MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Tabrakan



 


 


Rey tidak mimpi buruk lagi, itu sangat menyenangkan bagi Hud. Dia bisa bangun lebih pagi untuk berangkat ke kampus. Dia harus menyelesaikan banyak urusan hari ini, sehingga tidak terlalu memperhatikan Rey. Pemuda itu sejak selepas subuh, menghadap meja belajarnya dengan lampu menyala. Tampaknya dia sedang sibuk menggambar. Mungkin mengerjakan tugas kampus. Tapi tugas apa? Bukankah dia sedang libur sekarang?


“Rey, aku berangkat dulu. Kau tidak membutuhkan bodyguard hari ini kan?”


Rey bergeming, membuat Hud sedikit bersalah. Rey memberinya kelonggaran untuk tidak masuk kerja—berperan menjadi bodyguard—selama mengerjakan skripsi. Tapi dia tetap  mendapatkan gaji dari Maskapai. Hud kadang merasa tidak enak karena posisi itu. Dia merasa tidak mengerjakan apa-apa. Tapi Rey meyakinkannya, cukup dengan ada sebagai Hud—dia sudah menjadi bodyguard terbaik di dunia.


“Kau menggambar apa?”


Hud sudah berdiri di belakang Rei. Dia tidak pernah peduli pada urusan di meja belajar Rei. Tapi begitu melihat apa yang dikerjakan Rei, mau tidak mau dia harus bertanya. Setidaknya, sebagai bodyguard yang memahami bahwa majikannya sedang gundah. Karena gadisnya belum juga ditemukan.


Bila teringat Sydney, Hud terkadang masih memaki dirinya dalam hati. Sydney bisa saja menjadi miliknya. Mas Hanif sangat tahu hal itu. Tapi Hud memilih mundur. Pertama, karena dia tahu bagaimana karakter Sydney yang jauh dari tipenya. Kedua, Rey menyukai Sydney. Tidak layak rasanya dia harus bersaing dengan majikan sendiri. Lagipula, Sydney sepertinya juga punya perasaan yang sama dengan Rey.


“Aditya.”


Rey menjawab pertanyaan Hud tanpa menoleh. Pensilnya bergerak cepat di atas kertas. Rey sangat cekatan menggambar sketsa.


“Kau menggambar wajahnya? Hanya dari keteranganku semalam?” tanya Hud tak percaya. Dan dia semakin mendelik ketika melihat wajah yang sudah terbentuk di kertas HVS itu nyaris mirip dengan wajah Aditya yang samar-samar diingatnya.


“Aku tidak punya ingatan wajah Hud, tapi bukan berarti aku tidak bisa menggambarnya. Ini hanya sebuah soal. Seperti soal matematika yang sudah ada rumus untuk mengerjakannya.”


Hud berdecak kagum. “Seharusnya kamu bekerja di kepolisian, bagian orang hilang. Sungguh aneh, kamu tidak bisa mengingat satu wajahpun. Padahal kamu bisa menggambarnya begitu persis.”


“Nanti siang, aku pasti sudah lupa wajah ini.”


Rey menyodorkan kertasnya pada Hud. Hud menelisik setiap detil gambar di kertas itu, Ada nama Aditya di pojok bawah.


“Alisnya kurang tebal. Dan, hidungnya terlalu tinggi. Dia ...”


“Apa? Apa kesan yang pertama kali kau tangkap?”


“Dia ... tampan. Dia bisa menawan Sydney, hanya dengan senyumannya.”


Rey merebut kertas itu dari tangan Hud. Wajahnya berkerut kesal. Hud tersenyum. Rey cemburu.


“Aku hanya menjawab jujur, Rey. Dia seperti tipe lelaki yang hangat, romantis dan sanggup mempertaruhkan nyawa untuk orang yang dicintainya. Dan bila orang itu adalah Sydney, sebaiknya kamu mempertajam doamu. Bila kamu masih ingin bertemu dengan Sydney.”


Rey tiba-tiba teringat sesuatu.


“Hud, menurutmu. Apakah Mamaku akan melakukan hal itu?”


“Melakukan apa?”


“Bila dia tidak bisa menghancurkan Sydney dengan kekerasan, maka dia akan melakukannya dengan cara yang halus. Aditya ini, bisa jadi...”


Rey tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Mamanya sanggup melakukan apa saja agar keinginannya terpenuhi. Akhir-akhir ini Rey banyak mengingat kembali apa saja kejadian sejak sebelum Papanya meninggal. Mama sudah menjalin hubungan dengan Ibrahim sejak Papa masih ada. Dan Ibrahim dibunuh begitu saja. Bisa jadi, semua itu adalah konspirasi Mamanya. Tidak peduli siapapun, meski itu orang terdekatnya.


Hud menepuk-nepuk bahu Rey.


