MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Pengorbanan Hud



Rombongan motor baru saja memasuki


garasi, dan terdengar ribut sekali. Hud melirik ke arah Rey yang sedang berdiri


di tepi balkon, menatap deretan atap gelap di luar sana. Sepertinya dia tidak


mendengar suara ribut di bawah sana. Hud dan Rey lebih dulu masuk ke tempat


kost. Mobil Rey dititipkan di kantor Pengacara Julius, dan mereka berdua naik


taksi ke tempat kost. Hud semula mengira mereka akan tiba paling akhir di


tempat kost. Ternyata teman-teman yang lain masih mampir ke tempat lain sebelum


pulang. Hud menduga, mereka hanya mengulur waktu saja, agar Hud dan Rey tidak


bertemu mereka di tempat kost. Dengan ingatan keributan yang masih jelas


tersimpan di kepala. Mungkin besok, semua sudah melupakan kejadian menjelang


berbuka tadi. Mungkin juga tidak.


“Rey, kamu gak makan?” tanya Hud, meletakkan


buku yang dibacanya sejak tadi—meski tak satupun kalimat berhasil dicernanya.


Seingatnya, Rey tidak ikut makan bersama yang lainnya. Rey memastikan semua


teman-temannya mendapat jamuan makan seperti yang diinginkannya. Dia keluar


masuk restoran, menyuruh beberapa pramuria menghidangkan ini dan itu, sibuk


hilir mudik dengan manajer restoran, dan baru menemui teman-temannya ketika


mereka bersiap pulang.


Rey bergeming. Mungkin tidak mendengar


panggilan Hud, atau mungkin sedang berpikir keras. Apa yang telah dilakukan


Sydney pada Mamanya adalah tindakan fatal dan sama sekali tidak terduga. Dan,


seperti kata Rey di mobil tadi, Sydney dalam bahaya. Siapapun yang menghalangi


Mamanya, pasti akan disingkirkan dengan mudah, seperti menjentik jemari.


Jangankan Sydney. Manajer Restoran seniorpun, dalam hitungan menit bisa


berstatus penganguran bila melawan kehendak Mulan Bramantya. Beruntunglah Rey,


selama Papanya mengelola maskapai, tidak pernah melibatkan Mulan dalam jajaran


Direksi. Hanya mengijinkan memiliki sedikit saham. Papa sudah mempersiapkan Rey


dengan baik, yaitu dengan tidak melibatkan Mama tirinya.


Pintu kamar diketuk,


Hud bangkit dari ranjang dan melangkah


menuju pintu. Membuka daun pintu separuh, dan mendapati Mas Hanif tersenyum


padanya.


“Rey ada? Sepertinya dia belum makan.


Aku belikan martabak.”


Mas Hanif mengulurkan sebuah kotak


makanan. Hud meraihnya sembari membuka daun pintu lebar-lebar. Mas Hanif bisa


melihat Rey berdiri di tepi balkon, masih mengenakan setelah jas hitamnya.


“Dia … sedih?” bisik Mas Hanif.


Hud menggeleng, “Dia senang bisa


menjamu teman-teman dengan makan malam yang istimewa. Dia hanya khawatir pada…”


“Aku mau bicara,” ucap Mas Hanif


sembari memberi kode pada Hud untuk keluar kamar.


Hud mengangguk. Dia paham apa yang


dimaksud Mas Hanif. Hal yang mengusik pikirannya sejak di restoran tadi.


Hud membawa masuk kotak martabak dan


meletakkan di meja Rey.


“Rey, ada martabak dari Mas Hanif. Aku


mau keluar sebentar.”


Rey bergeming, masih berdiri tegak


menyandarkan badannya di pagar balkon. Hud yakin, Rey tidak akan melompat hanya


karena Mulan mengacaukan pesta ulang tahunnya. Hud segera keluar kamar dan


menutup pintu.


Mas Hanif mengajak Hud ke dalam


kamarnya. Mereka berdua duduk di lantai, saling menatap sejenak, seolah sudah


sama-sama tahu apa yang ada dalam pikiran mereka. Hud berharap, dia bisa


berbicara dengan telepati saja. Karena mengucapkan hal ini dalam kalimat terasa


begitu berat di lidahnya. Selama ini, dia hanya menyimpan untuk dirinya


sendiri.


“Hud, aku hanya ingin memastikan. Jadi,


benar gadis itu?”


Hud menunduk dalam. Hatinya


bergemuruh. Dia tidak tahu, kalimat apa yang harus dijadikan jawaban atas


pertanyaan Mas Hanif.


“Waktu aku ta’aruf dengan Karin, aku


tidak tahu rencana Ustadz Sultan dan istrinya. Kukira mereka mengajak kamu


untuk mendampingiku, ternyata…”


“Ya, untuk nadhor, Mas. Untuk melihat


Sydney,” ucap Hud perlahan, memastikan dia tidak akan terselip lidah hingga


melontarkan isi hatinya.


Mas Hanif manggut-manggut.


“Jadi, kau sudah tahu?”


Hud menangguk.


