
Tuan Robert hanya menganggukkan kepalanya ke arah kepala pelayan kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Tuan Robert mengambil handuk kecil dan membersihkan wajah Riana yang mengeluarkan darah segar dan lebam dengan sangat hati-hati dengan menggunakan air hangat.
" Ssstt.." Ringis Riana ketika handuk yang terkena air hangat menyentuh wajahnya membuat Riana tersadar dari pingsannya dan perlahan membuka matanya.
" Maaf, sakit ya?" Tanya tuan Robert ikut meringis melihat wajah mulus Riana kini lebam-lebam dan luka-luka.
Riana hanya menganggukkan kepalanya pelan karena mulutnya terasa sakit dan perih. Tuan Robert dengan perlahan membersihkan wajah Riana sambil sekali-sekali meniup wajah Riana. Bau harum mint membuat Riana memejamkan matanya menikmati tiupan tuan Robert.
Tidak berapa lama terdengar suara ketukan pintu dan tuan Robert meletakkan handuknya kemudian berjalan ke arah pintu kamarnya.
ceklek
Tuan Robert membuka pintu kamarnya dan melihat dokter pribadinya datang.
" Masuklah." Jawab tuan Robert
" Tuan sakit apa? Saya lihat tuan baik-baik saja." Ucap dokter pribadinya.
" Bukan aku yang sakit tapi kekasihku yang sakit." Ucap tuan Robert.
"Sejak kapan tuan mempunyai kekasih?" Tanya dokter pribadi.
" Cepat periksa jangan banyak tanya." Omel tuan Robert tidak menjawab pertanyaan dokter pribadi.
" Iya... iya." Jawab dokter pribadi sambil berjalan ke arah ranjang dan menatap wajah lebam Riana.
" Nona kenapa?" Tanya dokter pribadi sambil meringis karena dirnya tahu pasti terasa sakit terlebih terdengar suara ringisan Riana.
Dokter pribadi itupun membuka tas kemudian mulai mengobati luka Riana hingga hampir setengah jam dokter tersebut selesai mengobatinya.
" Apakah lukanya akan membekas?" Tanya tuan Robert
" Kalau tidak diberikan obat yang lumayan mahal lukanya akan membekas." Ucap dokter pribadi tersebut.
" Belilah obat itu, semahal apapun aku akan membelinya." Ucap tuan Robert.
" Ok dan ini obat penghilang nyeri." Ucap dokter pribadi tersebut memberikan obat ke arah tuan Robert.
" Pergilah." Usir tuan Robert.
" Aish nyebelin, sejak kapan kalian menjadi pasangan kekasih?" Tanya dokter pribadi penasaran.
" Berisik pergilah." Usir tuan Robert lagi sambil menatap tajam ke arah dokter pribadinya.
" Sudah bisa move on ternyata." Goda dokter pribadi tersebut tanpa ada rasa takutpun.
" Kamu mau rumah sakitmu rata dengan tanah?" Ancam tuan Robert.
" Aishhh ... Benar-benar... baik aku pergi." Ucap dokter keluarga tersebut.
Dokter itupun pergi meninggalkan mereka berdua sedangkan Riana hanya menatap ke arah wajah tampan tuan Robert yang kini menjadi kekasihnya.
" Ada yang ingin kamu tanyakan?" Tanya tuan Robert ketika melihat Riana menatap dirinya.
" Apakah kak Robert menganggapku sebagai pelarian?" Tanya Riana
" Kenapa kamu bilang begitu? tentu saja aku sangat tulus mencintaimu." Ucap tuan Robert.
Riana menatap mata tuan Robert dan tidak ada kebohongan di matanya.
" Baiklah aku percaya pada kakak tapi jika seandainya kak Robert sudah bosan padaku atau menemukan penggantiku bilang padaku agar aku pergi dari kehidupan kak Robert." Ucap Riana dengan wajah sendu.
" Bagiku kamu adalah wanita yang sangat sempurna untukku jadi mana mungkin aku ada pikiran untuk mencari wanita lain." Ucap tuan Robert.
Riana menatap kembali mata tuan Robert dan tidak ada kebohongan di matanya.
" Sayang, mau makan apa? setelah sayangku makan minum obat." Ucap tuan Robert.
