Mafia VS Psychophat

Mafia VS Psychophat
Aska dan Tuan Robert



" Bukan begitu sayang, aku ingin kamu selalu ada di sampingku, menemaniku di saat aku senang dan sedih." Ucap tuan Robert.


Riana menatap wajah tampan tuan Robert di mana matanya tersorot kesedihan dan kesepian membuat Riana tidak tega.


" Sebenarnya aku ingin dua atau tiga hari tapi mengingat kamu sedang terluka maka aku menahannya menunggu lukamu sembuh." Ucap tuan Robert.


" Aku bersedia menikah dengan kak Robert." Ucap Riana.


cup


" Terima kasih sayang." Ucap tuan Robert sambil mengecup bibir Riana.


" Sayang, karena sebentar lagi kita akan menikah ini aku berikan dua kartu, kartu pertama adalah kartu kredit tanpa batas dan kartu ke dua adalah kartu debit berisi seratus juta dan tiap bulan aku selalu mentransfer uang sebanyak lima puluh juta." Ucap tuan Robert sambil memberikan dua kartu ke tangan Riana.


" Tidak sayang, aku sudah punya tabungan." Tolak Riana.


" Uangmu kamu simpan saja, untuk sehari-hari pakailah punyaku." Ucap tuan Robert.


" Tapi..." Ucapan Riana terpotong oleh tuan Robert.


" Tidak menerima penolakan." Ucap tuan Robert


" Aish ... Baiklah, tolong simpan di dalam tasku." Ucap Riana pasrah.


" Nah gitu dong." Jawab tuan Robert sambil mengambil dua kartu miliknya yang berada di tangan Riana kemudian menyimpannya di dalam tas Riana.


" Kakak belum makan?" Tanya Riana.


" Kakak belum lapar." Ucap tuan Robert.


" Makanlah kak." Pinta Riana


" Kakak lagi malas makan." Jawab tuan Robert.


" Kalau kakak memang sayang padaku aku minta kakak makan." Ucap Riana


" Baiklah." Jawab tuan Robert pasrah.


" Nah gitu donk." Jawab Riana sambil tersenyum.


Tuan Robert ikut tersenyum dan menghubungi kepala pelayan untuk membawakan makanan untuknya. Setelah menunggu lima belas menit terdengar suara ketukan pintu, tuan Robert berjalan ke arah pintu dan membukanya.


" Maaf tuan, ini makanannya." Ucap kepala pelayan memberikan nampan.


Tuan Robert hanya mengambil nampan tersebut tanpa bicara sedikitpun.


" Terima kasih paman sudah membawakan makanannya." Ucap Riana


" Sudah tugas saya nona, permisi." Ucap kepala pelayan dengan wajah terkejut karena dirinya tidak menyangka kalau calon istri tuan mudanya tidak sombong.


" Permisi tuan." Ucap kepala pelayan meninggalkan mereka berdua.


Tuan Robert berjalan ke arah sofa dan mulai makan hingga dua belas menit kemudian tuan Robert sudah selesai makan. Tuan Robert membawa nampan tersebut ke luar kamarnya dan diletakkan di samping pintu luar kamarnya.


Tuan Robert berjalan ke arah ranjang dan duduk di samping Riana.


" Hoam... aku ngantuk kak." Ucap Riana sambil menutup mulutnya karena dirinya sedang menguap.


" Tidurlah sayang." Ucap tuan Robert dengan nada lembut sambil mengusap rambutnya.


" Kakak nanti tidur di mana?" Tanya Riana.


" Kakak tidur di sofa, kenapa?" Tanya tuan Robert balik.


" Walau sofa itu panjang tapi lebih panjang darimu pasti kakak akan pegal." Ucap Riana


" Tidak apa-apa, istirahatlah." Ucap tuan Robert sambil tersenyum.


" Maukah kak Robert tidur di sebelahku?" Tanya Riana


" Kamu serius sayang?" Tanya tuan Robert


" Ok." Jawab tuan Robert singkat


Tuan Robert berbaring di ranjang dan tidak berapa lama mereka sudah tertidur pulas.


xxxxxxx


Malam berganti pagi tuan Robert perlahan membuka matanya sambil tersenyum pasalnya Riana memeluk dirinya dan kepalanya bersandar di dada bidangnya. Tuan Robert memperhatikan wajah Riana yang lebam-lebam sudah mulai memudar tinggal perawatan kecantikan maka wajah Cantika kembali mulus.


