Mafia VS Psychophat

Mafia VS Psychophat
Hukuman Untuk Riani



" Tidak ada lagi paman dan terima kasih sudah mengantar makanan." Ucap Riana sambil tersenyum.


" Tidak apa-apa nona itu sudah tugasku, maaf nona apakah nona akan pergi dari mansion? Karena aku melihat ada dua koper dekat ranjang." Ucap kepala pelayan.


" Besok aku akan pergi dari mansion ini paman karena aku ingin hidup mandiri." Ucap Riana sambil tersenyum.


" Kenapa nona ingin pergi dari mansion ini?" Tanya kepala pelayan


" Seperti yang tadi aku katakan aku ingin hidup mandiri." Ucap Riana mengulangi perkataannya.


" Maaf nona maksud saya apa karena nona Riani?" Tanya kepala pelayan.


" Tidak pama karena mulai besok aku kuliah jarak dari sini ke kampus lumayan jauh karena itulah aku menyewa apartemen." Ucap Riana.


( " ***Maaf paman sebenarnya aku masih betah tinggal di sini tapi aku tidak ingin ribut dengan adikku Riani." Ucap Riana dalam hati).


( " Aku tahu pasti karena nona Riani, kasihan nona Riana tidak ibu kandungnya tidak adik kembarnya jahat terhadap nona Riana. Semoga nona selalu bahagia." Ucap kepala pelayan dalam hati*** ).


" Maaf nona saya permisi dulu." Ucap kepala pelayan.


" Silahkan paman dan terima kasih sudah mau mengantarkan makanannya." Ucap Riana sambil tersenyum.


" Sudah tugas saya nona, permisi." Ucap kepala pelayan sambil membalikkan badannya dan meninggalkan Riana sendirian.


Riana makan dalam diam hingga lima belas menit kemudian dirinya sudah selesai makan bertepatan pintu kamarnya terbuka.


ceklek


Aska membuka pintu dan berjalan ke arah Riana.


" Kenapa tidak makan di meja makan?" Tanya Aska


" Aku lagi ingin makan di sini." Ucap Riana sambil meminum air mineral.


" Tumben biasanya makan di meja makan?" Tanya Aska


" Seperti yang aku katakan kak aku ingin makan di sini." Ucap Riana mengulangi perkataannya.


Aska menghembuskan nafasnya dengan perlahan dirinya tahu kalau Riana berbohong hingga mata elang Aska melihat ada dua koper dekat ranjang.


" Kamu mau pergi?" Tanya Aska


" Iya kak, besok aku pindah ke apartemen tadi aku sudah membayar uang sewa apartemen." Ucap Riana setengah berbohong.


Dirinya memang benar akan pindah ke apartemen tapi setengahnya lagi Riana tidak menyewa apartemen hanya membayarnya dengan menyiapkan makanan untuk Robert. Aska lagi - lagi menghembuskan nafasnya dengan perlahan jujur dirinya malas dekat dengan Riani karena sifat Riani yang kekanak-kanakan membuatnya sering kesal.


" Apakah kamu yakin?" Tanya Aska


" Aku yakin kak." Jawab Riana dengan penuh keyakinan.


" Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu." Jawab Aska sambil membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Riana.


" Maafkan aku kak." Ucap Riana


" Tidak apa-apa asalkan kamu bahagia kakak juga bahagia dan maafkan kakak kalau waktu itu melecehkanmu. Sungguh aku tidak ada maksud merendahkan dirimu tapi kakak melakukan itu karena kakak sangat mencintaimu." Ucap Aska sambil membalikkan badannya dan menatap Riana dengan tatapan sendu.


grep


Riana yang melihat wajah Aska tidak tega langsung berjalan ke arah Aska kemudian memeluknya.


" Lupakanlah kak, hanya aku minta satu hal dari kakak untuk bisa menahan hasrat kakak." Ucap Riana


" Terima kasih, hanya kamu yang ngertiin kakak." Ucap Aska sambil membalas pelukan Riana.


brak


Riani membuka pintu kamar Riana dengan kasar dan matanya langsung membulat sempurna melihat Aska dan Riana saling berpelukan.


