MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Puing-Puing



Mobil yang dikemudikan oleh anak buah Pengacara Julius sudah menempuh perjalanan selama satu jam dari kontrakan Rey dan Hud. Rey terlihat gelisah di bangku belakang. Di sebelahnya, Hud berusaha untuk tidak terlelap. Rey membangunkannya jam dua malam dan menyuruhnya untuk segera bersiap. Mereka akan ke luar kota dalam setengah jam. Padahal Hud baru memejamkan mata satu jam, begadang menggarap proposal skripsinya.


Dan sampai sekarang, Rey tidak memberi tahu mereka hendak ke mana. Yang jelas, ke luar kota Surabaya, menuju timur. Hud tak mau banyak bertanya, karena melihat Rey gelisah. Berkali-kali menyisir rambut dengan tangannya. Memencet ponsel tit tut, seperti hendak menelpon seseorang. Tapi kemudian dibatalkan.


“Mereka dari Maskapai?” tanya Hud setengah berbisik.


Rey menggeleng, “Bukan.”


“Siapa?”


Dua orang itu menjemput mereka berdua ke tempat kos. Hud tak sempat berpamitan pada Mas Hanif. Cuma mengirim pesan lewat Line, bahwa dia dan Rey ada urusan mendadak ke luar kota. Dan mobil yang mereka kendarai, menguasai jalan yang masih senyap. Seperti punya sayap, terbang dengan cepat.


“Rey sedang terburu-buru, ada apa?” batin Hud, tapi tak ingin melumerkan ketegangan yang terasa di mobil sejak berangkat.


“Kalian tahu rumahnya?” tanya Rey pada pengemudi di depan.


“Wiwit menunggu di pinggir jalan utama, Bos. Kita telpon dia kalau sudah masuk batas kota.”


Bos?


Hud menoleh ke arah Rey. Jadi, anak ini punya bodyguard selain dirinya. Dan dari penampilannya, dua orang di depan itu lebih pantas disebut bodyguard daripada dirinya. Saat ini dia hanya mengenakan kaos lengan pendek dan jacket mapala andalannya. Sedangkan dua orang itu, memakai setelan hitam, jas hitan dan kaca mata hitam. Hanya driver yang tidak berkacamata hitam.


“Mereka anak buah Pengacara Julius.”


Rey menjelaskan dengan satu kalimat saja, tanpa melihat ke arah Hud. Hud mengangguk. Jadi, kaitannya dengan Pengacara Julius. Kalau berurusan dengan Merlin pasti urusan maskapai. Kalau dengan Pengacara Julius, pasti soal Mama tirinya dan penyelidikan pembunuhan Papanya yang sampai sekarang belum selesai juga.


“Hud...”


“Ya?”


“Kau punya nomor Sydney?”


Hud menelan ludah. Jadi ini tentang Sydney? Apa Rey sudah banyak perkembangan dengan gadis itu? Seingatnya, anak itu tidak lagi muncul di kampus sejak keributan di Ulang Tahun Reynand. Selain anak semester bawah memang libur, Sydney bisa jadi bersembunyi dari bodyguard Mama Rey. Apa yang dilakukannya memang ceroboh. Okelah kalau dia memang menyukai Rey, seharusnya dia lebih dulu menggunakan lisan daripada tangan. Itu lebih elegan, dan bisa jadi lebih tepat sasaran. Tapi, situasi kemarin memang terjadi begitu singkat. Tidak bisa dipikir-pikir dengan matang terlebih dulu.


“Hud? Kau bisa menelponnya?”


“Oh... sebentar.”


Hud mencari nomor Sydney, lalu mendial nomor itu. Tidak aktif. Dicobanya sampai tiga kali, berharap hanya karena gangguan sinyal. Tapi tetap tidak aktif.


“Tidak aktif, Rey.”


Rey semakin gelisah. Duduknya tidak tenang. Dia memajukan badannya ke belakang driver.


“Berapa lama lagi? Bisa lebih cepat tidak?”


“Kita sudah keluar tol, Bos. Paling cepat setengah jam.”


Hud menepuk pundak Rey, dan berucap setenang mungkin agar Rey tidak gelisah, “Kita sholat subuh dulu begitu turun dari tol, ya Rey? Supaya kamu tidak gelisah. Sholat akan membuat kita lebih tenang.”


“Kita harus sampai di sana secepatnya. Atau ...”


“Atau apa?” sela Hud ketika Rey menghentikan kalimatnya.


“Atau mereka membunuh Sydney.”


Hud terperangah. Sydney akan dibunuh? Siapa yang akan membunuh gadis itu?


“Kau tidak tahu apa yang bisa dilakukan Mamaku, kan? Sydney sudah membuatnya sangat murka. Semalam Darmaji menelponku. Dia bilang, Mamaku akan menuntaskan urusannya dengan temanku, yang membuatnya terhina di restorannya sendiri. Aku yakin, itu bukan main-main.”


“Katamu Darmaji bukan lagi orang yang bisa kau percaya?” Hud kehilangan kantuknya.


“Kali ini, informasinya bisa jadi benar. Dua hari yang lalu, Sydney dikeroyok orang suruhan Mama.”


Hud kembali mendial nomor Sydney. Tetap tidak aktif. Sekarang, gantian dia yang mulai panik.


“Wiwit ada di sana, Bos. Dia sudah melaporkan bahwa tidak ada Nona Sydney dan Neneknya di rumah yang terbakar itu.”


