Mafia VS Psychophat

Mafia VS Psychophat
Maaf tuan ini paper bag nya



" Sekarang keputusan ada di tanganmu, katakan atau semua anak buahku bermain denganmu dan aku bisa memastikan kamu akan ma*i ketika semua anak buahku melakukan itu padamu." Ancam tuan Robert.


" Ba.... baik akan aku katakan, aku di suruh seorang wanita untuk membunuh wanita yang sedang berbaring di rumah sakit." Ucap gadis itu yang memakai pakaian perawat itu akhirnya terpaksa mengaku dari pada dirinya menjadi mainan anak buah tuan Robert.


" Siapa wanita itu?" Tanya tuan Robert dengan nada dingin.


" Maaf tuan aku tidak tahu." Jawab gadis itu yang memakai pakaian perawat itu.


dor


" Akhhhh..." Teriak perawat itu.


Gadis yang memakai pakaian perawat itu itupun langsung ma*ti seketika karena tuan Robert menembaknya pas di keningnya dan mengeluarkan darah segar. Sebagian darah terciprat ke pakaian jas tuan Robert kemudian tuan Robert menatap ke arah pria yang memakai seragam dokter itu dengan tubuh gemetaran.


" Apakah jawabanmu sama dengan temanmu yang sudah ma*i atau kamu mempunyai jawab yang berbeda?" Tanya tuan Robert dengan tatapan membunuh.


glek


Pria yang berpakaian dokter itu menelan salivanya dengan kasar dirinya sangat menyesal telah bekerja sama untuk membunuh Claudia.


" Wanita itu tidak menyebutkan namanya dia hanya memberikan kami segepok uang setelah itu pergi." Ucap pria yang berpakaian dokter itu.


" Kamu ingat wajahnya?" Tanya tuan Robert


" Wanita itu memakai masker jadi aku tidak melihatnya dengan jelas." Ucap pria yang berpakaian dokter itu.


" Ceritakan lebih jelas bagaimana kamu dan wanita itu bertemu?" Tanya tuan Robert


" Wanita itu menghubungiku dan mengajakku bersama rekanku yang sudah meninggal untuk bertemu di kafe. Sampai di kafe wanita itu datang dengan memakai masker dan memperlihatkan foto seorang gadis yang berada di kameranya dan memerintahkan kami untuk membunuh gadis yang sedang di rawat di ruang ICU. Setelah selesai bicara wanita itu memberikan segepok uang dan pergi." Ucap pria yang berpakaian dokter itu.


" Apakah sekarang dia sudah menghubungimu?" Tanya tuan Robert


" Belum tuan." Jawab pria yang berpakaian dokter itu.


" Coba kamu hubungi wanita itu." Perintah tuan Robert ke anak buahnya.


" Baik tuan." Jawab anak buahnya yang sudah menyita ponsel milik pria yang berpakaian dokter itu dan juga gadis yang memakai pakaian perawat yang baru saja di tembak oleh tuan Robert.


Anak buah itupun menghubungi wanita itu tapi tidak aktif hingga tiga kali ponselnya tetap tidak aktif.


" Maaf tuan ponselnya tidak aktif." Ucap anak buahnya


" Apa ada yang lainnya yang belum kamu disampaikan?" Tanya tuan Robert


" Maaf tuan, hanya itu yang saya tahu. Apakah saya dibebaskan tuan?" Tanya pria yang berpakaian dokter itu penuh harap.


" Tentu saja bebas.... Bebas dari..." Ucap tuan Robert menggantungkan kalimatnya.


dor


" Akhhhh..." Teriak pria yang berpakaian dokter itu.


" Bebas dari dunia ini." Sambung tuan Robert


Pria yang berpakaian dokter itu pun langsung ma*ti seketika karena tuan Robert menembaknya pas di keningnya dan pria yang berpakaian dokter itu pun mengeluarkan darah segar dan lagi - lagi sebagian darah terciprat ke pakaian jas tuan Robert.


" Berikan mayatnya ke kandang buaya, jika wanita itu menghubungi angkat saja dan ajak bertemu lalu bunuh wanita itu." Ucap tuan Robert sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut.


" Baik tuan." Jawab salah satu anak buahnya.


