MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Ayah



Sydney merasakan pukulan demi pukulan tongkat beruntun mengenai kaki dan tangannya. Dia berusaha menangkis berkali-kali, entah kenapa selalu mendapat serangan balasan. Halaman ini terasa begitu sempit ketika dia terdesak hingga ke pagar, dan tidak bisa apa-apa. Sydney heran pada dirinya, kenapa di negara ini dia tiba-tiba menjadi lemah? Apa karena pemuda sipit berwajah tampan yang menyerangnya?


Lelaki di hadapannya melempar tongkat ke tanah, lalu mengambil kuda-kuda. Kuda-kudanya terlihat begitu kokoh di mata Sydney. Tapi, serangan bertubi-tubi yang dilancarkannya tadi, sudah membuat Sydney kelelahan. Dia sudah kehilangan selera untuk menyerang.


“When the last time you fought?”


Sydney berusaha mengingat. Dan ingatannya jatuh pada Rey. Ya, sekitar sepekan yang lalu, dia menangkap copet yang merampas tas Reynand. Dia berhasil melumpuhkan copet itu.


“A weak ago.”


“And now, you`re so weak. Come get me!”


Sydney menggeleng, menolak permintaan lelaki di depannya untuk menyerang. Dia lalu berjalan gontai mendekati lelaki itu, lalu berbelok ke teras. Dia sangat haus. Tiba-tiba saja, lelaki itu meringkusnya. Memilin kedua tangannya ke belakang.


“Kageyama, you hurt her.”


Sebuah suara mengejutkan mereka berdua. Tuan Osaka sudah berdiri di teras dan mendapati Kageyama sedang memilin tangan Sydney di punggung. Dengan sekali hentakan, tahu-tahu Sydney memutar badan dan membanting Kageyama yang sedang lengah.


Bug! Kageyama terjengkang di tanah.


Kageyama meringis. Sydney tersenyum puas, lalu naik ke teras. Tuan Osaka mengulurkan tangan dan Sydney menyambutnya. Mereka berdua masuk ke dalam rumah, tidak menghiraukan Kageyama yang berusaha bangkit dengan merangkak. Punggungnya sakit sekali.


“Ternyata dia hebat juga, hanya pura-pura lembek di awal,” batin Kageyama.


“Makanya, jangan  mengganggu putri Tuan Osaka.”


Obasan tahu-tahu sudah muncul dengan membawa sekeranjang cucian yang akan dijemur. Kageyama perlahan duduk di teras sembari mengelus-elus punggungnya sendiri. Dia mengaduh sesekali. Obusan meliriknya sembari tersenyum-senyum.


“Kau menyukainya?” tanya Obasan dalam bahasa Kansai


“Kami hanya berkenalan.”


“Berkenalan yang mengesankan. Kau pasti semalaman tidak akan bisa tidur, mengingat Sydney.”


“Pastinya karena punggungku sakit, Obasan.”


Obasan terkekeh.


“Kau bertugas menjaganya, bukan berkelahi dengannya.”


“Aku tidak berkelahi dengannya. Aku tadi hanya mencoba mengejutkannya, maksudku supaya tidak ada canggung di antara kita. Kau tahu kan, dia anak Tuan Osaka yang sudah membantuku agar aku bisa kuliah. Aku tidak akan menyakitinya. Ternyata, dia orang yang tidak bisa dikejutkan. Dia langsung membantingku tadi. Sekalian saja, aku ajak dia berlatih. Rupanya dia tidak bisa bermain tongkat. Hanya menangkis saja.”


“Tapi kau dibantingnya lagi.”


Kageyama berusaha menegakkan punggung, tapi rasanya sakit sekali.


Obasan sudah selesai menjemur, dan dia mendekati Kageyama.


“Sini aku pijat punggungmu. Lain kali, kira-kira kalau mengajak orang bercanda. Sydney chan orang baru di sini. Tugasmu adalah menemaninya. Dan ingat, jangan pacaran dengannya.”


Kageyama mengaduh. Pijatan Obasan mengenai bagian yang sakit.


“Aku tahu. Kalian, tidak mengenal pacaran kan? Kecuali sudah menikah, “ ucap Kageyama di antara rintihan sakitnya. Kageyama tidak beragama Islam. Tapi dia sangat menghormati keyakinan Obasan dan Tuan Osaka. Di daerah ini, beberapa keluarga memeluk agama Islam. Dan mereka adalah orang-orang yang selalu baik pada  tetangga.


“Ya. Apalagi dia muslimah yang taat. Dia hanya akan berpacaran setelah menikah. Kalau kau menyukainya, kau harus menikahnya. Dan itu tidak mungkin karena kau masih kuliah.”


Kageyama tersenyum simpul.


“Ah, itu tidak lama. Satu tahun lagi. Dan aku akan membuat dia jatuh cinta padaku, “ gumam Kageyama dalam hati.


Kageyama sudah terpikat pada Sydney saat pertama kali melihatnya. Obasan mengenalkannya sore kemarin. Mereka sudah berkenalan baik-baik. Sydney orang yang ramah, seperti kebanyakan orang Indonesia. Namun yang dia herankan, ketika pagi ini dia menyapa, Sydney seperti melihat orang asing. Padahal, kemarin mereka sudah berbincang hampir dua jam, saat Tuan Osaka menyerahkan tugas penjagaan Sydney padanya.


***


Tuan Osaka menuang teh. Sydney menatapnya tak berkedip. Jadi, ini upacara minum teh yang terkenal itu. Tapi, bukankah mereka berdua orang Indonesia?


