
Sydney membuka mata perlahan ketika sayup-sayup mendengar adzan subuh. Dia menyesal kenapa tidak bangun sebelum adzan, seperti kebiasaannya. Bila bangun saat adzan, sepertinya semua pekerjaan menjadi tidak selesai. Tapi, apa yang akan dikerjakannya hari ini?
Hari ini, dia tidak lagi berjualan rujak. Dia tidak lagi berada di kampung halamannya, yang berbau tanah basah ketika membuka jendela di subuh yang dingin. Dia kini berada di sebuah kamar homestay dengan pendingin ruangan.
Sydney meraba bibirnya. Peristiwa semalam benar-benar membuatnya malu bukan kepalang. Bisa-bisanya dia melanggar kesepakatan 1 menit Aditya. Mengingat itu semua, membuat dadanya kembali berdesir, bahkan menghangat. Sydney tidak berani mengubah posisi tidurnya. Pasti Aditya mengawasi punggungnya, dan dia tidak ingin salah tingkah sepagi ini.
Terdengar suara gemeletuk tulang. Rupanya Aditya sudah terbangun dan melakukan streching. Sejurus kemudian, terdengar pintu kamar mandi dibuka dan keran air dihidupkan. Sydney bernafas lega. Perlahan dia membalikkan badan, dan baru menyadari kalau tubuhnya berselimut. Seingatnya, dia tidak memakai selimut. Pasti Aditya yang menyelimutinya. Sydney tersenyum.
Pintu kamar mandi terbuka, tepat ketika Sydney menghidupkan lampu. Aditya menatap Sydney yang tiba-tiba membalikkan badan, memunggunginya. Aditya tersenyum. Pasti Sydney mengira dia keluar kamar mandi tidak memakai pakaian lengkap.
“Aku mau ke mesjid.”
Aditya mengeluarkan beberapa barang dari ranselnya. Menyisir rambut dan memakai parfum. Bau parfum menguar lembut, begitu wangi di hidung Sydney. Dan, dia menyukai bau wangi ini. Segar dan lembut. Ternyata selera bau mereka sama.
“Assalamualaikum.” Aditya membuka pintu, setelah menoleh sekilas ke arah Sydney.
“Waalaikumsalam.”
Begitu Aditya menutup pintu dan terdengar langkahnya menjauh, Sydney bergegas mengunci pintu. Melepas jilbab, kaos kaki dan celana panjangnya dengan cepat dan melemparkannya ke ranjangnya. Lalu dia bergegas masuk ke kamar mandi. Sebelum Aditya masuk kembali ke kamar, dia harus sudah mandi dan berpakaian lengkap. Sepertinya, mulai sekarang, dia harus mengatur waktu kapan bisa membuka jilbab dan kaos kakinya.
Kesepakatan berpakaian lengkap itu adalah pesan dari neneknya saat mereka bersiap berangkat ke Surabaya setelah pernikahan sirrinya dengan Aditya.
“Zura, ingat baik-baik pesan Nenek. Nenek menikahkan kamu bukan tanpa alasan. Aditya akan menjagamu, dengan taruhan nyawanya. Mungkin Nenek berlebihan. Tapi Nenek tahu, sejak kamu SMP, dia sudah menyukaimu. Dia selalu melindungimu, tanpa kamu mengetahuinya. Mungkin dia tidak tahu kalau Nenek mengetahui semuanya. Dan yang Nenek kagumi dari dia, dia lelaki yang setia. Meski tinggal di luar negeri cukup lama, dia selalu kembali padamu. Hanya saja kamu yang pikun dan tidak menyadari bahwa dia sudah lama menyukaimu. Dia satu-satunya lelaki baik yang Nenek kenal. Nenek memang tidak suka pada awalnya, karena dia adik Mila. Tapi melihat bagaimana dia dan Mila melindungi kita, Nenek berubah pikiran. Untuk itu, Nenek minta kamu menjaga dirimu. Jangan hamil dulu. Ingat, kalian hanya menikah sirri. Selalu berpakaian seperti ini bila bersama Aditya, pakai jilbab, celana panjang, kaos kaki. Selesaikan sekolahmu di luar negeri, baru kalian menikah resmi. Nenek percaya padamu.”
