
( " Aku berkata seperti ini biar kak Aska bisa menilai kalau Riana itu suka menghamburkan uang." Ucap Riani dalam hati ).
" Kak Riani, aku memberikan barang baru itu berupa hadiah dari lomba-lomba berupa buku-buku dan alat tulis waktu aku ikut lomba di sekolah jadi aku sama sekali tidak membelinya." Ucap Riana
" Maaf jemputannya sudah datang." Jawab Riana sambil mendorong kursi ke belakang kemudian berdiri meninggalkan mereka berdua.
" Riana cuci semua piring-piring kotornya!!" Teriak Riani
" Nanti kalau pulang aku bereskan." Ucap Riana sambil melangkahkan kakinya.
" Riani, sebentar lagi kita akan menikah jadi mulai sekarang lakukan apa yang seperti biasa Riana lakukan." Ucap Aska sambil mendorong kursi ke belakang kemudian berdiri.
"Tapi kak..." Ucapan Riani terpotong oleh Aska
" Jika kamu menolak apa yang kakak perintahkan maka pernikahan kita batal." Ancam Aska sambil berjalan meninggalkan Riani sendirian.
" Kak Aska tunggu!" Teriak Riani sambil mendorong kursi ke belakang kemudian berdiri mengejar Aska.
" Lakukan perintah kakak jika tidak maka kakak akan memerintahkan Riana tinggal di sini dan pernikahan kita batal." Ancam Aska sambil berjalan menuju ke pintu utama.
( " Si*l... Si*l gara - gara Riana kak Aska berani mengancamku sepertinya rencanaku harus dijalankan sekarang." Ucap Riani dalam hati ).
xxxxxxx
Riana naik mobil online menuju ke arah kampus dua puluh lima menit kemudian Riana sudah sampai di kampus xxxxxxx. Riana berjalan dengan santai hingga dirinya bertemu dengan seorang pemuda tampan.
" Maaf kak, saya mau daftar kuliah ruangannya di mana ya?" Tanya Riana sambil tersenyum manis.
" Naik ke lantai dua belok kanan terus lurus sampai mentok lalu belok kanan di situ tempat pendaftaran." Jawab pemuda tampan tanpa melihat Riana
" Baik kak, terima kasih." Jawab Riana
Pemuda tampan itu hanya diam dan berjalan lurus tanpa memperdulikan Riana.
" Tampan sih tapi sayang sombong." Ucap Riana sambil membalikkan badannya menatap punggung pemuda .
Pemuda tampan itu membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah Riana tapi Riana yang kesal langsung menjulurkan lidahnya kemudian membalikkan badannya meninggalkan pemuda tampan tersebut. Pemuda tampan itu tersenyum nyaris tidak terlihat melihat Riana yang menggemaskan.
" Cantik dan menarik." Jawab pemuda tampan itu kemudian membalikkan badannya menuju ke arah kantin.
Riana kini sudah berada di ruang pendaftaran dan sudah mendaftarkan kuliah.
" Nona mau melihat ruangannya?" Tanya asisten dosen tersebut.
" Boleh." Jawab Riana singkat sambil tersenyum manis.
Asisten dosen tersebut membalas senyuman Riana mereka berjalan ke arah ruangan it karena Riana mendaftar bagian it.
ceklek
Asisten dosen tersebut membuka pintu ruangannya dan Riana masuk ke dalam melihat ruangan tersebut.
" Ini ruangannya." Ucap asisten dosen tersebut.
" Tempatnya bersih dan sangat nyaman." Puji Riana
" Terima kasih atas pujiannya." Ucap asisten dosen tersebut.
Setelah selesai melihat - lihat mereka berdua keluar dari ruangan tersebut dan Riana berpamitan ke semua dosen yang berada di ruangan tersebut.
( " Daftar kuliah sudah, tinggal mencari kos, membeli motor dan membeli buku - buku kuliah karena besok sudah mulai kuliah. Tapi lebih baik membeli motor dulu baru beli yang lainnya." Ucap Riana dalam hati ).
Riana berjalan ke arah keluar kampus dan melihat sebuah ojek yang mangkal di sebrang jalan.
