Mafia VS Psychophat

Mafia VS Psychophat
Riana Terluka



" Riana ingin hidup mandiri." Ucap Riana


" Tidak boleh satupun yang boleh keluar." Ucap Aska sambil berjalan ke arah pintu utama.


" Kak Aska akan menikah dengan adikku Riani jadi aku minta sama kakak agar aku diperbolehkan untuk pindah." Ucap Riana


" Kita bicarakan lagi kakak mau ke kantor." Ucap Aska sambil membuka pintu utama.


" Hah... nyebelin banget." Gerutu Riana sambil berjalan ke arah kamarnya.


Tanpa sepengetahuan mereka berdua kalau percakapan mereka terdengar oleh Riani ketika Riani sedang membuka pintu kamar milik Aska.


Ketika Riani ingin membuka pintu untuk menyuruh kakaknya membuatkan makanan karena dirinya sangat lapar secara tidak sengaja mendengarnya.


" Si*lan kamu kak Riana, kak Aska tidak mau melepaskanmu aku harus cari cara agar kak Riana tidak menggangu hubunganku dengan kak Aska." Ucap Riani menahan amarahnya.


Riani keluar kamar dan berjalan ke arah kamar kakaknya.


brak


Riani membuka pintu kamar kakaknya dengan kasar dan melihat kakaknya sedang berdiri menatap pemandangan dari jendela kamarnya.


" Kak Riana." Panggil Riani dengan nada ketus


" Ada apa?" Tanya Riana sambil membalikkan badannya.


" Kak, aku dan kak Aska akan menikah jadi aku minta kakak secepatnya pindah dari rumah ini." Ucap Riani.


" Kakak tahu tapi kak Aska melarang kakak untuk pindah." Ucap Riana menjelaskan.


" Kakak bisa pergi diam-diam dan menjauh agar kak Aska tidak menemukan kakak." Ucap Riani


" Kakak akan pergi jika kita pindah dari kota ini." Ucap Riana


" Aku ingin kakak pergi sekarang." Usir Riani


Riana menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian berjalan ke arah lemari mengambil koper yang berada di atas lemari kemudian membuka pintu lemari pakaian.


" Kalau itu maumu baiklah kakak akan pergi." Ucap Riana mengalah sambil memasukkan semua pakaiannya ke dalam kopernya.


" Baguslah lebih cepat lebih baik sebelum kak Aska datang kakak sudah pergi dari sini." Ucap Riani sambil berjalan meninggalkan kamar kakaknya.


Setengah jam kemudian Riana keluar dari kamarnya dan berjalan ke pintu utama dan melihat Riani sedang duduk di ruang tamu sambil menatapnya dengan tajam.


" Pergilah." Usir Riani


" Jaga dirimu baik-baik." Ucap Riana


" Jangan sok perhatian, pergi sana." Usir Riani


Riana hanya menghembuskan nafasnya dengan berat melihat sikap adiknya kembali seperti dulu namun ketika dirinya sedang membuka pintu utama bertepatan kedatangan Aska.


" Mau kemana?" Tanya Aska sambil membawa tiga kotak makanan dari restorannya.


" Sebentar lagi kak Aska dan adikku akan menikah jadi lebih baik aku pergi saja dari rumah ini." Ucap Riana menjelaskan


" Tidak boleh satupun yang boleh keluar dari rumah ini tanpa seijinku." Ucap Aska dengan nada tegas dan berjalan ke arah meja makan.


" Aku sudah melarangnya kak tapi kak Riana malah memarahiku katanya ingin menemui kekasihnya untuk pergi dari kota ini." Ucap Riani berbohong.


Aska membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah Riana.


" Benar begitu Riana?" Tanya Aska sambil menahan amarahnya.


" Iya benar, sekarang aku boleh pergi bukan." Ucap Riana.


( " Mudah-mudahan kak Aska percaya kalau tidak dengan alasan apalagi agar aku bisa pergi dari sini. Adik yang aku sayang saja sudah tidak perduli padaku malah parahnya memfitnahku dengan mengatakan ingin menemui kekasihnya untuk pergi dari kota ini." Ucap Riana dalam hati ).


bruk


Untuk pertama kalinya Aska menampar Riana membuat Riana yang belum bersiap karena dirinya sedang melamun sambil pandangan arah matanya menatap Riani membuat Riana jatuh terduduk dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar bekas tamparan keras Aska dan pipinya memerah.


