
Darmaji tidak mendapati seorangpun di rumah. Sementara perutnya sudah berontak minta diisi. Tapi tidak ada aktifitas di dapur semenjak tadi pagi. Biasanya dia bisa mendengar suaranya dari kamar Nyonya Mulan, apalagi bau masakannya. Dan ini mengherankan. Darmaji mengetuk kamar pembantu, tidak ada jawaban. Darmaji sedikit terkejut ketika mendapati semua pintu tidak terkunci.
Ke mana semua orang?
Darmaji memindai halaman, tak satupun tukang kebun berseliweran. Biasanya, begitu matahari terbit, mereka sudah sibuk menyiram taman. Satpam juga tidak berjaga di depan. Perasaannya menjadi tidak enak. Sebentar lagi Nyonya besar bangun, dan sudah harus ada makanan di meja makan.
Darmaji bergegas menelpon Mila. Siapa tahu ada pawai atau karnaval di tepi jalan utama, yang membuat para pembantu keluar rumah serempak. Biasanya mereka selalu minta ijin padanya untuk menonton hal sepele seperti itu. Nomor Mila tidak aktif. Juga nomor satpam dan semua pembantu.
Darmaji mulai panik. Dia kembali masuk ke dapur, mendapati dapur bersih. Semua perabot pada tempatnya. Di ruang tengah, di ruang tamu. Semua barang elektronik duduk manis seperti biasa. Tidak ada yang berubah posisi apalagi hilang.Tiba-tiba Darmaji teringat sesuatu. Kata-katanya sendiri.
“Mila... jadi kau benar-benar memilih kehilangan pekerjaan?”
Darmaji mengeram. Semua pembantu kompak minggat. Nyonya pasti akan marah besar. Bisa jadi, bila Darmaji menyebut provokatornya adalah Mila, Nyonya akan memburu wanita itu sampai ke ujung dunia. Bahkan Darmaji yakin, tanpa dia menyebut nama Mila, Mulan pasti tahu kalau Mila yang mengajak semua pembantu untuk minggat. Karena dia adalah pembantu senior di sini setelah Darmaji.
“Teng Tong !”
Bel dari gerbang depan berbunyi. Tentu saja karena tidak ada satpam di sana. Darmaji bergegas berlari lagi menuju gerbang depan. Entah kenapa, kali ini dia begitu panik. Situasi ini tidak berada dalam kendalinya. Biasanya, semua pembantu patuh dan menurut pada apa yang diperintahkannya. Tanpa membantah, meski dengan raut muka. Darmaji merasa, kedekatannya dengan majikan adalah hal terbaik dalam hidupnya. Semua yang ada di Rumah Coklat berada di bawah pengawasannya. Segala keputusan dia yang mengambil. Dan tidak ada yang membantah. Dia ibarat Tuan Besar bagi semua penghuni Rumah Coklat.
Darmaji membuka gerbang yang tidak terkunci. Para satpam meninggalkan rumah begitu saja, dan menggantungkan kunci di tembok pos satpam. Kapan mereka minggat?
Seorang kurir.
“Ya? Mencari siapa, mas?”
Darmaji tidak pernah menerima kurir sebelumnya. Jadi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika kurir itu menyerahkan sebuah amplop besar.
“Untuk Mulan Bramantya.”
“Apa ini?”
“Kiriman.”
“Dari mana?”
“Baca saja namanya di situ pak. Tolong tanda tangan di sini.”
Darmaji membubuhkan tanda tangan di atas kertas, lalu kurir itu pun pergi. Bergegas dia menutup gerbang, lalu menuju rumah. Tapi perasaannya kembali terusik. Diamatinya amplop besar di tangannya. Sebuah logo di pojok amplop, membuatnya mengernyit alis. Restoran Pegasus? Tidak biasanya mereka mengirim surat dengan kurir. Biasanya manejer Pegasus sendiri yang datang menemui Mulan dan menyerahkan laporan keuangan.
Darmaji melihat Mulan menuruni tangga. Rambutnya semrawut dan baju tidurnya acak-acakan. Tapi dia tetap cantik di mata Darmaji. Mulan berhenti di tengah tangga ketika melihat Darmaji di ruang tamu.
“Apa itu?”
“Ada surat dari Pegasus, Nyonya.”
Darmaji menyerahkan amplop itu pada Mulan. Mulan langsung membukanya dengan menyobek bagian tepinya.
“Tumben Arandi kirim laporan lewat pos ... ah, dia kan masih di Rumah Sakit.”
“Iya, Nyonya. Manajer Pegasus masih di Rumah Sakit. Tapi akan pulang dalam waktu dekat. Istrinya kapan hari mengabari saya.”
