MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Tersangka Baru



Rey merasakan angin dingin menyeruak masuk ke dalam kamarnya. Perlahan dia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon. Darmaji membantu Rey menutup pintu balkon yang agak sulit ditutup. Kayunya mulai mekar karena lembab.


“Apa Papa tahu kalau ibuku sudah tiada?”


“Tuan besar tidak pernah menyinggung masalah ibu Tuan muda semenjak tuan muda dibawa ke rumah coklat. Nyonya besar sepertinya juga tidak tahu.”


“Tapi Mama tahu kalau aku anak pembantu itu.”


“Beliau tahu beberapa tahun kemudian, “ sahut Darmaji, suaranya semakin parau,” Pernikahan tuan muda dan pembantu itu, tidak ada yang tahu. Pernikahan itu terjadi setelah pembantu itu berhenti.”


“Lalu?”


“Sekali lagi, Nyonya besar adalah Mama yang luar biasa, membesarkan Tuan muda yang bukan darah dagingnya sendiri.”


Rey mendesah. Tidak salah. Kebencian Mama pada pembantu yang telah memberi anak pada suaminya, telah membuatnya bertindak gila. Dia tidak ingin Rey tumbuh sebagaimana lelaki pada umumnya. Dia mencetak Rey menjadi banci. Menjadi macan ompong.


“Di mana mereka menikah?”


“Di Australia.”


Rey membalikkan badan. Menatap Darmaji lekat-lekat. Begitu detil kisah ini, dan Darmaji diam saja tidak memberitahunya.


“Kenapa kau baru mengatakannya padaku?”


“Tuan besar berpesan, hanya jika Tuan muda bertanya. Jika Tuan muda bertanya, itu tandanya tuan sudah siap menerima situasi dan kondisi apapun.”


“Kau sungguh tega padaku, Dar.”


“Tuan tahu sendiri bagaimana saya selalu melindungi Tuan. Tuan tentu ingat, bila Nyonya marah, saya yang selalu menyelamatkan Tuan. Tuan sudah seperti anak saya sendiri. Saya hanya mematuhi Tuan besar.”


Rey terdiam. Darmaji pernah menikah, tapi setahu Rey istrinya minta cerai sewaktu Rey duduk bangku SMA. Karena Darmaji memang lebih sering di rumah coklat daripada di rumahnya sendiri. Mereka tidak punya anak bertahun-tahun. Pantas bila Darmaji menganggap Rey seperti anak sendiri, karena memang cuma Darmaji yang setiap hari membersamainya, mengajaknya ke taman bermain, dan melindungi dari amukan Mamanya bila sedang marah. Rey bahkan punya tempat persembunyian yang dibuatkan Darmaji. Tempat Rey bersembunyi bila Mamanya marah karena Rey tidak berangkat les balet atau piano. Dan bila tak satupun pembantu berhasil menemukan Rey, mereka langsung dipecat. Tentu saja Darmaji yang selalu berhasil menemukannya.


Rey mendesah panjang. Sepeninggal Papa, dia semakin tidak mengerti keluarganya sendiri.


“Saya pamit dulu, Tuan. Nyonya sedang sakit.”


Rey bergeming, tak menunjukkan empati sama sekali. Darmaji maklum.


“Kau ke sini untuk memberitahuku? Aku tidak akan menjenguknya, kau tahu itu.”


“Saya mengerti. Sehari sebelum Nyonya sakit, seorang perempuan muda datang ke rumah. Mencari Tuan Muda.”


Rey menoleh. Perempuan muda? Siapa?


“Dia membawa sketsa dari Tuan.”


Rey menegak. Jantungnya bersicepat. Sydney?


“Mau apa dia ke sana?” tanya Rey, tiba-tiba gelisah. Bila Mamanya sampai tahu siapa Sydney, gadis itu bisa saja tidak selamat.


“Dia mencari Tuan Muda, dia mengira Tuan Muda tinggal di rumah coklat.”


“Lalu, Mama bagaimana?”


“Nyonya mengusirnya. Dia sangat marah, mungkin itu penyebab darah tingginya kambuh.”


“Jauhkan dia dari Mama, Darmaji. Jangan biarkan dia datang lagi.”


“Saya sudah memberitahunya, Tuan. Kalau saya boleh tahu, siapa perempuan itu? Sepertinya dia orang yang istimewa.”


