
" Ya benar, paman mau bertanya apakah dua jenasah akan di bawa ke sini atau di bawa ke rumah kalian?" Tanya tuan Federick.
" Bawa ke rumah orang tuaku paman dan maaf kalau selama ini kami merepotkan paman, kami akan tinggal di rumah orang tua kami." Ucap Aska
" Tapi usiamu sekarang masih sangat muda dua belas tahun dan ke dua adikmu masih enam tahun. Apakah kamu tidak repot mengurus ke dua adikmu?" Tanya tuan Federick.
" Tidak paman terlebih Riana walau masih kecil dia lebih dewasa dari usianya." Jawab Aska merasa yakin bisa mengurus ke dua adiknya.
" Baiklah kalau itu sudah keputusanmu." Ucap tuan Federick dengan nada pasrah.
" Oh ya paman, bagaimana dengan hasil tes dna?" Tanya Aska penasaran yang ingin mengetahui siapa orang tua kandungnya.
" Hasilnya negatif padahal paman berharap kamu adalah ponakan paman." Ucap tuan Federick.
" Tidak apa-apa paman." Ucap Aska dengan wajah penuh kecewa.
" Kapan kita ke rumah sakit paman?" Tanya Riana
" Kita tidak perlu ke rumah sakit kita langsung ke rumah orang tua kalian." Jawab tuan Federick.
" Kalau begitu kami pulang sekarang paman." Ucap Riana
" Ok, paman antar kalian." Ucap tuan Federick
" Terima kasih banyak paman dan maaf merepotkan paman." Ucap Riana
" Paman tidak merasa direpotkan, benar kata Aska kalau cara bicaramu mirip orang dewasa." Ucap tuan Federick
Riana hanya tersenyum tanpa menjawab ucapan tuan Federick. Tidak berapa lama Riani datang dan berjalan ke arah Robert dan duduk di samping Robert membuat Robert mendengus.
" Tempat duduk banyak kenapa duduk di sini?" Tanya Robert dengan nada dingin.
" Aku ingin duduk di sini memangnya tidak boleh." Ucap Riani
" Riani ayo kita pulang ke mansion." Ajak Riana
" Ngapain kak?" Tanya Riani dengan nada jutek
" Dari kita di kandungan mommy sampai sekarang tinggal di mansion jadi kita tinggal di mansion." Ucap Riana
" Oh iya kak aku jadi ingat kita kan masih punya mommy, kita minta mommy tinggal dengan kita saja." Ucap Riani setelah lama berpikir.
" Iya nanti kita meminta mommy tinggal dengan kita." Ucap Riana
( " Maaf Riani, kakak tidak mau tinggal di sini bukannya kakak tidak betah tapi kakak tidak enak kalau merepotkan orang lain terlebih dengan sikapmu ini membuat kak Robert kesal dengan sikapmu dan juga kakak melihat paman Federick selalu menghembuskan nafasnya dengan kasar setiap kamu bicara dengan nada ketus. Kak Aska dan kakak sudah terbiasa tapi mereka kan tidak sepenuhnya tahu akan sikapmu." Ucap Riana dalam hati ).
( " Sebenarnya aku betah tinggal di sini tapi melihat sikap Riani membuat kakak tidak enak hati dengan paman dan Robert jadi lebih baik kita tinggal di mansion dan semoga kakak bisa mengurus kalian sesuai pesan terakhir mommy
******Cynthia******." ***Ucap Aska dalam hati ).
( " Padahal aku masih betah tinggal di sini selain melihat wajah tampan kak Robert mansion ini lebih luas dari mansion milik daddy tapi karena aku sangat kangen dengan mommy lebih baik aku pulang ke mansion toh kapan-kapan aku bisa ke sini lagi." Ucap Riani dalam hati ).
( " Sebenarnya paman sangat suka dengan kalian karena mansion ini jadi ramai tapi sayang sekali kalian pergi dari mansion ini. Paman sangat berharap suatu saat Robert bisa menikah dengan Riana karena paman yakin Riana bisa mengubah sifat Robert yang dingin dan datar." Ucap tuan Federick dalam hati ).
( " Syukurlah mereka pergi apalagi Riani si gadis jutek ieuuuu nyebelin banget bikin kupingku sakit mendengar suaranya yang cempreng. Mereka kakak adik kenapa bisa beda sifatnya ya? Akhhh ngapain juga mikirin bikin pusing saja." Ucap Robert dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya*** ).
