MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
MIla



Dapur sudah bersih sejak sejam yang


lalu. Semua pembantu sudah masuk ke kamar masing-masing. Tinggal Mila yang


masih duduk di sebuah kursi di depan meja dapur. Menikmati kopi sembari menonton


TV. Sebuah TV flat terpasang di tembok dapur, memang dikhususkan bagi para


pembantu. Setiap malam menjelang tidur, Mila tidak pernah absen melakukan


ritualnya. Terkadang satu atau dua orang pembantu bergabung, menonton TV sampai


mengantuk. Terkadang juga Darmaji menemani bila ada pertandingan bola.


Mila mengganti-ganti saluran, tidak


menemukan saluran yang menarik. Hanya berisi berita dan infotainment menjelang


tengah malam. Mila berhenti pada saluran siaran langsung sepak bola. Mila


melirik ke luar dapur, ke deretan kamar pembantu. Rumah coklat mempunya mess


pembantu. Satu pembantu satu kamar. Ada sepuluh kamar di situ dan hanya terisi


lima orang. Dua orang tukang kebun baru pekan kemarin berhenti, gara-gara


dimurkai Mulan.


Akhir-akhir ini Mulan sering tidak


terkendali emosinya, meski biasanya memang seperti itu. Tapi semenjak kematian


suaminya, dia lebih sering melampiaskan marah pada semua orang di rumah ini.


Terutama pembantu.


Mila merasa kasihan pada Darmaji.


Lelaki itu lebih mirip anjing Nyonya besar mereka daripada sopir. Dia selalu


tunduk patuh meski tubuhnya dilukai. Kata beberapa pembantu, Darmaji tidak


hanya dilukai, tapi dia juga dibayar pantas. Bukan dengan uang.


Mila mengedik bahu, tak ingin tahu


lebih banyak. Apalagi bertanya pada Darmaji. Urusan dia dengan Darmaji sebagai


kepala pelayan adalah gaji untuk bisa dikirim ke kampung. Meski setiap habis


dihajar Nyonya, para pembantu yang membantu merawat lukanya.


Yang diherankan Mila, kenapa Darmaji


masih betah bekerja di rumah ini. Apa dia berharap jadi Tuan Besar di rumah


ini? Mengingat dia tidak punya rumah lagi setelah bercerai dengan istrinya.


Masih mending Mila, punya rumah di kampung halaman.


“Bola. Kau tidak memberitahuku.”


Mila menoleh, mendapati Darmaji sudah


duduk di sebelahnya. Di tangannya ada botol minuman suplemen.


“Apa itu? Obat kuat?” tanya Mila


iseng.


Darmaji mengangkat botol itu hingga


Mila bisa melihat namanya dengan jelas. Botol supllemen yang sering muncul di televise.


Iklannya memang lelaki perkasa pekerja proyek. Tapi Darmaji kan hanya sopir


yang tidak pernah pegang linggis apalagi cangkul.


“Hati-hati kalau minum seperti itu


terlalu sering, “ nasehat Mila sembari mensesap kopinya.


“Hanya kalau capek saja.”


Hening di antara mereka. Seorang


pembantu masuk ke dapur, mengambil makanan di kulkas. Melihat Mila dan Darmaji


menonton bola tanpa ekspresi, dia pun berlalu menuju kamarnya.


“Pak Dar, aku boleh bertanya?”


Darmaji meneguk habis botolnya, lalu


bersendawa.


“Apa?”


“Berapa tahun Pak Dar bekerja di sini?”


“Sejak .. rumah ini pertama ditempati.”


“Sejak Nyonya menikah dengan almarhum


Tuan?”


Darmaji mengangguk. Sepasang matanya


terfokus pada permainan bola di televisi. Siaran langsung pertandingan tim


Indonesia melawan Malaysia.


“Em…. Krasan?”


“Kau lihat bagaimana?”


“Nyonya sering menghajar Pak Dar.


Kalau dia melakukan itu padaku, aku langsung pulang kampung.”


“Dia tidak akan melakukannya padamu.”


“Kenapa?”


“Karena….”


Darmaji terdiam. Pertandingan sedang


seru, Darmaji menegang. Tapi kemudian, mengendur lagi. Gol-nya gagal.


“Karena aku tahu rahasianya?”


Darmaji menoleh, menatap Mila dari


samping. Mila tahu Darmaji berusaha menggali apa maksud pertanyaannya, tapi


kemudian mengabaikannya.


“Itu masa lalu, kau tidak perlu


mengungkitnya lagi.”


Mila mendesah panjang. Di rumah ini


terlalu banyak rahasia yang sebenarnya tidak rahasia. Seperti hubungan Pak Dar


sudah tahu berdasar dugaan, tapi tidak perlu mengkonfirmasi dengan pertanyaan.


