
Aska berjalan ke arah Riani sedangkan Riani hanya menggelengkan kepalanya sambil mengeluarkan air matanya agar Aska berhenti untuk tidak melakukannya. Aska menggenggam dagu Riani dengan erat kemudian pisau di arahkan ke mata Riani membuat tubuh Riani gemetaran.
" Kak Aska aku mohon maaf, aku bersedia melakukan apapun asalkan kak Aska membebaskanku." Mohon Riani sambil berusaha menarik dagunya tapi tidak bisa karena Aska menggenggamnya dengan erat.
jleb
" Akhhhhhhhh sakitttttt.." Teriak Riani ketika pisau itu menusuk matanya.
Darah segar keluar dari matanya membuat Riani kesakitan membuat satu mata Riana menjadi buta. Darah segar itu mengenai wajah Aska membuat Aska mengusap wajahnya.1
jleb
" Akhhhhhhhh sakitttttt.." Teriak Riani ketika pisau itu menusuk matanya yang ke dua.
Darah segar keluar dari matanya yang satunya lagi membuat Riani kesakitan dan kini dirinya benar-benar buta. Aska mengusap wajahnya kembali ketika darah segar itu mengenai wajah Aska.
" Kak Aska, hiks... hiks... hiks... aku mohon bunuhlah aku, aku tidak sanggup." Mohon Riani sambil terisak dan kesadarannya mulai berkurang karena darahnya tidak berhenti keluar.
" Terlalu enak buatmu kalau aku langsung membunuhmu." Ucap Aska sambil tersenyum devil.
Aska melepaskan genggaman yang mencengkram dagu Riani kemudian berlanjut memegang salah satu gunung kembar milik Riani.
sretttt
" Akhhhhhhhh sakitttttt.." Teriak Riani ketika pisau itu memotong salah satu gunung kembarnya yang menjadi aset berharganya membuat darah segar keluar kembali dan mengenai pakaian Aska.
sretttt
" Akhhhhhhhh sakitttttt.." Teriak Riani kembali ketika pisau itu memotong salah satu gunung kembarnya satunya lagi dan kini aset berharganya yang dibanggakan sudah tidak ada lagi membuat darah segar keluar kembali dan mengenai pakaian Aska.
bruk
Riani langsung tidak sadarkan diri karena banyaknya darah keluar dari tubuh Riani tapi karena ke dua tangan dan ke dua kakinya terikat membuat Riani tidak terjatuh.
" Huh... pingsan lagi." Omel Aska karena kesenangannya hilang.
" Paman." Panggil Aska
" Iya tuan." Jawab kepala pelayan yang sejak tadi melihat kesadisan Aska.
Awal pertama dirinya sangat takut tapi lama-kelamaan dirinya sudah terbiasa melihat kesadisan Aska.
" Lakukan sisanya dan buang ke kandang buaya." Ucap Aska sambil membuang pisau secara asal.
" Baik tuan." Jawab kepala pelayan sambil tersenyum menyeringai.
Dirinya sangat dendam terhadap Riani karena itulah dirinya ingin menyiksa Riani sedangkan Aska berjalan ke arah kamar pribadinya yang dekat dengan ruangan penyiksaan.
Kepala pelayan sudah menyiapkan air garam dua ember. Ember pertama langsung di siram ke tubuh Riani membuat Riani memaksakan dirinya untuk sadar dan ember ke dua kembali di siram membuat Riani berteriak kesakitan.
" Bagaimana sakit?" Tanya kepala pelayan sambil tersenyum menyeringai.
" Brengs*k pria rendahan berani menyiksaku." Hina Riani
" Sepertinya siksaan dari tuan muda Aska tidak berpengaruh padamu." Ucap kepala pelayan sambil mengambil pisau yang tergeletak di lantai bekas dipakai oleh Aska.
" Brengs*k bunuh saja aku..." Ucap Riani sambil menggigit bibirnya menahan rasa sakit yang luar biasa.
Kepala pelayan meletakkan pisaunya di leher Riani kemudian menariknya hingga ke perut membuat Riani kembali berteriak kesakitan kemudian tubuhnya mulai mengejang.
