
Jam 11 malam. Mila baru saja mengakhiri sambungan selulernya dengan Darmaji. Mengabarkan kalau besok siang dia baru bisa kembali, karena masalah di kampung masih belum beres. Untunglah Darmaji mengijinkan.
Aditya tiba-tiba masuk dan tampak panik. Dia mengunci pintu dan merapatkan gerendel. Membetulkan tirai yang tidak menutup sampai tepi kusen.
“Di mana mereka?” tanyanya sembari berbisik, dan matanya memindai ruang tamu. Tidak ada siapapun selain mereka berdua. Dan si tengah Utami—adik Mila alias kakak Aditya—sudah terlelap di kamar bersama suami dan bayinya. Rumah peninggalan orang tua Mila dan Aditya sekarang ditinggali oleh Utami bersama keluarganya. Rumah ini menjadi rumah tujuan bila Mila dan Aditya pulang kampung. Mila sengaja tidak pulang ke rumahnya sendiri di desa sebelah, karena dia hanya berencana pulang satu hari saja untuk menyelesaikan masalahnya dengan Juma. Dia pun tidak mengabari anak-anak dan mertuanya.
“Mereka di kamar belakang. Kamu terpaksa tidur di kursi,” ucap Mila sembari menepuk kursi panjang di sebelahnya.
“Kau tidak akan percaya apa yang barusan kulihat.”
Aditya semakin memelankan suaranya, khawatir ada yang mendengar.
“Apa?” tanya Mila, ikut-ikutan berbisik.
Aditya duduk di sebelah Mila, dan memegang punggung tangan kakaknya. Mila agak terkejut. Tangan adiknya sedingin es. Padahal Mila hanya menugasinya mengawasi jalan, siapa tahu orang-orang suruhan majikannya—para preman—menemukan tempat persembunyian Sydney dan neneknya.
“Rumah Azura kebakaran. Penduduk sedang memadamkan api.”
Mila membekap mulutnya. Rumah Azura berjarak sekitar dua kilometer dari rumah ini, makanya tidak terdengar keributan. Pastinya, memadamkan api akan membuat banyak orang berkumpul.
“Aku yakin, para preman itu yang melakukannya. Sore tadi, aku melihat mereka berkeliaran di gang rumah Azzura. Untung saja selepas maghrib, kita membawa Zura dan neneknya lewat pintu belakang.”
“Bagaimana kebakarannya?” tanya Mila dengan suara gemetar. Wanita gila itu, benar-benar membalaskan dendamnya sampai tuntas.
“Kurasa separuh bagian belakang habis, seingatku bagian dapurnya dari bambu, ya kan?”
Mila mengangguk, “Aku akan memberitahu Juma.”
Aditya menahan tangan kakaknya yang hendak bangkit dari kursi.
“Jangan membuat nenek Azzura kena serangan jantung. Kita harus menyampaikan dengan kalimat yang tepat.”
“Dia tidak selemah dugaanmu. Kalau dia berada di rumahnya, pasti dia sendiri yang akan memadamkan api.”
Mila bangkit menuju kamar belakang. Membuka pintu kamar perlahan dan mendapati dua orang sedang terlelap dalam satu selimut. Lampu kamar dipadamkan, hanya penerangan dari ruang tengah yang menyeruak masuk ke dalam kamar. Mila mendekati Nenek yang tidur menghadap pintu. Dia ragu hendak menyampaikan kabar buruk ini, tapi dia berharap berita ini akan semakin menguatkan kepercayaan Nenek Zura padanya. Berhasil mengajaknya mengungsi ke rumah ini, sudah merupakan keberhasilan menanamkan kepercayaan pada seorang pengkhianat. Tentu saja setelah Mila menyampaikan panjang lebar, tentang sebuah rahasia keluarga, yang kini disadarinya, tidak mungkin dibawanya sampai ke liang kubur. Dia harap, Nenek Azura bisa menyimpan rahasia itu, hingga saatnya tiba.
“Ada apa?” ucap Nenek perlahan. Dia memang wanita tua yang cukup waspada. Meski matanya tetap terpejam, ternyata dia menyadari kehadiran Mila.
“Aditya membawa kabar buruk,” bisik Mila, sembari melirik Sydney yang memunggungi neneknya.
“Apa?”
“Mereka membakar rumahmu.”
