MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Copet



Reynand dan Huda benar-benar berjalan kaki sepanjang tujuh kilometer dari Kantor Polisi menuju kampus. Dan sepanjang jalan, Rey menceritakan apa saja pertanyaan polisi padanya. Hud semakin mantap memposisikan dirinya sebagai bodyguard Rey. Anak itu dalam bahaya


“Kita mampir ngambil banner ya? Di Fiest, dekat sini. Habis itu lewat jalan belakang, tembus belakang kampus.”


Reynand mengangguk. Kasihan Rey, batin Hud. Papa-nya belum mempersiapkannya untuk mewarisi maskapai. Hud pun akan bernasib sama kalau tiba-tiba bapaknya di kampung meninggal dan menyuruhnya pulang untuk mencangkul sawah. Meski dia anak ladang, tapi urusan mencangkul urusan lain. Bapak tak pernah menyuruhnya, karena sering mengupah buruh tani. Emak yang lebih sering menyuruhnya menjaga toko sembako di pasar ketika musim tanam tiba, atau bapak memerlukan tambahan tenaga untuk panen.


“Dulu Fiest punya Papa, “ ucap Reynand perlahan sembari mendongak menatap tulisan besar hypermarket, “dulu ada kejadian, semua pegawai mogok. Karena Mama.”


Hud mengulum senyum, lagi-lagi wanita gila harta itu.


“Jadi Papa menjualnya. Ada dua yang seperti Fiest ini yang dijual. Sepertinya keluarga kami tidak bisa mengelola toko. Bisanya pabrik dan maskapai.”


“Kita ke parkir di bawah, Rey.”


Rey mengikuti langkah Hud, “Kenapa ngambil banner sampai harus ke sini?”


“Aku yang minta, karena sore ini sudah harus dipasang. Sedangkan kalau ngambil ke orangnya, sore dia gak ada. Bisanya siang ini, makanya janjian di Fiest. Satu jalan dari kantor polisi ke kampus.”


Basement sepi. Hanya satu dua mobil yang keluar dari area parkir. Hud membuka ponselnya, mencari pesan. Mereka berdua menepi di dekat pilar B.


“Sebentar. Kamu pasti tahu F di sebelah mana?”


Rey menggeleng dan berkata lirih, “Aku tidak pernah ke sini. Darmaji selalu menurunkan di depan dan menjemput di depan.”


Hud memanyunkan bibir. Kadang dia lupa kalau Rey dulu dan sekarang masih orang kaya, yang tidak punya pengalaman hidup seperti dirinya.


Tiba-tiba terdengar jeritan seorang wanita di ujung selasar parkir yang remang. Hud dan Rey sontak menoleh dan mencari suara dari deretan mobil. Tidak ada apa-apa, sementara jeritan itu semakin keras.


“COPET! COPET!”


Rey tersentak. Ingatannya sontak tertarik ke balkon di kamar kostnya. Hud menegang. Dari arah selasar yang meremang, terlihat seseorang berlari menuju mereka, dengan tas warna merah menyala di tangannya. Rey menarik tangan Hud dan mencengkeramnya, sedangkan Hud bersikap waspada. Copet itu harus mereka lumpuhkan, karena hanya mereka berdua yang berada dalam posisi strategis.


Tiba-tiba, dari sela-sela deretan mobil sebuah tendangan mendarat di kepala pencopet yang membuatnya tersungkur.


Hud dan Rey menegang 0,1 detik dan kemudian menyadari bahwa perkelahian terjadi tepat di hadapan mereka. Pencopet yang tersungkur berusaha bangkit tapi sebuah tendangan sekali lagi mengenai perutnya, membuatnya kembali tengkurap. Dia berusaha bangkit, tapi tendangan kembali melumpuhkan kedua kakinya.


“COPET!”


Teriakan wanita yang sama diiringi langkah kaki terburu, muncul di ujung selasar. Berseberangan dengan Hud dan Reynand. Hal itu membuat perempuan, ya.... perempuan yang melumpuhkan pencopet itu menoleh. Momen lengah itu dimanfaatkan pencopet  untuk sontak berdiri dan menghempaskan tas merahnya ke muka penyerangnya. Namun penyerangnya dengan sigap berkelit dan sejurus kemudian, entah darimana dia mendapat kekuatan, tinjunya mengarah ke perut pencopet.


Pencopet itu merunduk kesakitan sembari memeluk perutnya. Dan tendangan kembali mendarat di mukanya.


Beberapa orang mulai berdatangan, wanita yang dicopet hanya bisa menjerit-jerit saat pukulan demi pukulan mendarat di tubuh pencopet. Tas merah itu pun terlempar ke dekat kakinya, tanpa dia berani untuk mengambilnya. Hud dan beberapa orang bergegas meringkus pencopet ketika tampak pencopet itu tak sanggup lagi berdiri.


