
Reynand tidak pernah membayangkan dia akan berdiri di ruangan ini, dengan latar foto pesawat-pesawat miliknya menghiasi dinding. Berdiri tepat di hadapan foto besar almarhum Ariel Bramantya, layaknya yang biasa dilakukan almarhum semasa hidupnya. Dengan jas hitam resmi yang dikenakannya, semua yang ada di ruangan ini mengakui bahwa dia memang layak menjabat sebagai Presdir Eagle Air.
“Kau bisa memulai, setidaknya ucapkan sesuatu, “ bisik Hud yang berdiri tidak jauh dari Rey.
Rey menoleh padanya sekilas. Hud mengangguk, memberi motivasi. Lalu mengacungkan jempol di dadanya. Rey merasa, kali ini malah jauh lebih berat daripada menjumpai Dewan Direksi untuk pertama kali. Saat itu, dia sudah mempelajarai sebuah buku bajakan yang dibelinya online, tentang bagaimana menjadi bos yang baik dan benar. Dan kedatangannya ke kantor Maskapai pertama kali adalah untuk menggertak para Dewan Direksi, menunjukkan bahwa Reynand Bramantya adalah pemilik sah Eagle Air. Meski dia hanya seorang anak kuliahan. Dan menurutnya, gertakan itu berhasil sampai sekarang.
Kali ini berbeda. Di ruangan ini, semua pembantu Rumah Coklat—atas ide Mila—berkumpul di ruangan ini untuk pertama kali, sejak rumah ini didiami oleh keluarga Bramantya. Biasanya para pembantu hanya berjumpa dengan majikan saat pertama kali kerja, saat mau gajian, dan saat mau berhenti. Yang terakhir, sering tidak terlaksana. Mereka biasanya tahu-tahu menghilang dan tidak kembali. Tapi sekarang, rapat model seperti ini bisa digelar.
Mila ternyata orang yang mendapat dukungan semua pembantu, tukang kebun dan satpam. Padahal dia bukan Kepala Pelayan. Para pembantu sudah mengetahui tindak tanduk Darmaji, dan mereka muak melihatnya. Tapi mereka tidak bisa apa-apa, karena masih membutuhkan pekerjaan. Maka ketika Reynand tahu-tahu muncul di Rumah Coklat, mereka seperti mendapatkan kembali Pangeran tercinta yang diusir dari kerajaan oleh Ibu Suri tiri. Bagi mereka, Rey-lah yang berhak mendiami rumah ini karena dia keturunan asli Tuan Bramantya.
Rey duduk di tepi meja kerja ayahnya, sembari menahan badan dengan kedua tangan di meja. Menatap wajah-wajah asing yang duduk di sofa. Juga seraut wajah sepuh yang sejak tadi tidak berkedip menatapnya. Rey menahan diri untuk menginterogasinya, meski hal itu bisa dilakukannya. Para pelayan yang lain harus diselesaikan dulu masalahnya.
“Rey ...” ucap Hud mengingatkan kembali. Rey mengangguk, lalu menarik nafas agak panjang, menghimpun kepercayaan diri.
“Eh ... sebelumnya aku minta maaf, tahu-tahu pulang. Aku hanya ingin mengambil beberapa barang saja. Setelah itu, aku akan pulang lagi.”
Hud mencelos. Dikiranya anak itu akan berpidato resmi di hadapan para pembantu, apalagi ini di ruang kerja pemilik Eagle Air. Padahal sejak tadi, gesturnya sudah menunjukkan wibawanya. Ternyata berhadapan dengan para pembantu—bagi Reynand—yang diperlukan hanyalah keakraban.
“Rumah Tuan Reynand di sini,” sahut Bakri, “Kembalilah, Tuan. Kami akan menjaga Tuan selama di sini.”
“Tidak bisa seperti itu. Rumah ini diwariskan ke Mama. Aku tidak punya hak lagi di sini. Kalian tahu sendiri, bagaimana dia mengusirku malam itu.”
“Tapi ini rumah Tuan Reynand sejak lahir, “ sahut pembantu yang lain, “Selama ini kami bertahan karena kami yakin tuan akan kembali.”
Semua saling menyahut setuju. Hanya wajah sepuh itu yang diam.
