
Nenek Juma mendekati Mila yang sedang menyiapkan makan siang. Tugasnya menyapu seisi rumah sudah selesai. Sebenarnya Reynand tidak ingin Nenek Juma dibebani pekerjaan, tapi Nenek Juma memaksa. Kalau tidak, dia akan berjualan rujak di depan rumah. Terkadang, anak muda memang memandang orang sepuh sebagai orang yang sudah lemah sehingga tidak perlu lagi menggerakkan badan. Namun bagi Nenek Juma, tidak bergerak sama saja dengan membuat seluruh badannya sakit. Maka, akhirnya tugas Nenek Juma hanya menyapu seluruh rumah. Itupun, dia masih menuntut menyapu lantai dua juga.
Reynand sudah berangkat ke Maskapai, mengendarai sendiri mobilnya, yang diparkir di garasi rumah baru. Rumah ini baru dibeli Reynand sebulan yang lalu. Sebelumnya, dia menyewa garasi untuk memarkir mobilnya. Dengan adanya rumah baru milik Reynand, kehidupan menjadi lebih tenang bagi Nenek Juma dan Mila. Juga para pembantu lain dan satpam. Meski Reynand berpesan, mereka tidak boleh ke luar rumah sampai Reynand mengijinkan. Bisa jadi, Nyonya Mulan sedang mencari mereka untuk melampiaskan kemarahannya. Untuk belanja kebutuhan pokok, Mila harus memesan pada kurir yang sudah ditunjuk Reynand. Kurir itu datang setiap tiga hari membawa bahan makanan dan kebutuhan pokok.
“Mila, dia tidak berlebihan kan?” tanya Nenek Juma.
“Maksudmu, tentang rumah ini dan kita?”
Nenek Juma mengangguk. Meraih satu ikat sayur dan membantu Mila memotong-motongnya.
“Dia hanya ingin membayar hutang.”
“Hutang?”
“Iya. Selama ini dia merasa, gara-gara keberadaannya, para pembantu di Rumah Coklat sengsara.”
“Memang bagaimana selama ini?”
Mila mendesah panjang. Rahasia besar keluarga Bramantya ada di tangannya. Kalau dia ingin membuat kehancuran, pasti dengan mudah dilakukannya. Tapi, Mila bukan manusia keji. Dia orang yang sangat tahu balas budi. Tuan Bramantya sudah menolongnya dan memberinya pekerjaan yang sudah sangat layak menurutnya. Mila tidak pernah menuntut lebih dari itu.
“Tuan Bramantya sangat mencintai istrinya, Nyonya Mulan. Namun, semua berubah ketika Nyonya Mulan menjadi wanita yang ambisius, ingin menguasai harta suaminya. Dengan perlakuan kotornya di belakang Tuan Bramantya. Menurutku, mereka pisah ranjang sudah lama. Kau tahu kan, kami semua tinggal satu atap. Tidak ada kejadian yang tidak kami ketahui di Rumah Coklat. Sejak itu, kami seperti di neraka. Nyonya Mulan seolah depresi, tapi berusaha disembunyikan. Dia sering memarahi para pembantu, bahkan ada yang sampai dipukul. Kudengar dia menemui psikiater untuk mengatasi stressnya.”
“Tuan Reynand adalah orang yang paling tidak betah di rumah. Begitu kuliah, dia langsung pindah ke tempat kost. Kamu tahu tempat kostnya? Di gang sempit, jauh dari kemewahan. Dari situ aku akhirnya memahami bagaimana tabiat Tuan Muda. Sama persis dengan Papanya.”
“Menurutmu, apa yan menyebabkan wanita gila itu menjadi gila?”
“Ada selentingan kalau dia tidak akan mendapat apa-apa jika Tuan Bramantya mati. Semuanya akan jatuh ke tangan Reynand. Padahal, sejak Tuan Bramantya membawa bayi merah Tuan Rey ke rumah ini, dia sudah berjanji pada Tuan Bramantya. Bahwa dia akan menganggp Tuan Reynand sebagai anaknya sendiri. Itu semua, demi agar dia kelak mendapat jatah warisan. Kau tahu kan kalau dia wanita yang tidak punya kerabat. Dia yatim piatu. Dan tragisnya adalah, dia tidak bisa memberi Tuan Bramantya seorang anak. Jadi, dia tidak punya jaminan. Jaminan masa tuanya adalah warisan dari suaminya. Dan, kurasa sepuluh tahun terakhir, dia berusaha mendapatkan itu dengan menghalalkan segala cara.”
Nenek Juma menatap Mila, sembari mengernyit heran.
“Mila, aku mau bertanya lagi.”
“Apa?”
“Kau sangat tahu semua tentang keluarga Tuan-mu. Padahal kamu cuma seorang pembantu. Kau ini sebenarnya siapa?”
