lelaki di sebelahku ini adalah pengawal pribadiku. Pembunuhan
Papa membuat hidupku terancam, aku perlu pengawal. Tentunya kalian tidak ingin
setiap aku datang ke sini selalu dikawal polisi. Aku tahu, polisi sudah cukup
menyulitkan kalian. Jadi, masukkan dia dalam daftar karyawan baru, dengan gaji
yang disesuaikan.”
Hud menatap Rey dari balik kaca mata hitamnya.
Rey tersenyum padanya singkat, lalu menuju pintu keluar.