
Hari Ahad, hari yang cukup berat bagi Sydney. Nenek menyuruhnya untuk membawa lebih banyak amunisi untuk berjualan. Dua kali lipat. Dan tentu saja itu tanpa pertolongan membawanya ke pasar. Ahad biasanya ada pasar baju bekas dadakan di luar pagar pasar. Pengunjung pasar menjadi lebih banyak dari biasanya.
Sydney membawa dua keranjang belanja di tangan kanan dan kirinya. Sudah berjalan satu kilometer, tinggal satu kilometer lagi. Meski matahari belum terbit, tapi keringat sudah membasahi bajunya, menderas di kening dan pelipisnya. Dia pun berhenti dan menyandar di bawah pohon. Seharusnya, dia tadi naik becak begitu keluar dari gang rumah Nenek. Sayang sekali, Nenek tidak pernah melihatnya bila berjualan di hari Ahad. Dia hanya bertanya ketika pulang dari pasar, habis apa tidak? Kalau tidak habis, lanjut jualan di rumah sampai sore.
Tapi Sydney tak pernah protes. Neneknya sudah membesarkannya dengan berjualan rujak, seperti yang dilakukannya sekarang. Sejak ibu meninggal karena melahirkannya, tentu saja hanya pada Neneknya, Sydney menggantungkan hidupnya. Jadi, tidak ada yang harus dikeluhkan.
“Ini pelajaran kehidupan,” ucap Sydney menghibur diri.
Sejenak setelah mengelap peluh dengan ujung kerudungnya, dia pun melanjutkan perjalanan ke pasar. Namun sejurus kemudian, dia merasa tangan kanannya menjadi ringan. Dia menoleh dan mendapati seseorang berwajah tampan tersenyum ramah padanya. Dia sudah memegang keranjang Sydney.
“Aku bantu, please.”
Sydney merasakan dadanya berdesir halus melihat senyum lelaki itu. Alarm bahayanya tidak berdering. Perlahan, Sydney melepaskan tangannya.
“Aku akan menolongmu setiap hari.”
Sydney menunduk, mengamati kakinya yang kini melangkah lebih ringan.
“Kau tidak perlu melakukannya. Lagipula ...”
“Aku Aditya. Aku yakin kau sudah lupa kalau kemarin aku beli rujak, kemarin, dan kemarinnya lagi.”
“Yang beli rujak banyak,” kilah Sydney.
“Tapi tidak ada yang seperti aku, kan?” ucap Aditya tersenyum jenaka.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju pasar. Jalanan mulai ramai. Aditya ternyata orang yang suka bercerita. Tanpa diminta, dia menceritakan tentang dirinya, seolah dia sangat mengenal Sydney. Dia menceritakan kuliahnya selama di Malaysia dan menyarankan Sydney mengambil beasiswa yang sama dengannya. Sydney merasa hatinya menari-nari mendengar semua cerita Aditya. Biarlah urusan Nenek dengan tante Mila menjadi pertikaian yang tidak diketahuinya sampai akhir jaman. Karena, Aditya orang yang baik dan ramah, meski Mila—kakak kandungnya—adalah seorang pengkhianat, kata Nenek.
“Kulihat kamu gadis yang tidak bisa diam. Kalau kau kuliah di Malaysia, kau bisa berjualan rujak di sana.”
Sydnet tertawa. Aditya senang melihatnya. Tanpa mereka sadari, mereka sudah sampai di pasar. Aditya membantu Sydney menata peralatan dan perlengkapan membuat rujak.
“Aku akan mengupahmu satu porsi rujak.”
“Tidak perlu. Aku hanya ingin kamu menerima ini.”
Aditya mengulurkan dua buah benda berbentuk lingkaran berwarna putih kehijauan.
“Apa itu?”
“Ini gelang. Satu untukmu, satu untukku. Bila kamu melihat orang memakai gelang ini, sama dengan punyamu, maka orang itu aku. Aditya.”
“Gelang seperti itu banyak yang jual di pasar ini.”
“Ini dari Malaysia. Di sini tidak ada. Ini akan bersinar saat gelap. Kita menyebutnya phophorensi.”
“Seperti tasbih milik Nenek.”
“Benar sekali.”
Sydney menerima gelang pemberian Aditya, lalu memakainya. Aditya memakai gelangnya juga.
“Jadi, aku bisa mengetahuimu kalau itu kamu, kalau sudah malam?”
Sydney dan Aditya saling menatap, lalu tertawa bersama. Lelaki itu kemudian melambaikan tangan dan meninggalkan pasar.
“Zura, dia melamar kamu?” tanya Mbok Min.
Sydney baru menyadari, bahw sejak tadi Mbok Min, si penjual tempe, mengawasi mereka berdua. Gawat. Bila sampai Mbok Min cerita ke Nenek.