Sydney mengakhir sholat subuh dan dzikirnya dengan doa untuk keselamatan Neneknya. Sampai saat ini, dia hanya paham bahwa yang menjadi musuh mereka adalah Mama tiri Reynand. Memikirkan itu, kadang memerihkan hatinya. Dia menyukai lelaki bergaya artis korea itu, bahkan masih mengingat wajahnya begitu jelas.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Siapa?”
“Aku, suamimu lah.” Suara Aditya yang mulai dihafal Sydney.
Sydney bangkit dari sajadah, dan membuka tirai. Seorang lelaki berwajah asing berdiri di depan tirai, dan dia mengangkat tangannya. Gelang putih kehijauan. Sydney membuka pintu.
“Bagaimana kalau ada orang lain yang memakai gelang ini?” tanya Aditya, setelah pintu tertutup dan mereka duduk di ranjang masing-masing, “Kau tetap akan membuka pintu?”
Sydney terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Menatap Aditya, terasa begitu asing, padahal lelaki itu semalam sudah melakukan kesepakatan 1 menit, salah ... 3 menit dengannya.
“Kau mengingatku, kan Zura?”
Sydney menggeleng.
“Kau mengingat kesepakatan yang kita lakukan semalam? Ah, kau pasti lupa. Aku harus mengingatkanmu kembali,” ucap Aditya dengan senyum menggoda, dan dia bersiap bangkit dari ranjangnya.
Sydney mengangkat pergelangan tangannya. “Stop!”
Aditya mengurungkan niatnya.
“Kamu tidak boleh mengambil keuntungan dari orang pikun sepertiku. Itu namanya dholim.”
Aditya tersenyum. “Aku tidak mendholimi kamu. Bukankah kamu juga...”
“Aku mau minta tolong.”
Sydney segera membelokkan pembicaraan. Atau lelaki di depannya akan terus menggodanya. Bila yang dikatakan Nenek benar, bahwa Aditya menyukainya sejak dia SMP, maka bisa dikatakan Aditya sekarang yang memegang pialanya. Dia sudah memenangkan dirinya, dan berhak memilikinya kapan saja. Sydney harus mencari banyak cara, agar Aditya tidak terus menyerangnya.
“Aku ingin kau datang ke kontrakanku yang dulu. Barangku masih banyak di sana. Berikan suratku pada sahabatku, Karin. Dia yang tahu apa saja barang-barangku.”
“Terus, mau kau apakan barang-barang itu?”
“Tolong titipkan ke Nenek.”
“Hmm.... cukup berat,” ucap Aditya sembari mengelus dagunya, pura-pura berpikir keras.
“Kalau tidak mau, berarti aku sendiri yang harus ke sana. Aku tidak enak barang-barangku masih di sana, sedangkan aku sudah tidak tinggal di sana lagi.”
Sydney bangkit dari ranjangnya, meraih tas ransel yang sudah dia kosongkan isinya. Tumpukan baju dan beberapa bukunya, menumpuk rapi di pinggir ranjang.
“Bagaimana cara kamu berangkat ke sana?”
“Aku hanya tidak bisa mengingat wajah. Urusan jalan dan rute, sekali lihat aku sudah hafal.”
Sydney mengulurkan secarik kertas dalam amplop. Surat yang sudah disiapkannya kemarin, ketika Aditya keluar kamar dan datang membawa satu tas plastik makanan ringan. Sampai sekarang, tas plastik itu masih teronggok di meja di bawah jendela.
***
Pintu kontrakan Sydney terbuka. Seseorang baru saja turun dari motor yang diparkir di teras, dan hendak masuk ke dalam. Aditya mengucap salam pada perempuan berjilbab biru itu. Perempuan itu menjawab salam dan menatapnya heran.
“Mencari siapa ya?”
“Apa benar ini kontrakan Sydney Azzura?”
“Ya, benar. Tapi dia sudah tidak di sini lagi.”
