
Mulan berdiri di balkon kamarnya. Di luar, gerimis halus membasahi rerumputan di halaman. Baju tidur yang dikenakannya berkibar lembut tertiup angin. Mulan mengibaskan rambut legamnya yang acak-acakan. Di usianya berkepala empat, dia masih memikat. Apalagi, selalu menjaga kebugaran tubuhnya di gym, dan perawatan wajah di salon mahal. Sejak menjanda, dia menjadi perhatian di Maskapai. Isu melanda tentang siapa lelaki yang akan menggantikan suaminya. Bukan hal yang aneh, mengingat dia masih tergolong muda, cantik dan tentu saja janda kaya. Meski dia tidak mewarisi maskapai.
“Jam berapa dia akan datang?”
Suara berat di belakangnya membuat Mulan menoleh sekilas. Sebuah pelukan mesra melingkar di pinggangnya. Mulan mendesah manja.
“Sepertinya sebentar lagi.”
“Kau sudah bilang, dia harus mengantarku ke bandara jam dua siang kan? Aku bisa ketinggalan pesawat.”
“Dia sudah pergi sejak sebelum subuh. Dan harus berada di sini jam dua belas siang. Kita masih punya banyak waktu.”
Mulan merasakan pelukan hangat dan lembut di pinggangnya. Mulan selalu merindukan lelaki ini memperlakukannya seperti Ratu. Mengajaknya berkeliling luar negeri, bukan lagi tabu baginya. Sekarang, bukan saatnya menyembunyikan hubungan mereka lagi. Isu, desas desus, bukan lagi masalah penting. Sekarang, kesempatan bagi mereka berdua terbuka lebar. Rasanya sudah puluhan tahun mereka menunggu kesempatan ini. Mereka sudah merayakannya berkali-kali. Tinggal sebuah perayaan besar yang meresmikan keduanya menjadi legal di mata hukum Negara.
“Dia masih setia padamu, meski Tuan besarnya sudah mati?”
“Tentu saja, dia anjing paling penurut.”
“Apa aku juga anjingmu?”
“Kau harimauku, “ bisik Mulan.
Lelaki itu terbahak perlahan, membalik badan Mulan dan memeluknya semakin erat.
“Kapan kita akan umumkan?”
“Pekan depan kurasa bagus, sepulang kita dari Paris. Aku akan menyusulmu dua hari lagi. Kau sudah menyiapkan semuanya di Paris kan?”
“Tentu saja sudah. Sebuah pesta romantis dan sederhana.”
“Apa kita umumkan saja dari Paris?”
“Boleh.”
Lelaki itu menempelkan keningnya di kening Mulan.
“Kau segalanya bagiku. Terus terang, anjingmu membuatku cemburu. Dia seolah tak ingin melepasmu sedetikpun. Apa dia tahu tentang kita?”
Mulan terkekeh, “Dia tidak punya kehidupan selain menjadi anjingku, sayang. Dan dia melakukan tugasnya sebagai anjing. Jangan membuatnya geram, atau dia akan menyalak dan menggigitmu.”
“Tapi dia tidak akan menggigit tanpa perintahmu.”
Mulan semakin terkekeh. Didekapnya lelaki di depannya sangat erat.
“Terima kasih sudah membuatnya menjadi begitu mudah saat ini. Bila Bram masih berkeliaran, aku yakin sampai tua pun kita tak akan bisa bersama.”
“Tiiiin!”
Mulan melepaskan pelukannya pada lelaki itu. Sepasang matanya mengarah ke pintu gerbang. Sebuah mobil ada di sana, menunggu gerbang dibuka. Suara klaksonnya menunjukkan kalau pengemudinya sedang tidak sabar.
“Dia datang, “ ucap Mulan, “cepat pakai bajumu dan turun ke ruang kerja. Atau dia akan menyalak dan menggigitmu.”
Darmaji berdiri di sana, memegang satu plastic kecil. Sepasang mata tajamnya, menangkap pemandangan yang membuat darahnya semakin mendidih. Majikannya dengan baju tidur putih dan seorang lelaki berjas rapi menyandang koper, menuruni tangga, bersikap tenang seolah tidak ada apa-apa. Sudah lima belas menit lebih dia menahan diri di pintu gerbang, mengamati apa yang dilakukan dua manusia itu di balkon majikannya. Dan dia sudah tak bisa menahan diri, memencet klakson untuk menghentikan mereka berdua. Dari apa yang dilihatnya, menunjukkan bahwa informasi Reynand sudah pasti benar.
“Darmaji, kau sudah datang, lebih cepat satu jam.”