“Perbanyak doa.”


***


“Maafkan aku, Merlin. Aku sedang kacau,” pamitnya. Merlin hanya mengangguk dan mereka berjanji untuk bertemu besok di Restoran Bluestar. Rey berpesan agar Merlin mengajak Nadia, putri cantiknya. Rey akan sedikit terhibur bila mendengar celotehan Nadia. Meski yang sanggup menghibur hatinya saat ini hanya Sydney. Sydney harus ditemukannya, baru dia akan merasa tenang. Kalau tidak, pikirannya tidak akan pernah fokus pada apapun, termasuk masalah maskapai.


Braaakk !


Rey terkejut, kepalanya nyaris terbentur kaca. Tapi kaca kiri mobilnya pecah terburai. Dia baru saja ditabrak. Mobil yang menabraknya, tepat berada di sebelah kiri mobilnya. Rey bergegas keluar dari mobil. Siapapun yang menabraknya, pastilah akan sangat terkejut kalau mengetahui bahwa yang ditabraknya adalah Presdir Eagle Air.


Seorang perempuan memakai baju ketat tanpa lengan, dan rok mini jauh dari lutut. Dia keluar dari mobilnya dengan  mulut ternganga. Dan dia menjerit ketika melihat mobil bagian depannya ringsek.


“Hei, kamu kenapa tadi lewat!” makinya marah, “aku kan sudah klakson berkali-kali.”


Rey menelan ludah. Sepertinya dia tidak mendengar suara klakson sama sekali. Dia pasti sedang melamun tadi.


Perempuan berbaju minim itu mendekati Rey dan mendorong Rey dengan telunjuknya. Rey sampai mundur beberapa langkah, hingga menyandar ke mobilnya sendiri.


“Kau harus menggantinya. Ini mobil Papaku.” serunya marah, dengan mata bulat membelalak.


Wanita di hadapannya, tidak memberi kesempatan Rey untuk membuka mulut. Dia terus menyalahkan Rey dengan marah, dan berkali-kali menyebut nama Papanya. Bahwa Papanya akan menggantungnya bila sampai dia pulang dengan mobil rusak parah. Rey berusaha berpikir logis dengan cepat. Bahwa perempuan ini tidak memakai seragam pegawai, jelas dia bukan pegawai Masakapai. Terus, apa yang dia lakukan di lahan parkir pegawai?


“Jadi, cepat kau ganti mobilku!” jerit wanita itu histeris, kali ini sambil menghentak sepatu hak tingginya.


Rey geleng-geleng. Perempuan di hadapannya sama sekali jauh penampilannya dengan Sydney. Sydney selalu berpakaian tertutup, hanya wajah dan tangannya yang kelihatan. Dan dia juga mandiri, tidak seperti anak manja di hadapannya.


“Hei, kamu siapa?” ujar Rei, mulai memfokuskan pada masalah di hadapannya. Dia harus segera menyelesaikannya, atau seharian dia bisa terjebak dengan wanita yang mengumbar aurat di depannya. Meski hal itu membuatnya tidak tertarik sama sekali.


Wanita tidak menjawab, tapi kakinya menendang badan mobilnya. Dia lalu membuka pintu mobil, mengambil tas dan hendak menelpon seseorang.


“Aku telpon Papaku,” ancamnya.


Rey mendecih, “Silahkan saja. Yang jelas, kamu bukan pegawai sini dan artinya kamu penyusup. Aku akan memanggil satpam.”


“Panggil saja. Papaku Direksi di sini.”


Rey mendelik. Wanita di depannya ini sama sekali tidak tahu malu. Apa dia tidak tahu siapa Reynand Bramantya, Presdir di sini?


“Halo? Papa? Aku di basement. Tolong aku, Pa. Mobilku ditabrak lelaki tidak bertanggung jawab ini.”


Rey mendelik, mendekati wanita itu dan merebut ponselnya.


“Apa? Siapa yang menabrak? Sini, siapa nama Papamu. Aku akan ...”


Dua orang satpam berlari mendekat. Rupanya mereka mendengar suara tabrakan tadi. Begitu melihat Rey, mereka kaget bukan kepalang.


“Tuan Presdir, anda tidak apa-apa?”


Wanita itu melongo. Rey tersenyum mengejeknya.


Sementara itu, dari sebuah mobil yang diparkir tidak jauh dari kejadian tabrakan itu, Lusie mengamati kejadian dengan seksama.


“Kau memang anak yang pintar, Regina. Dia tidak akan melupakanmu semalaman. Ayo, tekan dia terus. Buat dia stress, “ ucap Lusie bersemangat, “Untuk sebuah harta karun seperti dia, kau harus banyak berkorban. Seperti halnya aku dulu. Untuk mendapatkan Papamu, aku harus mengorbankan mahkotaku yang paling berharga.”