
Tuan Osaka tidak bersuara sepanjang perjalanan. Dia mengendarai mobil begitu lambat, hingga Obasaan yang duduk di sebelahnya mengira mereka akan sampai di rumah tahun depan. Majikannya berkalik-kali melihat ke kaca spion tengah, memastikan anaknya baik-baik saja di bangku belakang. Maka dari itu, dia berupaya untuk berkendara seaman mungkin, dengan menyusuri jalan seperti kura-kura.
Tentu saja Sydney baik-baik saja. Aditya mendekapnya sejak mereka masuk mobil, menjaganya penuh kekhawatiran. Khawatir bila mobil yang dikendarai Tuan Osaka melindas batu, Sydney akan terguling ke kolong kursi. Dan Sydney hanya pasrah, memejamkan mata sembari menyandarkan kepalanya di dada Aditya. Menikmati ritme detak jantung suaminya yang tak beraturan.
Aditya menciumi kepala berbalut jilbab Sydney. Bila sedang merindukan gadisnya, dia menyemprotkan parfum di bantal dan memeluk bantal itu sepanjang malam. Dan hal itu justru semakin membuatnya tersiksa karena semakin memupuk rindunya pada Sydney. Ketika telpon Mila memerintahkannya untuk terbang ke Jepang, detik itu juga dia meninggalkan semua masa depannya di Malaysia. Hanya untuk Sydney Azzura.
Sejak di rumah sakit, dia seolah kehilangan ribuan kata-kata ketika melihat sepasang mata bulat Sydney yang mengenalinya begitu saja. Tidak menatapnya asing seperti biasa. Apakah Sydney sudah sembuh, Aditya belum berani memastikan. Dia harus menguji gadis itu dengan serangkaian kejutan yang tidak terduga.
Hanya tatapan penuh rindu dan pelukan hangat yang bisa dilakukannya pada Sydney untuk membayar kebahagiaannya ketika Sydney memanggil namanya tanpa ragu. Baru ketika mereka berdua duduk di bangku belakang mobil, Aditya terpikir untuk menggoda istrinya.
“Jadi, bagaimana kita bisa punya bayi? Apa kau ingat cara membuatnya?“
Sydney meremas lengan Aditya gemas. Aditya mengaduh lirih. Kenapa lelaki yang setengah mati dirindukannya itu menanyakan hal itu? Apa dia tidak sadar melakukannya saat di homestay atau hanya menggodanya?
“Aku rasa, aku bermimpi, “ bisik Sydney.
“Kau mimpi? Apa ada aku dalam mimpimu? “
“Tidak. Aku bermimpi seseorang memakai gelang hijau seperti gelangku. Dia menghampiriku. Dan tahu-tahu aku mengandung anaknya. “
Sydney mengangkat pergelangan tangannya dan gelang itu tampak bercahaya di matanya. Aditya meraih tangan Sydney dan meremasnya mesra, hingga Sydney bisa melihat gelang yang sama di pergelangan tangannya.
Aditya mencium kepala Sydney dalam balutan jilbabnya. Sebenarnya, dia sudah tak sanggup membendung kerinduannya pada Sydney. Tapi lelaki dan wanita sepuh di bangku depan, sejak tadi mewaspadainya. Berkali-kali melihat ke spion. Bahkan wanita Jepang yang dipanggil Obasaan tidak sungkan menoleh ke belakang, berkali-kali. Dan ketika mendapati Aditya hanya memeluk Sydney, dia pun mengembangkan senyum ramahnya.
“Pasti lelaki bergelang hijau melakukan sesuatu padamu. Kau sama sekali tidak ingat? “ goda Aditya, berbisik di telinga Sydney sembari meniupnya.
Sydney bergidik geli. Tapi dia hanya meremas lengan Aditya. Fisiknya masih terlalu lemah untuk sebuah gerakan yang memerlukan energi lebih banyak. Seperti mendorong Aditya agar melepaskan pelukannya, hingga lelaki itu akan kembali menariknya dalam pelukan.
“Kami melakukan kesepakatan, “ bisik Sydney sembari mendongak menatap sepasang manik mata yang menatapnya dalam.
“Oh ya? Kesepakatan yang berapa menit? “
Mobil berhenti. Obasaan menoleh ke belakang seraya berkata, “Kita sudah sampai. “
Namun kemudian dia membekap mulut, melihat Sydney dan Aditya sudah tenggelam dalam kesepakatan mereka. Tuan Osaka mendehem tiga kali. Dan Aditya melepaskan pelukannya pada Sydney tiba-tiba. Sydney menghela nafas panjang tiba-tiba. Beberapa menit tadi, sepertinya dia tidak bernafas. Pipinya terasa panas.
Tuan Osaka keluar dari mobil, diikuti Obasaan. Baru beberapa langkah menuju pagar rumahnya, dia baru teringat kalau Sydney masih belum kuat fisiknya. Dia pun membalikkan badan.
