MILAN AND SYDNEY

MILAN AND SYDNEY
Hasil Test



Kantor Maskapai itu tampak begitu dingin di mata Maharani, sama sekali tidak ramah menyambutnya. Seharusnya dia tidak punya hak lagi untuk datang ke sini. Kalau saja tidak menghormati Merlin, dia tidak akan menginjakkan kakinya di kantor Eagle Air. Baginya, masa lalu yang mengikatnya dengan kantor ini sudah pupus. Juga dengan orang-orang di dalamnya.


Maharani menaiki lift, menuju ruang Merlin. Dia masih ingat terletak di lantai berapa. Karena terakhir kali dia ke sini, adalah awal kehancuran rumah tangganya. Seharusnya, dia tidak selalu cemburu pada suaminya. Meski dia tahu, sejak sebelum menikah, dia memang lelaki mata keranjang. Dan setelah menikah, dia harus sering berpura-pura bahwa suaminya tidak menggoda teman-teman kerjanya. Dia terlalu tampan untuk berdiam diri saja. Tapi, hari itu dia benar-benar membuktikan kecemburuannya di kantor ini. Sejak itulah, rumah tangganya perlahan karam. Rani merasa tidak ada lagi yang perlu dia pertahankan selain dua anak kandungnya.


Rani yakin, keputusan untuk bercerai dari suaminya adalah keputusan terbaik. Setelah melalui sidang yang panjang, dan pisah ranjang bertahun-tahun. Ini demi kebaikan dua orang anaknya yang masih kecil. Entahlah, begitu dia menandatangani surat cerai itu, dia seperti burung yang terbang tinggi. Lepas dari sangkar penuh prasangka.


Bisa jadi semua prasangkanya selama bertahun-tahun itu benar. Dan surat cerai itulah penanda bahwa kehidupannya akan lebih baik lagi setelah berpisah. Namun, ternyata doanya terjawab lebih cepat. Baru sepekan resmi bercerai, suaminya tewas.


“Kami turut berduka atas kematian suami, anda, Nyonya Ibrahim.”


Rani menatap wajah keriput dan rambut Merlin yang memutih.


“Aku bukan Nyonya Ibrahim, Pak Merlin. Seminggu sebelum dia meninggal, aku sudah resmi bercerai dengannya.”


Merlin mengangguk. “Ya, aku sudah mendengarnya. Malah kukira sudah lama surat itu turun. Karena kulihat Ibrahim sudah sangat sibuk dengan urusan di pengadilan agama.”


Rani mengedik bahu. “Kukira dia sibuk dengan urusan perempuan-perempuan di Maskapai.”


Merlin terkekeh. “Kita semua tahu bagaimana dia selama hidupnya. Tapi dia sangat banyak berjasa di Maskapai. Setiap orang pernah melakukan kesalahan, tapi bukan mustahil untuk menjadi berguna. Ibrahim contohnya.”


“Aku sudah tidak peduli dengan urusannya sejak tahun-tahun terakhir. Kurasa, aku tidak perlu berada di sini.”


“Kau salah. Maskapai memberikan kompensasi atas kematian Ibrahim. Ada yang harus menerimanya.”


“Aku tidak berhak lagi, kan?”


“Anak-anaknya. Dan sebagai ibu, anda yang harus mewakilinya kan.”


Rani menghela nafas panjang.


“Anak-anakku sudah menjadi tanggunganku sejak bertahun-tahun. Bapaknya tak pernah peduli. Dia sibuk dengan sepasang mata keranjangnya. Kami bahkan sudah punya rumah sendiri.”


Merlin melipat tangan di dada. Di hadapannya, Rani tampak sebagai wanita tangguh yang tidak larut dalam masalah rumah tangga yang menderanya. Ibrahim memang terkenal punya affair di mana-mana. Tapi Merlin tidak ambil pusing urusan itu. Dia sendiri juga bukan orang yang suci. Pernah melakukan kesalahan sehingga istri pertamanya menuntut cerai, sebab Lusie sudah mengandung Nadia. Rani, tidak jauh berbeda dengan ibu Regina.


“Please, tolong terimalah santunan dari kami. Pesangon dan beberapa tunjangan. Setidaknya, hanya itu yang bisa kami berikan untuk kedua anak Ibrahim.”


Rani membaca surat di hadapannya. Ucapan terima kasih dari Maskapai atas jasa suaminya. Juga secarik kwitansi. Jumlahnya membuat dadanya berdegup. Bisa untuk menambah modal usahanya. Sejenak dia memejamkan mata, meyakinkan diri bahwa nilai yang tercantum itu adalah hak anaknya. Rani menandatangani surat itu, lalu mendorongnya ke arah Merlin.


“Terima kasih. Ada satu lagi. Ini juga harus saya sampaikan.”


Merlin menyerahkan sebuah amplop.


“Ini adalah hasil tes kesehatan Ibrahim. Sebelum kematiannya, entah kenapa dia melakukan tes kesehatan dan hasilnya minta dikirim ke kantor. Kurasa ini berkaitan dengan rencananya untuk menikahi seseorang—maaf—aku mendengar rumor itu. Tapi aku tidak tahu dia akan menikah dengan siapa.”


