Mafia VS Psychophat

Mafia VS Psychophat
Riana dan Riani



" Kamu hanya memilih bercerai atau tidak?" Tanya suaminya


" Jika aku tidak mau bercerai?" Tanya istrinya


" Seperti yang tadi aku katakan tidak mau bercerai tetapi kamu harus merubah semua sifatmu dari bersenang-senang dengan teman-temanmu dan mengurus anak-anak kita." Ucap Reno


" Kenapa kamu mempersulitku?" Tanya istrinya


" Aku tidak mempersulitmu? Aku hanya ingin kamu berubah menjadi pribadi yang lebih baik." Ucap Reno.


" Satu lagi, kamu jangan mencoba untuk membohongiku seperti dulu." Ucap Reno


" Membohongi apa?" Tanya Rina sambil menatap Reno dengan tatapan bingung.


" Selama ini aku diam bukannya aku tidak tahu selama kamu hamil aku tahu kamu pergi bersama teman-temanmu, benar bukan?" Tanya Reno sambil menatap wajah cantik istrinya.


Rina hanya bisa menganggukan kepalanya sambil menggenggam ke dua tangannya dengan erat.


" Jadi, jika kamu membohongiku maka di saat itu pula kita akan berpisah. Kamu tenang saja setiap bulan aku akan mengirimkan uang dua belas juta dan anak-anak aku yang akan mengurusnya." Ucap Reno


" Apa dua belas juta? mana cukup buat sebulan?" Tanya Rina dengan nada frustasi.


" Sepuluh juta." Jawab Reno


" Tapi..." Ucapan Rina terpotong oleh Reno


" Delapan juta." Jawab Reno


" Si*l kenapa di po..." Ucapan Rina terpotong lagi oleh Reno.


" Lima juta." Jawab Reno


" Cukup." Ucap Rina sambil menatap tajam ke arah Reno


" Bagus, semakin protes maka semakin berkurang." Ucap Reno


( " Maaf mungkin dengan begini kamu bisa berubah menjadi lebih baik." Ucap Reno dalam hati ).


Rina menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap wajah tampan suaminya.


" Beri aku waktu." Ucap Rina akhirnya.


" Baiklah, aku akan memberikan waktu seminggu." Ucap Reno


( " ***Maaf bukannya aku tidak mencintaimu, tapi aku tidak ingin ke dua putri kita kamu siksa sama seperti Aska terlebih aku sangat menyayangi Aska." Ucap Reno dalam hati ).


( " Huh.... nyebelin banget... pilihan yang sangat sulit." Ucap Rina dalam hati*** ).


Tidak berapa dua orang perawat datang menemui mereka sambil mendorong dua box bayi.


" Maaf tuan dan nyonya, ini ke dua bayi tuan dan nyonya." Ucap salah satu perawat.


" Terima kasih suster." Ucap Reno


" Sama-sama tuan." Jawab ke dua perawat


Ke dua perawat itupun pergi meninggalkan mereka. Reno menurunkan Aska kemudian menggendong putri pertamanya yang sangat mirip dengannya sedangkan Rina melirik ke arah Putri satunya yang sangat mirip dengan dirinya. Rina langsung menggendong bayinya dan mengecupnya.


" Anak mommy yang sangat cantik." Puji Rina sambil tersenyum menatap wajah cantik putri ke duanya.


Reno hanya tersenyum melihat istrinya menyayangi Putri ke duanya membuat Reno mendekati istrinya.


" Daddy, apakah sudah memberikan nama untuk putri kita?" Tanya Rina


" Sudah." Jawab Reno singkat


" Siapa namanya dad?" Tanya Rina


" Yang daddy gendong adalah putri pertama kita bernama Riana Keyla Abner nama panggilannya Riana dan putri ke dua kita yang mommy gendong bernama Riani Keyla Abner nama panggilan Riani." Ucap suaminya.


" Nama yang bagus Riana dan Riani." Ucap istrinya.


