MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Sydney : Merindu



Pertemuan kemarin begitu membekas dalam ingatanku. Aku menuliskan semaunya di buku harian, berlembar-lembar. Bahkan sampai halaman terakhir. Entah kenapa, ini seperti sebuah kerinduan yang tumpah ruah begitu saja. Kerinduan yang selama ini tertampung di sebuah wadah rapat, dan kemarin wadah itu pecah. Kerinduan pun terserak. Di tanah, bebatuan, pepohonan, udara. Bahkan ke seluruh penjuru langit.


Aku sendiri tak habis pikir. Kenapa kerinduan itu begitu banyak. Bahkan sampai langkahku meninggalkan tempat pertemuan itu, menuju pintu kamar kost yang kemudian kututup rapat, kerinduan itu kembali tumbuh tak terkendali.


Ada apa denganku?


Kubuka lembar demi lembar buku harianku yang berhias berbagai foto orang-orang yang harus kuingat wajahnya. Nenek, Karin, dosen pembimbing, bahkan Saskia. Foto Saskia kusimpan bukan karena dia penting bagiku. Tapi supaya aku selalu mengingatnya sehingga bisa menghindarinya. Bila dia berada di dekatku, aku tidak yakin dia bisa selamat.


Seperti kejadian di perpustakaan. Aku membalik lembar buku harian, dan mataku tertuju pada gambar gedung perpustakaan. Di situ, wanita ****** bernama Saskia itu mencegatku. Dengan entengnya dia berterima kasih karena membuat Mas Rendra akhirnya menjadi miliknya. Seutuhnya.


Dasar setan betina. Aku ingat bagaimana aku menggambar ilustrasi setan bertanduk dengan gerigi mengalirkan darah, di belakang foto Saskia. Benci sekali aku pada wanita bernama Saskia itu. Benci karena dia sudah memanfaatkan hubungan kekerabatan jauhku, menipuku dengan telak. Dia tahu kelemahanku, yang tidak bisa menolak bila seorang wanita disakiti. Self defence-ku langsung bekerja maksimal, memerintah tangan dan kakiku untuk segera membalas.


Pelajaran penting dari nenek. Jangan pernah lemah di hadapan lelaki, terutama bila mereka mempermainkan wanita. Ah, tiba-tiba aku kangen nenek. Ada yang ingin aku tanyakan padanya. Tentang lelaki yang satu ini.


Reynand. Rey, dia memanggil dirinya. Kurasa, si Hud Hud juga memanggilnya demikian. Sebentar, sepetinya aku punya gambar si Hud Hud. Aku menemukannya di deretan foto mapala. Tahun lalu, saat ada oprec, dan aku ikut. Si Hud Hud, satu tingkat di atasku. Kami berfoto bersama tiga puluh orang lainnya. Dia berdiri paling ujung, dengan jacket berhuruf A besar. Sampai sekarang, jacket itu selalu dikenakannya.


Rey dan Hud. Sepertinya dua orang ini dekat. Aku bisa saja mencari informasi tentang Rey pada Hud. Tapi, mana mungkin begitu. Aku tak bisa mengingat wajah Hud sedetil aku mengingat wajah Rey. Kenapa mesti Rey?


Lelaki bergaya artis korea, kata beberapa mahasiswa yang kebetulan kalimatnya tertangkap telingaku. Ya, pakaian yang dia kenakan bukan pakaian biasa. Pakaian mahal. Dan, wajah, rambut, serta kulitnya sepertinya sangat terawatt. Dan, dia harum. Bau parfumnya, lembut dan memanjakan hidung. Parfum mahal sepertinya. Aku mengendus diriku sendiri. Dan nyaris terbatuk karena memang aku belum mandi.


Jika melihat Rey berjalan dengan siapapun, dia selalu kelihatan lebih bersinar. Selain karena dia memang lebih menawan dari yang lain, aku mudah mengenalinya. Di manapun dia berada. Seolah ingatan tentang dia sudah tertanam di kepalaku sejak bayi.


“Siapa dia sebenarnya?” bisikan hatiku mengusik.


Rey membuatku tenang, nyaman dan aman. Hingga, aku begitu saja membiarkan dia menyentuh tanganku, memeluk ah… tepatnya memisahku dari pertarunganku dengan Mas Rendra, dan yang terakhir, dia memegang pergelangan tanganku, mencegahku melumatkan wajah Saskia.


“Milan, kamu Milan kan? Reynan Milan Bramantya.”


Saskia begitu yakin dengan nama lengkap Reynand, meski Reynand mengernyit mata melihatnya.