“Ini bukan upacara minum teh, Syd, “ ucap Tuan Osaka, menebak pikiran Sydney. Karena anak gadisnya itu duduk bersimpuh di hadapannya dengan ta`dzim.


“Maaf, aku hanya ... canggung.”


“Kageyama menyakitimu?”


“Tidak. Dia bukan musuh yang sepadan denganku.”


Tuan Osaka tersenyum. Dia menyodorkan segelas teh hijau ke hadapan Sydney.


Sydney mengangguk dan menenggak habis teh di hadapannya. Tuan Osaka tersenyum.


“Hari ini, kita akan banyak bercerita.”


“Aku sudah menantikan hal itu sejak lama, Tuan Osaka.”


“Panggil aku, ayah, bapak, atau papa. Terserah kamu.”


“Aku selalu memanggilmu ayah, tapi ayah tidak pernah datang.”


Tuan Osaka meraih tangan Sydney dan menggenggamnya erat. Sydney tidak merasakan kebencian seperti yang selalu dikumandangkan oleh Nenek. Genggaman itu hangat dan bertanggung jawab. Seolah hanya dengan genggaman itu saja, Sydney merasa seluruh hutang ayah kandungnya sejak dia lahir hingga kini telah lunas. Hutang untuk ada menjadi ayah. Dia tidak pernah menuntut kehadiran ayah, karena Nenek selalu menanamkan hal itu padanya.


“Jadi, kau tidak dipenjara?”


“Aku terpenjara oleh ketakutanku sendiri, Sydney. Aku lelaki pengecut. Yang hanya bisa lari bila mendapat masalah.”


“Jadi, Nenek benar. Kau meninggalkan aku ketika aku baru lahir. Kenapa? Apa aku anak haram? Lahir di luar pernikahan?”


Tuan Osaka mempererat genggamannya.


“Tidak. Kau anakku yang sah. Dan aku tidak meninggalkanmu.”


“Tapi kau tidak bersamaku.”


“Aku tidak tahu kalau kau dilahirkan.”


Sydney mencelos kecewa. Ayahnya sendiri tidak tahu kalau dia lahir? Pernikahan macam apa antara ayah dan mendiang ibunya?


“Kata nenek, ibu meninggal beberapa jam setelah aku lahir. Dan dia memberikan nama, sesuai pesan ayah.”


“Dia wanita terhebat yang aku cintai, Syd. Ibumu.”


“Tapi, kau bahkan tidak tahu dia melahirkan aku? Bagaimana mungkin?”


“Situasinya sangat rumit. Saat ibumu mengandung, aku harus mengungsikannya ke rumah ibunya. Nenek Juma, nenekmu kan?”


Sydney mengangguk.


“Karena, bila bersamaku maka hidupnya dalam bahaya. Dan kau tidak akan bisa lahir ke dunia ini. Bisnisku sangat sukses ketika itu. Banyak orang menginginkan aku jatuh.”


Sydney menyimak. Meski perasaannya terasa diaduk-aduk. Dia tidak mengenal ayah dan ibunya. Hanya Nenek Juma orang tuanya. Secara emosi, dia tidak punya ikatan dengan mereka. Tapi secara logika, ikatan itu tidak bisa dia putus begitu saja. Dia sama sekali tidak bisa menemukan logika dari kisah yang diceritakan ayahnya sejak kemarin.


“Aku mengetahui keberadaanmu ketika kamu berusia 12 atau 13 tahun. Mila yang mengabariku. Waktu itu, dia mengatakan kalau dia berhasil menemukan Nenek Juma dan kamu. Maka aku selalu mengirim uang untuk biaya sekolahmu. Tapi, Nenek Juma selalu menolak. Dan, Mila—wanita cerdik itu—akhirnya selalu menabungkan uang kirimanku padamu. Aku yakin, jumlahnya sekarang sudah hampir 200 juta, mungkin lebih. Cukup untuk membangun kembali rumah Nenek Juma.”


Sydney terperangah.


“Aku tidak pernah meninggalkanmu, Sydney. Mila selalu melaporkan semuanya padaku.”


“Pantas saja. Aku dan sua... eh, maksudku, Mila seperti mata-mata saja. Dia yang mengatur semua ini kan? Membuat aku gagal tes dan akhirnya bertemu dengan ... ayah?”


Sydney merasa canggung menyebut kata terakhir.


Tuan Osaka mengangguk-angguk. “Dia wanita yang hebat, sama dengan ibumu.”


“Jadi, kau juga tahu perihal lelaki yang ...”


“Reynand Bramantya?”


Sydney mengangguk. Padahal semula dia hendak menyebutkan Aditya. Lelaki yang kini menjadi suaminya. Bukankah, seorang ayah harus mengetahui bahwa anak gadisnya sudah menikah? Tapi mendengar nama itu disebut, Sydney mengurungkan niat untuk menyampaikan statusnya sekarang. Toh, dia hanya menikah sirri. Tidak ada ketentuan hukum yang mengharuskan dia mengumumkan hal itu.


“Kau berada di sini, untuk menhindarinya. Berada bersamanya, hanya akan membuatmu dalam bahaya. Kau mengerti maksudku, kan?”


Sydney mengangguk. Tuan Osaka mengeluarkan ponsel dari sakunya.


“Sekarang, kita harus menghubungi Mila. Menurutmu, apa aku harus bicara dengan Nenek Juma?”


Sydney mengangguk cepat. Pastinya Nenek sangat menantikan hal itu.


“Aku pasti dipukulinya.”