MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Pilihan Hidup



Reynand membuka mata, dan mendapati dirinya ada di kamar kosnya. Lampu kamar padam, dan hanya sudut meja belajarnya yang masih benderang. Dia selalu terlelap dengan meninggalkan lampu meja belajar masih menyala. Karena dia selalu tidak berniat tidur ketika merebahkan badan di ranjangnya.


Perlahan Reynand duduk dan menyadari bajunya basah oleh keringat. Barusan dia mimpi buruk lagi. Melihat Sydney masuk ke dalam kobaran api dalam rumahnya. Reynand berusaha mengejar. Tepat sebelum gadis itu masuk ke dalam kobaran api rumahnya, tiba-tiba seseorang menariknya ke samping. Dan dia membawa lari Sydney bersamanya. Reynand berusaha mengejar, tapi yang dia dapati kemudian adalah kamar kosnya.


Mila dan Nenek Juma.


Dari dua wanita itu, seharusnya dia bisa mendapatkan banyak informasi tentang Sydney. Mereka kini sudah tidak dalam ketakutan lagi, karena sudah aman dan nyaman di rumah baru Reynand. Mama tirinya bisa jadi suatu ketika akan menemukan mereka. Dia punya banyak kaki tangan. Tapi pada saat itu terjadi, Rey yakin kondisi psikologis para pembantu di rumahnya sudah lebih baik. Tidak lagi merasa ketakutan, dan percaya diri bahwa mereka tidak lagi bekerja pada majikan gila seperti Mulan.


Dari Pengacara Julius, Reynand mendapat informasi bahwa Restoran Bluestar hendak dijual. Semua pegawainya mendadak berhenti karena manajer mereka berhenti lebih dulu, Arandi yang baru saja mengalami kecelakaan, tidak dapat lagi bekerja sebagai manajer. Reynand tidak mengira Arandi bisa membuat skenario sehebat itu. Entah bagaimana dia membayar Rumah Sakit untuk bisa membuatnya seperti korban kecelakaan tunggal.


Rey tersenyum-senyum sembari menyisir rambut dengan jemari. Saat dia menjenguk ke Rumah Sakit, Mulan baru saja keluar dari sana, setelah menyelesaikan semua urusan administrasi. Istri Arandi menyambutnya dengan suka cita dan Arandi sedang duduk di ranjang. Segar bugar dengan senyum mengembang.


Reynand menerima keputusan Arandi untuk pindah ke luar kota dan memulai bisnis baru. Itu lebih masuk akal dan lebih aman menurut Reynand. Setiap orang punya pilihan masing-masing, meski jalan untuk mengambil pilihan itu menentukan bagaimana akhlak dan karakternya. Tidak hanya Arandi, Mulan juga demikian.


Reynand keluar menuju balkon, setelah memastikan Hud tidak terbangun. Kasihan anak itu, dia selalu pulang larut malam menjelang sidang skripsinya. Rey hampir tidak sempat berbincang dengannya, kecuali saat hendak sholat subuh.


Rey menatap ponsel tit tut di tangannya. Banyak sekali urusan yang harus dia selesaikan, dan alhamdulillah satu per satu mulai bisa terurai. Dia menekan beberapa angka, lalu menelpon. Dia tidak yakin akan mendengar suara di seberang. Tapi baru dua kali nada tut, sebuah suara serak di sana membuatnya tersenyum.


“Merlin? Maaf aku mengganggu malam-malam begini.”


“Sudah pagi, Tuan.”


Reynand tersenyum.


“Aku minta tolong. Bisakah kau melakukan sesuatu untukku. “


“Dengan senang hati, Tuan.”


Reynand diam sejenak.


“Kau tahu kalau Bluestar adalah restoran riwayat. Papa melarang untuk menjualnya. Besok pagi, aku ingin kau menemui Pengacara Julius. Katakan kalau kau ingin membeli Bluestar.”


Hening.


“Saya membeli untuk Tuan Reynand, benar begitu Tuan?”


“Ya. Tapi aku tidak ingin ada yang tahu. Aku yakin kau bisa membuat banyak alasan bagus kenapa harus membeli Bluestar. Mungkin, untuk Regina?”


“Ah, Tuan. Itu berlebihan. Anak itu masih belum bisa apa-apa.”


“Kalau begitu dia harus belajar. Semua mantan pegawai Bluestar akan mengajarinya.”


“Ya, saya dengar itu. Mereka serempak mengundurkan diri.”


