
Hud tidak habis pikir Rey akan mencari-cari kegiatan tak berguna. Padahal pekerjaannya di Maskapai tidak sedikit. Selama libur kuliah, hampir tiap hari dia berkeliling dari Maskapai ke Bluestar. Rapat dengan Merlin juga sepekan bisa dua atau tiga kali. Dia bahkan kerap tidak lagi mengajak Hud karena Hud sibuk dengan skripsinya.
Tapi untuk urusan mengetest seorang pelayan restoran, dia malah mengajak Hud.
“Dia sudah diterima, untuk apa ditest?” protes Hud ketika mobil Rey sudah melaju menuju Bluestar.
Rey menyusul Hud ke kampus dan membawakan kostum bodyguard-nya.
“Aku sedang tidak ada kerjaan,” sahut Rey enteng. Tuh, benar kan?
“Memangnya pelayan ini kenapa? Maksudku, sebegitu tidak ada kerjaannya kamu sampai harus mengetest pelayan? Bukankah anak buahmu banyak?”
“Pelayan ini menabrak mobilku sampai ringsek dan kacanya hancur. Ada harga yang harus dia bayar.”
“Kau jadi seperti Mama tirimu.”
Rey terkekeh. Entah kenapa, rasanya begitu menyenangkan membalas dendam seperti ini. Dia tidak lagi bisa mencari Sydney, jadi dia harus mencari pelipur untuk sementara. Menunggu sampai waktu membuat Mama melupakan urusan Sydney—biasanya begitu—maka Rey kembali akan mencari Sydney. Dan kali ini dia harus mendapatkannya. Kunci semua hal ini adalah di Mila. Rey akan mempertimbangkan Mila untuk dijadikannya asisten pribadi. Sepertinya, Mila bukan pembantu biasa.
Hud geleng-geleng melihat Restoran Bluestar. Ulang tahun Rey di Restoran Pegasus saja baginya sudah mewah. Ini di restoran yang dua kali lebih besar dari Pegasus. Para pelayan berpakaian seragam serba biru dengan badge nama yang kelihatan dari jarak dua meter. Hud manggut-manggut, pasti untuk memudahkan Rey mengingat nama.
Rey mengambil satu ruangan VVIP dan sudah berpesan pada manajer Bluestar agar dia dilayani oleh Regina. Tidak sampai satu menit Rey dan Hud duduk, seorang pelayan wanita membuka pintu.
“Astaghfirullah ....” bisik Hud sembari mendekatkan mukanya ke bahu Rey. Lebih tepatnya dia membuang muka.
“Kenapa?” bisik Rey. Regina sudah berdiri di depan mereka dan menyerahkan daftar menu.
“Kenapa pakaiannya beda sendiri?” bisik Hud.
“Maksudmu? Dia pakai seragam Bluestar. Dan ada badge-nya juga. Apanya yang beda?”
“Kau ini laki-laki apa bukan, Rey? Lihat bajunya ketat dan dia pakai rok mini. Semua pegawaimu di depan tadi, aku lihat tidak ada yang memakai pakaian seperti itu.”
Regina memasang telinga supaya bisa mendengar bisik-bisik dua lelaki berpakaian serba hitam dan berkaca mata hitam di depannya. Tapi dia tidak bisa mendengar selain suara berdesis. Dua orang itu sepertinya membicarakan dirinya, meski pandangan mereka tidak mengarah padanya. Mereka sama sekali tidak melepas kaca mata hitamnya. Kelihatan seperti dua orang konyol, kalau saja Rey bukan pemilik restoran ini.
Tapi Regina tetap berusaha menjaga sikap, agar kelihatan elegan. Mamanya sudah berpesan, bahwa dia sudah berhasil menarik perhatian Presdir Reynand. Buktinya, dia sendiri yang akan mengetest kemampuannya melayani di Bluestar. Merlin sudah memberikan bocoran pada istrinya. Jadi, Regina sudah dibekali oleh Mamanya trik-trik elegan agar Reynand semakin terpikat olehnya. Harus jual mahal, jangan jual murah. Semakin mahal, lelaki akan semakin tertantang untuk mendapatkan dengan pengorbanan yang besar. Badan harus selalu tegak, dada membusung, dan penampilan seseksi mungkin.