" Kamu mau gendong Riana?" Tanya Reno


" Nanti saja dad, aku mau gendong Riani dulu." Ucap istrinya.


" Baiklah." Jawab Reno singkat.


( " ***Aku tidak tahu kenapa aku lebih sayang dengan Riani dari pada Riana?" Tanya Rina dalam hati ).


( " Aku merasakan kalau istriku lebih menyayangi Riani dari pada Riana, apa karena Riani lebih mirip dengan istriku?" Tanya Reno dalam hati ).


Oooeeee


Oooeeee


Bayi yang bernama Riani tiba-tiba menangis dan Rina langsung menyusui bayinya sedangkan Riana yang mendengar adiknya menangis ikut menangis.


" Mommy, Riana juga menangis." Ucap Reno


" Daddy, aku lagi menyusui Riani, nanti aja dad." Ucap Rina sambil meringis menahan rasa sakit.


Oooeeee


" Kan bisa yang satunya lagi." Ucap Reno


" Tidak mau dad, ini aja sakit banget." Tolak Rina


Oooeeee


Entah kenapa Aska kecil yang awalnya membenci ke dua adiknya tidak tega mendengar adiknya menangis. Aska kecil langsung berlari sedangkan suaminya berusaha untuk membujuknya.


Oooeeee


" Mommy anak kita kasihan dari tadi menangis terus." Ucap Reno


" Daddy, bawa keluar aja Riana, nanti Riani menangis." Ucap Rina bersikeras.


Reno menghembuskan nafasnya perlahan kemudian berjalan ke arah pintu bertepatan kedatangan seorang suster sambil tangan kirinya membawa dot dan tangan kanannya menggandeng tangan Aska.


" Maaf tuan, kata Aska kalau adiknya menangis." Ucap perawat tersebut.


oooeeee


" Iya sus tolong putriku suster." Mohon Reno sambil memberikan putrinya ke perawat.


Suster tersebut langsung menggendong dan memberikan dot ke mulut mungil dan bayi itu pun langsung terdiam dan mulai meminumnya hingga habis.


" Maaf tuan bisa tolong pegang dotnya?" Tanya perawat tersebut sambil memberikan dot yang sudah habis.


" Bisa suster." Jawab Reno sambil menerima dot tersebut.


Suster itupun memukul perlahan punggung Ana.


" Kenapa punggungnya di pukul?" Tanya Reno


" Maaf tuan kalau habis minum susu memang seperti ini agar susunya tidak dimuntahkan." Jawab suster tersebut.


Reno hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti sedangkan bayi Riana mulai memejamkan matanya dan masih terdengar suara sesunggukkan.


" Kenapa putriku sesunggukkan suster?" Tanya Reno


" Itu karena terlalu lama bayi tuan menangis jadi seperti ini." Ucap suster tersebut dengan nada lembut.


" Suster mulai hari ini suster bekerja di tempatku tidak perlu menunggu dua hari." Ucap Reno.


" Baik tuan." Jawab suster tersebut


" Maaf tuan bayinya sudah tidur, saya letakkan di ranjang tuan." Ucap suster tersebut.


" Baik silahkan." Jawab Reno


Suster tersebut membawa bayi mungil itu ke box kemudian membalikkan badannya namun beberapa langkah Rina menghina perawat tersebut.


" Cih, jangan ada pikiran untuk merebut suamiku, dasar perempuan murahan" Hina Rina


" Maaf nyonya saya tidak mengerti maksud nyonya." Ucap perawat tersebut.


" Rina!!!" Bentak Reno.


Oooeeee


Oooeeee


Ke dua bayi kembar itupun serentak menangis dan buru-buru Rina menggendong Riani sedangkan perawat menggendong Riana.


" Maaf tuan dan nyonya, di sini ada bayi jangan mengeluarkan suara keras nanti bayinya menangis." Ucap perawat itu dengan suara pelan.


" Hei perawat, kamu itu di gaji jangan sok nasehatin kami." Ucap Rina sambil menatap tajam ke arah perawat tersebut.