
" Robertus Alexander Graham, Alexa Keyla Aberto, Angelina Federick, Louis Vuitton Aberto dan Araska Dacosta Abner silahkan menemui kepala sekolah." Perintah wali kelas.
" Baik pak." Jawab ke lima siswa dan siswi dengan patuh.
Ke lima siswa dan siswi berjalan menuju ke ruangan kepala sekolah, sampai di depan ruangan kepala sekolah Angel mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Masuk." Jawab kepala sekolah
Ke lima siswa dan siswi masuk ke dalam ruangan kepala sekolah dan berdiri di hadapannya.
" Pagi pak." Ucap ke lima siswa dan siswi
" Duduk." Perintah kepala sekolah
Mereka berlima duduk dengan patuh tanpa ada yang bicara sedikitpun.
" Kalian tahu kenapa bapak panggil ke sini?" Tanya kepala sekolah sambil menatap tajam satu persatu anak muridnya.
" Maaf pak kami tidak tahu." Jawab mereka kompak.
" Kalian telah mengeroyok Budi kemarin di dekat pinggir danau dekat sekolah, apakah kalian lupa?" Tanya kepala sekolah
" Kami tidak mengeroyok pak, Budi bersama ke lima temannya yang mulai duluan mengeroyok temanku Aska dan aku sebagai temannya membantu." Jawab Angel.
" Benar pak apa yang dikatakan oleh Angel." Jawab Robert, Alexa dan Louis serempak.
" Apakah benar begitu Aska?" Tanya kepala sekolah sambil menatap tajam ke arah Aska
" Seperti yang di katakan oleh ke empat temanku adalah benar, mereka lebih sering mengeroyokku tapi aku malas meladeni mereka." Ucap Aska
" Kalau malas meladeni lalu kenapa sekarang kamu melawannya?" Tanya kepala sekolah yang merasa dirinya tidak bersalah mengatakan hal itu.
brak
" Bapak itu panutan kami dan bekerja sebagai kepala sekolah, apakah begitu ajarannya? Jika ada anak yang di bully bapak membiarkannya." Ucap Robert dengan nada tegas sambil menggebrak meja.
" Dasar murid kurang ajar, kamu berani sama bapak hah!!" Bentak kepala sekolah
" Saya berani dan kurang ajar karena bapak sebagai kepala sekolah membiarkan anak bapak berbuat sesukanya termasuk membuly siswa lain." Ucap Robert naik satu oktaf.
Kepala sekolah sangat marah dan bersiap menampar Robert tapi teriakan seseorang membuatnya menurunkan tangannya.
" Jangan berani menyentuh putraku!!" Bentak seorang pria tampan yang tiba-tiba datang bersama dua belas bodyguardnya.
Kepala sekolah memalingkan wajahnya dan matanya langsung membulat sempurna kemudian tubuhnya gemetar karena ketakutan karena pasalnya pemilik sekolah datang dan anak yang akan ditamparnya ternyata adalah anak pemilik sekolah.
" Daddy." Panggil Robert
Pria tampan tersebut hanya menganggukkan kepalanya kemudian mendekati putra kesayangannya.
" Tuan Federick, maafkan saya." Ucap kepala sekolah
" Ronald." Panggil tuan Federick
Ronald adalah asisten tuan Federick sekaligus tangan kanannya. Ronald yang di panggil hanya menganggukkan kepalanya kemudian memberikan surat untuk kepala sekolah.
" Mulai saat ini anda tidak berjabat menjadi kepala sekolah dan juga putramu berserta ke lima temannya mulai sekarang dan seterusnya dikeluarkan dari sekolah." Ucap Ronald.
" Apa??? Tidak... tidak ... maafkan saya dan putraku." Ucap kepala sekolah.
" Anda telah menyalah gunakan kekuasaan dengan membiarkan putra anda berbuat semena-mena terhadap teman-temannya jadi dengan terpaksa kami memecat anda dan mengeluarkan anak-anak yang suka menindas." Ucap Ronald
" Aku tidak apa-apa di pecat tapi kasihan putraku jika mesti dikeluarkan dari sekolah." Ucap kepala sekolah berusaha bernegosiasi.