Siang terik, Sydney memasuki halaman. Bertepatan dengan seorang tukang pos berhenti di depan rumahnya.
“Sydney Azzura?”
“Saya sendiri.”
Tukang pos itu menyerahkan sepucuk surat, lalu berlalu dengan motornya. Sydney mengernyit melihat kop surat Universitasnya. Dia libur belum satu bulan, sudah mendapat surat dari Universitas. Surat itu ditujukan untuk Nenek. Tapi, Nenek tidak akan bisa membaca surat itu, jadi Sydney membukanya.
Baru semenit dia membaca, matanya membeliak tidak percaya.
“Tidak ... ini tidak mungkin!” pekiknya tertahan seraya membekap mulutnya. Keranjang yang di tangannya terlepas, dan wadah-wadah jualan rujaknya bergulingan di tanah.
“Tidak ... ini pasti salah. Tidaaak....”
Sydney membaca surat itu berkali-kali, meyakinkan dirinya, bahwa surat itu salah. Tapi baik nama, alamat dan jurusan, tidak ada yang salah. Semua benar. Rektor sendiri yang bertandatangan. Sydney membekap mulutnya semakin kencang, berusaha keras menahan air matanya tumpah.
“Ya, Allah. Ampuni aku .. aku salah apa, Ya Allah ...”
Sydney merasa tubuhnya hendak limbung, ketika seseorang menangkap lengannya. Sydney melihat pergelangan tangan orang itu. Ada gelang putih kehijauan. Aditya. Lelaki itu manatapnya cemas. Bagaimana dia bisa tiba-tiba hadir di sini?
“Azura? Kamu kenapa?”
Sydney menggeleng kuat-kuat. Matanya tidak kuat lagi menahan bendungan air matanya, dan melelehlah cairan hangat di kedua pipinya, begitu deras
“Zura ...” Aditya menatap sepasang mata Sydney yang membasah, dan ada pilu mendalam di sana.
Aditya memegang kedua lengan Sydney erat-erat. Ingin menarik gadis itu dalam dekapannya, meredakan kepedihan yang entah kenapa bisa dirasakannya juga. Tapi, Aditya berusaha menahan diri. Dia tidak ingin, saat hendak memberikan empati, gadis itu menolaknya. Sydney menangis tak tertahankan, sampai merunduk-runduk di depan Aditya.
Tatapan Aditya tertuju ke kertas yang masih dipegang Sydney. Perlahan diambilnya kertas itu, ketika Sydney melonggarkan genggamannya pada kertas itu. Aditya membaca surat itu, dan sejurus kemudian dia memahami kedukaan mendalam gadis di hadapannya.
“Mereka men-dropout kamu? Tanpa alasan?”
Sydney melepaskan tangan Aditya, berjalan gontai menuju pintu rumahnya. Nenek pasti akan memurkainya. Tidak hanya itu, putus sudah harapannya untuk kuliah, menjadi sarjana, dan mendapat pekerjaan yang layak. Hingga mereka tidak lagi berada dalam kemiskinan.
“Nenek ... maafkan aku...”
Aditya menatap punggung Sydney, hatinya merasa teriris melihat kepedihan gadis itu. Dia tidak yakin, Sydney melakukan kesalahan fatal hingga di-dropout tanpa alasan. Dia harus mencari kebenaran surat ini. Setelah membereskan keranjang Sydney dan meletakkannya di teras rumah Sydney, Aditya bergegas keluar halaman. Dia mendengar teriakan Nenek Sydney. Benar kata Mila, jangan mencari gara-gara mendekati Sydney. Neneknya bisa menggerusnya jadi rujak.
Di sebuah warung kopi, Aditya duduk dan memesan kopi. Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan mendial sebuah nomor. Tak berapa lama, ada seorang lelaki duduk di sebelahnya, Aditya menggeser duduknya. Siang seperti ini, biasanya warung ini ramai oleh petani yang baru pulang dari sawah. Tapi Aditya yakin, mereka orang-orang kampung yang tidak akan mengerti urusan kuliah seperti ini.
“Assalamualaikum. Hai, Sapto? Hai, Adit ini. Aditya.”
Aditya tertawa senang mendengar suara di seberang sana. Sekilas Aditya melirik orang-orang yang sedang minum kopi, dia yakin tidak mengganggu mereka.
“Hei, Sapto. Kamu jadi mengambil S2 kan? Aku bisa minta tolong carikan informasi ya. Ada temanku didropout, dia satu kampus dengan kamu. Informasinya benar apa tidak? Aku fotokan suratnya ya?”
Aditya memfoto surat milik Sydney, lalu mengirimkannya ke Sapto.
“Ini gila,” batin Aditya, “semudah itu mendrop out mahasiswa beasiswa? Pasti ada masalah besar yang sudah dibuat Sydney di sana.”