
Tengah malam. Nenek mendengar ketukan
di pintu. Terdengar pelan, tapi begitu jelas di telinganya. Malam-malam begini
mengetuk pintu, pastilah itikadnya bertamu. Nenek meraih jam weker di meja
kecil di sebelah ranjang tuanya. Ranjang itu berderit lirih ketika Nenek
mengangkat badannya.
“Jam setengah satu, “ gumamnya sembari
mengikat kembali rambut putihnya dengan karet gelang. Lalu dia meraih jilbab
kaos pendek yang tersampir di sandaran kursi. Berjalan waspadan keluar dari
kamar, dan menghidupkan lampu ruang tengah. Semenjak Sydney, cucu satu-satunya
mendapat beasiswa untuk kuliah di Surabaya, Nenek hidup seorang diri di rumah.
Tapi, itu bukan masalah besar baginya, meski usianya sudah menginjak lima puluh
lima tahun. Dia, seperti biasa—sejak masih muda—malah menjadi orang yang
diandalkan penduduk sekitarnya untuk urusan keamanan. Kalau ada orang
kemalingan, pintunya lebih dulu digedor untuk diminta bantuan mengejar maling.
Dan bukan salah bunda mengandung,
kalau cucunya mewarisi keahliannya.
Ketukan terdengar lagi. Rupanya—siapapun
yang bertamu itu—sudah mengetahui kalau si empunya rumah akhirnya bangun.
Ketukannya tidak lagi memaksa. Malah berhenti, ketika Nenek melangkah menuju
pintu depan. Namun, siapapun yang hendak bertamu tengah malam ini, tidak mengetahui
kalau Nenek sudah meraih sebuah tongkat besi sepanjang lengannya, yang selalu
digantungkan tidak jauh dari pintu depan.
Nenek menyibak tirai, mengintip keluar
jendela. Tidak ada sosok bayanganpun yang dia lihat. Perlahan, Nenek membuka
kunci pintu, sementara tangannya yang memegang tongkat besi sudah bersiap
terayun. Tidak sekali atau dua kali,
Nenek begitu berani membuka pintu di tengah malam, dalam kondisi seorang diri
di rumah. Dia terbiasa mengejar maling yang salah sasaran—masuk ke dalam
rumahnya. Dan selama ini, tidak ada yang berhasil lolos dari bekukannya.
Ketukan tidak lagi terdengar,
seharusnya Nenek bisa saja meninggalkan pintu. Tapi, perasaannya tiba-tiba
tidak enak. Dia harus membuka pintu, toh kalau ada yang beritikad buruk, dia
punya tongkat besi yang tak pernah luput dia pukulkan ke tubuh maling.
Nenek membuka pintu perlahan. Daun
pintu terasa begitu berat dibuka. Nenek menarik daun pintu itu ke dalam, dan
dia nyaris terpekik. Seseorang rupanya sejak tadi bersandar di daun pintu. Dan
ketika daun pintu dibuka, dia langsung roboh ke lantai.
“Azzura?” pekiknya tertahan.
Nenek mengedarkan pandangan waspada di
halaman rumahnya. Tidak ada apa-apa. Tidak ada siapa-siapa. Nenek bergegas
menggeret Azzura—yang sedang pingsan—ke dalam rumah. Mengunci pintu dengan
cekatan, lalu meletakkan kembali tongkat besi pada tempat siaganya.
Azzura tergeletak di lantai ruang
tamu. Nenek berjongkok di dekatnya, menepuk-nepuk pipinya. Mata Azzura terpejam
rapat, tapi nafasnya teratur.
“Kamu tidur apa….”
Baru saja Nenek hendak menepuk pipi
cucunya untuk membangunkannya, sepasang mata sepuhnya menangkap lengan Azzura
yang lebam. Panik, Nenek membuka kerudung Azzura dan mendapati lebam yang sama
di bawah pipi sebelah kanan. Nenek mengeram marah. Seseorang pasti sudah
memukuli cucunya. Segera diperiksanya bagian tubuh Azzura yang lain, dibukanya
sepatu dan kaos kakinya. Tapi ketika dia hendak menarik rok cucunya, Azzura
bereaksi.
“Gak apa-apa… nek…”
Nenek terdiam, menatap wajah Azzura.
Anak itu masih terpejam. Dia ngelindur. Nenek geleng-geleng kepala. Segera dia
bangkit, mencari minyak gosok. Sejurus kemudian, dia sudah membalur tangan,
kaki dan leher Azzura dengan minyak gosok. Perempuan itu membuka matanya sebentar.
Dan ketika mendapati Neneknya sedang membalurinya, dia pun kembali terpejam,
Nenek memaksanya bangkit dari lantai, dan merebahkan Azzura di kursi tamu.