Reynand masih menggenggam pergelangan tanganku. Saat itu, kurasakan kembali getaran itu. Seperti aliran memory yang mendisplay kilatan-kilatan gambar. Terlebih ketika mata kami saling menatap. Seolah kami telah bertahun-tahun mengenal, hingga memiliki memory yang sama. Aku bisa melihat Rey kecil berlari dan tertawa gembira, berputar-putar di panggung dengan baju putih ketat, berkuda, menembak, mengemudi perahu, dan segala hal kemewahan hidupnya. Dan semua itu membuatku takut, tapi sebaliknya ingin membuatku tahu lebih banyak. Ini seperti melihat ke dalam sumur. Ingin mengetahui rahasianya, tapi takut kecebur ke dalamnya.


Rey menarikku, meninggalkan Saskia yang melongo. Pastinya dia menyesal, kenapa bukan Rey yang dipikatnya. Tapi Mas Rendra, yang sekarang tidak akan bisa menghidupinya. Kampus sudah memecatnya, dan dia akan kesulitan mencari pekerjaan dengan track record buruknya. Melakukan hubungan terlarang dengan mahasiswi sehingga membuat mahasiswi itu mengandung anaknya.


Rey membawaku hingga ke lahan parkir, di bawah pohon Trembesi, dia melepas tanganku perlahan. Aku berdiri membelakanginya, sambil menggenggam pergelangan tanganku yang beberapa menit telah dipegangnya. Hangat. Tapi, kenapa aku tidak merasakan sesuatu yang luar biasa. Yang, kata teman-teman, sensasi gemetar, bila dipegang lelaki non muhrim. Seperti kesetrum listrik voltase rendah. Aku hanya merasa begitu nyaman, aman dan terlindungi.


Aku tidak tahu, apa yang dipikirkan oleh teman-temanku, yang aku yakin mereka telah melihatku. Aku berusaha untuk tidak menatap wajah-wajah yang menatapku dan Rey dengan pandangan aneh. Dan aku tidak bisa melupakan bagaimana Rey menyatakan pada Saskia bahwa aku adalah kekasihnya.


“Jangan kau pukul lagi orang-orang bejat itu.”


Tanganku mengepal.


“Apa kau punya cara yang lebih baik?”


Rey mendesah. Dia berjalan memutariku, hingga berada di depanku. Hanya berjarak dua langkah dariku. Aku menatapnya. Dia menatapku.


“Ingatlah namaku.”


Reynand Milan Bramantya. Tentu saja aku sudah mengingatnya. Saskia berbaik hati membantuku.


“Jika kau tidak bisa mengingat wajahku besok pagi, ingatlah namaku.”


Aku terperangah.


“Kau?”


Rey tersenyum, Rey berjalan ke sisiku, hingga kami saling berdiri berlawanan arah.


“Besok jam 15. Di kantin fakultas dengan bunga asoka di depannya.”


Aku sudah menggambar kantin fakultas itu di buku harianku. Dengan rrerimbunan asoka di depannya. Tempat pertemuan resmi pertamaku dengan Rey. Dan entah kenapa, si Hud Hud bisa meminta pertemuan di jam yang sama. Apa dua orang itu bersekongkol? Atau mereka merencakan sesuatu? Tapi, sepertinya Hud yang membatalkan permintaan pertemuan itu. Aku sudah mengembalikan tenda, apa lagi yang dia inginkan? Mungkin, dia datang ke kantin, sepertinya aku melihat lelaki bertopi di belakang Rey. Tapi kemudian pergi tepat sebelum aku meninggalkan Rey. Tapi, bisa jadi bukan dia.


Aku membuka gulungan lukisan yang diberikan Rey kemarin. Ada dua gulungan. Rey bilang, itu hasil sketsanya. Sepertinya aku mengenal sketsa ini. Seorang gadis kecil manis, berkepang dua. Wajahnya tidak asing. Sepertinya, aku pernah melihatnya, entah di mana. Siapa gadis kecil ini?


Gulungan satunya, membuat wajahku memerah. Aku yakin, bila ada cermin di depanku saat ini, sudah kupukul cermin itu saking malunya.


Rey menggambarku saat aku mendongak ke balkonnya. Setelah menaklukkan seorang pencopet. Gila, bagaimana mungkin dia bisa mengingat kejadian itu begitu detil. Sedangkan aku, malam setelah itu, tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Wajah Rey begitu jelas, sangat jelas. Namun aku hanya bisa menggambar balkon tempat dia menatapku tak berkedip.


Rey, aku harus tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu adalah rahasia Allah yang dikirim padaku.