" Kak Aska, kak Riana!!!" Pekik Riana


Aska dan Riana langsung melepaskan pelukannya dengan wajah terkejut karena kedatangan Riani yang tiba-tiba.


grep


bruk


Tangan Aska menahan tangan Riani kemudian mendorongnya hingga jatuh ke lantai.


" Kak Aska!! Kenapa kakak lebih membela wanita murahan ini dari padaku." Teriak Riani.


plak


" CUKUP!!! Jangan sekali-kali mengatakan Riana wanita murahan karena yang pantas di sebut wanita murahan itu kamu." Teriak Aska sambil menatap tajam ke arah Riani kemudian menamparku hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.


" Hiks... hiks... kenapa kakak lebih membela wanita murahan itu dari pada aku!! Aku sudah memberikan semua untuk kakak tapi apa yang aku dapat?" Tanya Riani sambil terisak.


" Riani!!!" Bentak Aska sambil tangan kanannya di angkat ke atas untuk menampar Riani.


grep


" Kak Aska aku mohon jangan lakukan itu." Mohon Riana sambil memegang tangan Aska.


Aska memejamkan matanya sambil menghembuskan nafasnya dengan perlahan untuk mengatur amarahnya yang ingin meledak.


" Hei wanita murahan jangan sentuh tangan kak Aska!!!" Bentak Riani yang tidak tahu kalau itu akan menjadi boomerang baginya.


Aska yang tidak bisa menahan amarahnya melepaskan tangan Riana kemudian berjalan ke arah Riani dan menyeret Riani.


" Ikut kakak!!" Bentak Aska


Riani langsung berdiri dan tersenyum sinis ke arah Riana membuat Riana hanya menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


Aska menarik tangan Riana kemudian Aska membuka pintu tersebut dan Riani melihat ruangan tersebut gelap dan kotor yang di gunakan sebagai gudang kemudian Aska mendorong Riani dengan kasar.


" Kamar ini kedap suara renungkan sikapmu." Ucap Aska dengan nada dingin kemudian menutup pintu dengan kasar dan menguncinya.


" Kak Aska buka pintunya." Teriak Riani


brak brak brak brak


Riani menggedor-gedor pintu kamar tersebut tapi tidak ada yang membukanya membuat Riani semakin membenci Riana kakak kembarnya. Hukuman untuk Riani sengaja Aska lakukan agar Riani untuk sadar tapi sayang Riani tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.


" Awas kamu kak Riana, besok hari kematianmu jadi saat ini bersenang-senang saja dulu sampai besok pagi karena ketika kamu berangkat ke kampus maka ajalmu akan datang. Kamu tidak akan pernah mengira kalau besok adalah hari kematianmu." Ucap Riani sambil berusaha menggedor-gedor pintu.


" Sial kamu kak Aska berani menamparku hanya karena membela wanita murahan itu." Umpat Riani.


" Akhhhhhhhh.... Kesal....!!!" Teriak Riani.


Riani berteriak dan memaki Riana tanpa menyadari akan kesalahannya.


" Si*l aku harus tidur di sini." Ucap Riani sambil membuang isi kardus.


" Uhuk.... Uhuk.... Uhuk..." Riani terbatuk - batuk karena debu berterbangan.


" Kak Riana si*lan!!!" Maki Riani


Riani menggelar kardus itu untuk di gunakan sebagai alas tidur. Setelah dua jam berteriak dan memaki Riani merasa lelah dan tidur dengan beralaskan kardus.


Di tempat yang sama Riana yang melihat Aska menarik tangan Riani hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan melihat Riani yang susah di atur. Tindakan Aska tidak salah walau terlihat kejam karena menampar wanita tapi tindakan Riani memang bisa bikin orang emosi.


Tindakan Riani memang tidak bisa dibenarkan tapi walau bagai manapun Riani adalah adik kandungnya dan tidak ingin Riani di lukai oleh Aska. Riana keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah kamar Aska.


ceklek


Riana membuka pintu kamar tapi Aska tidak ada kemudian Riana menutup pintu kembali dan membalikkan badannya mencari Aska. Riana menuruni anak tangga dan berjalan ke arah ruang kerja Aska yang dulu digunakan oleh ayahnya.


ceklek


Riana membuka pintu dan melihat Aska sedang duduk di kursi kebesarannya sambil menatap Riana.


" Kak Aska." Panggil Riana