Hening di antara mereka berdua. Nenek sedikit bergerak, tapi posisinya tidak berubah. Mila melihat bulir bening meleleh dari mata keriput yang sedang terpejam itu. Entah kenapa, hati Mila ikut merasa remuk melihatnya. Rumah, adalah pertahanan terakhir dari sebuah keluarga. Sepelik apapun masalah, rumah selalu menjadi tempat kembali ternyaman. Sebaiknya, Zura dan neneknya tidak perlu melihat puing-puingnya.
“Besok, panggil Haji Amir ke sini.”
“Haji Amir?”
“Aditya suruh sholat subuh di Mesjid Taqwa. Dia imam mesjid di sana.”
Mesjid Taqwa sekitar lima kilometer dari sini, di pusat kecamatan. Mila mengangguk. Ketika dia menutup pintu kamar dan kamar kembali gelap, Nenek merasakan pelukan erat di punggungnya. Lalu sebuah isakan tertahan. Nenek menggenggam tangan Zura dan mengusap-usapnya perlahan. Isak tangis di punggungnya semakin keras, membuat punggung Nenek ikut terguncang-guncang.
***
Mata Sydney bengkak. Nenek tersenyum melihatnya. Mereka baru saja menunaikan sholat subuh berjamaah di dalam kamar. Masing-masing masih memakai mukena. Nenek mendengar suara kesibukan di dapur, tapi dia tidak mengijinkan Sydney keluar kamar untuk membantu Mila.
“Zura, Nenek mau bicara.”
Sydney mengangguk, menghadapkan badan ke arah Nenek.
“Kau tahu kalau Nenek selalu mengupayakan yang terbaik untukmu. Nenek pengganti ibu dan ayahmu, jadi Nenek tidak akan menyuruhmu berbuat yang buruk.”
Sydney mengangguk. Sampai kapanpun, Nenek memang ibunya, sekaligus ayahnya. Ditatapnya seraut wajah keriput di hadapannya, yang begitu tegar padahal telah kehilangan semua harta bendannya. Rumah beserta isinya. Juga segala kenangan di dalamnya. Sementara Sydney masih merasa dadanya begitu remuk karena kehilangan rumah. Sedangkan Nenek seolah seperti kehilangan sandal saja.
“Pagi ini, kita semua ke Surabaya, tapi berpisah. Nenek dengan Mila. Kamu dengan Aditya.”
Sydney mengernyit, tidak memahami arah pembicaraan neneknya.
“Kenapa?”
“Kali ini, kau tidak usah banyak bertanya. Cukup turuti perintah nenek. Kau sudah tahu akibatnya kalau tidak menuruti perintah nenek, kan?”
“Alasan kita mengungsi, kamu sudah mendengar sendiri tadi malam. Rumah kita dibakar orang. Dan Mila yang mengingatkan Nenek sebelumnya. Dia memang pengkhianat di masa lalu, dan dia sudah menjelaskan semua apa alasannya. Jadi, saat ini yang paling aman bagi kita adalah pergi dari desa ini.”
Sydney menggeleng-geleng, “Aku tidak mengerti semuanya, Nek. Memang siapa orang yang jahat pada kita? Kenapa? Apa salah kita?”
Nenek memegang tangan Sydney, “Tidak ada yang salah. Kau hanya melempar seekor macan dengan kerikil. Dan ini akibatnya. Kau tidak cerita kalau pernah menyerang seorang perempuan di restoran, kan? Mila menunjukkan gambarmu ketika menyerang perempuan itu.”
Ulang tahun Reynand. Sydney menelan ludah. Jadi, semua ini ada kaitannya dengan kejadian itu? Bahkan Sydney belum sempat meminta maaf pada Reynand, langsung kabur begitu saja. Harusnya dia bisa meminta nomor Rey pada Hud. Tapi, sisi hatinya yang lain menolak. Rey mengundangnya, pasti bukan tanpa alasan. Di pesta ulang tahun itu, semua yang diundang laki-laki. Hanya dia seorang yang perempuan.
“Ternyata dia bukan perempuan sembarangan, Zura. Dia pejabat. Dan sekarang, kiat berdua dalam ancaman bahaya. Pejabat itu, orang yang sangat kejam. Kamu dikeluarkan dari kampus, itu juga perbuatan dia”
Sydney menggeleng tidak mengerti.
“Kau akan mengerti nanti. Saat ini, yang harus kau lakukan adalah ikut Aditya, ke Malaysia.”
