MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Musuh Di Depan Mata



Rumah Coklat di pagi hari identik dengan kesibukan para pembantu. Darmaji selaku Kepala Pelayan membawahi 3 pembantu, 2 tukang kebun, 2 satpam yang bergiliran menjaga. Tambahan satu orang lagi, Nenek Juma—para pembantu memanggilnya demikian. Darmaji agak pusing menempatkan Nenek Juma. Meski dia cekatan, tapi Darmaji tidak tega. Katanya teringat ibunya sendiri. Tapi, tinggal di Rumah Coklat bukan menumpang hidup gratis. Setidaknya harus menjadi orang yang bergua, atau Nyonya besar akan mendepak begitu saja. Jadi Darmaji menyerahkan semua urusan Nenek Juma pada Mila. Lagipula, tidak ada tambahan kamar, dan dia tidur di kamar Mila.


“Dia bisa menjadi apa saja di rumah ini,” ucap Mila ketika Darmaji menanyakan apa keahlian Nenek Juma, selain menyapu halaman, “Tukang masak, tukang kebun, bahkan satpam.”


“Dengan usia setua itu, aku tidak akan mengeluarkan dana tambahan untuk berobat, bila dia mengerjakan semua pekerjaan itu. Kamu saja mudik kilat sudah kena flu. Bagaimana flu-mu?”


Mila menyusut hidungnya dengan dua jari. Ada sedikit bunyi. Darmaji mengangguk. Darmaji selain mengatur pembagian kerja di Rumah Coklat, dia juga memegang keuangan untuk operasional dan gaji bawahannya. Nyonya Mulan mempercayakan semua padanya. Karena dia sendiri sibuk mengejar ambisinya.


“Dia bahkan bisa mengejar maling.” Mila kembali mempromosikan Nenek Juma.


Darmaji hanya mengedik bahu, tak percaya. Dia bersiap hendak mengantarkan Nyonya arisan istri Dewan Direksi. Saat ini, wanita gila itu berambisi merebut Maskapai dari anak tirinya. Beberapa kali Mila menguping pembicaraan wanita itu menyusun rencana entah dengan siapa. Orang-orang datang dan pergi, membawa banyak kertas dalam tas koper. Belum lagi uang berbendel-bendel yang kadang bergeletakan di ruang kerja Tuan Bramantya. Mila merasa jijik melihat majikanya, memakai ruang kerja almarhum suaminya. Seolah dia adalah Presdir Maskapai. Kalau Mulan selesai memakai ruang kerja almarhum suaminya, Mila memastikan ruangan itu dibersihkannya sampai bersih. Bersih dari kotoran dan dosa. Bagaimanapun, dia pernah berjanji pada Tuan Bramantya—saat pertama kali bekerja di sini dan majikannya itu mewawancarainya langsung—untuk selalu berkomitmen membuat Rumah Coklat bersih.


Apalagi kalau preman-preman—orang dengan tampang sangar dan bertato datang. Mereka selalu berbau alkohol. Kata Darmaji, mereka tukang pukul Nyonya Mulan, bukan bodyguard. Bodyguard Nyonya Mulan adalah Darmaji—meski bagai Mila itu tidak ada bedanya. Mila memilih menghindar bila mereka datang, dan menyuruh pembantu lain mengantarkan minuman. Mereka duduk seenaknya di ruang kerja Tuan Bramantya, kadang mengotori sofa dengan lumpur kering.


“Kapan-kapan kita buktikan kemampuannya.”


Darmaji mematikan televisi di dapur, sembari melirik Nenek Juma yang sedang membereskan piring sisa makan para pembantu. Ada suara-suara di ruang tamu. Sepertinya ada yang datang, dan Darmaji segera menemuinya.


“Mereka datang lagi, “ bisik Mila pada Nenek Juma yang sedang mencuci piring, “Kau mau melihat tampang mereka? Siapa tahu kalau ketemu di jalan, kau bisa menghajarnya.


“Tujuanku di sini bukan mereka. Aku yakin, mereka sudah mendapat hajaran dari Zura. Zura lebih baik dari aku, karena dia ikut taekwondo.”


Mila tersenyum pendek.


“Setelah ini, Darmaji  dan Nyonya akan keluar. Kau bisa kuajak berkeliling rumah.”


Nenek Juma mengangguk. Dia sudah tidak sabar mengetahui apa saja yang ada di dalam rumah ini. Berkali-kali kesempatan itu tertunda karena Nyonya rumah atau Darmaji ternyata hanya keluar sebentar. Belum lagi para pembantu yang berkeliaran. Mereka berdua tidak ingin menimbulkan kecurigaan. Namun, tiba-tiba dia teringat sesuatu.


“Mila, bagaimana Azzura?”


“Kurasa dia sudah sampai di Jepang. Aditya juga. Dia akan menelpon kalau sudah bertemu induk semangnya di sana.”


“Syukurlah. Bagaimana mereka berdua?”


“Siapa?”