Dengan perlahan tuan Robert mengangkat kepala Riana ke arah bantal kemudian turun dari ranjang karena hari ini ingin menemui orang yang telah berani menculik bahkan menyiksa Riana.


Lima belas menit kemudian tuan Robert sudah selesai mandi dan memakai pakaian kantor. Tuan Robert menatap wajah Riana sebentar kemudian pergi meninggalkannya.


Tuan Robert menuruni anak tangga bertepatan ponselnya berdering. Tuan Robert mengangkat ponselnya dan mendengarkan berita yang disampaikan oleh anak buahnya.


" Maaf tuan, semalam orang yang kita tawan bunuh diri dengan cara menggigit lidahnya." Ucap salah satu anak buahnya.


" Si*l." Ucap tuan Robert


tut tut tut tut


Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh tuan Robert. Tuan Robert melanjutkannya langkahnya menuruni anak tangga menuju ke arah pintu utama. Tuan Robert mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke perusahaan.


Dua puluh menit kemudian tuan Robert sudah sampai di perusahaan dan duduk di kursi kebesarannya.


tok tok tok tok


" Masuk." Jawab tuan Robert


ceklek


Seorang sekretaris cantik dan seksi membuka pintu sambil sengaja menggoyangkan pinggulnya agar tuan Robert tertarik padanya tapi sayang tuan Robert tidak pernah memperhatikan dirinya.


" Maaf tuan, tuan Araska Dacosta Abner dari perusahaan Dacosta Abner sudah datang." Ucap sekretaris dengan nada menggoda.


" Suruh masuk." Jawab tuan Robert dengan nada masih dingin dan datar.


" Baik tuan." Jawab sekretaris tersebut dengan wajah kecewa karena bos arogannya tidak pernah perduli padanya.


Sekretaris tersebut keluar untuk memanggil tuan Araska Dacosta Abner setelah beberapa saat sekretaris tersebut mengetuk pintu tuan Robert setelah mendapatkan jawaban sekretaris tersebut membuka pintu dan mempersilakan tuan Araska Dacosta Abner untuk masuk ke dalam ruangan tuan Robert.


" Selamat pagi tuan Robert." Sapa tuan Araska Dacosta Abner.


" Pagi tuan Araska Dacosta Abner." Jawab tuan Robert.


" Panggil saja Aska."Jawab Aska.


" Baik tuan Aska silahkan duduk." Ucap tuan Robert.


" Sepertinya kita pernah bertemu." Ucap tuan Aska basa basi


" Benarkah?" Tanya tuan Robert sambil berfikir.


" Dulu waktu aku SMP semua teman-temanku membuly diriku dan ada empat anak murid baru dua siswa dan dua siswi." Ucap Aska sambil mengingat akan masa lalu.


Tuan Robert menatap Aska beberapa saat sambil mengingat masa lalunya hingga dua menit kemudian.


" Iya aku ingat waktu itu kamu di keroyok oleh mereka dan aku serta ke tiga sahabatku menolongmu. Kalau aku ingat hal ingin rasanya membu*h mereka semua." Ucap tuan Robert yang masih dendam dengan orang-orang yang mengeroyok Aska tapi sayang tidak ada satupun tuan Robert menemukannya mereka hilang tanpa ada kabar beritanya.


" Kenapa?" Tanya Aska penasaran


( " *Mereka sudah aku bu*h satu persatu berikut ke dua orang tuanya ketika aku kembali ke kota ini. Siksaan yang amat menyakitkan sepandan dengan apa yang mereka lakukan padaku pada waktu dulu." Ucap Aska dalam hati* ).


" Perbuatan mereka tidak pantas untuk dimaafkan apalagi orang tua mereka bukannya menasehati malah membelanya. Sudah seharusnya mereka ma*i begitu pula dengan orang tua mereka." Ucap tuan Robert dengan kilatan kebencian.


" Aku sudah membu**h mereka semua." Jawab Aska dengan nada santai.


" Benarkah? Pantas saja anak buahku tidak menemukan mereka." Ucap tuan Robert.


Aska hanya menganggukkan kepalanya kemudian merekapun membicarakan tentang kerjasama. Setelah hampir setengah jam mereka menandatangani dokumen dan melakukan kerja sama.1