( " Eh bukankah itu mahasiswa yang tadi bicara denganku yang menanyakan tentang tempat pendaftaran mahasiswa dan mahasiswi baru. Mahasiswa itu bersama dua mahasiswi cantik, mereka sedang makan bersama di sebuah cafe di arah sebrang kampus dekat tukang ojek yang akan aku naiki. Apa aku sapa saja ya? Akhh tidak lebih baik aku cuekin saja pura - pura tidak melihat karena mahasiswa itu sombong." Ucap Riana dalam hati )
Riana tengok kanan dan kiri di rasa sudah aman Riana menyebrang jalan dan tanpa sepengetahuan dirinya sebuah truk berjalan dengan sangat kencang dan oleng kadang ke kanan dan kadang ke kiri.
Mahasiswa tampan yang sedang menikmati minuman sambil mengobrol dengan temannya melihat dengan tatapan elangnya melihat dengan jelas kalau Riana dalam bahaya. Mahasiswa tampan tersebut langsung berdiri dan berlari dengan cepat menuju ke arah Riana.
" Awas!!!" Teriak mahasiswa tampan tersebut sambil menarik tangan Riana hingga mereka terjatuh terguling-guling di aspal.
bruk
Truk tersebut menabrak dinding kampus membuat dinding itu roboh sedangkan mahasiswa tersebut berada di bawah sedangkan Riana berada di atas.
Riana membuka matanya dan melihat wajah tampan mahasiswa tersebut yang sedang menatapnya.
" Tampannya." Ucap Riana tanpa sadar.
" Sudah puas memandangi wajah tampanku?" Tanya mahasiswa tampan tersebut.
" Eh maaf." Ucap Riana sambil berusaha berdiri.
" Ssttt.. sakit.." Ucap Riana sambil meringis menahan rasa sakit pada lututnya.
Mahasiswa tampan tersebut melihat celana Riana sobek bagian lutut dan lutut Riana mengeluarkan darah segar.
" Aku akan mengantarmu ke klinik yang berada di kampus." Ucap mahasiswa tampan tersebut sambil menggendong Riana
" Jangan di gendong, aku bisa jalan sendiri." Protes Riana sambil mengalungkan ke dua tangannya ke leher mahasiswa tampan tersebut.
" Kamu terluka." Ucap mahasiswa tampan tersebut.
" Tapi aku malu sama mahasiswa dan mahasiswi sini." Ucap Riana sambil menyembunyikan wajahnya ke dada bidang mahasiswa tampan tersebut.
" Kenapa malu? biarkan saja mereka menatap kita, sapa namamu?" Tanya mahasiswa tampan tersebut.
" Riana kalau kakak?" Tanya Riana
" Panggil saja Robert." Jawab Robert
" Terima kasih kak Robert sudah menolongku, suatu saat aku akan membalas kebaikan kak Robert." Ucap Riana
Robert hanya tersenyum untuk pertama kalinya membuat para mahasiswi menatapnya dengan penuh cinta sekaligus kesal dan iri hati dengan Riana. Robert membawanya ke ruang klinik yang ada di kampus.
" Lututnya terluka, tolong di obati." Ucap Robert sambil meletakkan tubuh Riana dengan perlahan.
" Baik." Jawab dokter tersebut.
Dokter itupun membersihkan luka Riana kemudian mengobatinya. Riana hanya meringis menahan rasa perih pada lututnya sedangkan Robert hanya menggenggam tangan Riana agar mengurangi rasa perihnya.
" Sudah selesai." Ucap dokter tersebut
" Terima kasih dokter dan tolong cek kak Robert lutut dan lengannya juga terluka." Ucap Riana sambil bangun dan berusaha untuk berdiri.
" Hanya luka kecil." Ucap Robert
" Walau luka kecil tapi bisa infeksi, berbaringlah." Ucap Riana.
Robert hanya tersenyum dan dengan patuh berbaring di ranjang. Dokter yang melihatnya sangat terkejut sampai tiga kali pertama Robert tidak perduli dengan orang lain tapi baru kali ini dirinya perduli bahkan menggendongnya dan yang ke dua baru kali ini ada seorang gadis muda yang berani memerintah dan Robert dengan patuh menuruti permintaan Riana dan yang ke tiga baru kali melihat Robert tersenyum biasanya selalu menampilkan wajah dingin dan datar.
Dokter itupun berusaha menyembunyikan keterkejutannya kemudian mulai membersihkan dan mengobati luka pada lengan dan lututnya sedangkan Robert dengan santai tidak merasakan sakit sedikitpun.
" Kak Robert tidak merasakan perih?" Tanya Riana penasaran