Darmaji mengangguk hormat.
“Antarkan Pak Ibrahim ke bandara. Tadi dia naik taksi ke sini. Dia mampir menjengukku sebelum berangkat ke Paris, dan menyampaikan salam dari pegawai maskapai. Sepertinya mereka khawatir mendengar aku sakit.”
Darmaji mengernyit. Majikannya tak pernah menyampaikan alasan detil setiap tamu yang datang menemuinya. Apa karena lelaki ini, secara formal adalah orang Maskapai yang layak dihormati, atau mereka berdua ingin membuat suasana natural, demi tidak membuat Darmaji curiga. Karena, ketikanya, sama-sama menyadari, bahwa Darmaji datang lebih cepat, sehingga memergoki tamu formal ini turun dari lantai dua. Lantai pribadi keluarga, tempat di mana kamar-kamar berada. Darmaji mengamati Ibrahim yang menempatkan dirinya di sofa, menyilangkan kaki dan membuka kopernya dengan tenang. Dia mengeluarkan secarik kertas.
“Sayang sekali Reynand tidak ada di sini, “ ucap Pak Ibrahim kemudian, sambil menyerahkan kertas itu pada Mulan yang berada di seberang tempat duduknya. Mulan membaca tulisan di kertas itu sejenak, lalu meletakkannya di atas meja.
“Kau tidak perlu memikirkan anak itu, “ sahut Mulan terdengar kesal.
“Tapi dia pemilik Maskapai, sesuai dengan surat waris Papanya. Jadi, seharusnya dia lebih banyak di Maskapai saat ini.”
“Dia sedang sibuk dengan kuliahnya, “ sahut Darmaji berusaha tenang.
“Aku akan mewakilinya.” Nada bicara Mulan lebih terdengar seperti perintah daripada penawaran. Ibrahim menatapnya dan tersenyum.
“Sepertinya itu tidak bisa.”
“Aku pernah jadi Mamanya, bila itu masih diingat oleh orang Maskapai. Aku yang membuatnya pintar seperti sekarang. Pintar melawan orang yang membesarkannya. Bukankah aku hebat?” sergah Mulan sumbang.
“Akan saya sampaikan di Dewan Direksi. Sepertinya polisi sudah tidak lagi intens ke kantor Maskapai. Mungkin bisa kita agendakan rapat direksi.”
“Segera. Dan bawa pulang si belagu Doni dari Paris. Semakin membuat penyelidikan tidak selesai selesai. Membuat aku gerah.”
“Dia baru selesai menjalani operasi di Paris, Nyonya. Luka akibat kecelakaan di Paris itu lumayan parah. Saya akan membawanya pulang pekan depan. Dan penyelidikan bisa cepat selesai bila ada Pak Doni. Karena tinggal beliau yang belum diinterogasi.”
“Bila kamu kesulitan membawanya pulang, hubungi aku. Aku sendiri yang akan menyeretnya ke Maskapai. Menyulitkan saja.”
Darmaji mencium aroma skenario. Paris. Ibrahim. Nyonya besar. Dan alasan membawa pulang Tuan Doni yang kabarnya kabur ke Paris sejak dimulainya penyelidikan Dewan Direksi. Lelaki bernama Ibrahim ini, bisa jadi lebih busuk dari Nyonya besar. Biasanya, yang busuk akan berkumpul dengan yang busuk. Penyelidikan polisi memang membuat gerah dan melelahkan semua orang, karena tak juga kunjung usai. Siapapun dalang di belakang pembunuhan Tuan besar, sangat piawai menyembunyikan kebusukannya. Bisa jadi, di Maskapai berisi orang-orang busuk yang saling menerkam satu sama lain.
Mungkin Darmaji harus mulai mendengar ucapan Milan. Anak ingusan itu sekarang bukan anak kemarin sore lagi. Bagaimana pun juga, kematian Papanya memaksanya untuk menjadi lebih dewasa. Meski, hidupnya selama ini dalam kendalai Mama yang mendidiknya menjadi mancan ompong.
“Silakan Tuan, saya siapkan mobilnya.”
Darmaji menyerahkan bungkusan ke majikannya, “Ini obat dari dokter, Nyonya.”
Mulan meraih bungkusan itu dan melemparnya ke meja, “Huh, obat dan obat lagi.”
“Saya pamit dulu, Nyonya.”
Ibrahim berdiri dan membungkuk hormat, lalu mengikuti langkah Darmaji menuju pintu keluar. Sejenak dia menoleh kea rah Mulan sebelum keluar pintu. Wanita itu sudah merebahkan dirinya di sofa. Dia pasti sangat kelelahan.