" Sebentar lagi kamu akan ma*i." Ucap kepala pelayan sambil tersenyum devil.
" Sepertinya kamu sangat tersiksa antara hidup dan ma*i mungkin itu di sebabkan dosamu yang terlalu banyak." Ucap kepala pelayan yang melihat Riani sangat tersiksa tidak bisa ma*i.
Kematian Riani yang sangat mengenaskan yang tidak pernah dibayangkan oleh Riani sedikitpun ketika Riani masih hidup. Kepala pelayan melepaskan ikatan pada ke dua tangan dan ke dua kakinya kemudian di bawa ke kandang buaya.
Kepala pelayan melempar tubuh Riani yang sudah tidak berdaya dan langsung di sambut oleh dua buaya. Tubuh Riani langsung di koyak oleh dua buaya tersebut dan masuk ke dalam mulut buaya.
" Itulah hukumanmu yang berbuat semena-mena." Ucap kepala pelayan sambil membalikkan badannya.
Kepala pelayan membawa selang dan menyiram bekas darah Riani kemudian diberikan karbol agar bau amisnya hilang kemudian dilanjutkan membersihkan alat-alat siksaan yang tadi di pakai oleh tuan Aska.
ceklek
Aska membuka pintu dan melihat kepala pelayan sudah selesai melakukan tugasnya.
" Paman, aku pergi dulu ke rumah sakit." Ucap Aska
" Semoga nona Riana cepat sembuh tuan." Ucap kepala pelayan
" Semoga saja." Ucap Aska
" Nona Riani sudah ma*i lebih baik nona Riana tinggal di sini saja." Ucap kepala pelayan.
" Aku akan mencoba membujuk Riana untuk tinggal di sini." Ucap Aska
Kepala pelayan hanya menganggukkan kepalanya sedangkan Aska berjalan meninggalkan ruang penyiksaan menuju ke rumah sakit.
xxxxxxx
Di tempat yang berbeda Riana sudah dipindahkan ke ruang ICU karena Riana belum sadarkan diri. Dua orang yang satu berpakaian dokter dan yang satunya berpakaian perawat yang wajahnya ditutupi oleh masker berjalan ke arah ruang icu di mana Riana masih terbaring dengan lemah dan tidak sadarkan diri.
Tanpa sepengetahuan mereka gerak gerik mereka di lihat oleh seorang pemuda tampan karena penasaran pemuda tampan tersebut mengikuti ke dua orang tersebut. Dua orang tersebut masuk ke dalam ruang ICU kemudian salah satu dari mereka yang memakai pakaian seragam dokter mengambil bantal yang di pakai oleh Riana kemudian membekap wajah Riana.
Riana yang tidak bisa bernafas tubuhnya mulai kejang-kejang sedangkan yang satunya yang memakai seragam perawat memegangi ke dua kaki Riana membuat tubuh Riana semakin melemah.
bugh
bruk
" Kurang aj*r!!" Bentak pemuda tampan tersebut sambil memukul bahu pria yang sedang memegang ke dua kaki Riana.
Orang yang memakai pakaian seragam dokter terkejut dan bersiap melawan pemuda tampan tersebut yang sedang bersiap untuk menyerang dirinya.
bugh
bugh
Pemuda tampan tersebut memukul orang yang memakai pakaian seragam sedangkan serangannya bisa di hindari oleh pemuda tampan tersebut.
duag
bruk
Pemuda tampan tersebut menendang tulang kering hingga pria itu terjatuh. Pemuda tampan tersebut membuka bantal yang menutupi wajah Riana. Matanya membulat sempurna melihat gadis yang sangat dicintainya ada di depannya dan hampir saja di bun*h oleh dua pria tersebut.
Pemuda tampan tersebut menekan tombol darurat yang berada di dekat ranjang Riana setelah selesai menekan pemuda tampan tersebut membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah pria yang memakai seragam dokter.
" Siapa yang menyuruh kalian hah!!" Bentak pemuda tampan tersebut.
Suara keras pemuda tampan tersebut membuat Riana membuka matanya perlahan dan melihat seorang pemuda tapi tidak terlihat jelas karena membelakangi dirinya.
" Aku tidak akan mengatakannya." Ucap pria tersebut.