Reynand membuka kacamatanya. Dia baru menyadari seragam Regina. Begitu ketat hingga menampilkan lekuk tubuhnya.
“Hei, kamu tidak pakai seragam!” bentak Reynand, seraya memakai kaca matanya lagi.
Regina terkejut.
“Tapi, ini seragam dari Bluestar, Pak. Saya dapat kainnya dan saya jahit sesuai model,” protes Regina.
“Kamu membuat aku kehilangan selera makan. Sekarang, ganti baju!”
“Tapi, pak ...”. Wajah Regina mulai memucat. Mana mungkin dia ganti baju sementara dia sedang ditest.
“Dengar ya, di Bluestar tidak boleh pakai baju ketat. Sekarang kamu pulang, ganti baju. Pakai jilbab, baju panjang, dan rok panjang. Pakai kaos kaki juga! Dan jangan pernah sekalipun memakai baju itu lagi.”
Hud melihat gadis di depannya gemetar. Lalu dia membalikkan badan dan bergegas keluar.
Reynand tersenyum-senyum sembari menyenggol lengan Hud. Merasa puas telah mengerjai Regina. Dia lalu meraih semangkuk salad yang sudah lebih dulu tersedia.
“Hati-hati, lama-lama kau menyukainya, “ ucap Hud datar.
Rey tersedak, sampai terbatuk-batuk.
“Kamu jangan ngawur Hud, “ sergahnya sembari meraih air minum.
“Makanya kamu suruh dia berpakaian seperti Sydney, kan?”
Rey terdiam. Tiba-tiba dadanya terasa penuh sesak. Ketika Hud menyebut nama Sydney, kerinduannya pada gadis itu kembali membuncah. Regina sama sekali tidak ada hubungannya dengan Sydney. Rey memastikan itu berkali-kali dalam hatinya.
“Setidaknya, kalau aku melihatnya berpakaian rapat, aku tidak akan tergoda.”
“Dari awal kamu sudah tidak tergoda. Buktinya kamu tidak tahu kalau dia memakai seragam yang berbeda ukuran. Lebih sempit dan lebih pendek. Kamu akan membuatnya seperti Sydney. Dan aku khawatir, justru pada saat itu kamu bisa tergoda.”
Rey meletakkan sendok saladnya.
“Hari ini, kita akan mengetesnya. Itu saja. Hud, kau bisa membantu, kan? Kau bisa pesan makanan aneh-aneh di sini.”
***
Lusie dan Nadia baru saja selesai makan malam ketika terdengar suara mobil Merlin memasuki halaman rumah. Pintu mobil dibanting dan teriakan kesal. Itu suara Regina. Dan benar saja, sejurus kemudian, seseorang muncul di ruang makan. Seorang perempuan memakai jilbab yang miring, baju panjang, rok panjang dan berkaos kaki.
Lusie nyaris terbahak melihat penampilan Nadia. Wajahnya kusut dan sorot matanya nampak sekali menahan amarah. Sebentar lagi, pasti meledak.
“Lho ... kakak kok pakai baju Muslim? Kan belum lebaran?” tanya Nadia polos.
“Diam kamu!” sergah Regina marah. Sekali tarik, kerudung yang sedang dipakainya dilepasnya dan dilempar ke lantai. Juga kaos kaki yang ditarik dari ujung—masih dengan posisi berdiri sehingga membuat dia nyaris jatuh—dan dilemparnya ke kanan dan kiri.
“Presdir gilaaaa!” teriak Regina, dengan sorot marah ke arah Lusie. Lalu dia berlari menuju tangga, masuk ke kamarnya dan membanting pintu. Suara debamnya menggetarkan kaca di seluruh penjuru rumah.
Lusie dan Merlin saling berpandangan.
“Kenapa dia? Dan kenapa dia pakai baju lebaran?” tanya Lusie tak mengerti.
Merlin mengedik bahu. “Sepertinya, Tuan Reynand sedang ingin bermain-main dengannya. Biarkan saja, yang penting dia tidak dituntut karena merusak mobil Presdir.”
