
Reynand tak pernah lama menggelar rapat di Maskapai. Setengah jam baginya sudah terlalu lama. Hud menyarankan, dia cukup setor muka, menerima laporan dan tanda tangan beberapa berkas. Selebihnya, semua apa kata Merlin. Rey harus punya waktu khusus bersama Merlin. Karena dia satu-satunya orang kepercayaan almarhum Papanya. Saat ini, itulah kondisi adaptasi yang paling aman bagi Rey sebagai Presdir. Karyawan hanya perlu sosok Presdir yang tanda tangannya ada di setiap surat. Perlu wajahnya nongol di kantor pusat.
Seperti halnya rapat hari ini, Rey hanya dua puluh menit bertatap muka dengan Dewan Direksi. Itupun, tak ada satupun yang benar-benar ditatapnya. Dia harus menjaga rahasia, bahwa dia tidak bisa mengingat semua wajah dalam ruangan. Maka, andalannya adalah poni yang menutup mata dan muka yang selalu menunduk.
“Tuan langsung ke kampus?” tanya Merlin sembari menjajari langkah Rey keluar dari ruang meeting.
“Aku sedang libur, Merlin. Makanya aku bisa setiap hari ke sini. Besok, aku mau ke hanggar. Kau bisa memberikan laporan terakhir? Kaubilang kemarin ada kebakaran di sana.”
“Laporan saya kirim ke email Tuan Reynand malam ini. Sebenarnya kebakaran sudah diatasi, karena ada arus pendek. Tapi bila Tuan mengunjungi hanggar, karyawan akan sangat senang.”
“Oke, terima kasih, Merlin. Salam buat, Nadia.”
Merlin tersenyum. Beberapa kali bila dia dan Rey bertemu khusus, Rey selalu memintanya membawa Nadia. Rey suka sekali mendengar celotehan anak itu. Terutama bila minta ini dan itu. Rey selalu menurutinya. Mungkin karena dia anak tunggal, begitu senang melihat Nadia yang berceloteh tanpa henti.
“OH, iya, anda datang sendiri. Pengawal anda, Tuan Huda?”
Hud sedang kuliah, dan sebentar lagi dia akan sibuk KKN. Rey harus memikirkan cara agar Hud tetap berstatus pengawalnya.
“Aku menugasinya urusan penting. Mungkin dia tidak akan mengawalku dalam waktu yang cukup lama.”
Merlin mengangguk. Mereka masuk ke dalam lift. Hanya mereka berdua di dalam lift. Seorang karyawan yang semula buru-buru mau masuk lift, tapi melihat Presdir ada di dalam dengan Merlin, dia pun mundur dengan hormat.
“Apa saya sediakan pengawal, Tuan? Penyelidikan polisi tiba-tiba dihentikan, padahal sudah muncul titik terang.”
“Aku sudah punya pengawal. Aku akan menemuinya sebentar lagi.”
Merlin mengangguk. Rey melirik jam tangannya. Dia harus berada di sebuah alamat satu jam lagi. Seraut wajah yang fotonya dia simpan di mobil, membuatnya tersenyum. Rey akan membujuknya, untuk menjadi pengawalnya. Atau lebih tepat pendampingnya. Dia mahasiswi bidik misi, pastinya membutuhkan uang. Setidaknya, tawaran berdasarkan uang adalah tawaran mendasar yang akan membuat seseorang tertarik. Dan hal itu, akan membuat dia selalu berada di sisinya, kemanapun Rey pergi.
***
Rey memarkir mobilnya di depan Gang Kemuning X, setelah memastikan bahwa alamat yang diberikan Pengacara Julius benar. Rey melepas kacamata hitamnya, lalu membawa satu lembar foto Sydney, keluar dari mobil. Senyum gembira melengkung di wajahnya. Dia akan berjumpa dengan Sydney, dan Rey sudah bisa membayangkan bagaimana raut terkejut gadis itu. Dia pasti akan mematung dengan mulut sedikit menganga, dan mereka akan saling menatap beberapa detik. Kemudian, Rey akan menyentuh tangannya untuk menghilangkan keterkejutannya, dan kerinduan itu pun akan terobati.
Pintu polos dengan stiker Assalamualaikum berhuruf Arab dan Indonesia. Bahkan Pengacara Julius juga memberikan foto pintu depan rumah kontrakan Sydney. Benar-benar bisa diandalkan, meski Rey harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Uang masalah baginya. Hud tidak perlu mengetahui hal ini. Dia tidak akan suka. Karena Hud termasuk tipe lelaki yang menjaga untuk tidak berhubungan dengan perempuan. Bukan berarti dia tidak suka perempuan. Tapi, kata Hud, bukan muhrim. Bukan muhrim itu tidak saling menyentuh. Rey bisa melihat, mimik Hud yang menunjukkan tidak suka saat Rey menyentuh Sydney. Malah, bukan tidak suka. Lebih kepada marah. Tapi, tentu saja, urusan Sydney bukanlah urusan Hud sekarang. Rey sudah mendapatkan jalannya sendiri, dengan caranya sendiri.
