MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Tersangka : Kageyama



Kageyama menunggu dengan tidak sabar. Dokter belum mengijinkan seorangpun masuk ke dalam ruangan. Kageyama hanya bisa hilir mudik dengan gelisah di ruang tunggu. Obasan sudah ditelponnya. Tuan Osaka juga. Lelaki itu tidak bersuara ketika dia menyampaikan bahwa Sydney sedang berada di ruang gawat darurat. Dia langsung mematikan ponselnya. Kageyama yakin, Tuan Osaka pasti akan melumatnya.


“Keluarga Sydney Azzura?” Seorang perawat keluar dari ruangan dengan membawa papan dada.


Kageyama sontak berlari menuju pintu yang terbuka separuh.


“Anda siapa? Suaminya?” tanya perawat itu. Dia mengenali Kageyama yang membawa Sydney dengan menggendongnya sampai ke ruang tindakan. Saking paniknya, Kageyama sampai tak sanggup menahan air matanya. Sydney sudah tak sadarkan diri ketika diletakkannya di dragbar.


“E... aku ... ya ... aku suaminya.” Kageyama menelan ludah. Bagaimanapun terpaksa dia mengakui hal itu, agar dia bisa segera berada di dekat Sydney, memastikan gadis itu baik-baik saja.


“Seharusnya kau menjaga dia, Tuan.”


Perawat itu tampak kesal. Kageyama tidak peduli. Toh sebentar lagi, akan ada dua orang yang tidak hanya kesal padanya. Mereka akan sangat murka padanya. Tugasnya menjaga Sydney telah dilalaikannya. Sehingga gadis itu terluka.


Kageyama mendapati Sydney di ruangan sedang tertidur. Wajahnya tidak lagi sepucat tadi. Mungkin pengaruh obat dan infus. Perlahan, Kageyama duduk di bangku sebelah ranjang Sydney. Dilihatnya pergelangan tangan Sydney. Ada sebuah gelang putih kehijauan di sana. Perlahan, Kageyama menyentuh tangan Sydney. Gadis itu tidak bergerak, masih terlelap. Kageyama memberanikan diri menggenggam tangan Sydney. Seketika, letupan-letupan di dadanya menggelegak, membuatnya tidak dapat lagi menahan luruhan bulir-bulir bening di matanya.


Sepasang mata Sydney, sumber cahaya matahari bersinar di mata Kageyama, tertutup rapat. Kageyama mengangkat tangan Sydney lalu menciumnya dengan gemetar. Tangan itu basah oleh air matanya.


“Maaf .... maaf...” bisik Kageyama parau.


Dia tidak habis pikir. Bukankah Sydney gadis yang tangguh? Kenapa dua buah hantaman saja sudah membuatnya tak berdaya? Demikian keraskah hantaman itu mengenai tubuhnya? Padahal beberapa kali dia mengajak gadis itu latihan tongkat, malah dia yang berkali-kali dibanting Sydney ke tanah. Gadis itu sangat kuat. Kageyama tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai Sydney tidak bisa membuka mata lagi, atau menjadi cacat karenanya.


Pintu terbuka perlahan, Kageyama tidak menyadari. Tuan Osaka menatapnya dari balik daun pintu. Belum lagi dia melangkah masuk, seorang dokter memanggilnya. Obasan yang ada di belakangnya mengikuti langkah Tuan Osaka dan dokter, menuju ke sebuah ruangan. Tuan Osaka meminta Obasan menunggu di luar ruangan. Wanita itu hanya bisa melihat majikannya dari luar jendela kaca. Dia sangat khawatir telah terjadi sesuatu yang mengerikan pada Sydney. Tuan Osaka tidak akan memaafkan Kageyama.


Tuan Osaka keluar sejurus kemudian. Dia menarik nafas panjang, kelihatan sekali kalau berusaha menahan amarah. Obasan mendekatinya.


“Bagaimana, Tuan? Bagaimana keadaan Sydney? Ya Allah, seharusnya aku tidak mengijinkan mereka jalan-jalan. Kadang orang di jalan itu lebih mengerikan daripada di dalam penjara.”


“Obasan, apa yang dilakukan Kageyama pada anakku?” tanya Tuan Osaka. Sepasang matanya tampak memerah. Entah karena menahan tangis atau menahan amarah. Yang jelas, dadanya turun naik, berusaha mengatus nafas.


“Tidak ... ada. Dia hanya datang tiap sore dan mereka belajar berdua. Tuan sendiri yang menyuruhnya?”


“Apakah kamu selalu bersama mereka, kalau aku tidak ada?”


“Kadang-kadang. Mereka bukan anak kecil lagi, kan Tuan. Aku lihat mereka sangat akrab.”


Obasan melihat tangan Tuan Osaka mengepal. Dia sangat marah. Obasan harus mencegah lelaki ini melukai Kageyama karena telah menyebabkan anaknya sampai sekarang belum sadar.


“Kageyama tidak mungkin mencelakakan Sydney, tuan. Kejadian itu sama sekali tidak disangka. Sydney hanya akan menyelamatkan perempuan itu. Dan dua orang itu menghantamnya. Kageyama sudah mati-matian melawan dua orang liar itu. Dia sudah menyelamatkan Sydney.”


Tuan Osaka tidak mengindahkan Obasan. Dia melangkah menuju kamar Sydney, sementara Obasan mengikutinya setengah berlari. Dia sangat tahu kalau majikannya sedang marah besar. Dalam kondisi seperti ini, dia tidak akan menganggap Kageyama sebagai seorang pahlawan. Tuan Osaka sudah menerbangkan putrinya dari Indonesia ke Jepang, setelah bertahun-tahun menyembunyikan identitas dirinya dari gadis itu. Apapun yang telah menyebabkan anaknya terluka dia tidak akan memaafkan.