“Cucuku dan suaminya.”


Mila tersenyum geli, lalu menepuk pundak Nenek Juma.


“Kau tidak bisa memberi ancaman pada pengantin baru. Meski mereka belum punya surat nikah, mereka sudah halal berbuat apa saja. Apalagi beberapa hari tinggal satu kamar. Kalau kulihat saat mereka berpisah di bandara ... aku khawatir.”


Nenek Juma mengernyit, “Khawatir apa?”


“Sembilan bulan lagi kamu punya cicit.”


Nenek Juma mendelik. “Aku mau menelpon Zura sekarang!”


“Setelah ini kamu bisa menelpon dia tiap jam. Tapi rumah kosong tidak tiap jam. Ayo.”


Mila menggamit Nenek Juma keluar dari dapur. Nenek Juma mengikuti langkah Mila, mengitari rumah dan sampai di sebuah jendela kayu yang terbuka lebar. Mila menyerahkan sapu lidi, dan Nenek Juma menerima tanpa membantah. Mila sekarang atasannya, yang menjamin kehidupan dan keselamatannya. Meski untuk urusan bahaya mengancam, Nenek Juma jelas lebih piawai dari Mila. Jadi, tidak ada gunanya menunjukan siapa yang lebih tua dan punya pengalaman hidup lebih banyak. Itu tidak penting sekarang.


“Dasar tidak punya otak!” teriak Mulan, suaranya serasa menggetarkan daun jendela.


Para preman itu pasti sedang melapor. Dan, laporan itu membuat Mulan murka. Berkali-kali dia menggebrak meja. Mila bisa membayangkan bagaimana wajah preman sangar bertato itu tertunduk, tak berdaya. Mulan benar-benar wanita luar biasa, hingga bisa membuat preman itu ketakutan seperti itu.


“Kenapa kalian baru kemari? Kenapa tidak sore kemarin?” bentak Mulan.


Mila dan Nenek Juma memasang telinga sembari pura-pura menyapu halaman yang tidak kotor. Para preman itu bergantian melapor, membela diri.


“Kemarin siang sampai sore, kami masih mengawasi Homestay, Nyonya. Resepsionis bilang mereka keluar, biasanya sebentar. Tapi...”


“Sampai malam mereka tidak kembali. Sampai pagi tadi.”


“Mereka sudah membayar di muka, seharusnya masih satu minggu lagi di situ.”


Terdengar suara seseorang ditempeleng. Mila dan Nenek Juma saling berpandangan.


“Kali ini, aku tidak mau pakai acara mengintai. Seret anak itu ke sini. SEKARANG!”


“Tapi Nyonya ...”


“CARIIII ...”


Bug.


Mila mendengar suara mengaduh tertahan. Pasti ada yang sudah menjadi sasaran pukulan. Lalu pintu dibuka dan dibanting, hingga menggetarkan kusen-kusen jendela. Nyonya Mulan keluar dari ruang kerja Tuan Bramantya. Mila membayangkan, hari ini dia harus mengepel ruangan itu. Dia berharap preman itu tidak muntah seperti sebelumnya. Kata Darmaji, Nyonya mereka menendangi preman itu seperti orang gila kambuh. Tidak bisa dihentikan. Dia berhenti ketika sudah kehabisan tenaga.


“Majikanmu bisa ilmu apa?” bisik Nenek. Dia pasti mendengar suara pukulan itu, meski pendengarannya sudah mulai menurun.


“Ilmu apa maksudmu?”


“Silat atau tinju. Seperti Zura, taekwondo.”


“Dia hanya punya 1 ilmu. Gila. Kudengar dia menjalani terapi gilanya itu.”


Nenek Juma dan Mila kembali pura-pura menyapu. Kali ini lebih dekat ke bawah jendela, sambil memasang telinga lebih lebar lagi.


Terdengar nafas lega dari salah seorang preman. Dan suara melempar badan di sofa.


“Terus kita cari ke mana, Bos?”


“Aku pikirkan dulu.”


“Kurasa anak Nyonya tahu.”


“Ya, sudah jelas. Kau lihat sendiri kan, sepertinya mereka saling suka. Itu kesempatan bagus.”


“Kita datangi anak Nyonya.”


“Dia itu Presdir, punya bodyguard.”


“Bodyguard kunyuk. Kamu merampas tasnya saja tidak bisa.”


Bug! Bug!


Terdengar suara mengaduh tertahan. Rupanya bos tukang pukul itu memukuli anak buahnya.


Nenek menggamit lengan Mila, lalu menatapnya seperti minta ijin.


“Gimana kalau aku masuk ke ruangan itu sekarang?”


“Nanti saja, tunggu mereka pulang. Baru kita bersihkan.”


“Maksudku, aku akan membereskan mereka. Kalau mereka tidak bisa jalan lagi, maka Tuan Mudamu selamat. Anakku juga.”


Mila mendecih.


“Kau pikir Nyonya gila itu hanya punya tiga preman itu?”