“Semula aku tidak tahu, Mas. Ustadz


Sultan menawarkan seorang gadis untuk menjadi calonku, dan dia mengajakku untuk


melihat dulu orangnya. Namanya Zura, kebetulan satu kontrakan dengan calon Mas


Hanif. Aku juga tidak menyangka kalau yang dimaksud adalah Sydney Azzura. Dia


pernah ikut oprec Mapala. Tapi…”


“Kenapa?”


teman-teman perempuan di mapala yang kurang sreg pada Sydney. Dia secara mental


kurang cocok bila bergabung dengan mapala. Reaktif dan cenderung anarkis. Saat


mendaki gunung, bukan tindakan itu yang kita perlukan, tapi pemikiran yang


panjang dan matang dalam pengambilan keputusan. Bukan asal bertindak. Di mapala


sendiri, banyak juga yang perempuan, tapi tidak ada yang seperti Sydney.”


“Aku bisa melihat itu. Aku saja tidak


bisa mengunci adikku yang kecil dan kerempeng, apalagi membantingnya. Aku


sempat mengira, perempuan yang dibanting itu akan patah tulang. Ternyata tidak.”


Mas Hanif ikut klub silat. Dia


memahami teknik bela diri. Hud menarik nafas panjang. Raut wajah Sydney dan


anggukannya yang membuat dadanya berdenyut berusaha ditepisnya. Hud


beristighfar dalam hati. Akhir-akhir ini, perasaan tersaingi oleh Rey kerap


meracuni pikirannya. Rey bisa mendapatkan hati Sydney dengan mudah. Hud bisa


melihat dengan jelas hal itu. Dan, sepertinya Hud harus menepi. Dia tidak


mungkin bersaing dengan Rey. Rey tidak paham proses taaruf seperti ini. Baginya,


bila dia mau mendekati seorang perempuan, dia tinggal mengangguk saja. Bahkan


Saskia yang sedang mengandung anak pelatih taekwondo itu bisa berbalik pada


Rey, bila Rey mau.


“Menurut Mas Hanif, bagaimana?”


“Kamu sendiri bagaimana? Mau lanjut


apa tidak? Tinggal disampaikan ke Ustadz Sultan.”


Hud diam. Urusan Rey dan Sydney kenapa


tiba-tiba menjadi pelik.


“Rey…” gumam Hud.


“Kenapa dengan Rey?”


Hud menatap Mas Hanif. Sepertinya hal ini


tidak pantas dia  ucapkan. Mas Hanif bisa


menafsirkannya berbeda. Sebuah kecemburuan yang tidak berdasar. Tapi, Hud


berharap dia bisa berlapang dada dan berlega hati bila semua ini bisa dia lalui


dengan ringan. Tidak lagi terbebani dengan wajah Sydney.


“Sepertinya Rey menyukai Sydney.”


Hud melihat alis mata Mas Hanif


terangkat sebelah. Hud sudah menduganya. Hud menyesal, kenapa akhirnya dia


mengucapkan kalimat itu.


“Darimana kau tahu?”


“Aku bodyguardnya sekaligus teman


sekamarnya, Mas. Jadi aku tahu banyak tentang Rey,” ucap Hud seraya tertawa


sumbang. Mas Hanif tersenyum simpul.


“Dan Sydney? Apa dia juga menyukai


Rey?” tanyanya kemudian, lebih mirip menginterogasi Hud.


“Sydney—bukannya aku menjelekkan dia,


Mas. Aku tahu dia gadis yang baik. Apa yang dia lakukan sebagai tindakan


spontan adalah nahi mungkar. Tapi, sebaiknya aku tidak melanjutkan rencana


Ustadz Sultan terhadap Sydney.”


Mas Hanif mengangkat alis sebelahnya


lagi, menuntut sebuah jawaban. Jawaban Hud masih mengambang. Tapi Hud membuat


gerakan meresleting bibirnya.


“Kuharap ini bukan karena kamu


bodyguardnya.”


Mas Hanif menepuk bahu Hud sebelum


berdiri.


“Oh, iya, Mas. Pembicaraan ini sudah


selesai sampai di sini kan. Selanjutnya, bisakah aku minta tolong?”


“Apa itu?”


“Oke, anggap Sydney bukan siapa-siapa


aku atau Mas Hanif. Tapi Rey mengatakan kalau Sydney dalam bahaya. Atas apa


yang dia lakukan pada Mamanya.”


“Mama?”


“Wanita yang dibanting Sydney itu Mama


Reynand. Mama tirinya.”


“Astaghfirullah… “ Mas Hanif membeliak


kaget.


“Dan Rey mengatakan, bahwa Mamanya


bisa berbuat apa saja pada Sydney, yang membahayakan gadis itu. Aku minta


tolong bukan karena semula Sydey adalah … yah, kita tidak punya sebutan untuk


hubungan ini. Aku minta tolong demi Rey. Anak itu sudah melalui banyak


kesulitan dalam hidupnya. Kita harus membantunya.”


“Yakin ini bukan karena Sydney yang…”


Hud menggeleng dan menepuk-nepuk bahu


Mas Hanif.


“Urusan Sydney denganku sudah selesai,


Mas. Sekarang urusan Rey.”


Mas Hanif menangguk-angguk. Hud


menarik nafas lega, meski dadanya kini terasa lebih berat. Dia harus melupakan


seraut wajah yang membuat dadanya berdesir halus. Dia harus menepi untuk Rey,


tapi dia tak ingin Sydney dalam bahaya. Apakah ini yang dinamakan pengorbanan?