" Kemarin kami ingin melakukan seperti ini namun tuan muda Robert meminta untuk tidak melakukan ini tapi ternyata paginya seperti ini dan anda masih juga melindungi dan membela putra anda yang jelas-jelas berbuat salah di tambah anda hendak menampar tuan muda Robert. Jadi tidak ada toleransi buat anda." Jawab Robert
" Tapi..." Ucapan kepala sekolah terpotong oleh tuan Federick
" Pengawal usir dia." Ucap tuan Federick
" Maafkan saya tuan." Mohon kepala sekolah.
Tuan Federick tidak memperdulikan dan ke dua bodyguard menarik kepala sekolah keluar dari sekolah tersebut dengan disaksikan banyak guru dan murid.
" Kamu, panggil ke enam anak murid dan katakan bereskan tasnya mulai hari ini dan seterusnya tidak sekolah lagi di sini." Perintah Federick ke salah satu guru sekolah.
" Baik tuan." Jawab guru tersebut dengan patuh.
" Kalian bertiga temani guru itu untuk mengusir ke anak itu." Perintah tuan Federick.
" Baik tuan." Jawab ke tiganya serempak
Guru itupun keluar dengan di temani ke tiga bodyguard tersebut.
" Kalian kembalilah ke kelas daddy akan mengurus sekolah di sini dulu." Ucap tuan Federick.
" Baik dad." Jawab Robert.
" Baik paman." Jawab Alexa, Angel dan Louis serempak.
" Baik tuan." Jawab Aska.
" Tunggu, siapa namamu?" Tanya tuan Federick menunjuk ke arah Aska
" Saya Araska Dacosta Abner tuan panggilannya Aska" Jawab Aska.
" Ke empatnya keluar dulu daddy ingin bicara dengan Aska." Ucap tuan Federick.
Ke empatnya menganggukkan kepalanya tanda mengerti kemudian meninggalkan mereka menuju ke kelasnya.
" Aska duduk." Pinta tuan Federick
Aska dengan patuh duduk di sebelah tuan Federick.
" Siapa nama orang tuamu?" Tanya tuan Federick
" Nama daddyku Reno Dacosta Abner sedangkan mommyku Rina Abner." Jawab Aska
" Apakah mereka orang tua kandungmu?" Tanya tuan Federick penasaran.
" Maaf tuan, kenapa tuan menanyakan hal itu?" Tanya Aska dengan nada bingung.
" Panggil aku paman, maaf paman mengatakan hal itu karena kamu mirip sekali dengan adikku." Ucap tuan Federick
" Mirip adik paman? lalu adik paman kemana?" Tanya Aska antusias.
Tuan Federick menghembuskan nafasnya dengan berat kemudian menatap Aska yang sangat mirip dengan adiknya hanya Aska versi kecil sedangkan adiknya versi dewasa.
" Adik paman dibunuh seseorang dan adik ipar paman melarikan diri sambil membawa putranya." Ucap tuan Federick
" Kenapa adik ipar paman melarikan diri? Apakah adik ipar paman melakukan kesalahan?" Tanya Aska
" Adik ipar paman tidak melakukan kesalahan melainkan adik ipar paman melarikan diri karena melindungi putranya dari kejaran orang yang ingin membunuh mereka tapi sayang ketika paman menemukan adik ipar paman ternyata terlambat karena adik paman ditemukan dalam kondisi mengenaskan." Ucap tuan Federick sambil pikirannya menerawang ke masa lalu dan tanpa sengaja air matanya menetes keluar dan langsung menghapusnya dengan kasar tapi Aska sempat melihatnya.
" Bagaimana dengan anaknya?" Tanya Aska
" Paman tidak tahu karena waktu adik ipar meninggal dia hanya sendiri." Ucap tuan Federick
Aska mulai berfikir untuk mengatakan yang sebenarnya kalau dirinya bukan anak kandung mereka atau tidak.
" Aku bu..." Ucapan Aska terpotong ketika ponsel milik tuan Federick berdering.
" Sebentar." Ucap tuan Federick
Tuan Federick mengambil ponselnya di saku jasnya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya setelah mengetahui dirinya menggeser tombol berwarna hijau dan menempelkan ponselnya ke telinganya. Setelah lima menit tuan Federick memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak dan menyimpan kembali ponselnya.
" Maaf tadi teman bisnis paman, lanjukan lagi ceritanya." Pinta tuan Federick