“Kalian semua adalah anak buah Darmaji. Dia yang menentukan. Kalau kalian tidak betah di sini, silahkan disampaikan ke Darmaji. Aku yakin dia orang yang cukup bijaksana.”
“Cih. Dia itu seperti Tuan besar di sini. Anda tidak tahu apa yang dia lakukan bersama Nyonya besar kan? Mereka ...”
“Stop!” ujar Rey sembari mengangkat telapak tangan, membuat semua lisan terhenti melancarkan protes. Rey tidak ingin mendengar apapun tentang Darmaji dan Mamanya. Sewaktu tinggal bersama di rumah inipun, dia sudah banyak menduga. Dia tidak ingin pikirannya disibukkan dengan urusan tidak penting.
“Aku di sini bukan untuk membahas itu. Itu urusan Mama dengan Darmaji.”
“Tapi kelakuan mereka membuat kami tidak betah. Rumah ini seperti tempat maksiat saja.”
“Sudah, cukup. Aku tidak mau dengar lagi. Jadi begini, kalau kalian tidak betah lagi di sini, kalian bisa menghubungi bodyguard-ku. Aku coba carikan pekerjaan di Bluestar atau di maskapai.”
Semua mengangguk-angguk setuju.
“Sementara ini, aku ingin kalian melindungi nenek di depanku ini.”
Rey menatap Nenek Juma. Pandangan mereka saling bertaut beberapa detik. Rey merasakan denyar aneh di dadanya. Ada sesuatu pada diri Nenek Juma—bukan sekedar dia nenek Sydney. Lebih dari itu.
*Nenek Juma, orang yang sangat penting bagi Tuan Reynand,” ucap Mila, “kita harus menjaganya di sini. Dia sudah mengalami kejadian yang sangat buruk akibat Nyonya Mulan. Kalau kita mendukung Tuan Reynand, kita harus selalu mendukung dan melindungi Nenek Juma.”
Rey menatap Mila. Pembantu yang satu ini, sepertinya lebih cerdik dari Darmaji.
***
Para pembantu, tukang kebun dan satpam sudah kembali bekerja. Di ruang kerja itu tinggal Rey, Mila dan Nenek Juma. Hud mengambil waktu dengan berkeliling Rumah Coklat.
“Nenek ....” ucap Rey dengan suara seolah tercekik. Nenek Juma menatapnya lekat-lekat. Mila duduk di sebelahnya, memeluk punggungnya.
“Kamu Reynand Bramantya, anak Tuan Bramantya. Benar, kan?” tanya Nenek Juma, suaranya terdengar gemetar.
Rey mengangguk sembari tersenyum. Rupanya sejak tadi Nenek Juma mengamatinya, bisa jadi karena pendengaran atau pandangannya berkurang. Rey bersiap menjawab pertanyaan apapun dari Nenek Juma, meski itu harus mengulang jawaban dari pertanyaan para pembantu tadi.
“Kamu mirip dengan ... “
“Dengan foto di dinding itu,” sahut Mila sembari menunjuk gambar Ariel Bramantya, dan menepuk-nepuk bahu Nenek.
Rey menoleh ke arah foto ayahnya, dan kembali mengangguk ke arah Nenek Juma.
“Zura ... dia ... aduh.”
Nenek melotot ke arah Mila. Mila tersenyum lebar ke arahnya. Mila telah mencubit punggung Nenek Juma.
Jadi, ini belum saatnya? Tanya Nenek Juma dengan pandangan matanya. Mila mengangguk-angguk.
“Nek, aku ingin bertanya. Dari mana nenek mendapat gambar itu? Yang digantung di kamar Mila.”
“Sydney Azura. Dia cucu nenek, kan?”
Nenek mengangguk. “Kau mengenal cucuku. Dia sangat cantik. Dia sangat mirip...”
“Ibunya. Almarhum ibunya,” sahut Mila. Nenek kembali merasakan cubitan di punggungnya. Dia mengeram kesal.
“Di mana Sydney sekarang?”
“Kau memanggilnya Sydney?”
Rey mengangguk. Sementara Nenek merasakan tangan Mila sudah siap siaga di punggungnya.
“Dia... dia ...”