Tuan Robert pun meninggalkan tempat tersebut menuju ke garasi mobil. Tuan Robert mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke rumah sakit di mana Riana masih di rawat.


xxxxxxx


Di tempat yang berbeda tepatnya di rumah sakit di mana Riana duduk di ranjang mulai bosan menatap foto-foto dirinya yang berada di galeri ponsel milik tuan Robert. Riana meletakkan kembali ponselnya dan berbaring di ranjang tidak membutuhkan waktu lama Riana sudah tertidur dengan pulas.


Hingga dua jam kemudian Riana membuka matanya dan melihat di sekelilingnya masih sepi membuatnya menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


" Enaknya ngapain ya?" Ucap Riana sambil berfikir.


" Baca noveltoon saja deh." Ucap Riana


Riana mengambil ponsel milik tuan Robert kemudian menginstal aplikasi noveltoon. Setelah beberapa menit aplikasi noveltoon berhasil di download. Riana pun mulai membaca novel-novel yang di sukainya hingga tidak terasa sudah hampir jam dua Riana membaca novel hingga terdengar suara pintu ruang perawatan terbuka.


ceklek


Riana menatap ke arah pintu dan melihat tuan Robert sedang tersenyum menatap Riana. Riana pun membalas senyuman tuan Robert dan meletakkan ponselnya ke meja.


" Lama ya." Ucap tuan Robert sambil berjalan ke arah Riana.


" Lumayan." Jawab Riana singkat.


Riana mencium bau anyir membuat Riana menutup hidungnya membuat tuan Robert terkejut.


" Ada apa?" Tanya tuan Robert dengan nada bingung.


" Pakaian kak Robert kenapa tercium aroma anyir? Apakah kak Robert terluka?" Tanya Riana sambil ke dua tangannya meraba kemeja tuan Robert sambil menahan bau anyir.


grep


" Aku tidak terluka tadi ada orang mengalami kecelakaan dan aku membantunya membawa ke rumah sakit mungkin darahnya menempel di pakaianku." Ucap tuan Robert


( " *Dasar bod*h kamu Robert seharusnya kamu mandi dulu." Ucap tuan Robert dalam hati merutuki kebodohannya* ).


" Bagaimana kondisinya? Apakah dia selamat?" Tanya Riana dengan nada kuatir.


" Tidak selamat." Ucap tuan Robert


Riana menunduk wajahnya mendengar ucapan tuan Robert.


" Kenapa kamu sedih?" Tanya tuan Robert


" Kasihan dia meninggal, kak Robert mandi ya biar aroma anyirnya hilang." Mohon Riana


" Ok." Jawab tuan Robert sambil mengeluarkan ponselnya dan menghubungi anak buahnya untuk membawa pakaian ganti.


" Nanti anak buahku akan datang membawakan pakaian gantiku." Ucap tuan Robert sambil berjalan ke arah kamar mandi.


" Ok." Jawab Riana singkat.


Tuan Robert masuk ke dalam kamar mandi dan membuka seluruh pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benangpun kemudian berjalan ke arah shower dan menyalakan kran air shower.


" Biasanya setiap aku habis membunuh aku jarang mandi karena bau darah ini sangat harum dan enak untuk di hirup tapi sepertinya sekarang sudah tidak bisa lagi demi orang yang aku cintai." Ucap tuan Robert sambil tersenyum.


Lima belas menit kemudian tuan Robert sudah selesai mandi dan memakai handuk yang menutupi sebagian tubuhnya.


ceklek


Tuan Robert membuka pintu kamar mandi dan melihat Riana sedang menatap dirinya.


" Aku tahu kalau aku sangat tampan." Ucap tuan Robert narcis


" Aish... baru tahu kalau ada orang senarcis ini." Ucap Riana sambil memalingkan wajahnya


Tuan Robert hanya tersenyum dan tiba-tiba pintu ruang perawatan VVIP di ketuk sebanyak tiga kali kemudian di buka oleh seseorang.


ceklek


Anak buah tuan Robert berjalan ke arah tuan Robert untuk memberikan paper bag ke tuan Robert.


" Maaf tuan ini paper bag nya." Ucap anak buahnya dengan nada sopan.