“Kau tidak perlu merasa bersalah. Aku tidak terkejut bila dia akan menikah lagi setelah keputusan pengadilan agama turun.”


“Kau tidak tahu dengan siapa?”


Rani menggeleng. Dia membuka amplop itu. Kop suratnya berlogo sebuah laboratorium kesehatan. Dia berusaha mencerna beberapa kalimat, dan di akhir surat, dia tercengang.


“Ini ... apa ini benar?”


Merlin menarik nafas panjang. “Aku sudah menelpon pihak laboratorium dan mereka mengkonfirmasi kebenarannya. Sebelum tes, Ibrahim sudah menunjukkan beberapa gejala. Mungkin itu sebabnya dia melakukan tes. Kita tidak tahu alasannya.”


Rani bergegas menutup amplop itu dan mendorongnya kembali ke arah Merlin. Dia tampak gusar.


“Apa dia mengkonsumsi obat-obatan selama ini?”


“Maaf, bukan maksudku untuk menghakimi. Tapi, bisa jadi dia mendapatkannya dari orang lain. Saya tahu, perilakunya tidak sehat. Jadi saran saya, anda juga memeriksakan diri.”


Rani menggebrak meja dengan ramah. Wajahnya memerah dan nafasnya memburu.


“Sebaiknya kamu yang melakukan tes pada perempuan-perempuan di Maskapai ini. Mereka yang menjual tubuhnya pada Ibrahim.”


Merlin tertegun. Rani bangkit dari kursinya, dan meninggalkan ruangan tanpa pamit.


***


Merlin merebahkan diri di sofa. Kepalanya terasa begitu pusing. Masalah mantan istri Ibrahim benar-benar menguras energinya. Orang mati tapi masih menyulitkan yang hidup. Andai saja hasil tes itu keluar sebelum kematiannya, pasti semuanya akan mudah. Sepanjang hari, dia memindai pegawai-pegawai perempuan di Maskapai, menduga-duga siapa yang dulu pernah punya affair dengan Ibrahim. Tapi semuanya tidak ada yang membuahkan hasil. Merlin tidak mungkin mewawancarai mereka satu per satu.


Dan polisi tiba-tiba begitu saja menghentikan penyelidikan. Dugaan awal, Ibrahim dibunuh. Dan rumor itu beredar santer di Maskapai, mengingat rumor lainnya mengatakan dia juga menjadi salah satu tersangka pembunuhan Ariel Bramantya. Tapi, tahu-tahu semuanya bungkam. Hasil pemeriksaan polisi, Ibrahim terkena serangan jantung. Dan pemeriksaan pembunuhan Ariel Bramantya belum selesai juga.


Merlin punya banyak spekulasi, tapi dia tak ingin menyampaikan pada Reynand. Anak itu sedang berusaha menyelamatkan Maskapai karena mendadak kehilangan Presdir. Merlin tidak ingin membuatnya tidak fokus di Maskapai. Masih banyak yang harus dipelajarinya.


“Kau kelihatan kurang sehat, sayang?”


Lusie tiba-tiba sudah ada di sebelahnya dan memijiti tangannya. “Mau kupijiti malam ini?”


Merlin menggeleng.


“Ada masalah di Maskapai?”


Merlin diam. Lusie memahami suaminya. Dia akan berbicara nanti setelah pikirannya sendiri tenang.


“Urusan Regina, tenang saja. Dia sudah mulai terbiasa dengan baju lebarannya. Kata Nadia, Regina lebaran setiap hari.”


Merlin mengulas senyum.


“Mungkin kau tahu sedikit informasi atau desas desus di arisan istri Dewan Direksi.”


“Tentang apa itu? Aku bisa membantu mencarikan informasi.” Lusie senang suaminya mulai menyampaikan masalahnya.


“Sebelum Ibrahim tewas, dia berencana menikahi seseorang. Kau tahu siapa?”


Mulan. Lusie sudah mendengar rumor yang beredar di kalangan istri Dewan Direksi. Meski mereka tidak ada yang berani menyebut nama dengan jelas. Mungkin menjaga perasaan istri Ibrahim. Meski sudah bertahun-tahun, rumornya, Ibrahim sudah pisah ranjang dengan istrinya.


“Aku tidak begitu tahu informasinya. Tapi aku akan memastikan. Kenapa memangnya?”


“Kuharap bukan seseorang di Maskapai. Itu akan sangat merepotkan.”


“Ada apa sebenarnya?” tanya Lusie curiga. Bukankah Ibrahim bisa menikahi siapa saja? Apalagi kabarnya perceraiannya sudah diputuskan pengadilan agama.


Merlin menegakkan punggung.


“Sebaiknya, kau cari siapa wanita itu. Pastikan.”


“Kenapa?” tanya Lusie mulai panik. Di ingatannya sendiri, berkelebat bayangan tubuh gagah Ibrahim bersama dirinya. Ibrahim sangat tahu apa yang dikehendaki dari seorang wanita bersuamikan lelaki tua seperti Merlin.


“Ibrahim ternyata mengidap HIV,” ucap Merlin datar.