MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Saskia



Mas Rendra diberhentikan dengan tidak hormat. Ini aneh. Bukankah dia yang diserang oleh muridnya sendiri? Bukankah seharusnya Sydney yang mendapat sanksi? Sepertinya, Sydney mempunyai dukungan kuat di belakangnya, hingga apa yang sudah dia lakukan menjadi diputihkan begitu saja. Meski demikian semua anggota klub tetap menganggap Sydney telah melakukan kesalahan besar, terlepas dugaan kesalahan Mas Rendra—pastinya  demikian fatal—yang  ditutupi oleh pihak kampus.


Rey dan Hud saling berpandangan, tidak percaya dengan informasi yang baru mereka dengar dari salah seorang pelatih taekwondo lainnya, Mas Anto. Mas Anto adalah pelatih yang akhirnya bisa bertemu dengan Rey, setelah tiga kali janji mereka batal. Kejadian perkelahian di klub, membuat mereka bertemu dalam situasi yang tidak kondusif, sehingga tidak sempat membahas masalah Rey yang akan masuk klub.


“Tapi Sydney memilih keluar dari klub, “ ucap Mas Anto, “kurasa itu yang terbaik. Terus terang, karena perkelahian itu, kami terpaksa membatalkan oprec. Maaf.”


Hud dan Rey mengangguk paham. Mereka meninggalkan gedung latihan taekwondo dengan langkah gontai. Hud sedikit lega Rey tidak jadi ikut klub taekwondo, meski Hud yakin hal itu bukan perkelahian kemarin. Rey mencari Sydney, ingin lebih dekat dengan gadis itu. Hud kembali menganalisa dirinya, apa yang dia lakukan benar? Mengantar Rey pada seorang gadis? Apalagi gadis berjilbab. Hanya karena, mereka berdua beberapa kali beradu pandang? Hud memaki dirinya sendiri karena tiba-tiba dadanya terasa panas.


“Kau tidak tahu dia kuliah di fakultas mana?” tanya Rey sembari menjajari langkah Hud yang dipercepat. Dia harus bertemu dosen siang ini.


“Tidak.”


“Kau juga tidak tahu rumahnya?”


Hud menelan ludah. Dia tidak akan membawa Rey ke sarang perawan. Reynand tidak akan tahu bagaimana bersikap dan akan terkesan tebar pesona, meski dia tak berniat seperti itu. Kasihan gadis-gadis berjilbab itu, bisa jadi akan bernasib seperti Sydney. Terpesona seperti kisah nabi Yusuf, meski Rey tidaklah setampan itu.


Fokus Rey hanya pada Sydney dan Sydney. Lebih baik mereka bertemu di tempat umum. Demi kebaikan bersama, demi Sydney juga. Hud menebas pikiran buruknya bahwa Rey dan Sydney akan saling mengenggam tangan. Karena dilihatnya, baik Rey atau Sydney sama-sama menikmati momen itu.


“Aku ada nomor ponselnya.” ucap Hud seraya menghentikan langkah, merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponsel.


Rey berdiri di sampingnya, sementara Hud mencari nomor kontak.


“Ini nomornya. Kau mau?”


“Itu dia!” seru Rey sedikit menahan suaranya, seperti anak kecil menemukan mainannya yang lama hilang.


Hud menoleh. Rey menatap ke arah lain. Hud mengikuti pandangannya, dan benar saja dugaannya. Sydney sedang berjalan di selasar seberang, berbatas lapangan rumput. Yang membuat Hud heran, bagaimana Rey langsung bisa mengenali gadis itu, mengikuti langkahnya tanpa berkedip. Sedangkan Rey selalu lupa wajah orang di sekelilingnya. Bahkan wajah Hud yang setiap hari dijumpainya.


Ponsel Rey berdering. Rey menatap layar ponsel. Panggilan dari Pengacara Julius. Rey memasukkan ponsel ke dalam kantong celana setelah mematikannya. Dia tidak ingin kehilangan jejak Sydney, hanya karena masalah maskapai atau pembunuh ayahnya yang sudah mulai terlacak.


Gadis itu, lebih penting dari Maskapai.


Rey berjalan berkelit-kelit di antara gerombolan mahasiswa, memastikan bahwa matanya masih melekat pada gestur Sydney yang berjalan cepat dan sudah sampai di ujung selasar, menuju perpustakaan. Disesalinya tadi tidak sempat menyalin nomor ponsel dari Hud. Hud langsung ditinggalkannya begitu saja, saat gestur Sydney tertangkap matanya. Berjilbab, berjaket dan menyandang tas punggung abu-abu terang dan rok hitam yang juga lebar. Sepatu kets. Reynand yakin tidak akan salah orang, karena dia mengenali wajah Sydney.


Sydney berhenti di depan pintu perpustakaan. Seorang gadis berbaju bunga-bunga dan bercelana jeans, dengan rambut hitam mengkilat yang tergerai di bahunya, mengalungkan tangan ke leher Sydney. Reynand mengambil jarak, lima meter di belakang mereka, bersandar pada pilar bangunan perpustakaan, berpura-pura men-scroll ponsel yang telah dimatikannya. Dia memasang telinga lebar-lebar.


“Syd, thank you, thank you so much....”


