MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Psikiater



Reynand perlahan membuka mata, mendapati dirinya berada di ruangan yang dikenalnya. Dingin pendingin ruangan dan sofa yang empuk.


“Kau sudah bangun.”


Reynand memejamkan mata sebentar, berusaha mengingat suara di sebelahnya. Pak Ucok Hadi, psikiaternya. Reynand duduk perlahan, mengusap wajahnya dan menyisir rambutnya dengan sepuluh jemarinya.


“Kau kurang tidur.”


“Berapa lama aku terlelap?”


“Dua jam.”


Reynand menghela nafas panjang. Seharusnya ini menjadi sesi terapi yang akan mengurai masalahnya, tapi justru menjadi ajang pindah tempat tidur.


“Aku belum mengatakan apa-apa?” tanya Reynand sambil melihat ujung jemari kakinya.


“Begitu rebah, kau langsung terlelap. Bagaimana aktivitasmu akhir-akhir ini? Apa sangat menguras tenagamu?”


Hening beberapa saat.


“Penyelidikan pembunuhan Papa semakin berkembang. Aku tidak mau mendengar lebih jauh lagi.”


“Kau bisa mengatakan itu pada pengacaramu.”


“Dia sudah melakukan yang terbaik.”


Reynand mendengus, merebahkan punggung di sandaran sofa. Pak Ucok Hadi duduk di bangku rendah di dekatnya. Seperti biasa dengan buku tebal biru, buku catatan riwayat Reynand.


“Menurutmu apa aku gila?”


“Tidak semua orang yang menemui psikiater itu gila, Rey.”


“Ini tentang Sydney.”


“Sydney? Tidak ada nama itu di riwayatmu.”


“Dia wanita yang kau menyuruhku untuk mendekatinya. Katamu, pada dia bisa jadi aku akan menemukan kesembuhan.”


“Oh, jadi dia bernama Sydney?”


“Ya, Sydney.”


“Hm, kalian memiliki kesamaan.”


“Apa itu?”


“Milan dan Sydney. Bukankah itu dua nama kota yang indah.”


Reynand tertegun. Sydney dan Milan. Ini pasti bukan kebetulan.


“Kau benar, “ gumam Reynand.


Mereka menikah di Australia. Kalimat Darmaji itu terngiang di telinganya.


Reynand bangkit dari duduknya. Sydney ada di Australia.


“Pak Ucok, menurutmu apakah seseorang bisa dinamai nama kota kelahirannya?”


Pak Ucok tertawa, “Tidak ada orang bernama Surabaya atau Jakarta. Tapi, Milan dan Sydney, sekali lagi, nama kota yang indah. Tidak mungkin orang akan memakai nama itu bila tidak ada kenangan di sana, atau impian ke sana.”


Reynand berbaring perlahan di sofa.


“Kau mau memulai sesi terapi? Ini sudah melampaui batas jadwal. Ada pasien lain yang menunggu.”


“Bisa kau batalkan?”


“Akan aku usahakan.”


“Baiklah, kita mulai. Menurutmu, apa aku bisa melihat ke dalam pikiran seseorang?”


“Itu sebuah keahlian yang masih menjadi mitos.”


“Tapi aku bisa melakukannya pada Sydney. Hanya padanya.”


Ucok tertarik. Pasiennya pada sesi terapi kali ini, jauh berbeda. Tidak lagi manja seperti dulu. Dia mulai ada progres setelah keluar dari istananya. Dan sejak itu, Ucok memang tidak pernah kekurangan dana. Reynand tidak pelit memberinya tarif tambahan. Entah anak itu faham atau tidak dengan uang, yang jelas, dia banyak uang.


“Apa yang kau lakukan padanya.”


“Aku menyentuhnya.”


***


Ucok meregangkan tangannya ke udara, memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Sesi bersama Reynand kali ini sangat menguras tenaganya. Tapi, tentu saja, rekeningnya menggemuk. Dan pastinya akan membuat wanita cerewet di rumahnya akan menyambutnya dengan tersenyum. Sekalipun dia pulang larut malam, dia tidak akan lagi menerornya dengan sms atau miscall. Dia tahu istrinya pencemburu, terutama pada pasien-pasien wanita. Tapi tentu saja dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengomel panjang bila Ucok tak segera membalas pesannya begitu satu sesi pertemuan dengan pasiennya berakhir.


Kadang Ucok begitu kesal dengan wanita yang sudah memberinya dua anak itu. Dia sendiri sering disibukkan dengan arisan, perkumpulan ini dan itu. Tapi tak terima bila Ucok berlama-lama di kantornya.