Sejenak Rey berdiri di depan pintu itu, mengendalikan nafasnya supaya lebih teratur. Bila Sydney yang membuka pintu, Rey pasti bisa langsung mengenalinya. Mungkin inilah jawaban yang dinantikannya sejak dulu. Rey memang belum sempat menemui Pak Ucok untuk berkonsultasi tentang hal baru ini. Dia harus memastikannya pada Sydney sendiri. Bahwa dia juga punya penyakit yang sama dengan Rey. Prosopognasia. Ketidakmampuan mengingat wajah seseorang. Dan bila itu benar, Rey akan mengajak Sydney menemui Pak Ucok.
Rey mengetuk pintu dan mengucap salam, setelah dirasanya dia tidak akan gugup. Terdengar jawaban dari dalam rumah. Tak lama, pintu terbuka dan seraut wajah berjilbab muncul dari balik daun pintu yang hanya terbuka selebar wajahnya. Bukan Sydney.
“Ya? Mencari siapa?” Juga bukan suara Sydney. Jadi, dia memang orang lain.
“Apa benar ini rumah Sydney Azzura?” tanya Rey sambil memperlihatkan foto Sidney, seperti seorang petugas yang mencari informasi orang hilang.
Perempuan itu tersenyum geli. Baru kali ini dia mendapati seorang tamu yang menyodorkan foto sebesar itu.
“Anda siapa?”
“Saya ... Reynand Bramantya. Saya ada perlu dengan Sydney. Urusan pekerjaan.”
Reynand mengernyit. Raut wajah perempuan itu berubah, tampak agak sedih.
“Sydney sudah pulang kampung.”
“Hm, memang sedang libur kuliah, kan? Kapan dia kembali?”
“Bukan libur kuliah. Dia di Drop Out.”
“Apa? Kenapa?”
Perempuan itu menggeleng, “Tidak disebutkan alasannya Drop Out-nya. Kemarin dia menelpon, menitipkan semua barang sementara di sini. Dia akan mengambil barangnya ke sini kalau ada waktu.”
“Jadi, Sydney ...” Rey merasa suaranya tiba-tiba gemetar, seperti kedua lututnya.
“Sepertinya dia memang sedang membutuhkan pekerjaan sekarang. Kalau perlu nomor telponnya, saya ada.”
Rey mengangguk, merasakan ada yang tiba-tiba hilang dari dadanya. Sydney di Drop Out tanpa alasan? Apakah IP-nya begitu rendah? Tapi mahasiswa bidik misi tidak semudah itu diDO. Rey memutar otak, mencari berbagai alasan yang mungkin terjadi. Apa karena dia menyerang pelatihnya waktu itu? Bukankah pihak kampus menutup kasus itu?
“Ini.” Perempuan itu mengulurkan secarik kertas.
“Mama...” gumam Rey memastikan dirinya, “Ini pasti Mama.”
“Apa?” tanya perempuan itu heran.
Rey meraih kertas itu, mengucap terima kasih dan setengah berlari menyusuri gang dan memasuki mobilnya dengan nafas menderu. Melemparkan foto Sydney di bangku sebelahnya dan mengambil ponsel tit tut di dashboard. Dengan nafas yang tidak bisa dikendalikannya untuk teratur, Rey mendial sebuah nomor. Untung saja, suara di seberang segera menjawab.
“Apa yang terjadi? Katakan padaku, apa yang terjadi pada Sydney?” teriak Rey panik.
“Tenang Reynand, ada apa? Tenangkan dirimu.”
“Sydney diDrop Out dari kampus” ucap Rey gemetar, bahkan tangannya mulai ikut gemetar.
“Apa???”
Rey mendengar suara di seberang memerintahkan orang lain untuk mencari informasi. Rey menunggu dengan tidak sabar.
“Anda tenang saja, Rey. Aku akan mengatasi ini. Sepertinya, Mama anda mulai bertindak. Barusan ada laporan, Sydney dikeroyok orang tidak dikenal di kampung halamannya. Tapi anak buahku sudah membereskannya. Aku sudah menduga dia akan melakukan hal yang tidak bisa kita prediksi sebelumnya.”
Rey melempar ponselnya ke atas foto Sydney. Memukul kemudinya berkali-kali.
“Mamaaaa....” ucapnya geram.