Rey ragu. Apa Darmaji bisa dipercaya? Dia orang terdekat Mama. Bisa jadi, dia sedang mencari informasi siapa Sydney sebenarnya, atas perintah Mama. Rey harus berhati-hati.


“Seperti kau bilang tadi, soal majalah kampus.”


“Di internet sudah beredar isu tentang kematian Tuan besar. Mungkin dalam waktu dekat, Tuan Muda akan dicari-cari wartawan.”


Rey berdiri, berjalan menuju pintu dan membukanya.


“Aku tahu aku bisa mengandalkanmu soal ini Dar. Yang tahu rumah ini hanya kau dan pengacara Julius.”


Darmaji berdiri di dekat Rey. Pemuda itu lebih tinggi darinya, dan tak mau menatap wajahnya. Hanya menunduk menatap jemari kakinya. Wajahnya tertutup poni rambutnya. Dan, dia mulai tampak tidak terawat. Rambutnya, kulitnya, dan kukunya. Teman kostnya pasti sangat berpengaruh padanya.


“Sampaikan pada Mama. Aku akan datang kalau dia menikah dengan Ibrahim,” ucap Rey perlahan, sembari mengangkat wajah, memindai Darmaji, “setidaknya, aku tidak menjadi anaknya lagi bila dia melakukannya. Jadi, aku harus merayakannya. Kau setuju?”


Darmaji menelan ludah.


Rey menutup pintu begitu Darmaji melangkah keluar. Bergegas menuju jendela. Begitu dilihatnya Darmaji keluar dari rumah kost, menuju ujung gang, Rey segera mengeluarkan ponsel dari laci mejanya. Ponsel tit tut. Mendial satu dari dua nomor yang ada di sana,


“Halo, pengacara Julius?”


“Reynand Milan Bramantya …. Akhirnya kau menghubungiku.”


Suara di seberang seperti orang yang baru saja mendapat udara segar setelah disekap di ruangan pengap.


“Bagaimana perkembangannya?”


“Kau benar. Ibrahim masuk dalam tersangka. Tidak ada yang mengira kalau kau tidak menyebutkan nama itu.”


Rey tersenyum. Sepertinya, semua akan menuju titik terang.


“Mama?”


“Kami belum mengarah ke Nyonya Bramantya.”


“Kau bisa melihat isi ponsel Ibrahim. Mereka berselingkuh di belakang Papa.”


“Ini baru menarik.”


‘Tapi, aku tidak yakin masih ada bukti di sana. Tapi aku punya ponsel Mama yang lain. Mungkin aku akan mengirimimu beberapa gambar.”


“Sepertinya kita harus bertemu, Rey Informasimu sangat membantu penyelidikan. Semua Dewan Direksi itu sepetinya sudah membuat scenario busuk. Semua jawaban pertanyaan polisi nyaris sama, kelihatan sekali kalau mereka sudah menghafal teksnya.”


“Emmm …Aku bisa minta tolong?” tanya Rey ragu.


“Apa itu?”


“Aku perlu mencari informasi tentang seorang teman di kampus. Perempuan. Semuanya tentang dia. Kau bisa? Ini overtime.”


Terdengar Pengacara Juliusa terbahak di ujung sana. Sepertinya dia memahami ini urusan anak muda, yang tidak bisa diselesaikan dengan tatapan atau surat cinta.


“Aku punya orang yang piawai tentang hal itu. Kau bisa mengandalkannya.”


“Baik, aku tunggu.”


Rey tersenyum puas. Hari ini, dia bisa mengatur strategi hanya dari balkon kamarnya. Balkon kamar kos sederhana, atau kumuh kata Mamanya, tapi strategi besar dalam hidupnya dimulai di sini. Semua tentang masa lalu, masa kini dan masa depan.


***


Darmaji mengeram, mencengkeram setir mobil. Ingin dia mencekik lelaki bernama Ibrahim. Betapa bodohnya dia selama ini. Bahwa, tentu saja Nyonya besar lebih memilih lelaki yang lebih bermartabat, bukan kepala pembantu seperti dia. Sepeninggal Tuan Besar, sangat masuk akal bila dia kemudian menikah lagi dengan orang maskapai, bukan dengan pembantu.


Darmaji mengutuk dirinya sendiri. Beberapa pertemuan orang maskapai dengan Nyonya besar memang dia yang mengatur. Juga pertemuan dengan Ibrahim. Semua dalam pengawasannya. Tapi, Nyonya besar menelikungnya di belakang, dia tidak bisa terima.