Perempuan yang menendanginya, berdiri kokoh di hadapannya, menatap pencopet yang tak berdaya dalam ringkusan beberapa lelaki. Pencopet itu mendongak dan menatapnya. Marah, kecewa dan putus asa begitu melihat penyerangnya seorang perempuan berjilbab.


“Bangsat!” teriaknya putus asa.


Tangan si perempuan melayang, hendak mendaratkan pukulan terakhir ke muka pencopet. Tapi tangan itu tertahan di udara. Perempuan itu menoleh. Seorang lelaki berambut sebahu dengan wajah tegang, menatapnya tak berkedip, dengan tangan mencengkeram lengannya di udara. Mereka berdiri begitu dekat, hingga bisa saling mendengar nafas yang memburu.


“Kau.....” desis perempuan itu, dan sepasang matanya sontak melembut.


Hud kembali mendapati momen itu, ketika hatinya menjadi begitu ciut. Menemukan Rey dan perempuan itu, saling menatap dalam diam. Berdetik-detik. Kali ini dengan tangan Rey menggenggam lengan perempuan berjilbab itu.


“Rey … “ panggil Hud spontan.


Rey seolah terlempar kembali ke alam nyata, mendapati dirinya berada di lahan parkir dengan deretan mobil membisu, gumaman orang-orang di sekitar mereka yang satu per satu melanjutkan kepentingan masing-masing, dan Hud yang mengarahkan pandangannya ke tangan Rey dan perempuan itu.


“Maaf, “ ucap Rey ketika menyadari bahwa dia masih menggenggam lengan perempuan itu. Perlahan Rey melepasnya, dan Hud memindai semua gerakan di antara mereka berdua. Merekamnya dengan sangat hati-hati dalam kepalanya, dan berusaha mengembalikan hati ciutnya dengan menarik nafas panjang.


“Ukhti Sydney, tidak apa-apa?” tanyanya kemudian, ketika Rey membalikkan badan, memunggungi Hud dan perempuan itu, sembari menyisir rambutnya gelisah.


Sydney, perempuan itu tampak berusaha mengatur nafas. Lebih tepatnya, dia berusaha menstabilkan detak jantungnya. Dia merapikan kerudung dan mengibas roknya berkali-kali. Berharap, selama dia bertarung tadi, tak ada auratnya yang terumbar karena gerakan-gerakannya tadi. Pertanyaan Hud bernada khawatir dan penuh perhatian, terasa begitu empuk dan lembut di telinganya.


“Ukhti?”


“Eh...” Sydney tergeragap, menatap wajah asing di hadapannya, “saya tidak apa-apa. Anda, siapa kok tahu saya?”


Hud menghela nafas lega dan sedikit kecewa. Gadis itu tak mengenalinya. Mungkin karena hitungan pertemuan mereka bisa dihitung dengan jemari sebelah tangan. Tapi, masa sih dia tidak kenal? Bukankah baru kemarin mereka bertemu? Atau dia tak peduli?


Hud menepis prasangka buruknya, berusaha menyadari diri, bahwa dia bukan orang yang populer di kampus. Berharap semua gadis mengenalnya? Kalau Rey, wajar wajahnya mudah dikenal. Bahkan mungkin bisa disandingkan dengan artis korea populer saat ini. Pantas saja Sydney selalu terkesima, setiap mereka bertemu. Dan sialnya, Hud selalu merasa ciut melihat mereka saling kontak mata.


“Huda. Mapala,” ucap Hud mengambang.


“Oh, iya, “ sahut Sydney setelah menjeda sejenak untuk mengingat sesuatu, “tendanya sudah saya kembalikan kan? Terima kasih.”


Hud malah tak memikirkan  tenda itu sama sekali.


“Yakin tidak apa-apa? Saya antar ke satpam, mungkin bisa dikasih obat atau....”


“Oh, tidak apa-apa. Terima kasih.”


Seorang satpam mendekat dengan tergesa, “Tadi, mbak yang menangkap  copetnya? Bisa ikut kami ke posko?”


“Em ... saya buru-buru, “ ucap Sydney mengambil ancang-ancang untuk segera meninggalkan tempat, meninggalkan tiga lelaki di sekelilingnya.


“Sebentar mbak, manajer kami ingin ketemu.”


“Saya sudah terlambat! Assalamualaikum!”


Sydney berjalan setengah berlari menyusuri selasar, dan di pertigaan selasar ketika akan berbelok, dia menoleh ke arah Rey.


Sejenak pandangan mereka beradu. Beberapa detik. Namun bagi Rey, seperti musim hujan yang hangat di pagi hari.


“Kita harus bertemu lagi, “ bisik Rey dalam hati.