“Sydney, apa kau bisa ... jalan? “
Aditya sudah menggendong Sydney layaknya pengantin pria menggendong istrinya. Tuan Osaka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Sydney menggelayut mesra pada Aditya, dan Obasaan terkekeh di sebelahnya. Berempat mereka melangkah menuju pagar, ketika sebuah suara memanggil Sydney. Serempak mereka berempat menoleh.
“Sydney, kau sudah ... sembuh? “
Obasaan melihat jelas ekspresi Kageyama yang ditujukan pada Aditya. Matanya menyiratkan kebencian.
OoO
Melihat dada bidang Aditya, Tuan Osaka seperti melihat dirinya semasih muda dulu. Sanggup menggendong istrinya bahkan sembari naik tangga ke lantai dua. Itu ketika mereka baru menikah.
“Jadi, kalian sudah menikah. Sirri? “ tanya Tuan Osaka.
Aditya mengangguk hormat. Dia menjadi tidak enak dengan kejadian di bangku belakang mobil tadi. Tapi dia benar-benar tidak bisa menahan kerinduannya pada Sydney. Dia hanya tidak menyangka saja bila Tuan Osaka dan Obasaan akan melihat mereka, padahal Aditya sebenarnya hanya akan melakukan kesepakatan 1 menit. Tapi dia dan Sydney sama-sama tidak bisa menghentikan stopwatch mereka yang berputar, hingga bermenit-menit.
“Apa pertimbangan Mila menikahkan kalian? “
Aditya tahu, sebagai orang tua, Tuan Osaka berharap suami anak perempuannya pasti orang yang sudah mapan. Melihat menantunya hanya anak kuliahan yang mengandalkan beasiswa, pasti dia kecewa. Tapi, haloo ... di mana dirimu sendiri sebagai ayah selama ini? Aditya tidak akan menggugat lelaki Indonesia dengan nama Jepang di hadapannya. Lelaki itu tidak pernah ada untuk Sydney saat gadis itu di Indonesia. Ternyata dia bersembunyi di sini.
“Nenek Mila yang meminta aku menikahi Sydney. “
“Ah, Nenek Juma. Aku menyerah kalau sudah dia yang memutuskan. “
“Ya, karena dia yang merawat Azzura sejak bayi. Jadi, aku yakin dia tidak salah memilih calon suami untuk cucunya. Di samping, aku sudah mencintai Azzura sejak dia SMP. “
Tuan Osaka membelalak. “Sejak SMP? “
“Iya. Dan dia tidak pernah mengenalku selama itu. Dia selalu terkejut dan memandangku seperti orang asing. Tapi, neneknya tidak seperti itu. Dia tahu, kalau aku tidak pernah memanfaatkan kepikunan Azzura untuk kepentinganku. Yang dia tahu, aku selalu melindungi Azzura. Meski dia yang lebih kuat dan sanggup melawan tiga preman sekaligus. “
Lelaki Indonesia bernama Jepang itu mengusap dagu. Menilik penampilannya yang ala Jepang, sepertinya dia lebih mencintai Jepang daripada kampung halamannya. Jika memang benar dia ayah kandung Sydney, berarti dia pernah tinggal di Indonesia, menikah dengan orang Indonesia dan punya anak Sydney. Mila tak pernah menceritakan masa lalu perseteruannya dengan Nenek Juma. Tapi, sepertinya berkaitan dengan lelaki sepuh di hadapannya. Mila yang menjadi penghubung antara Tuan Osaka dan kabar anak perempuannya.
Mungkin, dari lelaki di hadapannya ini, Aditya bisa menggali informasi tentang asal muasal Sydney di masa lalu. Meski, dia tak peduli untuk urusan itu.
“Kalian harus menikah resmi. Aku akan coba cari informasi apa bisa dilakukan di sini. Mungkin kedutaan bisa membantu. Aku akan menyuruh Kageyama .... ah tidak usah. Anak itu penyebab Sydney masuk rumah sakit. “
“Lelaki Jepang tadi? “
“Iya, Kageyama. Selama Sydney di sini, dia yang mengajari Sydney bahasa Jepang. Dan dia yang membawa Sydney jalan-jalan mengenal lingkungan di sekitar sini. Tapi dia tidak bisa menjaga Sydney. Makanya, kalian berdua harus menikah resmi. Jadi aku punya alasan pada Kageyama untuk melarangnya menemui Sydney lagi. “
Hm, jadi namanya Kageyama. Sepertinya dia tidak menyukaiku, batin Aditya.
“Kau bilang tadi, Sydney punya penyakit pikun? “
“Prosopagnosia, “ sahut Andika.
Tuan Osaka menatap Andika dalam-dalam. Sepertinya, akan lebih aman bila dia bertanya pada lelaki—yang berstatus suami Sydney.
“Apa di Indonesia, kamu mengenal seseorang bernama Reynand Bramantya? “