“Apa?” Hud nyaris berteriak. Dan sejurus kemudian, dia baru menyadari kalau suaranya adalah suara paling keras sejak berangkat dari Surabaya.


Rey menatapnya, “Semalam, rumah Sydney ada yang membakar.”


***


Mobil yang mereka kendarai memasuki jalan desa, dengan sawah yang rimbun dengan padi, di kanan dan kiri jalan. Wiwit, memandu mereka di depan dengan menaiki sepeda motor OJOL. Matahari baru saja terbit, Hud bisa melihat dengan jelas padi-padi yang menghijau. Dia membuka kaca mobil, menghirup aroma desa yang menyejukkan.


Tiba-tiba mobil berhenti.


“Ada apa?” tanya Rey panik.


Sholat subuh tadi adalah sholat subuh terkilat yang mereka lakukan. Karena Rey sudah tidak sabar untuk melanjutkan perjalanan. Semakin dekat tujuan, anak itu semakin tidak tenang. Mobil berkurang kecepatan saja, dia langsung memerintah untuk lebih cepat.


“Ada mobil di depan, Bos. Jalan sempit. Sepertinya gantian lewat tidak bisa. Kita harus mundur ke jalan besar.”


Hud membuka pintu mobil.


“Kau mau kemana?” sergah Rey.


“Aku atur dulu lalu lintasnya. Jalannya sepertinya cukup.”


“Tutup semua kaca mobil. Aku tidak mau preman Mama ada yang mengenali kita.” perintah Rey.


Driver segera menutup semua kaca dan mengunci semua pintu mobil dengan center lock. Hud turun dari mobil, lalu berdiri di antara dua mobil sambil melambaikan tangan ke mobil satunya. Salah satu penumpang dari mobil di depan mereka juga keluar. Seorang pemuda berkulit bersih dengan senyum yang menawan. Dia menjabat tangan Hud ramah. Mungkin sikap orang desa seperti ini, ramah pada siapapun meski tidak kenal. Hud menyambut uluran tangannya.


“Hud.”


“Aditya.”


“Sepertinya tidak muat, ya?” tanya Aditya—pemuda rupawan itu—pada Hud.


“Bisa... bisa....” jawab Hud optimis.


Dari dalam mobil, driver Rey menggerutu sambil memencet klakson tidak sabar, “Malah kenalan dulu.”


Rey melengos kesal. Sebuah telpon masuk dari Pengacara Julius.


Sementara itu di luar mobil, Hud dan Aditya sibuk mengatur dua mobil yang berpapasan itu maju dan mundur bergantian, memanfaatkan space yang ada. Sepuluh menit kemudian, dua mobil itu berhasil berselisih jalan, namun dengan masing-masing berkorban sebelah roda masuk parit kecil. Tapi, masing-masing sopirnya berhasil mengendalikan mobil dan kembali ke badan jalan.


Hud beradu telapak tangan dengan Aditya, mereka bersalaman. Lalu masing-masing kembali ke mobil.


Hud berkeringat, bajunya basah.


“Terima kasih, Hud. Siapa nama orang itu tadi?” sindir Rey ketika Hud sudah duduk dan mobil kembali berjalan.


“Aditya,” sahut Hud tanpa merasa kalau disindir.


“Seharusnya kau bertanya apa dia kenal Sydney.”


Hud mengipas-ngipas leher dengan telapak tangan. AC mobil belum mendinginkan badannya.


“Dia cowok ganteng, Rey. Kalau dia pacar Sydney bagaimana?” goda Hud.


Rey mendengus kesal, “Ini bukan masalah pacar atau bukan, Hud. Ini urusan nyawa.”


“Sebentar lagi sampai, Bos.”


Driver berusaha membuat suasana lebih tenang. Dan dia berhasil. Hud dan Rey tidak lagi bersuara. Pandangan mereka fokus ke punggung Wiwit yang berbelok ke sebuah gang yang lebih sempit. Sepertinya mereka harus turun dari mobil.


Rey berjalan menyusuri gang kecil, didampingi Hud. Tak jauh dari mulut gang, dia mendapati sebuah rumah yang habis dilalap api, hanya tinggal tembok bata yang masih berdiri. Itupun sudah hangus di sana sini. Beberapa penduduk tampak berada di sekitar puing-puing rumah itu, mengais-ngais mencari sesuatu. Beberapa reruntuhan kayu bahkan masih berasap. Rey memakai kaca mata hitamnya. Dia tidak ingin Hud melihat matanya yang mulai berkaca-kaca. Antara kemarahan dan kehilangan.


Sydney, di mana dia sekarang?


Wiwit memerintahkan dua temannya untuk mencari informasi pada penduduk sekitar. Siapa tahu mereka mengetahui keberadaan penghuni rumah yang kini tinggal puing-puing. Hud melihat Rey berjalan di antara puing-puing. Hud yakin, Rey ingin mendapatkan sedikit saja petunjuk tentang Sydney. Sesampai di tembok dalam rumah yang masih berdiri, Rey meninju tembok itu sambil berteriak penuh marah. Hud segera menghampirinya, dan menahan genggaman tangan Rey yang hendak dihantamkan ke tembok, untuk kedua kali.


“Ini tidak akan membuat semuanya kembali seperti sedia kalai, Rey, “ bisik Hud.


Rey tergugu. Hud melepaskan tangan Rey perlahan. Sebuah benda menarik perhatiannya, tergeletak di antara pecahan genteng yang hangus. Sebuah ponsel yang sudah menghitam dan casingnya meleleh.