MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Rumah Baru



Nenek Juma baru tahu perilaku majikan Mila yang sebenarnya. Bila sudah mengamuk, semua barang dibanting. Bahkan meja makan bisa dibaliknya. Nenek Juma harus menahan diri tidak menghajar wanita itu. Dia sudah membantu pembantu lain untuk menyiapkan makan di meja makan, tahu-tahu Nyonya besar itu datang dalam keadaan murka. Di ruang tamu dia tidak menemukan apapun untuk dibanting. Dan ketika masuk ke ruang makan, semua hidangan yang sudah disusun disapunya begitu saja dengan satu tangan.


Mila mencengkeram tangan Nenek Juma yang sudah mengepal. Dirasakannya tangan itu gemetar menahan marah. Mila yakin, sekali Nenek Juma turun tangan, Mulan bisa remuk dan tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi. Tapi, bila itu terjadi, nasib Sydney bisa dalam bahaya. Perempuan gila itu sanggup membalas dendam lebih kejam meski dia hanya kena jitak.


Mulan masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu kamar. Darmaji bersiap menyusulnya.


“Pak Dar!” cegah Mila, “Cobalah sekali ini kau tidak usah menghiburnya.”


Darmaji menghentikan langkah, menoleh ke arah Mila. Para pembantu dan Nenek Juma mulai bergerak membereskan piring dan makanan yang berceceran di lantai.


“Aku melindungi kalian!” sahut Darmaji.


“Tidak. Selama ini Pak Dar hanya mencari selamat untuk Pak Dar sendiri. Pak Dar tidak pernah memikirkan kami.”


“Kalau aku tidak menghibur Nyonya Mulan, kalian yang akan jadi sasaran. Apa kalian mau kehilangan pekerjaan?”


“Sepertinya, kali ini Pak Dar yang akan kehilangan kami. Lihat mereka, siapa yang betah kalau seperti ini,” ujar Mila sembari menunjuk semua makanan dan piring pecah berserakan, “Pak Dar tidak pernah merasakan seperti ini, kan?”


Pak Dar mengurungkan niatnya menyusul Nyonya besar ke kamarnya. Dari ruang makan sudah terdengar suara jendela pecah dari kamar Nyonya besar. Akhir-akhir ini, bila Nyonya besar marah, kerusakan yang dia timbulkan semakin parah. Para pembantu yang semula diam dan tak peduli—karena Darmaji selalu mengatakan kalau dia yang menjadi pelindung—mulai  ketakutan.


“Kau pikir, apa aku sendiri tidak payah mengalami pukulan dan tendangannya, “ tanya Darmaji beretorika.


“Tidak, “ sahut  Mila, “karena setelah itu dia memberi Pak Dar hadiah, kan?”


Mila menatap Darmaji jijik. Darmaji mengerti tatapan Mila, tapi dia mencoba untuk abai, meski sisi hatinya yang lain memberontak. Dia juga merasakan semua pembantu di ruangan ini menatapnya sama.


“Dengar, Mila. Aku Kepala Pelayan di sini. Kalau kau sudah tidak mau lagi bekerja di sini, kau boleh keluar hari ini juga. Dan bawa Nenek-mu bersamamu.”


Darmaji meninggalkan ruang makan, setengah berlari menuju kamar Nyonya besarnya. Para pembantu bergidik, merasa jijik.


“Apa yang akan dilakukan dia?” tanya Nenek Juma pada Mila.


“Sebaiknya kita tidak usah masak lagi, kita makan apa yang tersisa. Dua orang itu tidak akan makan sampai pagi. “ Mila mengomel sambil melempar beberapa piring pecah ke keranjang sampah.


“Apa yang dilakukan Darmaji, Mila? Tidak ada suara yang pecah lagi.”


Mila menatap Nenek Juma.


“Mereka akan tidur sampai besok pagi.”


“Mereka tidur satu kamar?” tanya Nenek Juma kembali sembari mendelik.


Mila berusaha mengalihkan pembicaraan dengan menyuruh pembantu yang lain segera membereskan ruangan, makan, lalu masuk kamar masing-masing. Nenek Juma menarik lengan baju Mila.


“Mila ... jawab aku!” seru Nenek Juma semakin mendelik.


“Iyaaa!”


Semua pembantu menoleh ke arah mereka berdua, termasuk satpam dan tukang kebun yang masuk ke dalam ruangan, untuk makan.


“Dan kamu ajak aku tinggal di rumah maksiat ini? Dia itu pela...”


Nenek Juma menelan kata-katanya. Tapi kemarahan jelas nyata di wajahnya. Mila hanya diam, menatap semua wajah yang hadir di hadapannya. Semua orang yang mendukungnya.