" Apa saja asal yang lembut mulutku sakit kalau untuk mengunyah." Ucap Riana.
" Kalau bubur ayam mau?" Tanya tuan Robert
cup
" Kamu tunggu di sini." Ucap tuan Robert sambil mengecup bibir Riana singkat kemudian berdiri.
" Mau kemana?" Tanya Riana
" Mau masak bubur ayam dulu, bukankah sayangku ingin makan bubur?" Tanya tuan Robert
" Iya benar, tapi aku pikir kak Robert meminta pelayan untuk membuatnya." Ucap Riana.
" Tidak aku ingin masak spesial buat orang yang aku cintai." Ucap tuan Robert sambil berjalan ke arah pintu kamarnya.
Riana hanya menatap punggung tuan Robert hingga tuan Robert keluar dari kamarnya.
" Aku sangat mencintaimu dan tidak sabar kita menikah." Ucap Riana
Riana memejamkan matanya sambil menahan perih pada wajah dan tubuhnya. Hingga dua puluh menit kemudian tuan Robert membuka pintu kamarnya sambil membawa nampan yang berisi mangkok isi bubur ayam buatannya dan segelas air hangat.
Tuan Robert meletakkan nampannya di atas meja kemudian membangunkan Riana dengan perlahan.
" Riana sayang, bangun buburnya sudah matang." Ucap tuan Robert dengan nada lembut.
Riana perlahan membuka matanya dan menatap tuan Robert sedang mengangkat kepala Riana kemudian meletakkan bantalnya agar kepalanya lebih tinggi.
" Aku suapi dulu." Ucap tuan Robert
Tuan Robert mengambil bubur sedikit dan mulai menyuapi Riana sesendok demi sesendok hingga lima belas menit mangkok yang berisi bubur habis tanpa sisa kemudian tuan Robert mengangkat perlahan kepala Riana dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang gelas dan diletakkan ke mulut Riana.
" Minumlah." Ucap tuan Robert.
Riana meminum air mineral hingga setengah gelas kemudian tuan Robert meletakkan kembali gelasnya ke meja dan meletakkan perlahan kepala Riana.
" Sekarang minum obat ya?" Ucap tuan Robert.
" Aku tidak mau minum obat." Tolak Riana
" Memang kenapa?" Tanya tuan Robert sambil menaikkan salah satu alisnya.
" Aku tidak suka minum obat." Ucap Riana
Tuan Robert terdiam beberapa saat sambil berpikir hingga tidak berapa dirinya mempunyai ide. Tiga obat dimasukkan sekaligus ke mulutnya kemudian dikunyah hingga halus. Tuan Robert mengambil gelas bekas minuman Riana dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Tuan Robert mendekatkan wajahnya ke wajah Riana kemudian membuka perlahan mulut Riana dengan menggunakan tangan kanannya setelah terbuka tuan Robert memasukkan obat yang berada di dalam mulutnya ke mulut Riana membuat Riana sangat terkejut dan langsung menelannya walau rasanya sangat pahit.
Setelah selesai tuan Robert meminum air kembali yang tinggal sedikit kemudian memasukkan ke mulut Riana agar lidah Riana tidak terlalu pahit.
" Kak Robert." Ucap Riana dengan bibir bawahnya dimajukan ke depan.
" Kenapa? Mau di cium lagi?" Tanya tuan Robert sambil menahan senyum
" Dasar mesum." Ucap Riana.
" Mesum sama kamu tidak apa-apakan? Apalagi bibirmu rasanya manis banget." Ucap tuan Robert
" Gula kali manis." Ucap Riana
" Pffftttt hahahaha... " Tawa tuan Robert pecah.
" Memangnya ada yang lucu." Ucap Riana dengan wajah di tekuk.
" Kamu sangat menggemaskan, oh ya sayang bagaimana kalau dua minggu lagi kita menikah?" Tanya tuan Robert penuh harap.
" Kenapa terburu-buru?" Tanya Riana
" Kamu tahu sayang jika dekat denganmu aku selalu ingin memakanmu karena itulah aku ingin secepatnya menikah denganmu." Ucap tuan Robert.
" Menikah denganku hanya karena itu?" Tanya Riana