“Ya? Dia di mana, Nek?” tanya Rey berusaha untuk bersabar menunggu. Dia yakin, Nenek di depannya ini sudah mulai menurun daya ingatnya. Semoga dia masih ingat cucunya ada di mana.
“Dia sudah meni...”. Sebuah cubitan yang lebih keras di punggungnya, membuat Nenek Juma bergerak reflek, menyikut perut Mila. Mila mengaduh, namun masih sempat menguasai pembicaraan. Perutnya terasa mulas tiba-tiba. Tenaga Nenek Juma tidak diperkirakannya sama sekali.
“Dia sudah meninggalkan Surabaya, “ desis Mila sembari menggigit bibir, menahan sakit. Nenek Juma meliriknya kesal, seolah berkata “Jangan cari gara-gara dengan Nenek Juma.”
Rey menatap Mila. Dari tadi, perempuan ini menyambar kalimat Nenek Juma, memutus kalimat-kalimatnya.
“Percayalah padaku. Pasca rumah mereka kebakaran, Nenek Juma menjadi depresi. Kata dokter, depresi berat yang dialaminya membuat dia mulai pikun. Makanya dia kubawa kemari, karena aku khawatir meninggalkannya seorang diri di desa. Dia selalu berandai cucunya sudah pergi karena sudah menikah dengan orang yang dicintainya. Padahal, cucunya sudah pergi karena ...”
“Karena?” Rey tidak sabar melihat Mila dan Nenek Juma masih saling pandang sebelum menjawabnya.
“Karena ayahnya menjemputnya, “ sahut Mila kemudian, “Dia dalam perlindungan ayahnya.”
“Ayahnya?”
“Ya, pasca kebakaran itu, ayahnya yang sudah lama meninggalkannya, tiba-tiba menelpon. Dan dia merasa bertanggung jawab atas kehidupan Azura. Maka dia menjemput Azura, dan membawanya tanpa memberitahu kami, ke mana.”
Rey menarik nafas panjang dan merebahkan punggung di sofa. Matanya menatap langir-langit, terlihat putus asa.
“Mohon maaf Tuan Reynand, kalau boleh tahu, kenapa cucu Nenek Juma bisa mengalami kejadian seperti ini. Maksudku,dia bukan siapa-siapa. Bukan orang yang kaya atau punya jabatan yang membuat Nyonya Mulan bertindak keji untuk menyingkirkannya?”
Rey bangkit dari sofa, berjalan menuju meja dan menatap foto besar Papanya.
“Ini semua karena aku .... aku menyukai Sydney.”
Nenek Juma dan Mila terperangah.
“Dan, Sydney ... aku tidak tahu. Dia hanya melindungiku dari Mama. Dia, menjatuhkan Mama di depan orang banyak, mempermalukannya. Dan Mama, tidak bisa menerima itu.”
Hud tiba-tiba muncul dari balik daun pintu.
“Rey, sepertinya kita harus segera pulang. Bakri memberi kabar, mereka sudah masuk Surabaya.”
Rey membalikkan badan, menuju Nenek Juma dan menggenggam erat tangannya.
“Masih banyak yang akan aku tanyakan pada Nenek. Kuharap depresi Nenek segera sembuh, jadi bisa mengingat semuanya. Aku harus pergi. Aku akan kembali lain waktu.”
Depresi? Nenek merutuk Mila dalam hati. Awas kau, Mila.
Nenek tersenyum lebar dan membalas genggaman tangan Rey. Rey merasa tangan Nenek Juma begitu kuat.
“Tolong jaga gambar Sydney untukku ya, Nek. Dia pasti akan mengingatku. Aku yakin, kami akan bertemu lagi, untuk ketiga kalinya.”
Tiba-tiba Nenek meraih Rey dalam pelukannya. Rey tidak menolak. Dia balas memeluk Nenek Juma erat.
“Rey ...” panggil Hud.
Rey melepaskan pelukan Nenek Juma, dan dilihatnya sepasang mata keriput itu berkaca-kaca. Perlahan dia bangkit dan menuju pintu. Namun di ujung pintu, dia berhenti dan membalikkan badan. Menatap Mila tajam, membuat Mila menyurut.
“Mila, dari mana kau tahu kalau semua yang dialami Sydney, Mamaku yang melakukannya?”