
" Dari kepala pelayan, kepala pelayan sering cerita padaku dan aku juga tahu kakak sering di bully oleh teman kakak dari temanku yang kebetulan kakaknya sekelas dengan kakak karena itulah aku selalu membela kakak." Ucap Riana menjelaskan.
Aska hanya diam saja walau dia sangat membenci ibu angkatnya dan ingin membunuhnya tapi Aska tidak tega menyakiti Riana karena Aska menganggap Riana sebagai adiknya untuk saat ini entah di tahun-tahun mendatang.
" Kak Aska." Panggil Riana
" Ya." Jawab Aska singkat
" Kak, di tempat yang baru bolehkah aku belajar ilmu bela diri? Selain untuk diriku sendiri juga bisa membantu kakak jika ada orang yang menyakiti kakak dan bisa membantu orang yang membutuhkan pertolongan." Ucap Riana
" Boleh, kakak juga akan belajar ilmu bela diri agar kakak bisa melindungi adik-adik kakak." Ucap Aska.
krucuk krucuk krucuk
Tiba-tiba perut Riana bernyanyi membuat Aska tertawa.
" Aish kakak nyebelin." Ucap Riana sambil cemberut
" Iya - iya kakak tidak akan tertawa, kamu lapar?" Goda Aska
" Tidak kak, aku ngantuk." Ucap Riana dengan wajah di tekuk
" Aish... adikku yang cantik ini sakit-sakit gampang ngambek, kakak suapin ya?" Tanya Aska sambil membelai rambut Riana
" Terima kasih kakakku yang sangat tampan." Jawab Riana sambil tersenyum manis
Aska hanya tersenyum dan mengambil mangkok yang berisi bubur dan mulai menyuapi Riana namun di suapan ke dua Riana memegang tangan Aska kemudian mengarahkan sendoknya ke arah mulut Aska.
" Kakak juga makan, biar kita selalu sehat dan cepat pergi dari kota ini." Ucap Riana.
Aska hanya tersenyum dan membuka mulutnya, akhirnya Aska menyuapi untuk dirinya kemudian dilanjutkan menyuapi Riana hingga tidak berapa lama bubur yang berada di mangkok habis tanpa sisa. Selain makan satu mangkok berdua begitu pula dengan gelas, Riana tidak merasa jijik melainkan karena Riana menganggap Aska sebagai kakak tidak lebih.
" Kak." Panggil Riana
" Ya." Jawab Aska singkat
" Kakak tidurlah di sebelahku." Ucap Riana sambil menggeserkan tubuhnya.
" Nanti kamu kesempitan apalagi kamu masih terluka." Ucap Aska
" Tidak kak ranjang ini luas apalagi aku tidak tega melihat kakak tidur di kursi pasti pegal." Ucap Riana.
" Baiklah." Jawab Aska akhirnya
Aska naik ke ranjang dan tidur bersama untuk pertama kalinya. Tidak membutuhkan waktu lama mereka pun sudah tertidur dengan pulas.
xxxxxxx
Tiga Hari Kemudian
Selama di rumah sakit Aska jarang pulang dirinya tinggal di rumah sakit dan membeli perlengkapan mandi dan pakaian.
Setelah selesai membayar biaya administrasi mereka pulang menggunakan taksi menuju ke mansion sampai di gerbang mansion mereka turun dari taksi.
" Selamat datang tuan muda Aska dan nona Riana." Sapa salah satu bodyguard dengan ramah sambil membuka pintu gerbang mansion.
" Terima kasih pak." Jawab Riana.
Aska hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka masuk ke dalam mansion dan berjalan ke arah kamar mereka, mereka melewati ruang tamu dan melihat Riani sedang menatapnya dengan kesal.
" Kenapa lama sekali pulangnya?" Tanya Riani dengan nada ketus
" Riani, kakakmu itu tertembak dan sekarang sudah agak mendingan. Apakah kamu tidak bisa sopan sedikit dengan kakakmu?" Tanya Aska dengan nada kesal.
Riani hanya bisa mendengus kesal karena Aska selalu membantu kakaknya yang bernama Riana.
" Kami mau pergi dari kota ini apakah kamu mau ikut?" Tanya Aska
" Pergi? Aku tidak mau." Ucap Riani
" Terserah padamu yang pasti kakak dan Riana akan pergi hari ini." Ucap Aska yang sudah mulai kesal dengan Riani
" Iya.... iya... aku ikut." Ucap Riani dengan nada kesal sambil berdiri dan berjalan dengan ke dua kakinya di hentak-hentakan ke lantai.
Aska dan Riana hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian mereka berjalan ke arah kamar masing-masing.
Satu setengah jam kemudian Riana dan Riani sudah selesai membawa barang-barang mereka dan mereka berkumpul di ruang keluarga dan melihat Aska sedang duduk bersama semua penghuni mansion. Sebenarnya Aska dan Riana sudah selesai mereka membawa barang-barang yang penting dalam waktu satu jam kurang sedangkan Riani membawa semua barang miliknya membuat Riana membantu adik kembarnya.
" Karena semua sudah berkumpul jadi aku Aska sebagai kakak tertua dari ke dua adikku mengatakan kalau kami bertiga akan pergi dari kota ini tapi sebelum kami pergi dari mansion ini aku akan memberikan gaji kalian sebanyak tiga kali lipat dan datanya ada di tanganku." Ucap Aska
" Kakak dapat dari mana data ini?" Tanya Riana penasaran.
" Sehari sebelum kecelakaan mommy Chyntia memberikan data dan tas yang berisi uang padaku sepertinya mommy sudah merasakan kalau mommy Chyntia akan pergi dari dunia ini." Ucap Aska sambil menahan air matanya.
" Paman tolong bantu untuk membagi-bagikan amplop ini ke semua pekerja mansion." Sambung Aska.
" Baik tuan muda." Jawab kepala pelayan sambil menahan air matanya.
Semua para pekerja mansion menitikkan air mata ketika mendengar ucapan Aska karena majikan mereka yang bernama Reno dan Chyntia sangat baik pada mereka namun sayang mereka meninggal secara tragis berbeda dengan Rina yang berbuat sesuka hati. Mereka hanya bisa berharap agar Aska dan ke dua adiknya selalu bahagia terlebih Aska dan Riana yang sangat baik pada mereka.
Kepala pelayan, Aska dan Riana membantu membagi-bagikan amplop sedangkan Riani malas melakukan itu dirinya hanya berbaring di sofa layaknya seorang ratu sama seperti sikap ibunya yang bernama Rina.
" Ini terakhir untuk paman." Ucap Aska setelah mereka selesai membagi-bagikan ke semua pekerja mansion.
" Terima kasih tuan muda Aska, nona muda Riana." Ucap kepala pelayan sambil menerima amplop tersebut.