Mulan melempar amplop ke atas meja tamu dan mengambil isinya. Membacanya dengan kening mengernyit. Matanya membelakak. Darmaji langsung tahu, ada yang tidak beres di Pegasus.
“Apa ini? Kurang ajar semua!” teriak Mulan marah, sembari melempar kertas di tangannya hingga beterbangan dan berserakan di lantai.
Darmaji memunguti kertas-kertas itu, dan membacanya. Dia hanya bisa membelalak mendapati tulisan di atas kertas itu.
oOo
Hari ini begitu berbeda. Selama bertahun-tahun, Mila tidak mendapatkan senyum kegembiraan rekan kerjanya. Selama ini, setiap waktu makan, mereka akan datang ke dapur, mengambil jatah makan dengan raut wajah seperti pengungsi dari kamp pengungsian. Tidak pernah ada obrolan panjang apalagi senda gurau. Cukup perut terisi penuh dan setelah sendawa, maka harus segera kembali ke tempat tugas masing-masing.
Pagi ini, semua sarapan bersama di meja makan. Duduk melingkari meja makan. Saling berbincang dan melempar canda. Bersama majikan muda mereka. Reynand Milan Bramantya. Masakan sederhana, hanya nasi pecel dengan teh manis. Menu permintaan Reynand. Tentu saja karena dia setiap pagi selalu sarapan seperti itu di kantin kampus.
“Terima kasih, Tuan, “ ucap Mila ketika membereskan meja.
Reynand hanya tersenyum. Hatinya begitu hangat pagi ini. Ketika matahari menyembul, dia melangkahkan kaki menuju rumah ini, meninggalkan pertanyaan Hud tanpa jawaban. Hanya sekedar jalan-jalan sebagai alasan, hal yang tak pernah dilakukannya. Padahal dia ingin sekedar menemui anak buah barunya dengan request masakan untuk sarapan. Masakan rumah yang bebas mengambil apa saja.
Reynand menatap Nenek Juma yang duduk tepat di hadapannya. Nenek Juma tersenyum padanya, membuat Reynand mengira bahwa wanita sepuh itu memang neneknya. Selama ini, dia tidak pernah mengenal neneknya. Papa hanya mempunyai seorang bibi yang entah tinggal di mana. Reynand tidak pernah bertemu dengan mereka. Sedangkan Mama tirinya adalah seorang wanita tanpa latar belakang yang diketahuinya. Kata Darmaji, Mama Mulan dulu seorang anak yatim piatu, tidak punya kerabat satupun.
“Aku tidak pernah punya nenek sebelumnya, “ ucap Reynand memulai komunikasi pertama—yang berusaha dibuatnya sangat akrab—dengan kerabat Sydney.
“Kau pasti punya. Tidak mungkin kau terlahir dari batu.” Nenek Juma kembali tersenyum.
Reynand membalas senyuman Nenek Juma.
“Aku rasa yang terlahir dari batu adalah batu. Papa tidak pernah memberitahu siapa nenekku. Mama juga. Jadi, kurasa aku memang lahir dari batu.”
“Kau bukan batu. Kau malaikat.”
Nenek Juma menghulurkan tangannya menyeberangi meja, lalu menggenggam tangan Reynand hangat. Senyumnya mengembang tanpa henti.
“Terima kasih.”
Reynand menggeleng, lalu berucap berlahan, “Tidak, aku yang berterima kasih. Aku tidak bohong soal lukisan itu kan? Aku akan menerima nenek bila nenek membawa lukisan itu padaku lagi. Dan terima kasih sudah memasangnya di sana.”
Reynand mengarahkan pandangannya ke ruang tengah, tempat lukisan Sydney berkepang dua dipajang.
“Itu milikmu.”
Reynand menggeleng. “Bukan. Itu milik Sydney. Aku memberikannya pada dia, karena aku yakin, dia adalah gadis kecil yang kulukis delapan tahun yang lalu.”
Nenek Juma mengernyit. “Benarkah?”
“Ya. Aku bertemu dengannya. Hanya sekilas. Dan aku bisa mengigatnya sampai sekarang. Karena aku melukis wajahnya.”
“Kau bertemu dengan Sydney, delapan tahun yang lalu?” tanya Nenek Juma, nada bicaranya berubah. Ada tekanan di empat kata terakhirnya.
“Hm, kurasa aku tidak jujur padamu,” sahut Reynand.
Reynand merasa tangannya digenggam semakin erat.
“Apa yang ingin kau katakan?”
Hening. Reynand menautkan pandangan matanya ke sepasang mata coklat Nenek Juma. Mata itu mirip sekali dengan Sydney. Dan kerinduannya pada gadis itu semakin menggumpal dan menyesakkan dadanya.
“Aku ingin bersama Sydney.”