
Kalau tidak ke Maskapai atau Restoran Blueprint, Rey hanya melukis dan
melukis. Sudah banyak lukisan Sydney yang dihasilkannya. Dan dia melukisnya
tanpa menggunakan sampel atau contoh satupun. Semua detil wajah Sydney ada di
dalam kepalanya.
Hud satu hari penuh hanya berada di kamar. Mengetik di ranjang, dengan
buku-buku di sekelilingnya. Dia bertekad menyelesaikan skripsinya dengan cepat.
Dan Rey menyelesaikan lukisan dalam satu hari. Hud tidak bisa membayangkan
betapa kuatnya ikatan Rey dengan gadis itu. Beruntung dia sudah memutuskan
proses yang akan berlanjut ke taarut itu. Meski kadang bila memandang lukisan
yang dipajang Rey, dadanya sedikit berkedut.
Semoga gadis itu baik-bak saja..
“Hud, menurutmu aku perlu tukang pukul?”
Hud terdiam. Berikut juga jemarinya yang menari di atas keyboard laptop.
Kenapa Rey bertanya seperti itu? Apa dia mendapat ancaman baru?
“Tergantung kebutuhanmu, Rey. Kamu berhadapan dengan tukang pukul Mamamu?”
“Info dari Darmaji, di Rumah Coklat sekarang, beberapa orang datang dan
pergi. Sebagian orang dalam Maskapai, tapi bukan Dewan Direksi. Sebagiannya
adalah preman Mama. Lebih tepatnya tukang pukul. Meski aku tahu dia tidak di
pihakku, tapi dia mengingatkanku untuk lebih berhati-hati.”
Hud menelan ludah. Wanita gila. Dia semakin menjadi menunjukkan
kekuasaaannya.
“Aku ketemu Sydney.”
Hud menutup laptop di pangkuannya, lalu memberikan perhatian pada teman
sekamarnya. Rey menhentikan kegiatannya melukis, lalu duduk di kursi
belajarnya. Menerawang.
“Waktu itu kejadiannya, seperti diatur saja. Menjadi Hari Paling Sial
sedunia. Seorang wanita yang menabrak mobilku, minta ganti ke Maskapai. Terus
aku harus berjalan berkilo-kilo yang menyebabkan seseorang gampang mencopetku. Aku mengejar
copet itu, dan tiba-tiba Sydney muncul, lalu ikut mengejar. Dia berhasil
membekuk pencopet itu dan memukulinya. Aku jadi berpikir, kalau kamu yang ada
di situ bersamaku. Pasti sudah berkelahi dengan para preman itu. Kamu bisa
babak belur.”
“Bagaimana kondisinya? Sydney maksudku.”
Rey mendesah panjang.
“Dia .., menjauhiku. Dia menjaga jarak denganku. Dia, sudah berbeda.” Rey menggeleng-geleng
sembari menerawang. Dia mengelus tengkuknya berkali-kali. Hud baru mengetahui
kalau Rey sedang tidak tenang hatinya, dia selalu mengelus tengkuknya.
“Kau tidak bisa menyalahkannya. Dia kehilangan segalanya, kuliah, rumah,
karena membela kamu Rey.”
“Ya, aku tahu itu. Aku harus mengembalikan itu semua. Itu semua hutang
bagiku. Aku harus mengembalikan kehidannya seperti dulu lagi. Dia harus kuliah
lagi, dan harus punya rumah lagi. Makanya aku perlu tukang pukul lebih banyak
lagi.”
“Rey....” sela Hud sembari bertepuk tangan, memaksa Rey melihat ke arahnya.
Hud tidak ingin bangkit dari ranjangnya karena di pangkuannya ada laptop dan di
sekelilingnya berserakan buku untuk referensi. Dia harus membantu Rey mengurai
kegundahannya, tapi dia tidak ingin kehilangan waktu karena sudah mempersiapkan
hari ini untuk mengetik dan mengetik.
“Kamu bukan Mamamu. Jangan sampai kau menirunya dalam mengambil langkah. Kalian
orang yang berbeda. Dia gila, kamu waras. Dia hanya bisa mengandalkan tukang
pukul, kamu tidak. Kamu punya ...”
“Bodyguard.”
“Ya .... bodyguard,” ucap Hud sembari melebarkan tangan, meski semua itu
hanya peran konyol dengan gaji sebenarnya. Hud kadang berpikir dia tidak perlu
mencari kerja selepas lulus kuliah. Gajinya sebagai bodyguard bayangan sudah
lebih dari cukup untuk makan tiga bulan.
Rey mendesah panjang sebelum berucap, “Kamu harus menyelesaikan skripsi itu
tepat waktu. Aku tidak ingin ada satu lagi korban orang lain menderita
gara-gara aku.”
“Aku akan mempertimbangkan usulan Pengacara Julius. Tentang pendampingan
selama proses penyelidikan pembunuhan Papa. Sepertinya, sudah saatnya aku
melawan Mama. Informasi dari Merlin, ada beberapa orang Maskapai yang dicurigai
mempunyai hubungan dengan dengan Mama. Dan mereka diduga membocorkan infomasi
maskapai ke luar maskapai. Siapa lagi kalau bukan ke Mama. Mama sedang
merencanakan sesuatu.”