Wanita itu hendak mencium pipi Sydney, tapi Sydney mengelak dengan tangkas. Wanita itu tersenyum, tampak tidak sakit hati dengan penolakan Sydney. Mereka bukan sahabat baik atau teman lama. Ada yang sudah dilakukan Sydney untuk wanita itu, yang membuatnya begitu berterima kasih.


“Tanpa bantuanmu, Mas Rendra tidak akan jadi milikku. *T*hank you...”


“Eit, sebentar. Mau jadi milikmu atau tidak, bukan urusanku, “ sergah Sydney seraya melepaskan rangkulan wanita itu di lehernya, “yang jelas, pikirkan bayimu itu. Mau kau bawa kuliah? Apa kamu tidak malu?”


Reynan merasa dadanya berdenyar, terlebih ketika dilihatnya Sydney menunjuk perut wanita itu, dan wanita itu tanpa malu mengelus perutnya. Analisa Reynand bergerak cepat menggali memory. Mas Rendra yang kasusnya ditutupi kampus. Apakah wanita ini...


“Ow, tenang saja, sayang. Mas Rendra dan aku sudah memikirkan sebuah nama yang cantik. Dan kau tahu, bahkan dia sudah menyiapkan rumah bagi kami berdua.”


“Hei ... bukan salahku kalau istrinya tidak bisa memberi anak...”


“Kamu memang....”


Rey melihat kedua tangan Sydney mengepal. Sepertinya, wanita itu sudah membuat Sydney begitu marah. Reynand bergegas mendekati kedua wanita itu dan berdehem agak keras, membuat konsentrasi keduanya pecah. Reynand tahu bagaimana efek tinju Sydney bila mengenai perut wanita itu.


“Hm.... Sydney?” tanya Reynand, langsung menghujamkan tatapan tajamnya ke sepasang mata Sydney yang membeliak terkejut.


Beberapa detik kontak mata. Dan Reynand merasakan kerinduan itu di sepasang mata Sydney. Kehangatan dan rasa nyaman yang menjalari seluruh tubuhnya. Perlahan Reynand menggerakkan tangan, hendak meraih tangan Sydney yang kepalannya sudah melonggor.


“Hei? Milan? Kamu Milan?” seru wanita di sebelah Sydney yang ikut membeliak menatap Reynand.


Rey tersentak. Tangannya berhenti di udara.


Tidak ada orang yang memanggilnya dengan nama itu, kecuali ....


“Milan, kamu lupa padaku? Aku Saskia Meladina, anak Despro. Jahat sekali kamu bisa secepat itu melupakan aku.”


Rey dan Sydney saling bertatapan, lalu menatap Saskia kebingungan.


“Saskia?” tanya Rey, mengernyitkan kening. Dia sama sekali tidak ingat.


“Kita kan satu SMA, Milan. Ingat, hanya aku yang memanggilmu, Milan kan?”


Rey menggali memorynya. Teman SMA. Seingatnya ada satu yang selalu memanggilnya Milan. Seorang perempuan genit yang selalu mengejarnya. Bahkan perempuan itu nekad naik pagar rumahnya, memaksanya untuk menjadi pacarnya. Dan Darmaji adalah orang yang selalu berhasil mengusirnya. Alarm Rey berdering. Perempuan ini lebih berbahaya dari Mamanya. Dia nekad menghembus issu bahwa dia sudah berpacaran dengan Rey, padahal Darmaji sudah mengusirnya dengan kasar.


“Jadi, kelakuanmu tetap saja dari dulu?” ucap Rey kemudian, setelah mengurutkan ingatannya.


Rey memindai Saskia dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan wanita itu merasa kegirangan. Sebelumnya, saat masih SMA, jangankan dipindai oleh Rey, melirik saja lelaki itu tak pernah. Sampai seisi sekolah menjuluki Rey—banci tajir. Dan Saskia bertaruh dengan geng-nya, dia bisa menaklukkan Rey dan berpacaran dalam kemewahan. Meski itu hanya mimpi di siang bolong.


“Ah, Reynand Milan Bramantya, kamu sudah bisa bicara sekarang? Aku sukaaa sekali.”


Saskia terkikik girang, lalu mendekatkan diri ke arah Rey. Rey mundur selangkah. Sydney menatap Saskia jijik. Sudahlah di rahimnya ada janin tanpa akad nikah, dia sekarang malah merayu Rey. Sungguh menjijikkan.


“Jangan mendekat!” sergah Rey, kembali mundur selangkah. Dasar wanita gila, dia malah mengibas rambut dengan tangannya, dan merapikan baju ketatnya.


Saskia tampak bergairah meliaht Rey. Dia mendekati Rey. Rey bergidik.


Tahu-tahu, Sydney merasakan aliran hangat di dadanya, melalui jemari tangannya. Rey menggenggam tangannya dan menariknya mendekat.


“Sekarang aku sudah punya kekasih. Sydney.”


Saskia membeliak, menatap dua manusia yang bergandengan tangan di hadapannya. Rey menangguk-angguk meyakinkan, sedangkan Sydney hanya bungkam. Mereka kelihatan canggung.


Dan Sydney tidak bisa menolak ketika Rey menarik tangannya, meninggalkan Saskia.