“Tuan Osaka ... tunggu dulu... Tuan....”


Tuan Osaka tidak peduli. Dia membuka pintu kamar Sydney dan mendapati Kageyama sedang menggenggam erat tangan Sydney ke dadanya. Kageyama terkejut melihat kedatangan Tuan Osaka. Dia langsung berdiri tegak, siap menerima kemarahan Tuan Osaka. Tuan Osaka sontak menarik kerah baju Kageyama dan menyeretnya keluar kamar. Dia harus menyelesaikan urusannya dengan Kageyama tanpa harus membangunkan Sydney.


“Tuan Osaka, Kageyama tidak bersalah... Tuan Osaka...” Obasan memohon-mohon pada majikannya, tapi Tuan Osaka tidak peduli. Dilemparnya Kageyama hingga tersungkur di kursi. Anak itu tidak melawan. Dia membiarkan kemarahan Tuan Osaka pada dirinya. Dia merasa layak menerimanya.


“Kau apakan anakku?” seru Tuan Osaka, suaranya menggelegar. Beberapa perawat dan pengunjung Rumah Sakit sampai terkejut, dan mereka mulai berkerumun.


“Tuan Osaka... banyak yang melihat tuan di sini. Tuan Osaka...”. Tangis Obasan semakin menjadi.


“Selama ini aku percaya padamu, Kageyama. Tapi apa balasanmu padaku? Anakku terbaring di sana?”


Tuan Osaka memukup lengan Kageyama. Kageyama menerima pukulan yang tidak seberapa itu. Dia tahu, Tuan Osaka tidak akan menyakitinya. Lelaki itu terlalu baik untuk membunuh seekor kecoak sekalipun. Dia hanya ingin melampiaskan kemarahan dan kekecewaannya.


“Aku ... aku tidak bisa menjaganya.” Kageyama menjawab dengan suara gemetar.


“Itu sudah pasti. Apalagi? Katakan padaku sekarang. Kalau aku sampai mendengarnya dari mulut anakku sendiri, kau ..... aku jebloskan ke penjara.”


“Tuan Osaka!”


“Diam, Obasan. Ini urusan laki-laki. Katakan padaku, Kageyama!”


Dengan gemetar, Kageyama mengeluarkan tasbih dari saku celananya dan mengulurkannya pada Tuan Osaka.


“Apa itu?” Tuan Osaka tidak mau menerima tasbih itu. Dia tahu, itu milik Sydney yang dibawanya dari Indonesia.


“Dia memberiku ini.”


“Apa lagi? Apa yang sudah diberikannya padamu? Atau kau mengambilnya paksa?” bentak Osaka.


“Hanya ini. Katanya, kalung ini harus aku pakai saat bertemu dengannya. Atau dia tidak mau bicara padaku.”


Tuan Osaka merampas tasbih itu dan melemparkannya ke Obasan yang langsung menangkap dan mendekapnya. Obasan mengira kalau sudah selesai, namun ternyata Tuan Osaka kembali menarik kerah baju Kageyama, memaksa lelaki itu berdiri dan menghimpitnya di tembok. Kedua tangannya mencengkeram leher Kageyama. Beberapa perawat dan dokter mulai panik. Mereka mendatangkan security untuk melerai. Security sudah siap melerai apabila akan ada perkelahian lagi. Tapi Obasan memberi kode agar membiarkan Tuan Osaka menyelesaikan urusannya dengan Kageyama. Obasan yakin, dua orang itu tidak akan berkelahi.


“Katakan padaku, Kageyama, “ bisik Tuan Osaka, dengan muka mereka berjarak hanya sepuluh centimeter, “apa kau menyentuh anakku?”


Kageyama terperajat. Sontak dia melepaskan cengkeraman Tuan Osaka, tapi lelaki itu masih kuat memegang bajunya.


“Aku sangat menghormati anakmu, Tuan Osaka. Aku tidak mungkin melakukan itu.”


“Buat aku percaya, “ ujar Tuan Osaka tanpa melepas cengkeramannya.


“Aku mencintainya.”


Sontak seisi ruangan hening. Kalimat itu begitu jelas terdengar di seluruh penjuru ruangan, membuat beberapa dokter dan perawat yang semula berkerumun membubarkan diri. Juga security yang sebelumnya siap melerai. Obasan membekap mulutnya tak percaya dengan kata-kata Kageyama. Kageyama hanya bisa menyisir rambut dengan jemarinya, meredakan gugup dan paniknya. Tuan Osaka melepaskan cengkeramannya perlahan.


“Mila ... “ geram Tuan Osaka.


Tuan Osaka mengeluarkan ponselnya, lalu bergegas keluar ruangan sembari mencoba menelpon sesorang. Obasan mengikutinya dari belakang, diiringi tatapan Kageyama.


Di pelataran parkir, Tuan Osaka berhasil menghubungi Mila. Obasan berdiri di belakangnya, masih menggenggam tasbih milik Sydney.


“Mila? Katakan padaku, apa yang sudah diperbuat wanita gila itu pada Sydney?”


“Wanita gila itu tidak tahu Sydney ada di mana sekarang. “


“Katakan padaku, siapa yang melakukan pada Sydney? Aku tidak akan memaafkan dia.” Tuan Osaka tidak lagi bisa menahan emoasinya yang kembali bangkit.


“Melakukan apa? Sydney sekarang di Jepang, dia tidak lagi dalam pengawasanku.”


“Mila! Sydney keguguran.”