“Dia tahu kelemahanku, Hud. Aku sama sekali nol di bidang ini.”
“Bukan. Kelemahanmu bukan di situ.”
“Di mana?”
“Sydney. Itu kelemahanmu, dan Mamamu tahu itu. Makanya, menghancurkan
Sydney adalah pintu utama menghancurkanmu.”
Rey menatap Hud yang juga sedang menatapnya.
“Situasinya semakin membahayaka buat Sydney, apalagi dia ternyata di kota
ini,” ucap Hud perlahan, tidak ingin membuat Rey panik, “katamu, Mamamu sanggup
berbuat apa saja.”
Rey bangkit dari kursinya. Hud menyesali kalimatnya. Rey mondar mandir di
kamar, sembari mengelus-elus tengkuknya. Dia panik.
***
Pintu gerbang Rumah Coklat terbuka. Mobil yang dikendarai Darmaji dengan
Nyonya Mulan di dalamnya, meninggalkan Rumah Coklat. Tidak lama setelah mobil
itu lenyap dari pandangan, Rey dan Hud keluar dari mobilnya yang diparkir agak
jauh dari pintu gerbang.
Rey mendahului memasukkan sebelah kakinya di pintu gerbang yang didorong
oleh satpam. Satpam itu terkejut melihat siapa yang datang.
“Tuan Reynand,” pekiknya gembira.
Rey tidak mengenali siapa satpam itu. Bisa jadi satpam yang sama dengan
ketika dia masih tinggal di rumah ini, atau sudah berganti orang.
“Siapa namamu?” tanya Reynand. Hud berdiri di belakangnya, memantau
situasi.
“Bakri, pak. Tuan Reynand sudah lupa sama saya.”
Rey mengingat nama itu, tapi tidak mengingat wajah di hadapannya.
“Maaf, aku sudah lama tidak tinggal di sini.”
“Tidak apa-apa, Tuan. Saya senang Tuan datang. Tuan ada keperluan dengan
Nyonya?”
“Tidak ada. Aku hanya perlu mengambil beberapa barangku yang masih ada di
sini, dan aku tidak ingin Mama tahu. Darmaji juga. Mereka pergi ke mana?”
“Ke luar kota. Mungkin malam baru kembali.”
“Bagus. Aku akan masuk rumah, ini masih rumahku, kan?”
Bakri mengangguk, lalu mempersilahkan Rey dan Hud masuk. Wajahnya
berseri-seri. Sepertinya, dia sangat senang Rey masuk ke Rumah Coklat. Rey dan
Hud berjalan menuju garasi.
“Kita mencari apa di sini?” tanya Hud. Sejak sebelum berangkat Hud sudah
mengingatkan, percuma datang ke Rumah Coklat. Toh Sydney tidak mungkin berada
di sana. Bisa jadi, malah Rey dan Mamanya akan bentrok. Untung saja, Mamanya
sedang keluar rumah.
“Entahlah, Hud. Petunjuk atau apapun itu. Aku merasa, ada sesuatu di sini
yang bisa menjadi petunjuk. Aku tidak tahu apa, jadi harus kita cari.”
“Mungkin di ruang kerja Papamu. Ruangan tempat Pengacara Julius membacakan
Surat Wasiat.”
“Ya, kita ke sana.”
Rey berjalan melewati garasi. Melewati deretan kamar.
“Ini kamar pembantu. Mungkin mereka tahu sedikit infomasi. Pembantu di sini
suka menguping pembicaraan majikan. Kita bisa menginterogasi mereka.”
Tidak ada seorangpun di area itu. Hanya satu pintu terbuka, Rey melewatinya.
Tapi Hud berhenti tepat di depan pintu. Sesuatu menarik perhatiannya.
“Rey ... sebaiknya kau melihat ini.”
Rey membalikkan badan, dan pandangannya mengikuti arah telunjuk Hud ke
dalam kamar. Tepat saat itu, pintu di sebelah kamar itu terbuka. Dan seorang
pembantu keluar.
“Tuan Reynand?” pekiknya tertahan.
Reynand berusaha bersikap tenang. Tersenyum pada pembantu di depannya. Pembantu
itu, seperti halnya Bakri—satpam di gerbang depan—berseri-seri melihat Reynand.
Reynand sangat diharapkan kehadirannya di Rumah Coklat.
“Ini kamar siapa?” tanya Reynand menunjuk ke dalam kamar yang sebelumnya.
“Mila.”
“Di mana Mila sekarang?”
“Saya cari dia, Tuan.”
Rey mengangguk. Pembantu itu bergegas pergi, dan Rey memasuki kamar itu,
sementara Hud berjaga di luar. Rey berdiri menatap dinding, tempat sebuah
lukisan tergantung. Lukisan Sydney delapan tahun yang lalu.