Sydney terperangah, “Apa? Nenek tidak bercanda, kan? Malaysia itu luar negeri, nek. Tidak bisa semudah itu pergi ke luar negeri seperti ke Surabaya.”
Nenek menggenggam tangan Sydney begitu erat, hingga Sydney mengira Nenek akan meremukkan jemarinya.
“Kamu percaya sama Nenek? Aditya yang akan mengurus semuanya.”
Sydney menggeleng, “Nenek jadi tidak masuk akal sekarang.”
“Nenek tahu kamu menyukai Aditya.”
Sydney merasa pipinya panas, dadanya berdetak tak beraturan. Terlintas dia bersama Aditya—meski sekarang Sydney sudah lupa wajahnya—duduk di tepi sawah. Lelaki itu memujinya dan membuatnya begitu tersanjung. Sydney masih ingat bagaimana perasaannya saat itu, meski dia tidak bisa mengingat wajah Aditya. Seketika dia ingin menutup muka dengan telapak tangan, tapi Nenek mengenggam tangannya erat, menahannya sekuat tenaga ketika Sydney berusaha menariknya.”
Terdengar ketukan di pintu, dan daun pintu terbuka sedikit.
“Haji Amir sudah datang.”
Nenek bergegas bangkit dari duduknya.
“Ayo, Zura. Pakai pakaian yang rapi. Hidupmu akan berubah sebentar lagi.”
Nenek dan Sydney duduk di ruang tamu lima menit kemudian. Menyusul Mila, Utami dan suaminya. Aditya dan Haji Amir sudah lebih dulu menunggu. Di luar masih gelap, ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Nenek memberi kode pada Mila untuk menutup pintu dan merapatkan tirai.
“Mohon maaf merepotkan pagi-pagi, Pak Haji.”
“Tidak apa-apa, Juma. Kita kawan baik, kalau kamu ada kesulitan jangan sungkan menghubungi aku.”
Haji Amir, lelaki yang sebaya dengan Nenek. Wajahnya teduh dengan jenggot putih menghiasi dagunya. Melihatnya saja di kondisi seperti sekarang, membuat semua orang di ruangan merasa sejuk.
“Begini, Pak Haji. Pagi ini, Zura cucuku ini mau berangkat ke Malaysia. Kata Mila, dia dapat beasiswa kuliah di sana.”
“Masya Allah, selamat ya Zura. Kamu memang anak yang cerdas.”
Sydney mengangguk, sembari melirik Aditya yang duduk di dekat pintu. Pandangan mereka bertemu. Sydney kembali menunduk, merasakan desiran halus yang sama di dadanya. Dan dia memaki dirinya, sempat-sempatnya merasakan hal itu ketika ada banyak orang di ruangan ini.
“Dia mau berangkat bersama Aditya, adik Mila. Dia juga dapat beasiswa di sana.”
Pak Haji menoleh ke arah Aditya, lalu menepuk bahunya hangat.
“Masya Allah, Barakallah. Aku baru tahu kalau di kampung kita ternyata ada anak-anak yang hebat dan pinter. Kukira selama ini kalau orang berangkat ke Malaysia itu untuk jadi TKW. Ternyata bisa untuk kuliah juga, ya.”
“Iya, Pak Haji. Alhamdulillah,” ucap Mila, mulai bersuara, “Aditya dulu dapat beasiswa kuliah S1. Sekarang S2, Pak Haji.”
“Terus, aku bisa bantu apa ini?” tanya Pak Haji kemudian.
“Pak Haji tolong nikahkan Azura sama Aditya,” ucap Nenek spontan.
Seisi ruangan terkejut, kecuali Mila. Sydney dan Aditya saling menatap tak percaya. Juga Utami dan suaminya. Hanya Nenek dan Mila yang tampak tenang, pertanda bahwa ini adalah rencana mereka berdua.
“Sekarang?” tanya Pak Haji sangsi.
“Pak Haji pikir, saya akan melepas bujang dan gadis ke luar negeri, sedangkan mereka bukan muhrim? Lagipula, mereka saling mencintai.”
Sydney dan Aditya tersedak ludah mereka sendiri. Mereka sampai terbatuk-batuk, membuat Mila dan Nenek tersenyum. Pak Haji menoleh ke arah Aditya.
“Kamu mencintai Zura?” tanya Pak Haji.
Aditya menatap Sydney yang juga sedang menatapnya. Detak jantung mereka berdua bersicepat, hingga keduanya mengira bisa didengar oleh semua orang yang hadir di ruangan ini.