Selang lima menit kemudian, Nenek
sudah duduk di kursi sebelah Azzura. Di tangannyanya, tongkat besinya
diayun-ayunkan ke sana ke mari. Dipandanginya wajah Azzura yang tampak terlelap
dengan dengkur halus. Wajahnya tampak damai dan tenang. Seolah tidak terjadi
apa-apa, padahal memar di rahang bawah pipinya, mulai melebar ke pipi.
“Siapa yang melakukan ini semua, Zura?
Nenek pasti membalasnya, “ gumam Nenek dengan dada bergemuruh.
Sydney Azzura dibesarkannya seorang
diri. Anak itu sudah dididiknya untuk mandiri, dan sanggup mengatasi masalah
yang dia hadapi. Dia tidak pernah marah apalagi tersinggung bila tetangga
tidak pernah pulang dengan badan memar di sana sini. Karena dia tukang
pukulnya. Baru kali ini, Nenek merasa marah. Dia selalu menanamkan pada Azzura,
bahwa dia boleh memukul orang bila orang itu berbuat jahat padanya atau pada
temannya. Jadi dia yakin, Azzura mendapat memar dan lebam itu, karena dia
membela temannya. Atau, bisa jadi membela dirinya. Lalu dia kabur dan pulang
untuk mendapatkan perlindungan neneknya.
***
Sydney membuka mata ketika Nenek
kembali membalurinya dengan minyak gosok. Sekujur badannya terasa hangat, dan
rasa sakit di bagian memar tubuhnya mulai berkurang.
“Sudah subuh, Nek?” tanya Sydney
serak. Dia merasa sangat haus.
“Sebentar lagi. Kamu sholat?”
“Sholat. Habis subuh aku mau tidur
lagi, ya nek. Aku tidak ke pasar, ya.”
“Mana mungkin kamu ke pasar kayak
gini, Zura. Mana lagi lukamu?”
“Sepertinya ada perih di punggungku.
Nanti saja, aku mau mandi dulu, Nek.”
Sydney perlahan bangkit dari kursi
ruang tamu. Nenek membantunya duduk.
“Kamu membuat Nenek khawatir. Siapa
yang memukulimu? Pasti lebih dari satu orang.”
Sydney mengerang lirih. Kakinya terasa
bengkak ketika dia berusaha bangkit dari kursi. Sydney mengurungkan niatnya,
mengumpulkan sedikit lagi tenaganya supaya bisa bangkit dari kursi, tanpa Nenek
tahu kalau dia kesakitan.
“Hanya dua orang gila, eh tiga
kayaknya. Lupa. ”
“Dua orang? Mereka tidak akan
memukulimu kalau kamu tidak cari gara-gara, ya kan?” Nenek berusaha menggali
informasi dari Azzura, tanpa memojokkan cucu semata wayangnya itu.
“Tidak juga, Nek. Ada teman yang mau
dipukul, jadi aku memukul lebih dulu.”
Nenek menarik dagu Sydney dan
menghadapkan wajah Sydney ke wajahnya.
“Di mana?”
“Surabaya.”
“Bagaimana kamu bisa sampai di sini?”
“Aku naik bus. Turun di jalan besar.
Lalu, seingatku, aku ketuk pintu, dan tertidur depan pintu. Sudah mengantuk
sekali, Nek.”
Nenek melepaskan dagu Sydney, Sydney
pun tahu diri dengan lukanya. Dia menarik diri, agak menjauh dari Nenek. Nenek
tidak seharusnya tahu luka-luka yang ada di tubuhnya. Dia akan sangat murka.
Dan itu pertanda tidak baik.
Nenek mengamati Sydney. Anak itu tak
pernah mengubah tabiatnya, meski secara fisik dia adalah perempuan. Tidur
sembarangan di depan pintu. Nenek ingat, dulu Azzura bila pulang sekolah lebih
cepat dari dirinya pulang dari pasar, Nenek akan mendapati Azzura terlelap di
depan pintu. Dari kecil sampai dewasa, seolah tertanam dalam pikirannya, bawah
tidak akan ada orang yang berani mengganggunya meski dia tidur sembarangan.
Apalagi tidur di depan pintu rumah neneknya.
“Kamu jangan kembali ke Surabaya dulu.”
“Aku kan memang libur tiga bulan, Nek.”
“Maksudku, jangan kembali ke Surabaya
sebelum nenek menemukan siapa yang mengeroyokmu.”
“Aku tahu kok siapa.”
“Memang kamu ingat? Pikunmu kan
melebihi nenek-nenek.”
Azzura bangkit dari kursi dan berjalan
menyeret kaki.
“Mungkin aku tidak usah kembali ke
Surabaya seterusnya, Nek. Entahlah. Aku pikirkan lagi nanti.”
Nenek geleng-geleng kepala.
Bagaimanapun juga, cucunya harus kuliah sampai tamat. Dia tahu, anak itu
bukannya takut bertarung. Ada yang ingin dia hindari. Dan itu tidak memerlukan
pertarungan untuk melakukannya.