Lusie bangkit dari kursi makan, hendak menuju kamar Regina.
“Biarkan dia. Aku setuju dengan Tuan Reynand. Biar tidak manja.”
Lusie tersenyum.
“Aku akan menenangkan dia.”
Merlin hanya mengikuti langkah istrinya dengan ekor matanya. Selama ini, memang Lusie selalu menunjukkan usaha untuk mengatasi perilaku Regina. Walau, di bagian akhir dia kerap menyerah. Bila Lusie dan Merlin tidak bisa memenuhi keinginanya, dia akan lari ke Mama kandungnya. Dan Lusie tidak menginginkan hal itu. Makanya, apapun keinginan Regina, mereka berusaha untuk mengatasinya.
“Bila dia tidak betah di Bluestar, aku akan coba cari lowongan di Maskapai.” ucap Merlin yang dijawab dengan anggukan oleh Lusie.
Pintu kamar Regina tidak terkunci. Lusie membuka pintu perlahan dan mendapati baju lebaran Regina sudah teronggok di lantai. Dia sudah mengenakan kaos tak berlengan dan celana pendek. Duduk di tepi ranjang dengan bertelkan tangan. Rambutnya kusut masai dan wajahnya lebih berantakan dari kamarnya.
“Kamu hebat.” puji Lusie.
Regina melotot. Sepertinya dia hendak meledak.
“Dia itu gila, Ma.”
Lusie tersenyum, lalu berjalan mendekati Regina, dan duduk di sampingnya.
“Dia mau aku tiap hari pakai baju itu. Karena tiap hari dia mau makan siang di Bluestar dan harus aku yang melayani. Dan, dia mau aku sendiri yang memasak menunya. Pelayan lain tidak ada yang diperlakukan seperti itu. Dan dia maunya menu yang aneh-aneh. Aku mana bisa membuat itu semua. Nih, lihat tanganku!”
Lusie menunjukkan dua jemarinya yang berbalut perban. Juga beberapa bekas cipratan minyak panas.
“Aku bukan pembantu!” teriak Regina kesal, “dan apa hubungannya semua itu dengan baju itu. Aku tidak boleh pakai seragam. Aku harus pakai baju tertutup setiap hari. Dia memang gilaaaa.”
Lusie tersenyum. “Kau tidak menyadari sesuatu, ya?”
“Apa? Yang jelas dia mau balas dendam karena aku menabrak mobilnya. Ini semua ide Mama. Dan aku yang harus menanggung akibatnya.”
“Hei .. hei... “ balas Lusie.
Regina membanting badannya di kasur, dan membanting-banting kakinya sembari mengeram marah. Sesekali dia berteriak mengeluarkan kemarahannya.
“Regina ... kamu sudah mendapatkan dia. Kamu tidak menyadarinya? Dia hanya mau melihatmu setiap hari. Tidak usah kamu gubris masalah baju itu. Dia hanya mengerjaimu, itu karena dia senang melihatmu.”
Regina menghentikan membanting-banting kakinya. Lusie tersenyum melihat tingkah Regina. Dia sudah mendapatkan perhatian anak tirinya.
“Sekali lagi, fokus di targetmu. Kau pasti akan mendapatkan hatinya. Dan, tidak ada yang mudah untuk sebuah hadiah yang besar. Kamu memang harus berusaha keras. Beruntung bagimu, kamu sudah mendapat kesempatan, untuk bertemu dengannya setiap hari. Tinggal bagaimana kamu melayaninya. Dia itu jinak-jinak merpati. Kalau sudah kau dapat hatinya, tinggal sekali terkam, kau bisa mendapatkan semuanya.”
Regina terdiam. Mencerna kalimat Mama tirinya.
“Papa bilang, kalau kau tidak betah di Bluestar, dia bisa memindahkanmu di Maskapai. Di sana, kamu akan mendapat banyak pesaing. Aku tahu sendiri pegawai-pegawai muda di sana. Aku pernah di sana.”
Regina menatap onggokan baju lebaran itu di lantai. Hanya di hari raya dia memakai baju tertutup seperti itu.