Mila meletakkan pisaunya. Dia tahu, Nenek Juma bukan orang yang mudah dibodohi. Dia wanita cerdas dan tidak pikun seperti cucunya. Setiap yang dikatakan Mila belasan tahun lalu, dia masih bisa mengingatnya dengan jelas.
“Semua orang mengira begitu, “ ucap Mila sembari berbisik. Nenek Juma mendekatkan telinganya.
“Sebenarnya, aku asisten pribadi Tuan Bramantya. Dia mengajariku banyak hal, yang para pembantu lain tidak akan bisa melakukannya.”
“Kenapa? Dia tertarik padamu? Bukankah dia menikahi pembantu juga?”
“Hei, aku punya suami waktu itu tahu. Aku wanita yang setia.”
“Aku percaya kau wanita setia. Ternasuk menyimpan rahasia bertahun-tahun.”
“Hss, tidak usah mengingat masa lalu. Sekarang kamu sudah di sini, aman bersamaku dan bersama Tuan Reynand. Biarlah masa lalu itu akan terkuak sendiri. Yang penting, kau dan aku harus tetap hidup saat masa itu tiba.”
Hening di antara keduanya.
“Tuan Bramantya perlu seseorang untuk dia percaya sepenuhnya. Dan dia memilihku. Katanya, aku wanita cerdas yang tidak mengenyam bangku sekolah karena nasib. Dia mengajariku banyak hal. Bahkan urusan maskapai, dia sering meminta pendapatku. Tapi, dia juga meminta aku merahasiakannya dari siapapun. Termasuk dari Darmaji.”
“Jadi, apa benar berita pembunuhan itu?”
“Aku sudah mengetahui rencana pembunuhan itu lebih dulu.”
“Hah?”
“Kamu bisa pakai hape seperti itu?”
“Tentu saja, kubilang tadi kan? Tuan Bramantya mengajaiku banyak hal. Ponsel seperti ini banyak dimiliki orang jaman sekarang. Tapi apa yang di dalamnya, hanya aku yang punya. Mau lihat?”
Mila memastikan mereka hanya berdua di dapur. Mereka duduk kursi dapur, seperti dua orang perempuan yang sedang bergosip. Mila menampilkan sesuatu di layar ponselnya. Nenek Juma mendekat.
“Apa itu? Video? Seperti video waktu cucuku memukul majikanmu?”
“Di Rumah Coklat, banyak dipasang kamera tersembunyi. Tuan Bramantya sendiri yang menyuruhku mengatasi hal ini. Di setiap ruangan. Dia, orang yang sangat teliti. Tidak hanya di rumah. Di semua perusahaannya dia juga memasang kamera tersembunyi. Namun dia sendiri tidak mau melihat apa yang terekam di video ini. Yang di Rumah Coklat, dia menyuruhku melaporkan.”
“Jadi, kamu tahu semua apa yang terjadi di setiap ruangan?”
“Ya, apa yang dilakukan Darmaji dan Nyonya, aku tahu semua. Aku punya rekamannya kalau kamu mau lihat.”
Nenek Juma mendecih. Tidak tahu adalah lebih baik dari pada tahu segalanya.
“Mengapa tuanmu melakukan itu semua?”
“Semenjak dia sudah kehilangan cintanya pada Nyonya Mulan. Dia melindungi dirinya dan anak kandungnya dari ancaman Nyonya Mulan. Dan bila kamu tahu, itu sangat mengerikan.”
“Jadi, wanita itu yang membunuh suaminya?”
“Tidak dengan tangannya sendiri.”
Nenek Juma membekap mulutnya.
“Kau tahu, wanita baik-baik sekalipun bisa menjadi begitu kejam ketika dikhinati, ketika tidak lagi dicintai. Dan itulah Nyonya Mulan.”
Nenek Juma geleng-geleng. Wanita itu memang mengerikan. Dia sudah mengalami sendiri bagaimana dia menepuk lalat seperti Sydney, sedangkan pada suaminya sendiri begitu keji.
“Kau yakin tidak mau melihat videonya? Aku yakin kalau kau melihatnya, kau akan kembali ke Rumah Coklat dan memukuli Nyonya Mulan. Aku menyimpan beberapa video penting, sejak sepuluh tahun yang lalu.”
“Di hape itu?”
“Di laptop. Ada di kamarku.”
“Kamu punya laptop? Kamu kan tidak kuliah? Sydney saja tidak kuliah.”
“Kan sudah kubilang, Tuan Bramantya mengajariku banyak hal. Lebih dari anak kuliah.”
Nenek Juma mendesah panjang. Tiba-tiba dia teringat pada Sydney.
“Mila, tidakkah Azzura harus tahu sejarahnya di masa lalu?”
“Aku yakin ayahnya sudah menceritakan semuanya pada Zura.”
“Lalu bagaimana dengan Reynand? Kau akan menunjukan semua video itu padanya?”
Mila meletakkan ponselnya.
“Belum ada perintah.”