MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Pulang



Tengah malam. Nenek mendengar ketukan


di pintu. Terdengar pelan, tapi begitu jelas di telinganya. Malam-malam begini


mengetuk pintu, pastilah itikadnya bertamu. Nenek meraih jam weker di meja


kecil di sebelah ranjang tuanya. Ranjang itu berderit lirih ketika Nenek


mengangkat badannya.


“Jam setengah satu, “ gumamnya sembari


mengikat kembali rambut putihnya dengan karet gelang. Lalu dia meraih jilbab


kaos pendek yang tersampir di sandaran kursi. Berjalan waspadan keluar dari


kamar, dan menghidupkan lampu ruang tengah. Semenjak Sydney, cucu satu-satunya


mendapat beasiswa untuk kuliah di Surabaya, Nenek hidup seorang diri di rumah.


Tapi, itu bukan masalah besar baginya, meski usianya sudah menginjak lima puluh


lima tahun. Dia, seperti biasa—sejak masih muda—malah menjadi orang yang


diandalkan penduduk sekitarnya untuk urusan keamanan. Kalau ada orang


kemalingan, pintunya lebih dulu digedor untuk diminta bantuan mengejar maling.


Dan bukan salah bunda mengandung,


kalau cucunya mewarisi keahliannya.


Ketukan terdengar lagi. Rupanya—siapapun


yang bertamu itu—sudah mengetahui kalau si empunya rumah akhirnya bangun.


Ketukannya tidak lagi memaksa. Malah berhenti, ketika Nenek melangkah menuju


pintu depan. Namun, siapapun yang hendak bertamu tengah malam ini, tidak mengetahui


kalau Nenek sudah meraih sebuah tongkat besi sepanjang lengannya, yang selalu


digantungkan tidak jauh dari pintu depan.


Nenek menyibak tirai, mengintip keluar


jendela. Tidak ada sosok bayanganpun yang dia lihat. Perlahan, Nenek membuka


kunci pintu, sementara tangannya yang memegang tongkat besi sudah bersiap


terayun.  Tidak sekali atau dua kali,


Nenek begitu berani membuka pintu di tengah malam, dalam kondisi seorang diri


di rumah. Dia terbiasa mengejar maling yang salah sasaran—masuk ke dalam


rumahnya. Dan selama ini, tidak ada yang berhasil lolos dari bekukannya.


Ketukan tidak lagi terdengar,


seharusnya Nenek bisa saja meninggalkan pintu. Tapi, perasaannya tiba-tiba


tidak enak. Dia harus membuka pintu, toh kalau ada yang beritikad buruk, dia


punya tongkat besi yang tak pernah luput dia pukulkan ke tubuh maling.


Nenek membuka pintu perlahan. Daun


pintu terasa begitu berat dibuka. Nenek menarik daun pintu itu ke dalam, dan


dia nyaris terpekik. Seseorang rupanya sejak tadi bersandar di daun pintu. Dan


ketika daun pintu dibuka, dia langsung roboh ke lantai.


“Azzura?” pekiknya tertahan.


Nenek mengedarkan pandangan waspada di


halaman rumahnya. Tidak ada apa-apa. Tidak ada siapa-siapa. Nenek bergegas


menggeret Azzura—yang sedang pingsan—ke dalam rumah. Mengunci pintu dengan


cekatan, lalu meletakkan kembali tongkat besi pada tempat siaganya.


Azzura tergeletak di lantai ruang


tamu. Nenek berjongkok di dekatnya, menepuk-nepuk pipinya. Mata Azzura terpejam


rapat, tapi nafasnya teratur.


“Kamu tidur apa….”


Baru saja Nenek hendak menepuk pipi


cucunya untuk membangunkannya, sepasang mata sepuhnya menangkap lengan Azzura


yang lebam. Panik, Nenek membuka kerudung Azzura dan mendapati lebam yang sama


di bawah pipi sebelah kanan. Nenek mengeram marah. Seseorang pasti sudah


memukuli cucunya. Segera diperiksanya bagian tubuh Azzura yang lain, dibukanya


sepatu dan kaos kakinya. Tapi ketika dia hendak menarik rok cucunya, Azzura


bereaksi.


“Gak apa-apa… nek…”


Nenek terdiam, menatap wajah Azzura.


Anak itu masih terpejam. Dia ngelindur. Nenek geleng-geleng kepala. Segera dia


bangkit, mencari minyak gosok. Sejurus kemudian, dia sudah membalur tangan,


kaki dan leher Azzura dengan minyak gosok. Perempuan itu membuka matanya sebentar.


Dan ketika mendapati Neneknya sedang membalurinya, dia pun kembali terpejam,


Nenek memaksanya bangkit dari lantai, dan merebahkan Azzura di kursi tamu.