OoO


Darmaji berdiri di sebelah ranjang majikannya. Memindai seluruh tubuh majikannya dalam balutan piyama tipis. Wanita itu memang luar biasa cantik bila sedang terlelap. Apalagi bila matahari pagi menerpa lembut wajahnya, dan angin pagi dari jendela yang memainkan tirai halus, juga memainkan anak rambutnya. Dia seperti bidadari yang sedang beristirahat di bumi.


Darmaji betah memandangi wajah cantik majikannya berlama-lama. Kadang, seberapa penting urusannya, dia menunggu majikannya sampai terbangun sendiri. Saat seperti ini adalah saat dunia berada di tangannya. Dia menguasai seisi rumah ini, beserta pemiliknya. Meski tidak hitam di atas putih. Dia puas memandangi wajah cantik Mulan, yang dulu saat menjadi istri Tuan Besarnya, dia hanya bisa mencuri-curi pandang. Berharap suatu ketika bisa memilikinya utuh, sempurna seperti sekarang. Dan ketika saat itu tiba, dia tak pernah menyia-nyiakan sedetikpun kebersamaannya bersama Mulan. Dia tahu, Tuan Bramantya pasti mengutuknya dari alam kubur. Tapi apa yang bisa dilakukan lelaki itu selain menyesali kenapa dia harus mati dan meninggalkan wanita cantik sebagai warisan?


Mengingat itu, Darmaji tersenyum puas. Teringat bagaimana antusiasnya dia ketika Mulan menjanjikan tubuhnya, bila Darmaji membantunya. Melenyapkan Tuan Bramantya tanpa dia harus mengotori tangannya. Meski dia harus memendam rasa dosa yang membubung sampai ke langit bila menatap Tuan Muda Reynand. Bukankah dalam hidup kita hanya punya satu kesempatan yang tidak bisa diulang? Dan Darmaji tidak ingin kehilangan kesempatan mendapatkan Mulan. Wanita yang telah membutakan hatinya selama ini.


Mulan memang memperlakukannya seperti anjing. Memerintahnya seperti budak. Tapi, Darmaji tak pernah merasa terhina. Asalkan bisa bersama Mulan, selamanya. Wanita itu sudah memberinya  segalanya. Rumahnya dan tubuhnya. Meski Darmaji tahu, harga tubuh wanita itu sangat murah. Dia mudah memberikannya pada siapa saja, agar ambisinya tercapai.


Mulan membuka mata dan mendapati Darmaji menatapnya mesra.


“Apa yang kaulakukan di sini?” sergahnya, lalu membalikkan badan. Darmaji melihat punggung perempuan itu terbuka.


“Apa Nyonya sudah lebih baik? Semalam Nyonya meriang.”


“Sudah. Obatnya manjur.”


“Saya bisa mendapatkan obat itu lagi bila Nyonya menghendaki. Tapi harganya lumayan mahal.”


Mulan mendesah, lalu duduk di atas ranjang. Rambutnya acak-acakan, tapi di mata Darmaji dia tampak luar biasa.


“Ada kabar apa hari ini?”


“Pengacara Julius sudah mengurus Restoran Bluestar. Dia barusan mengabari kalau sudah ada calon pembeli.”


“Siapa? Reynand?”


“Bukan. Seorang wanita muda. Dia baru pulang dari luar negeri. Sepertinya dia chef lulusan luar negeri.”


“Hm, apa Reynand belum mendengar kalau Bluestar akan kujual? Aku tahu dia tidak akan mengijinkan restoran itu dijual. Papanya sudah berpesan begitu. Sepertinya dia belum mendengar. Kalau dia mendengar, dia pasti akan membelinya lebih dulu. Kau tahu, aku terpaksa menjualnya. Aku butuh banyak uang untuk satu gebrakan terakhir. Maskapai akan menjadi milikku.”


Mulan tersenyum licik.


“Satu lagi, Nyonya. Saya sudah mendapat beberapa pembantu pengganti. Jadi, kita bisa sarapan di rumah pagi ini.”


Mulan bangkit dari ranjang dan menuju jendela. Membukanya lebar-lebar, hingga angin memainkan baju piyamanya yang tipis. Darmaji menikmati semua pemandangan di depannya dengan kebahagiaan menyesaki dadanya. Dia memiliki semua yang tampak di hadapannya. Adalah perkara mudah baginya untuk menyulut kemarahan Mulan, hingga wanita itu akan menggila. Kemudian mereka pun akan menyatu seperti yang selalu diimpikannya, setiap malam.