“Lalu kalian mau aku bagaimana? Mendobrak masuk ke kamar itu sambil membawa satpol PP?”


Semua diam.


“Aku mau ketemu si Milan, sekarang,” ujar Nenek Juma sembari keluar ruangan.


***


Semula Mila mengira kalau Rey tinggal di sebuah rumah yang bagus. Papanya dulu sempat mengatakan kalau dia membeli rumah untuk Rey—di dekat kampusnya—yang akan menjadi milik Rey. Apapun untuk Rey, Tuan Bramantya selalu memenuhi.


Namun yang ditemukan Mila adalah sebuah rumah kost di gang sempit, dengan puluhan sepeda di parkir di lantai bawah. Dan jemuran menggantung tak beraturan di lantai dua. Sandal dan sepatu berserakan. Mila tidak bisa membayangkan Tuan Muda-nya tinggal di kawasan seperti ini selama hampir satu tahun. Tapi kalau dia merasa nyaman, tidak masalah. Selama ini meski dia dibesarkan dengan kemewahan, dia tidak pernah protes kalau tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Mama tirinya terlalu menekannya.


Reynand turun dari lantai 2 setelah seseorang yang membukakan pintu untuk Mila memanggilnya. Mila nyaris menangis melihat penampilan majikannya. Hanya memakai kaos oblong dan sarung. Jauh dari kesan seorang Presdir Eagle Air.


“Ya?” tanya Reynand seolah tidak mengenal Mila.


“Ini saya, Mila. Tuan.”


Sejenak Reynand terdiam seperti mengingat sesuatu.


“Ah, ya. Mila. Ada apa kau kemari?”


“Sudah waktunya, Tuan,” ucap Mila gemetar.


“Sudah waktunya? Apa yang terjadi?”


“Nenek Sydney tidak mau tinggal di Rumah Coklat itu lagi. Dia menggulung lukisan dan memasukkan dalam tas. Dia menunggu Tuan menjemputnya. Berkali-kali dia mengatakan hal itu.”


Reynand terdiam sebentar. Lalu menyuruh Mila menunggu. Dia naik kembali ke atas. Sejurus kemudian dia sudah turun berganti baju. Memakai jacket dan celana panjang, juga sepatu kets. Di tangannya kanannya ada sebuah kunci yang diputar-putarnya.


“Ayo ikut aku, tapi jalan. Gak papa?”


Mila mengangguk. Dia mengikuti Reynand berjalan menyusuri gang sempit. Berjalan di belakang tuannya, dia sama sekali tidak membayangkan bagaimana kehidupan Reynand di kampung seperti ini. Anak itu sepertinya sangat menikmati. Dia juga hafal belokan gang demi gang yang saling berkesinambungan seperti maze. Dan setelah berjalan lima belas menit, akhirnya mereka keluar di jalan besar. Mereka masih berjalan setengah jam kemudian.


“Kamu capek? Kita bisa mampir beli minum.”


“Tidak, Tuan. Terima kasih.”


Reynand hanya mengangguk, lalu kembali berjalan menyusuri trotoar. Mereka kini sampai di area perumahan elit. Rumah-rumah besar dengan pagar tinggi. Mila tahu kawasan ini, tidak jauh dari kampus Reynand.


Reynand berhenti di depan gerbang sebuah rumah, lalu menggunakan kuncinya untuk membuka gembok gerbang. Mereka berdua masuk ke halamannya yang luas dengan taman-taman yang asri. Reynand menutup pagar, lalu berjalan santai menuju rumah. Membuka pintu gerbangnya. Dan Mila baru menyadari, bahwa rumah ini juga bernuansa coklat. Semua cat berwarna coklat dengan gradasi.


“Masuk, Mila. “


Mila mengikuti langkah Reynand memasuki rumah besar itu. Terasa begitu sejuk ketika kakinya melangkah di ruang tamu.


“Ini rumah siapa, Tuan?”


Reynand meletakkan kunci di meja tamu, lalu menyilahkan Mila duduk di sofa. Mila duduk dengan ragu, sembari mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Rumah ini lebih besar dari rumah coklat, meski perabot yang ada hanya satu set kursi tamu saja. Tidak ada hiasan, ornamen atau lainnya.


“Besok, sebelum matahari terbit, siapa saja yang mau keluar dari Rumah Coklat, kamu bawa ke sini.”


Mila menatap majikannya tak mengerti.


“Kalian bekerja padaku mulai besok.”


“Jadi?”


“Ini rumahku, Mila. Aku membelinya untuk aku tinggali kelak, bersama Sydney.”