Telpon bordering. Ucok mengangkatnya malas. Sudah jam delapan malam. Pastinya sudah tidak ada sesi lagi, karena Ucok sudah membatalkan semuanya. Reynand sudah mengambil jatah semua sesi pasien malam ini. Anak itu akan kembali lagi pekan depan, dengan progress yang dijanjikannya lebih baik lagi. Kali ini dia menurut untuk selalu mencatat progresnya sendiri. Sepertinya, wanita bernama Sydney itu benar-benar memikat Reynand, sehingga dia berusaha keras mendapatkan informasi tentang dia. Bahkan sampai menyewa orang untuk mencari informasinya.


“Satu pasien lagi, Pak. Dia memaksa karena mendesak.”


Ucok menghitung jam, sepertinya masih bisa setengah jam lagi. Kamera perekam tidak perlu dimatikan, tinggal menyambung saja.


“Suruh dia masuk.”


Dua menit kemudian, pintu terbuka. Seorang perempuan cantik berdiri di hadapan Ucok dan menutup pintu. Ucok nyaris melompat melihat siapa wanita di depannya. Apalagi ketika mendapati sepasang matanya yang tampak kebingungan.


“Mulan?”


“Cok, bantu aku. Aku dalam masalah besar.”


Mulan langsung duduk di sofa yang semula menjadi tempat tidur Rey. Mulan adalah teman Ucok sewaktu SMA. Pasca reuni SMA mereka dua tahun lalu, Mulan rutin mengunjunginya, begitu tahu bahwa Ucok telah menjadi seorang psikiater. Dia mengeluhkan tentang perilakunya yang semakin tidak terkendali sejak usianya masuk kepala empat. Dia selalu merasa haus pada lelaki. Dan hal itu membuatnya menyabet siapa saja lelaki yang berada di dekatnya. Dan kebanyakan adalah pegawai dari Maskapai yang dekat dengan suaminya, yang menyebabkan mereka kerap bertamu di rumahnya. Dia takut suaminya mengetahui perilakunya, tapi dia tidak bisa menghilangkan kecanduannya.


“Tenang, Mulan. Ceritakan masalahmu. Mungkin aku bisa membantu.”


“Ibrahim mati, Cok.”


“Ibrahim?”


“Iya. Dia satu-satunya yang selama ini menjadi pelampiasanku.”


“Kukira kau melampiaskan pada semua orang.”


“Aku tidak semurah itu, Cok. Lagipula, aku dan Ibrahim sudah berencana menikah. Tapi…”


“Tapi?”


“Pembantuku membunuhnya.”


Ucok menelan ludah, “Pembantumu cemburu?”


“Iya.”


Ucok menghela nafas panjang, “Aku jadi penasaran, seperti apa suamimu? Dia begitu tak peduli padamu? Sampai kau bisa terikat dengan dua lelaki.”


“Suamiku sudah mati, Cok.”


“Aku baru tahu. Seharusnya kau memberitahuku, setidaknya aku bisa melayat ke rumahmu.”


“Kau tidak perlu tahu suamiku atau rumahku, Cok. Kau bantu saja aku, bagaimana supaya polisi tidak mengetahui perselingkuhanku dengan Ibrahim yang sudah mati. Pembantuku mengetahui segalanya tentang kami. Dia berbahaya, tapi dia juga pengamanku. Dia merasa aku adalah miliknya, sedangkan bagiku dia hanya pemuas saja.”


Ucok geleng-geleng kepala. Wanita di hadapannya memang harus diterapi karena gila.


“Aku curiga, jangan-jangan, suamimu mati karena sudah mengetahui hubunganmu dengan Ibrahim.”


Mulan menyeringai, “Kata polisi dia mati dibunuh. Dan Ibrahim menjadi tersangka. Kau tahu, ini menjadi sangat rumit ketika Ibrahim juga mati dibunuh. Meski dokter mengatakan dia kena serangan jantung.”


“Apa yang harus kulakukan, Mulan? Aku tidak bisa membantumu untuk urusan semacam ini.”


Mulan bangkit dari sofa, berjalan mondar mandir dengan gelisah. Ucok hanya bisa menatapnya iba. Akibat kecanduannya pada lelaki, membuat Mulan terlibat masalah yang tidak ringan.


“Mungkin kau punya kenalan pengacara hebat atau apa. Aku tidak mau dipenjara, Cok.”


Mulan memegang kerah baju Ucok, menatap dengan pandangan memohon. Sejurus kemudian, dia merebahkan badannya di dada Ucok.


“Tolong aku, Cok. Aku tahu, kau selalu bisa menolongku. Kau tahu, terapi yang kau berikan padaku, justru semakin membuatku gila. Kau harus bertanggung jawab.”


Ucok menjengit. Mulan memeluk pinggangnya lembut, lalu bernafas di dadanya. Membuat Ucok tidak bisa bernafas normal.


“Aku selalu memberi harga yang pantas untuk sebuah pekerjaan bagus.”


Ucok teringat istrinya sekilas. Tapi Mulan berhasil membuatnya lupa detik kemudian.