Cukup menjaga pembicaraan, karena masih memerlukan pekerjaan.


“Dia tidak akan memecatmu meski dia


tahu rahasia itu.”


“Benarkah? Kukira dia wanita….”


Mila menelan kata “gila” di


kerongkongannya. Dia tidak mau kata itu tersebut di depan Darmaji, meski di


kalangan pembantu perempuan, itu adalah label halal untuk majikan mereka. Sah


dan terbukti. Darmaji adalah tangan kanan majikan besar mereka. Meski lelaki


itu baik pada semua anak buahnya, belum tentu dia memaafkan bila ada yang


menghina Nyonya besar. Nyonya yang membayarnya tidak hanya dengan uang,


memegang hidupnya di telapak tangan.


“… yang tidak mau memaafkan kesalahan.”


Darmaji memutar badan setelah Mila


menyelesaikan kalimatnya, tidak lagi terfokus pada televise, tapi pada Mila yang


masih tetap menatap layar kaca itu—meski perempuan itu tidak menyukai bola.


“Apa yang terjadi di masa lalu bukan


kesalahanmu. Malah jika Tuan besar tahu, dia akan menggajimu lima kali lipat.”


Mila terkekeh sumbang. Tentu saja itu


tidak akan terwujud.


“Kau tahu, Pak Dar. Jujur, aku tidak


merasa bersalah tentang hal itu. Aku malah bersyukur aku pernah terlibat di


rahasia masa lalu rumah ini. Tapi, bukan tidak mungkin, tuan muda akan mencari


jawaban. Dan bila itu tiba, kurasa aku akan melakukan hal yang seharusnya aku


lakukan sejak dulu.”


Darmaji terdiam. Itu benar. Reynand


sedang mencari jati dirinya. Dan bila Mulan tahu bahwa itu berkaitan dengan


Mila, bukan tidak mungkin Mila pulang kampung dengan perban di seluruh


tubuhnya.


“Sebaiknya kau simpan itikadmu, Mila.”


“Apa alasanku? Dia akan menghajarku


seperti menghajar Pak Dar?”


“Selama masih ada aku, aku masih bisa


melindungimu.”


“Dengan membiarkan dia menghajarmu?”


Darmaji mengangguk. Jujur, dia merasa


nista dengan perbuatannya, setelah Mulan menghajarnya. Dia harus memuaskan


nafsu majikannya. Tapi, bagaimanapun para pembantu perempuan itu harus


dilindunginya. Banyak yang tidak bisa bertahan bertahun-tahun seperti mereka.


Mila melengos mendapat pengakuan


Darmaji. Sebenarnya, hampir terlepas dari lidahnya, sebuah pertanyaan kurang


ajar. Apakah Darmaji juga menyerahkan tubuhnya pada nyonya besar, demi


melindungi para pembantu. Tapi, Mila tidak ingin merasa jijik pada kepala


pelayannya—bila kemudian Darmaji mengakui. Cukup bagi Mila, dia pura-pura tidak


tahu. Lelaki itu, bagaimanapun juga harus dia hormati. Dia sudah memberi Mila


pekerjaan yang bisa membuat anak-anaknya di kampung bisa makan dengan layak,


mempunyai baju bagus dan bisa sekolah dengan kepala tegak. Suaminya sudah lama


mati karena TBC, penyakit kemiskinan kata Mila. Karena mereka sangat miskin,


hingga suaminya tidak bisa mendapat pengobatan.


Pada Darmaji, adalah terima kasih.


Menjijikkan adalah rasa yang harus ditepisnya jauh-jauh. Agar anak-anaknya


tetap bisa makan.


“Aku tahu Tuan Reynand orang yang


cerdas, bukan tidak mungkin dia akan menemukan aku pada akhirnya.”


“Biarkan dia menemukan sendiri.”


Mila menandaskan kopinya, lalu berdiri


dan mencuci cangkirnya.


“Kenapa Pak Dar merahasiakan pada Tuan


Reynand?”


Darmaji hanya diam. Permainan bola


menjadi tidak menarik lagi setelah pembicaraan ini, apalagi tidak ada gol


satupun tercetak oleh timnas.


“Aku melindunginya. Sebagaimana aku


melindungi kamu dan yang lain.”


Mulan mendesah panjang, meninggalkan


Darmaji di dapur.


“Oh, iya Pak. Besok jatahku libur tiga


hari. Aku mau mudik. Mungkin ada yang mau Pak Dar titipkan?”


Darmaji mengangguk, “Besok saja.”


Seraut wajah sepuh masih terbayang


jelas di pelupuk mata Darmaji. Wanita yang meski usia memakan fisiknya, tapi


bisa membantingnya seperti Mulan saat menggila.