" Tidak apa-apa dad." Jawab Robert
" Kalau begitu kita berangkat sekarang." Ucap tuan Federick
Merekapun menganggukkan kepalanya tanda setuju kemudian mereka berjalan ke arah garasi mobil dan masuk ke dalam mobil dan tuan Federick mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke mansion milik orang tua Riana dan Riani.
Dua puluh lima menit kemudian mereka sudah sampai dan banyak pelayat sudah datang untuk memberikan penghormatan terakhir.
" Mommy ... hiks... hiks..." Ucap Riana dan Riani sambil menangis ketika mereka sudah sampai di ruang keluarga.
" Sayang sudah jangan menangis." Ucap Rina sambil membalas pelukan Riana dan Riani.
( " Breng**k kenapa mereka berdua masih hidup, apa jangan-jangan Aska juga hidup?" Ucap Rina dalam hati sambil mengangkat kepalanya dan menatap Aska dengan tatapan tajam ).
( " *Si*l ternyata memang benar masih hidup, aku harus mencari cara menyingkirkan mereka bertiga agar aku bisa menguasai seluruh hartanya Reno." Ucap Rina dalam hati* ).
Tuan Federick menatap Rina tanpa berkedip dan berusaha mengingat siapa wanita di hadapannya karena wajahnya sangat familiar sedangkan Rina yang sibuk berfikir mencari cara melenyapkan Aska dan ke dua putri kandungnya tidak memperhatikan kehadiran tuan Federick. Terlebih tuan Federick dan Robert duduk agak jauh dari mereka mengingat bau gosong dari dua jenasah membuat mereka tidak betah berdekatan dengan ke dua jenasah tersebut.
( " *Wanita itu.... Oh ya namanya Rina dia adalah sahabat istriku. Wanita yang telah membunuh istriku dan juga putra kami yang masih di kandungan istriku. Jadi orang yang aku tolong adalah anak-anak musuhku, kurang aj*r setelah pemakaman selesai aku akan membunuh mereka semua tanpa sisa tapi sebelumnya aku akan interogasi wanita ular itu kenapa tega membunuh istriku yang sangat kucintai ." Ucap tuan Federick dengan kilatan penuh amarah* ).
Singkat cerita dua jenasah Reno dan Cynthia sudah dikebumikan dan kini mereka berada di mansion milik Reno.
" Aku ingin bicara denganmu." Ucap tuan Federick sambil menarik tangan Rina.
" Tuan Federick, sejak kapan kamu datang?" Tanya Rina dengan wajah pucat pasi karena rahasia yang selama ini di simpan akhirnya ketahuan juga karena dirinya tahu tuan Federick mempunyai kekuasaan dari masalah kecil dan masalah besar tuan Federick cepat mengetahuinya karena anak buahnya sangat pintar mencari informasi yang sesulit apapun.
" Paman kenal dengan mommy kami?" Tanya Riana dan Riani bersamaan.
" Diam!! jangan sebut nama paman lagi mommy kalian telah membunuh istriku!!" Teriak tuan Federick
jeder
jeder
Bagai petir di siang bolong semua terkejut dengan ucapan tuan Federick tapi tuan Federick tidak memperdulikan hal itu bagi dirinya dia harus tahu kenapa Rina melakukan tindakan keji.
bruk
Tuan Federick menarik tangan Rina ke arah kamar tamu kemudian mendorong tubuh Rina dengan kasar hingga jatuh ke lantai. Tuan Federick kemudian berjongkok dan menjepit rahang Rina dengan keras dengan satu tangannya hingga mulutnya mirip ikan.
" Kenapa kamu membunuh istriku hah!!! Bentak tuan Federick.
" Karena aku sangat mencintaimu tapi sahabat sekaligus istrimu merebutmu dariku karena itulah aku membunuhnya." Ucap Rina
plak
plak
Tuan Federick menampar Rina hingga ke dua sudut bibirnya mengeluarkan darah segar kemudian Rina menyeka bibirnya dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya.
" Aku selalu perhatian denganmu tapi sedikitpun kamu tidak pernah memandang diriku tapi kamu selalu memandangi sahabatku tanpa kedip karena itulah aku membunuhnya." Ucap Rina