Riana berusaha berdiri dan menatap Aska dengan tatapan yang berbeda.


" Aku akan tetap pergi." Ucap Riana sambil berjalan.


" Satu langkah lagi maka kamu akan kakak tembak." Ucap Aska sambil mengeluarkan pistolnya dari saku jasnya.


( " Aku berharap kak Riana pergi dari rumah ini dan kak Aska akan menembaknya dan kemudian dor... mati deh.... hahahaha.." Ucap Riani dalam hati sambil tertawa jahat ).


" Tembaklah kak, jika itu bisa membuatmu senang." Ucap Riana


( " Bagus sesuai harapanku, ayo kak Aska tembaklah agar kakakku tidak menggangu hubungan kita." Ucap Riani dalam hati ).


" Baiklah kalau itu maumu." Ucap Aska


dor


" Akhhhhh..." Teriak Riana sambil menahan rasa sakit di punggungnya.


" Berhenti melangkah atau aku tembak kakinya." Ucap Aska sambil mengarahkan pistolnya ke arah kaki Riana


Riana tidak memperdulikan dirinya tetap melangkah membuat adiknya sangat bahagia karena sebentar lagi kakaknya akan mati.


dor


" Akhhhhh..." Teriak Riana sambil menahan rasa sakit di kaki kirinya hingga dirinya ambruk.


bruk


Riana berusaha bangun walau darah segar keluar dari punggung dan kaki kirinya. Riana menyeret kaki kirinya hingga terdengar suara tembakan yang ke tiga.


dor


bruk


" Akhhhhh..." Teriak Riana sambil menahan rasa sakit di kaki kanannya hingga dirinya ambruk dan tidak bisa bangun lagi.


" Kak Aska tembaklah ke keningku jika itu bisa membuatmu puas atau Riani mau menggantikan kak Aska menembak keningku?" Tanya Riani sambil menatap wajah Aska dan Riani dengan tatapan sendu.


" Baiklah jika itu keinginanmu aku akan mengabulkannya." Ucap Aska dengan nada dingin dan mengarahkan pistolnya ke arah kening Riana.


" Jaga diri kalian baik-baik." Ucap Riana sambil tersenyum dan menahan rasa sakitnya.


Riana memejamkan matanya dan tidak berapa lama dirinya tidak sadarkan diri. Darah segar keluar dari punggung, ke dua kakinya dan mulut Riana tanpa henti membuat Riana tidak sadarkan diri.


" Riana!!! Apa yang telah aku lakukan?" Tanya Aska baru tersadar.


Aska membuang pistolnya dan berlari menuju ke arah Riana dan menggendongnya ala bridal style menuju ke arah mobilnya dan membawanya ke rumah sakit sedangkan Riani sangat marah karena Aska menolongnya.


" Si*l.... si*l kenapa kak Aska menolongnya? aku harap kak Riana mati dalam perjalanan rumah sakit." Ucap Riani.


" Pistol ini akan aku simpan jika nanti kak Riana masih hidup aku akan mencari kesempatan untuk menembaknya karena aku tidak ingin kak Riana menjadi batu sandungan antara hubunganku dengan kak Aska." Ucap Riani sambil mengambil pistol milik kakaknya.


xxxxxxx


Singkat cerita kini Aska sedang menunggu di ruang operasi dengan perasaan tidak menentu karena Riana terluka gara-gara dirinya.


( " ***Apa yang terjadi denganku? kenapa aku marah ketika mendengar kalau Riana ingin menemui kekasihnya untuk pergi dari kota ini? Bukankah aku sudah bersama Riani dan akan menikah dengannya? Aku harus merelakan Riana untuk pergi dan tidak akan melarangnya karena Riana berhak bahagia. Aku tidak boleh egois selama ini Riana sangat baik padaku." Ucap Aska dalam hati ).


( " Apalagi Riani sifatnya sudah berubah seperti Riana jadi aku tidak boleh memikirkan wanita lain. Riana maafkan kakakmu ini dan semoga kamu tidak membenci kakakmu ini." Sambung Aska dalam hati*** ).