Selang lima menit kemudian, Nenek


sudah duduk di kursi sebelah Azzura. Di tangannyanya, tongkat besinya


diayun-ayunkan ke sana ke mari. Dipandanginya wajah Azzura yang tampak terlelap


dengan dengkur halus. Wajahnya tampak damai dan tenang. Seolah tidak terjadi


apa-apa, padahal memar di rahang bawah pipinya, mulai melebar ke pipi.


“Siapa yang melakukan ini semua, Zura?


Nenek pasti membalasnya, “ gumam Nenek dengan dada bergemuruh.


Sydney Azzura dibesarkannya seorang


diri. Anak itu sudah dididiknya untuk mandiri, dan sanggup mengatasi masalah


yang dia hadapi. Dia tidak pernah marah apalagi tersinggung bila tetangga


tidak pernah pulang dengan badan memar di sana sini. Karena dia tukang


pukulnya. Baru kali ini, Nenek merasa marah. Dia selalu menanamkan pada Azzura,


bahwa dia boleh memukul orang bila orang itu berbuat jahat padanya atau pada


temannya. Jadi dia yakin, Azzura mendapat memar dan lebam itu, karena dia


membela temannya. Atau, bisa jadi membela dirinya. Lalu dia kabur dan pulang


untuk mendapatkan perlindungan neneknya.


***


Sydney membuka mata ketika Nenek


kembali membalurinya dengan minyak gosok. Sekujur badannya terasa hangat, dan


rasa sakit di bagian memar tubuhnya mulai berkurang.


“Sudah subuh, Nek?” tanya Sydney


serak. Dia merasa sangat haus.


“Sebentar lagi. Kamu sholat?”


“Sholat. Habis subuh aku mau tidur


lagi, ya nek. Aku tidak ke pasar, ya.”


“Mana mungkin kamu ke pasar kayak


gini, Zura. Mana lagi lukamu?”


“Sepertinya ada perih di punggungku.


Nanti saja, aku mau mandi dulu, Nek.”


Sydney perlahan bangkit dari kursi


ruang tamu. Nenek membantunya duduk.


“Kamu membuat Nenek khawatir. Siapa


yang memukulimu? Pasti lebih dari satu orang.”


Sydney mengerang lirih. Kakinya terasa


bengkak ketika dia berusaha bangkit dari kursi. Sydney mengurungkan niatnya,


mengumpulkan sedikit lagi tenaganya supaya bisa bangkit dari kursi, tanpa Nenek


tahu kalau dia kesakitan.


“Hanya dua orang gila, eh tiga


kayaknya. Lupa. ”


“Dua orang? Mereka tidak akan


memukulimu kalau kamu tidak cari gara-gara, ya kan?” Nenek berusaha menggali


informasi dari Azzura, tanpa memojokkan cucu semata wayangnya itu.


“Tidak juga, Nek. Ada teman yang mau


dipukul, jadi aku memukul lebih dulu.”


Nenek menarik dagu Sydney dan


menghadapkan wajah Sydney ke wajahnya.


“Di mana?”


“Surabaya.”


“Bagaimana kamu bisa sampai di sini?”


“Aku naik bus. Turun di jalan besar.


Lalu, seingatku, aku ketuk pintu, dan tertidur depan pintu. Sudah mengantuk


sekali, Nek.”


Nenek melepaskan dagu Sydney, Sydney


pun tahu diri dengan lukanya. Dia menarik diri, agak menjauh dari Nenek. Nenek


tidak seharusnya tahu luka-luka yang ada di tubuhnya. Dia akan sangat murka.


Dan itu pertanda tidak baik.


Nenek mengamati Sydney. Anak itu tak


pernah mengubah tabiatnya, meski secara fisik dia adalah perempuan. Tidur


sembarangan di depan pintu. Nenek ingat, dulu Azzura bila pulang sekolah lebih


cepat dari dirinya pulang dari pasar, Nenek akan mendapati Azzura terlelap di


depan pintu. Dari kecil sampai dewasa, seolah tertanam dalam pikirannya, bawah


tidak akan ada orang yang berani mengganggunya meski dia tidur sembarangan.


Apalagi tidur di depan pintu rumah neneknya.


“Kamu jangan kembali ke Surabaya dulu.”


“Aku kan memang libur tiga bulan, Nek.”


“Maksudku, jangan kembali ke Surabaya


sebelum nenek menemukan siapa yang mengeroyokmu.”


“Aku tahu kok siapa.”


“Memang kamu ingat? Pikunmu kan


melebihi nenek-nenek.”


Azzura bangkit dari kursi dan berjalan


menyeret kaki.


“Mungkin aku tidak usah kembali ke


Surabaya seterusnya, Nek. Entahlah. Aku pikirkan lagi nanti.”


Nenek geleng-geleng kepala.


Bagaimanapun juga, cucunya harus kuliah sampai tamat. Dia tahu, anak itu


bukannya takut bertarung. Ada yang ingin dia hindari. Dan itu tidak memerlukan


pertarungan untuk melakukannya.