“Saya mengantar surat untuk sahabatnya. Karin.”
“Saya sendiri.”
Perempuan itu—Karin—menerima amplop dari Aditya, dan membukanya. Dia membaca suratnya perlahan, lalu menghela nafas panjang.
“Ada masalah apa dengan Sydney? Terus terang, kami tidak percaya ketika dia di Drop Out begitu saja dari kampus, tanpa alasan. Sepertinya dia melakukan pelanggaran parah, yang kami tidak tahu. Sampai ada orang datang ke sini mencari dia. Bahkan membawa fotonya. Dia memang kerap menghajar copet, bahkan pernah menangkap maling di daerah sini. Apa dia terlibat kriminal?”
Karin menurunkan volume suara di kalimat terakhirnya.
“Dasar, tidak cucu tidak nenek sama saja,” batik Aditya. Teringat bagaimana Sydney menghajar tiga preman yang mengeroyoknya dekat pasar. Di Surabaya pun, Sydney tidak lepas dari kebiasaan yang sama.
“Tidak. Dia tidak terlibat kriminal.”
“Dia di mana sekarang?”
“Dia bersama saya.”
“Anda siapanya?”
“Saya... calon suaminya.”
Karin membelalak. Sejurus kemudian, beberapa perempuan berjilbab keluar dari rumah. Rupanya sejak tadi mereka menguping pembicaraan. Dan kalimat terakhir Aditya, membuat mereka harus memastikan dengan memindai Aditya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan yang mereka dapati adalah sosok lelaki rupawan dengan senyum menawan. Sydney sungguh beruntung.
“Eh ... maaf, lupakan kalimat saya. Kami hanya...ee... saya menyukai Sydney. Dan ...”
Beberapa perempuan itu saling pandang dan tersenyum, membuat Aditya menjadi tidak fokus.
“Kukira Sydney menyukai si korea itu,” sahut salah seorang dari mereka, “ternyata malah sama anda.”
“Artis korea?” tanya Aditya. Tiba-tiba dadanya terasa panas dan sesak.
“Oh, si Rey?”
“Dia yang ke sini membawa foto Sydney itu kan?”
“Ternyata Sydney banyak idolanya.”
“Sudah ... sudah ..., ayo kita bereskan barang Sydney. Mas ini ... siapa namanya?”
“Aditya.”
“Mas Aditya mau membawa semua barang Sydney.”
Gadis-gadis itu pun masuk ke dalam. Karin meminta Aditya menunggu sebentar. Aditya mondar mandir di halaman. Ada yang mengusik pikirannya. Seorang lelaki bernama Rey. Katanya Sydney menyukai lelaki itu. Siapa lelaki itu, yang membuat dadanya tiba-tiba menjadi panas dan sesak?
Sebuah tas travel besar dan satu tas kain bertali sudah siap di hadapan Aditya. Aditya manyun dalam hati. Kenapa pula barang Sydney sebanyak ini?
“Tidak ada yang ketinggalan?” tanya Aditya.
Karin menyerahkan sebuah map plastik.
“Ini barang Sydney yang paling penting. Tidak muat dalam tasnya, jadi Mas pegang saja. Dan tolong dijaga map ini. Dia paling kesal kalau map ini saya bereskan. Karena selalu bergeletakan di meja atau ranjang, tidak boleh dibereskan. Sepertinya berisi berkas-berkas penting.”
Setelah mengucapkan terima kasih dan meminta nomor ponsel Karin, Aditya menaikkan semua barang Sydney ke dalam mobile online yang sudah dipesannya. Sepertinya dia harus mengantar semua barang ini ke rumah majikan Mila, tapi untuk berkas penting di map plastik, harus dia bawa ke Sydney. Penasaran, Aditya membuka map plastik beresleting tersebut. Dan darahnya serasa berhenti melihat apa yang ada di dalamnya.
Sketsa seorang lelaki dengan poni yang tersibak, mirip artis korea. Dan di balik kertas itu, masih ada sketsa-sketsa lain, dengan pose berbeda. Semuanya sama. Di setiap pojok sketsa, ada coretan nama. Rey.